Lukisan Misterius

“Guys, kenalin. Ini pacar baru aku. Jangan iri, ya!”

Unggahan Acha di TikTok itu sudah ditonton ratusan ribu kali. Dalam foto yang dibagikannya, ia tampak tersenyum berdampingan dengan seorang laki-laki muda berwajah khas. Keduanya terlihat seperti pasangan yang sedang mengambil foto bersama.

Padahal, laki-laki itu bukan pacarnya. Bahkan, Acha tidak pernah bertemu dengannya.

“Haluuu banget, Cha!”

“Ya ampun, bantu editin aku juga. Aku mau punya foto sama Mr. X.”

“Jujur, kalian cocok sih.”

“Kurang cocok nggak, sih? Cowoknya terlalu ganteng.”

Di akun lain, Melissa, seorang perempuan berusia tiga puluhan, mengunggah foto serupa.

“Maaf ya, Mas Suami. Hari ini aku izin selfie dulu sama Mr. X.”

Komentarnya tidak kalah ramai.

“Nanti suaminya marah, Mbak!”

“Ini mirip cinta pertamaku.”

“Cinta pertama apaan? Kan nggak kenal.”

“Mr. X is my dream man!”

Dalam beberapa hari, tren itu menyebar ke berbagai platform. Ada yang mengedit foto pernikahan dengan Mr. X, membuat video seolah-olah sedang berkencan dengannya, bahkan mengunggah tangkapan layar percakapan fiktif yang menggambarkan mereka sebagai pasangan.

Mr. X menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Lucunya, tidak seorang pun tahu siapa laki-laki itu sebenarnya.

Sosok Mr. X

Semua bermula dari sebuah akun anonim bernama Memory19.

Dua bulan sebelumnya, akun tersebut mengunggah satu gambar tanpa keterangan apa pun. Hanya sebuah lukisan yang menampilkan seorang laki-laki muda sedang mengambil swafoto.

Sekilas, gambar itu tampak seperti foto biasa. Namun, jika diperhatikan lebih lama, terlihat jelas bahwa gambar tersebut adalah lukisan dengan detail yang sangat halus.

Laki-laki itu mengenakan kaus putih polos dan sebuah topi. Satu tangannya memegang kamera. Lengannya memiliki bulu-bulu halus yang hampir tidak terlihat. Wajahnya tidak seperti model iklan atau aktor film yang biasa menghiasi layar.

Hidungnya agak besar. Matanya kecil, sedikit sayu, dan hampir menghilang ketika ia tersenyum lebar. Alis kanannya seperti memiliki goresan bekas luka. Giginya tampak rapi dan cukup besar dengan sedikit jarak di antara bagian sampingnya. Di atas bibirnya terdapat kumis tipis yang menunjukkan usianya masih sangat belia.

Namun, justru senyumnya yang membuat orang sulit mengalihkan pandangan.

Ada sesuatu yang terasa hangat dari wajah itu. Bukan senyum yang dibuat-buat untuk kamera, melainkan senyum lepas seseorang yang sedang benar-benar bahagia.

Unggahan Memory19 awalnya hanya mendapat beberapa ratus tanda suka. Tidak ada yang istimewa, sampai seorang pengguna membagikannya dengan tulisan singkat.

“Entah kenapa, lukisan ini bikin aku merasa sangat akrab sama orangnya.”

Unggahan itu menyebar cepat. Dalam waktu singkat, ribuan orang mulai membicarakannya.

Ada yang mencoba mencari identitas laki-laki tersebut menggunakan Google Lens. Ada yang mengunggah ulang gambarnya ke berbagai forum untuk meminta bantuan mengenali wajahnya. Beberapa orang bahkan membandingkannya dengan aktor, penyanyi, dan tokoh terkenal.

Hasilnya nihil.

Tidak ada foto serupa. Tidak ada nama. Tidak ada petunjuk.

Akhirnya, seseorang menyebutnya Mr. X. Nama itu kemudian digunakan hampir semua orang.

“Menurut kalian, dia manusia sungguhan atau hasil AI?”

“Kalau manusia sungguhan, tolong kasih tahu di mana bisa menemukannya.”

“Ini aneh. Biasanya aku suka cowok dengan wajah K-Pop, tapi kok malah suka lihat lukisan ini?”

“Bukan tipeku, tapi ada sesuatu yang bikin aku ingin melihatnya terus.”

Akun Memory19 sendiri tetap diam.

Tidak ada balasan komentar, tidak ada unggahan lanjutan, bahkan tidak ada keterangan singkat tentang proses pembuatan lukisan tersebut. Akun itu hanya memiliki satu unggahan dan terus bertambah pengikutnya.

