Lukisan Misterius Part 2
Dua bulan setelah mengunggah The Spring Painting, akun Memory19 kembali membuat kejutan.
Kali ini, lukisan yang diunggah bukan lagi sosok Mr. X. Tidak ada wajah tampan, senyum lebar, ataupun suasana hangat seperti dua lukisan sebelumnya.
Gambar itu justru didominasi warna abu-abu dan hitam. Hampir tidak ada cahaya di dalamnya. Sekilas, orang mungkin mengira gambar tersebut hanya sebuah foto kamar yang diambil ketika lampu sedang dimatikan. Namun, setelah diperhatikan lebih saksama, gambar itu jelas merupakan sebuah lukisan.
Di dalamnya terlihat sebuah kamar berukuran sedang. Ada sebuah ranjang single di bagian tengah. Seorang perempuan berambut sebahu sedang berbaring menyamping dengan posisi tubuh meringkuk. Wajahnya tertutup selimut. Ia mengenakan kaus hitam berlengan pendek, sementara sebagian besar tubuhnya tertutup kain tebal tersebut.
Di salah satu sisi kamar terdapat rak terbuka berisi buku dan beberapa benda kecil. Ada pula lampu tidur yang tidak menyala. Lemari pakaian tampak berdiri di sudut ruangan, dengan salah satu bagiannya terbuka sehingga beberapa pakaian yang tergantung terlihat samar-samar.
Di sudut lainnya, terlihat bayangan beberapa kanvas, kuas, dan perlengkapan melukis.
Semua objek itu hanya tampak sebagai siluet. Tidak ada cahaya yang cukup untuk memperlihatkan detailnya dengan jelas.
Tidak ada penjelasan tambahan.
Kolom komentar langsung dipenuhi pertanyaan.
“Apa ini? Kok gelap banget?”
“Ini lukisan atau foto?”
“Aku cuma bisa lihat kamar gelap. Ada orangnya juga, ya?”
“Sebentar, itu perempuan yang lagi tidur?”
Setelah beberapa orang mencoba memperhatikan lebih teliti, mulai muncul dugaan bahwa sosok perempuan tersebut adalah pelukis di balik akun Memory19.
Jika sebelumnya warganet menjuluki sosok laki-laki dalam dua lukisan pertama sebagai Mr. X, kali ini mereka mulai menyebut perempuan misterius tersebut sebagai Mrs. Y.
Sempat ada yang mengusulkan nama Mrs. X. Namun, sebagian warganet merasa nama itu kurang cocok. Akhirnya, sebutan Mrs. Y lebih banyak digunakan.
“Jangan-jangan ini pelukisnya.”
“Jadi selama ini yang melukis Mr. X adalah perempuan ini?”
“Aku nggak tahu kenapa, tapi melihat lukisan ini rasanya sedih banget.”
“Entah kenapa mengingatkanku pada seseorang yang menangis sendirian di kamar karena patah hati.”
Ada pula yang bertanya apakah Mr. X sebenarnya adalah suami Mrs. Y. Namun, sebagian lainnya menganggap dugaan itu terlalu jauh. Mr. X terlihat masih sangat muda dalam dua lukisan sebelumnya. Belum ada alasan kuat untuk menyimpulkan bahwa keduanya adalah pasangan suami istri.
Misteri baru pun dimulai.
Podcast Ruang Tengah
Popularitas lukisan ketiga membuat podcast Ruang Tengah kembali mengangkat Memory19 sebagai topik utama.
Damar Pradipta, sang podcaster channel Ruang Tengah, mengundang tiga narasumber sekaligus. Mereka adalah Rendra Mahardika, pelukis senior yang sebelumnya pernah membahas dua lukisan Mr. X; Raka Wicaksana, seorang YouTuber yang dikenal dengan konten-konten mistis; serta Nadira Prameswari, seorang psikolog.
Episode kali ini berlangsung lebih serius. Hampir dua jam mereka membahas lukisan ketiga Memory19 dari berbagai sudut pandang.
“Pak Rendra, kalau kita perhatikan, lukisan ini memang sangat gelap. Ada seorang perempuan yang sedang berbaring di ranjang, wajahnya tertutup selimut. Di sekelilingnya ada buku, lemari, lampu tidur, bahkan perlengkapan melukis. Menurut Bapak, apa sebenarnya yang ingin disampaikan pelukis melalui gambar ini?” tanya Damar.
Rendra mengamati gambar yang ditampilkan di layar.
“Kalau dari objeknya, saya kira deskripsi Mas Damar sudah cukup tepat. Tapi saya merasa ini bukan sekadar lukisan seseorang yang sedang tidur. Apalagi kalau kita melihat dua karya Memory19 sebelumnya. Pelukis ini sepertinya memang punya kemampuan menyampaikan perasaan melalui gambar.”
“Perasaan seperti apa, Pak?”
“Kesedihan. Saya menangkap suasana duka yang cukup kuat di sini.”
Rendra kemudian menjelaskan penggunaan warna abu-abu dalam lukisan tersebut. Menurutnya, warna itu memiliki dua fungsi sekaligus.
Pertama, abu-abu menjadi simbol kesedihan dan suasana berkabung. Kedua, warna tersebut membantu memperlihatkan bentuk benda-benda di dalam kamar.
“Kalau semuanya hitam pekat, kita tidak akan bisa melihat apa-apa. Ranjang, rak buku, lemari, bahkan sosok perempuannya mungkin tidak terlihat. Jadi, warna abu-abu ini bukan sekadar pilihan emosional, tetapi juga bagian dari komposisi lukisan.”
Damar kemudian mencoba menghubungkan lukisan tersebut dengan Mr. X.
“Apakah mungkin Mrs. Y ini sedang bersedih karena ditinggalkan Mr. X, Pak?”
Rendra tersenyum tipis.
“Bisa saja, tetapi kita belum punya bukti untuk menyimpulkan itu.”
Pembahasan kemudian beralih kepada Raka Wicaksana.
“Mas Raka, beberapa warganet mengatakan lukisan ini mengingatkan mereka pada suasana maghrib atau sandekala. Bagaimana menurut Mas?”
Raka mengangguk.
“Memang ada suasana seperti itu. Kalau kita melihat kamar yang gelap, suasananya memang mengingatkan pada waktu menjelang malam. Dalam beberapa kepercayaan masyarakat Jawa, waktu sandekala sering dikaitkan dengan hal-hal mistis.”
Damar mencoba bercanda.
“Tapi kalau menjelang magrib emang lampunya juga harus dimatikan, Pak?”
Para narasumber tertawa kecil.
“Tapi begini, Mas,” lanjut Raka. “Saya tidak bisa mengatakan ada sosok gaib atau sesuatu yang mistis di dalam lukisan ini. Pengalaman saya selama ini lebih banyak berkaitan dengan foto atau video hasil tangkapan kamera. Sementara ini lukisan. Dibuat dari perasaan, komposisi, dan goresan tangan seseorang. Jadi saya tidak bisa memastikan ada unsur gaib di dalamnya.”
Damar kembali bertanya, “Jadi menurut Mas Raka, suasana maghribnya memang terasa, tetapi tidak berarti ada unsur mistis?”
“Betul. Saya justru lebih tertarik dengan suasana emosionalnya.”
Sebelum Raka melanjutkan, Nadira tiba-tiba tersenyum kecil.
Damar memperhatikan ekspresinya.
“Lho, Mbak Nadira kok senyum-senyum? Ada apa?”
Nadira sedikit tertawa.
“Begini, Mas. Sebenarnya ada satu hal yang cukup jelas di lukisan ini. Mungkin kita hanya perlu lebih teliti. Jangan-jangan saya juga tidak perlu diundang kalau hanya untuk menemukan detail ini.”
Damar ikut tertawa.
“Maksudnya bagaimana, Bu?”
“Jangan panggil saya Ibu, dong. Panggil Mbak saja. Kita kan seumuran.”
“Oh, iya. Baik, Mbak Nadira. Jadi, apa yang terlewat dari kami?”
Nadira menunjuk bagian pojok ruangan.
“Coba perhatikan bagian itu. Ada benda kecil di atas rak. Itu seperti jam digital atau smartwatch.”
Damar dan kedua narasumber lainnya mendekatkan pandangan ke layar.
“Oh iya! Ada jam di situ,” kata Damar.