Semakin banyak orang membicarakan Mr. X, semakin besar pula rasa penasaran terhadap sosok di balik lukisan itu.

Beberapa kreator mulai membuat konten khusus tentangnya. Ada yang membahas detail wajahnya, ada yang membuat teori tentang identitasnya, dan ada pula yang membuat video reaksi saat pertama kali melihat lukisan tersebut.

Sampai akhirnya, sebuah kanal podcast YouTube ternama mengundang seorang pelukis senior untuk membahas fenomena itu.

Di Balik Sebuah Lukisan

“Baik, kita mulai dari pertanyaan paling sederhana. Menurut Pak Rendra, Mr. X ini tampan, tidak?”

Damar Pradipta, Youtuber kanal Ruang Tengah, membuka percakapan dengan pertanyaan yang langsung mengundang tawa.

Di hadapannya duduk Rendra Mahardika, pelukis senior berusia 57 tahun yang karyanya telah dipamerkan di berbagai negara. Di samping Rendra ada Keisya Anindita, influencer berusia 23 tahun yang belakangan mengaku ikut menjadi penggemar Mr. X.

Rendra tersenyum sebelum menjawab.

“Kalau kita bicara ketampanan yang umum, mungkin tidak semua orang akan menganggap dia tampan.”

“Kenapa begitu, Pak?” tanya Damar.

“Karena standar ketampanan yang sering kita lihat itu biasanya punya ciri-ciri tertentu. Rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam, bibir proporsional. Kita bisa melihat Leonardo DiCaprio atau Brad Pitt, misalnya. Mereka punya karakter wajah yang selama ini sering dianggap menarik. Atau, mungkin di kalangan anak muda bisa saja tampan itu seperti aktor atau penyanyi K-Pop.”

Damar mengangguk.

“Nah, kalau Mr. X ini?”

“Wajahnya tidak sepenuhnya memenuhi standar itu. Tetapi, anehnya, banyak orang tertarik kepadanya. Saya kira ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar bentuk wajah.”

Keisya langsung menyela.

“Saya mau cerita, Pak. Sebenarnya Mr. X itu bukan tipe saya. Kalau melihat dia di jalan tanpa pernah dilukis begini, mungkin saya tidak akan langsung tertarik. Tapi setiap melihat lukisannya, saya merasa seperti mengenal dia. Bahkan, saya sempat berpikir, kalau dia benar-benar ada di depan saya, sepertinya saya bisa jatuh cinta.”

Damar tertawa kecil.

“Lho, bagaimana bisa? Kan tadi katanya bukan tipe kamu?”

“Nah, itu dia. Saya juga bingung. Sepertinya saya ikut merasakan sesuatu yang ada di lukisan itu.”

Rendra mengangguk pelan.

“Justru itu yang menarik. Saya kira pelukisnya tidak sedang menggambar wajah seorang laki-laki semata. Ia sedang melukiskan perasaannya terhadap seorang laki-laki.”

Damar menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Jadi, maksud Bapak, perasaan pelukisnya ikut masuk ke dalam lukisan?”

“Ya. Dan entah bagaimana, perasaan itu berhasil dipindahkan ke dalam kanvas. Orang yang melihatnya mungkin tidak mengenal siapa laki-laki tersebut, tetapi mereka bisa menangkap sesuatu dari cara ia digambarkan.”

Rendra berhenti sebentar, lalu melanjutkan.

“Saya menyebutnya ketampanan emosional. Bukan ketampanan anatomis. Ada orang yang secara fisik mungkin biasa saja, tetapi ketika dipandang oleh seseorang dengan perasaan yang begitu dalam, ia bisa terlihat luar biasa. Bahkan, orang lain yang melihatnya melalui lukisan itu ikut merasakan daya tarik yang sama.”

“Ketampanan limbik?” Damar mencoba menyimpulkan.

Rendra tertawa.

“Boleh juga disebut begitu. Tentu itu bukan istilah ilmiah yang baku. Saya hanya mencoba menggambarkan bagaimana emosi, ingatan, dan cara seseorang memandang bisa memengaruhi persepsi kita.”

Keisya mengangguk cepat.

“Sekarang saya paham kenapa saya bisa ikut-ikutan suka. Mungkin saya bukan jatuh cinta kepada orangnya, tetapi kepada perasaan yang tergambar di wajahnya.”

Damar tertawa.

“Wah, ini sudah mulai filosofis. Jangan-jangan nanti ada yang benar-benar mencari Mr. X sampai ke ujung dunia.”

Ketiganya tertawa.