“Kalau diperhatikan, jam itu menunjukkan pukul 19.19.”
Raka ikut memperhatikan.
“Benar juga. Jadi ini sekitar pukul tujuh malam lewat sembilan belas menit?”
“Tepatnya begitu. Artinya, kita tidak perlu terlalu jauh menebak-nebak apakah ini suasana maghrib atau sandekala. Setidaknya, lukisan ini memberi petunjuk waktu yang cukup jelas. Kemungkinan besar adegannya berlangsung setelah maghrib, menjelang isya.”
Damar mencoba menyela.
“Tapi bisa saja angka 19 itu memang sengaja dipilih karena nama akunnya Memory19, Mbak?”
“Bisa saja kalau kita membicarakan angka 19 secara umum. Tetapi kalau angka itu ditampilkan pada sebuah jam, menurut saya penafsiran paling wajar adalah menunjukkan waktu.”
Nadira kemudian menjelaskan dua kemungkinan mengenai kondisi Mrs. Y.
“Pertama, mungkin perempuan ini hanya sedang kelelahan. Coba lihat benda-benda di kamarnya. Ada buku, perlengkapan melukis, dan smartwatch. Ini bisa menggambarkan seseorang yang cukup aktif. Mungkin seorang pekerja, seniman, atau seseorang yang memang gemar membaca. Bisa jadi setelah menjalani aktivitas seharian, dia hanya ingin beristirahat.”
Damar mengangguk.
“Berarti tidak selalu harus ada masalah emosional?”
“Tentu. Tetapi saya justru lebih condong pada kemungkinan kedua.”
Nadira melanjutkan penjelasannya.
“Kita perlu mengingat dua lukisan sebelumnya. Mr. X yang pertama dan The Spring Painting sama-sama memiliki muatan emosional yang kuat. Kalau kita menghubungkan karya-karya tersebut, rasanya sulit menganggap lukisan ketiga ini hanya menggambarkan seseorang yang kelelahan.”
Rendra mengangguk setuju.
“Saya juga merasakan hal yang sama. Unsur seni dalam lukisan ini sangat kuat. Warna abu-abunya, suasana kamar, dan postur tubuh perempuan itu seolah menyampaikan sesuatu. Ada kesedihan yang sangat dalam.”
Nadira kemudian menunjukkan detail kecil yang menurutnya paling penting.
“Coba perhatikan tangannya. Salah satu tangan Mrs. Y terlihat mencengkeram ujung selimut. Saya tidak bisa memastikan apakah itu tangan kiri atau kanan, tetapi genggamannya terlihat cukup kuat.”
Damar kembali memperhatikan gambar.
“Iya, sekarang saya bisa melihatnya.”
“Badannya meringkuk. Wajahnya ditutup selimut sampai ke kepala. Rambutnya sedikit berantakan. Dengan posisi seperti itu, ditambah tangan yang mencengkeram selimut, saya menangkap kesan seseorang yang sedang berusaha menahan perasaan yang sangat berat.”
Nadira berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Menurut saya, Mrs. Y sedang menangis di balik selimut. Ini bukan sekadar lukisan seseorang yang sedang tidur. Ini adalah lukisan tentang kesedihan emosional.”
Damar terdiam sebentar.
“Jadi, Mbak Nadira melihatnya sebagai seseorang yang sedang menangis sendirian?”
“Iya. Tentu ini penafsiran saya terhadap sebuah karya seni, bukan kesimpulan klinis tentang orang yang melukisnya. Tetapi dari elemen yang terlihat, kesan itulah yang paling kuat.”
Pembicaraan berlangsung semakin panjang.
Raka kemudian mencoba menghubungkan waktu yang ditunjukkan jam dengan pengalaman manusia pada umumnya.
“Kalau saya membayangkan pengalaman hidup, begini, Mas. Kadang seseorang bisa terlihat baik-baik saja sepanjang siang. Dia bekerja, bertemu orang lain, bercanda, dan menjalani aktivitas seperti biasa. Tapi ketika menjelang malam, ketika tubuh mulai lelah dan suasana menjadi lebih tenang, perasaan yang selama ini ditahan bisa muncul.”
“Jadi, menurut Mas Raka, waktu setelah maghrib bisa menjadi momen ketika seseorang menumpahkan kesedihannya?” tanya Damar.
“Bisa jadi. Bukan karena waktu maghrib punya kekuatan mistis tertentu, tetapi karena secara manusiawi, suasana menjelang malam sering menjadi waktu ketika seseorang mulai berhadapan dengan dirinya sendiri. Saya curiga Mrs. Y mengalami hal seperti itu. Bahkan mungkin ini sudah menjadi kebiasaan.”
Raka kemudian mulai menghubungkan kesedihan Mrs. Y dengan Mr. X.
“Jangan-jangan dia kehilangan seseorang. Bisa jadi Mr. X adalah orang yang sangat berarti baginya. Mungkin mereka berpisah, cinta bertepuk sebelah tangan, atau mungkin ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa bersama.”
Damar mengangguk.
“Jadi Mas Raka menduga ini berkaitan dengan cinta?”
“Bisa saja. Tapi saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Rendra kemudian mengambil giliran berbicara.
“Oh ya, barusan Mas Raka menyinggung cinta Mrs. Y bertepuk sebelah tangan. Kalau menurut saya, ada satu kemungkinan yang perlu kita pertimbangkan. Kesedihan dalam lukisan ini rasanya terlalu dalam kalau hanya disebabkan cinta yang bertepuk sebelah tangan.”
Damar tampak tertarik.
“Maksud Bapak bagaimana?”
“Saya sudah cukup lama mengamati lukisan dan mempelajari bagaimana seorang seniman menyampaikan emosi. Usia saya sekarang 57 tahun. Dari pengalaman itu, saya merasa ada perbedaan antara kesedihan karena seseorang tidak membalas cinta kita dan kesedihan karena kehilangan seseorang yang benar-benar kita cintai.”
Rendra melanjutkan.
“Kalau hanya mengagumi seseorang, kemudian ternyata orang itu tidak memiliki perasaan yang sama, tentu kita bisa sedih. Tetapi suasana yang saya tangkap dari lukisan ini jauh lebih berat.”
Damar bertanya, “Jadi menurut Bapak, mereka sebenarnya saling mencintai?”
“Itu salah satu kemungkinan yang justru paling kuat menurut saya.”
Rendra kemudian meminta Damar menampilkan kembali The Spring Painting.
“Perhatikan lukisan kedua. Saya ingin kita melihat kembali ekspresi Mr. X.”
Di layar terlihat Mr. X duduk dalam suasana pagi yang hangat. Cahaya keemasan menyentuh wajahnya. Ia mengenakan kemeja berwarna mocca dan celana putih. Senyumnya terlihat lebar, tetapi ada sesuatu yang menurut Rendra lebih dalam daripada sekadar ekspresi bahagia.
“Menurut saya, ini bukan hanya senyum ramah atau bahagia. Ada kesan seseorang yang sedang jatuh cinta. Itulah sebabnya ketika banyak orang melihat lukisan ini, terasa ikut merasakan bahagia dan mengarah ke nuansa musim semi.”
Damar menyela.
“Bagaimana kalau ternyata Mr. X justru sedang jatuh cinta kepada orang lain, Pak? Jadi, Mrs. Y memang patah hati karena itu.”
Rendra langsung menggeleng.
“Kalau dari feel yang saya tangkap, tidak demikian. Coba perhatikan arah matanya. Tatapannya mengarah lurus kepada pelukis.”
“Jadi, menurut Bapak, Mr. X sedang berkomunikasi dengan Mrs. Y melalui lukisan itu?”
“Kurang lebih begitu. Kalau benar Mrs. Y adalah pelukisnya, maka ada kemungkinan mereka sedang saling menyampaikan perasaan. Saya merasa Mr. X dalam lukisan kedua bukan hanya tersenyum kepada seseorang, tetapi sedang memperlihatkan perasaan cinta.”
Rendra kemudian menegaskan bahwa ia tidak sedang berbicara tentang ketampanan fisik Mr. X.
“Musim semi dalam lukisan itu bukan semata-mata karena warna dan suasananya hangat. Ada perasaan yang saya tangkap. Seolah-olah Mr. X juga sedang mengalami kebahagiaan karena jatuh cinta kepada Mrs. Y.”