Percakapan itu kemudian dipotong menjadi beberapa cuplikan pendek. Salah satunya viral dan kembali memancing perdebatan.

Ada yang setuju dengan pendapat Rendra. Ada pula yang menganggap semua itu hanya efek sugesti karena sebuah gambar terlalu sering muncul di linimasa.

Ada juga yang mengatakan bahwa Mr. X memang tampan meskipun bukan karena emosi pelukisnya.

Bahkan, komentar lainnya menyebutkan bahwa Mr. X memang tipe mereka.

Beberapa akun perempuan muda bahkan mengatakan bahwa Mr. X seperti sosok cowok red flag yang bikin tergila-gila.

Namun, satu hal tidak berubah.

Mr. X tetap menjadi sosok misterius yang wajahnya semakin dikenal, meskipun tidak seorang pun tahu siapa dia.

Musim Semi

Dua bulan berlalu sejak lukisan pertama diunggah.

Senin, 1 September pukul sembilan pagi, akun Memory19 kembali mengunggah sebuah gambar.

Tidak ada tulisan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pemberitahuan bahwa itu merupakan karya terbaru.

Hanya sebuah lukisan.

Dan di dalamnya, Mr. X kembali muncul.

Kali ini ia tidak mengenakan topi. Rambutnya terlihat jelas, berwarna kemerahan dengan potongan side part klasik yang sedikit berantakan. Bahkan kali ini terlihat sedikit lesung halus di pipinya. Ia duduk di sebuah kursi, mengenakan kemeja berwarna mocha dengan lengan sedikit tergulung dan celana putih.

Di pergelangan tangan kirinya terdapat jam tangan berwarna gelap. Sementara di tangan kanannya melingkar sebuah gelang hitam.

Latar belakangnya hanya dinding terang tanpa dekorasi yang mencolok.

Tidak ada pemandangan istimewa. Tidak ada benda-benda mewah. Tidak ada latar tempat yang bisa menunjukkan di mana lukisan itu dibuat.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Cahaya matahari berwarna keemasan jatuh tepat di wajahnya. Warna-warna dalam lukisan itu terasa lebih hangat. Kulitnya yang kuning langsat tampak bercahaya, sementara senyumnya kembali terlihat lebar dan lepas.

Kali ini, lukisan tersebut terasa jauh lebih hidup.

Seolah-olah seseorang baru saja membuka jendela setelah hujan panjang. Udara yang sebelumnya dingin perlahan berubah segar. Ada kehangatan yang datang bersama cahaya pagi.

Dalam hitungan jam, unggahan itu kembali menyebar.

“AKHIRNYA MR. X KEMBALI!”

“Ya Allah, kenapa lukisan ini bikin bahagia?”

“Yang pertama bikin penasaran. Yang kedua bikin nyaman.”

“Ini bukan lukisan, ini musim semi.”

“Lihat senyumnya. Rasanya seperti matahari pagi.”

“Ini seperti musim semi di film-film kartun, dan Mr. X adalah bunganya.”

Ada pula yang mengunggah ulang gambar itu dengan tulisan:

“Tidak ada bunga, tidak ada taman, tidak ada salju yang mencair. Tapi entah kenapa, rasanya seperti sedang melihat musim semi.”

Ungkapan itu kemudian digunakan banyak orang.

Mereka menyebut lukisan kedua sebagai The Spring Painting. Beberapa pengguna membuat video dengan musik lembut, memperlambat gambar, atau memperbesar bagian wajah Mr. X yang tersenyum.

Akun Memory 19 kembali dibanjiri komentar.

“Siapa pun kamu, terima kasih sudah melukis ini.”

“Semoga kamu selalu punya alasan untuk tersenyum seperti dia.”

“Entah siapa yang pernah kamu lihat dengan cara seperti ini, tapi semoga orang itu tahu betapa indahnya caramu ketika sedang melukiskannya.”

Tidak ada satu pun komentar yang dibalas.

Tidak ada pula petunjuk tentang siapa Mr. X atau siapa orang yang melukisnya.

Di dalam lukisan itu, ia hanya duduk di sebuah kursi, mengenakan kemeja mocca, dengan senyum lebar yang sama seperti sebelumnya.

Namun, bagi ribuan orang yang melihatnya, pagi itu terasa seperti musim semi.

Dan mungkin, memang ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dari cara seseorang memandang orang lain dengan penuh perasaan.

Sebab terkadang, seseorang tidak perlu menjadi laki-laki paling tampan di dunia untuk membuat orang-orang jatuh hati.

Cukup pernah dipandang begitu indah oleh seseorang.

You May Also Like

Leave a Reply