Damar kembali bertanya, “Jadi kalau begitu, Pak, kesedihan Mrs. Y bukan karena cintanya tidak terbalas?”
“Menurut saya, kemungkinan itu lebih kecil. Bisa jadi mereka saling mencintai, tetapi kemudian dipisahkan oleh sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Mungkin kehilangan. Mungkin keadaan. Atau mungkin takdir.”
Rendra berhenti sejenak.
“Dan kalau itu benar, kesedihan seperti ini memang jauh lebih berat.”
Diskusi berlangsung hampir dua jam. Ketiga narasumber memberikan penafsiran dari sudut pandang masing-masing. Tidak ada satu pun yang bisa memastikan siapa sebenarnya Mr. X dan Mrs. Y, atau apa yang telah terjadi di antara mereka.
Namun, satu kesimpulan terasa semakin kuat: lukisan ketiga Memory19 menggambarkan kesedihan yang mendalam.
Sebelum menutup pembicaraan, Rendra mengusulkan sebuah nama untuk lukisan tersebut.
“Kalau saya boleh memberi nama, saya ingin menyebutnya The Silent Grief.”
Damar tersenyum.
“Bagus sekali, Pak. Artinya duka yang sunyi, ya?”
“Betul. Kesedihan yang mungkin tidak diketahui orang lain. Seseorang yang menangis dalam diam, menyimpan perasaan yang begitu berat, tetapi tidak mampu menceritakannya kepada siapa pun.”
Damar menyetujui nama tersebut.
“Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang kita sebut lukisan ketiga Memory19 sebagai The Silent Grief.”
Episode itu kemudian diunggah ke kanal YouTube Ruang Tengah. Dalam waktu singkat, kolom komentarnya kembali ramai.
Banyak warganet mengapresiasi pembahasan tersebut. Sebagian merasa penafsiran Rendra, Raka, dan Nadira cukup masuk akal, meskipun semuanya masih berupa dugaan.
Salah satu komentar menarik datang dari seorang perempuan.
“Aku dari awal sudah merasa lukisan ini menyedihkan. Entah kenapa, melihat perempuan yang meringkuk di balik selimut itu mengingatkanku pada pengalaman sendiri. Dulu aku pernah ditinggal menikah oleh laki-laki yang sudah empat tahun menjadi pacarku. Siang hari aku masih bisa pura-pura baik-baik saja. Masih bisa bercanda dan bertemu orang lain. Tapi setelah maghrib, rasanya semua kesedihan yang kutahan seharian langsung tumpah. Hampir setiap malam aku menangis sendirian. Jadi, ketika melihat lukisan Mrs. Y, aku seperti melihat diriku sendiri.”
Komentar lain menyusul.
“Kasihan banget Mrs. Y. Kalau benar mereka saling mencintai, pasti berat sekali harus kehilangan seseorang yang kita sayangi.”
“Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi rasanya seperti sedang membaca novel panjang hanya dari tiga lukisan.”
“Entah mengapa, aku juga merasa ada kisah cinta yang belum selesai di antara Mr. X dan Mrs. Y.”
Sementara itu, nama The Silent Grief semakin sering digunakan untuk menyebut lukisan ketiga tersebut.
Tanggapan Para Content Creator
Perbincangan tentang Memory 19 tidak berhenti di YouTube. Beberapa content creator di TikTok mulai membuat video tanggapan terhadap lukisan Mrs. Y.
Salah satunya adalah Dinda Aulia, seorang kreator konten perempuan dengan lebih dari 300 ribu pengikut. Ia dikenal sering membuat video pendek dengan berbicara langsung di depan kamera, sementara gambar atau video yang sedang dibahas ditampilkan sebagai latar belakang.
Kali ini, latar belakang videonya adalah lukisan The Silent Grief.
“Guys, aku mau sharing sedikit, ya. Sebelum kalian menonton video ini, mungkin kalian juga bisa melihat podcast Ruang Tengah yang membahas lukisan Memory19. Di sana ada Pak Rendra, Mas Raka Wicaksana, dan Mbak Nadira yang memberikan penafsiran cukup panjang.”
Dinda melanjutkan.
“Kalau aku pribadi, ada satu bagian dari pembahasan Pak Rendra yang cukup mengena. Beliau mengatakan bahwa kemungkinan Mrs. Y bukan sedang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, tetapi kehilangan seseorang yang sebenarnya juga mencintainya.”
Ia kemudian menarik napas sebentar.
“Jujur, aku merasa lukisan ini seperti mewakili sebagian kisah hidup kita. Aku juga pernah mengalami sesuatu yang kurang lebih seperti itu.”
Dinda kemudian bercerita bahwa usianya kini 35 tahun dan sampai sekarang belum menikah.
“Ini mungkin pertama kalinya aku cerita seperti ini kepada kalian. Aku belum menikah bukan karena tidak pernah ada yang datang. Tapi aku belum menemukan seseorang yang bisa membuatku merasa seperti dulu.”
Ia tidak menyebutkan nama laki-laki yang dimaksud.
“Orangnya sekarang mungkin sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri. Mungkin sudah punya keluarga kecil. Dan aku cuma ingin bilang, selamat untuk seseorang di sana. Semoga kamu benar-benar bahagia.”
Dinda mengaku pengalaman itu terjadi sekitar tujuh tahun sebelumnya. Selama hampir satu tahun, ia terbiasa menangis setelah maghrib.
“Siang hari aku masih bisa bekerja, bertemu teman, dan terlihat baik-baik saja. Tapi begitu sore, apalagi setelah maghrib, rasanya semua yang aku tahan seharian keluar begitu saja. Bahkan kadang aku terbangun menjelang subuh dan masih merasa sedih.”
Menurutnya, bagian paling menyakitkan bukan semata-mata karena seseorang pergi. Justru yang membuatnya sulit melupakan adalah hubungan itu berakhir ketika perasaan mereka masih begitu kuat.
“Kadang yang paling menyakitkan adalah ketika sebuah hubungan seperti dipotong begitu saja. Kita belum selesai mencintai seseorang, tetapi keadaan membuat kita harus berpisah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa memperjuangkan lebih jauh. Tidak bisa mengubah keadaan.”
Ia menatap kamera.
“Makanya, ketika melihat Mrs. Y, aku merasa seperti sedang melihat seseorang yang pernah mengalami hal yang sama. Aku tidak tahu apakah benar kisahnya seperti itu. Tapi kalau memang dia kehilangan seseorang yang dicintainya, aku cuma berharap dia baik-baik saja.”
Video Dinda mendapat banyak tanggapan. Sebagian pengikutnya ikut membagikan pengalaman serupa. Ada pula yang mengaku belum pernah mengalami kisah seperti itu, tetapi tetap bisa merasakan kesedihan dari lukisan tersebut.
Tidak lama kemudian, muncul video tanggapan lain dari seorang content creator laki-laki bernama Arga Pratama, yang memiliki lebih dari 500 ribu pengikut di TikTok.
Berbeda dengan Dinda yang bercerita cukup emosional, Arga membawakan videonya dengan gaya santai.
“Guys, aku juga mau ikut nanggepin yang lagi ramai ini. Jujur, aku nggak tahu apa sebenarnya yang terjadi antara Mr. X dan Mrs. Y. Aku juga bukan orang yang paham seni. Tapi kalau melihat lukisan ketiganya, aku bisa merasakan ada kesedihan yang yang dalem banget.”
Ia kemudian menyinggung kesimpulan Pak Rendra.
“Kalau memang benar mereka saling mencintai, tetapi dipisahkan oleh keadaan, itu pasti berat banget. Apalagi kalau hubungan mereka harus berakhir bukan karena salah satu dari mereka sudah tidak punya perasaan.”
Arga tersenyum kecil.
“Tapi begini, guys. Kalau Mrs. Y memang masih sendiri, ya semoga saja dia ketemu seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Kalau boleh jujur, Mrs. Y sama aku aja kali, ya?”
Ia tertawa sendiri.
“Aku juga masih single, lho. Tapi kalau ternyata Mrs. Y memang masih sangat mencintai Mr. X, ya sudah. Semoga kalian bisa bertemu lagi. Semoga apa pun yang terjadi di antara kalian, akhirnya membawa kebahagiaan.”
Video tersebut juga mendapat banyak komentar.
“Mas Arga, jangan ikut-ikutan. Mrs. Y masih punya urusan dengan Mr. X.”
“Kalau Mr. X dan Mrs. Y memang saling mencintai, semoga mereka dipertemukan lagi.”
“Lucu juga, ya. Kita sampai ikut berharap dua orang yang bahkan tidak kita kenal bisa bahagia.”
Selain dua video tersebut, semakin banyak kreator lain yang memberikan tanggapan. Ada yang membahasnya dari sudut pandang seni, ada yang menghubungkannya dengan pengalaman patah hati, dan ada pula yang sekadar mengungkapkan simpati.
Tidak semua orang memahami lukisan itu dengan cara yang sama.
Beberapa warganet bahkan mengaku awalnya hanya melihat gambar yang gelap.
“Aku sebenarnya nggak paham lukisan ini. Awalnya cuma melihat kamar gelap dan perempuan yang tidur. Tapi setelah menonton podcast Ruang Tengah, baru sadar ternyata ada jam di pojok ruangan. Aku juga baru memperhatikan tangannya yang memegang selimut.”
Komentar lainnya berbunyi:
“Ternyata lukisan memang bisa menyampaikan banyak hal. Kita mungkin hanya melihat gambar, tetapi orang yang memahami seni bisa menangkap cerita di baliknya.”
Kisah yang Belum Selesai
Hingga beberapa hari setelah video-video tanggapan tersebut beredar, akun Memory19 belum memberikan penjelasan apa pun.
Tidak ada klarifikasi mengenai siapa Mrs. Y. Tidak ada keterangan tentang hubungannya dengan Mr. X. Bahkan, belum ada kepastian apakah perempuan dalam lukisan ketiga benar-benar merupakan sosok pelukis yang selama ini mengelola akun tersebut.
Tiga lukisan itu tetap menjadi satu-satunya petunjuk.
Lukisan pertama memperkenalkan Mr. X dengan senyum yang begitu khas. Lukisan kedua, The Spring Painting, menghadirkan suasana hangat yang membuat banyak orang membayangkan seseorang sedang jatuh cinta. Sementara lukisan ketiga, The Silent Grief, memperlihatkan seorang perempuan yang meringkuk sendirian dalam kamar gelap.
Dari ketiganya, warganet mulai membayangkan sebuah kisah panjang.
Mungkin Mr. X dan Mrs. Y pernah saling mencintai. Mungkin mereka memiliki hubungan yang begitu berarti, tetapi harus berakhir karena sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Bisa jadi ada kehilangan, perpisahan, atau keadaan yang membuat keduanya tidak mungkin lagi bersama.
Namun, semua itu masih sebatas penafsiran.
Tidak ada yang tahu apakah Mr. X masih hidup, apakah Mrs. Y benar-benar kehilangan seseorang, atau apakah keduanya memang pernah menjadi sepasang kekasih.
Satu hal yang menarik, tiga lukisan itu telah membuat banyak orang merasakan sesuatu, bahkan tanpa mengetahui cerita sebenarnya.
Barangkali itulah kekuatan sebuah karya seni. Ia tidak selalu harus menjelaskan semuanya. Terkadang, sebuah gambar justru membuat orang mengingat pengalaman yang selama ini mereka simpan sendiri.
Sebab, cinta yang dalam tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Ada orang-orang yang pernah saling mencintai, tetapi pada akhirnya harus menjalani kehidupan masing-masing. Bukan selalu karena perasaan mereka berubah, melainkan karena ada keadaan yang tidak bisa mereka lawan.
Dan mungkin, itulah yang membuat The Silent Grief terasa begitu dekat bagi sebagian orang.
Sebuah lukisan tentang duka yang sunyi. Tentang perasaan yang tidak selesai. Tentang seseorang yang mungkin masih mencintai, tetapi tidak lagi bisa bersama.
Sementara itu, di balik akun Memory19, seseorang masih menyimpan cerita yang belum diketahui siapa pun.

Woow…kereeeen banget cerita ini. Aku merasa terbawa langsung menjadi bagian di dalamnya, dan… merasa penasaran tentu saja dengan lukisan2 misterius itu serta kisah yg melatarbelakangi pembuatannya. Kaak…cerita ini masih berlanjut, bukan??
Masih kak, next aku lanjut ya