Bagaimana Jika Kita Baru Menemukan Kesuksesan di Usia 60 Tahun?

Apakah teman-teman tahu bagaimana zaman es terbentuk? Salah satu hal menarik dari proses pembentukan lapisan es adalah bagaimana sesuatu yang kecil bisa bertumpuk selama waktu yang panjang, hingga akhirnya menghasilkan sesuatu yang luar biasa besar.

Saya menemukan gagasan ini dalam buku The Psychology of Money karya Morgan Housel. Di dalamnya, proses pembentukan zaman es digunakan sebagai analogi untuk menjelaskan bagaimana kekayaan bisa terakumulasi. Dari sini, saya jadi tertarik memikirkan satu hal: bagaimana jika seseorang tidak sedang menumpuk uang, tetapi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan? Mungkinkah semua itu baru menemukan nilainya ketika ia berusia 60 tahun?

Penumpukan Kekayaan dan Kesuksesan Warren Buffett

Bayangkan salju yang turun pada musim dingin. Ketika musim panas datang, tidak semua salju mencair. Masih ada sebagian yang bertahan. Ketika musim dingin berikutnya tiba, salju baru kembali menumpuk di atas lapisan sebelumnya. Proses itu berulang selama bertahun-tahun, sampai terbentuk lapisan es yang tebal.

Gagasan sederhananya adalah bahwa hasil besar tidak selalu berasal dari sesuatu yang besar sejak awal. Kadang-kadang, hasil itu terbentuk dari pertumbuhan kecil yang terus berlangsung dalam waktu panjang.

Dalam The Psychology of Money, Morgan Housel menghubungkan proses tersebut dengan perjalanan Warren Buffett membangun kekayaannya. Buffett dikenal sebagai investor yang hebat, tetapi ada satu hal yang tidak kalah penting: ia sudah mulai berinvestasi sejak masih muda dan terus melakukannya selama puluhan tahun.

Housel menjelaskan bahwa sebagian sangat besar kekayaan Buffett terkumpul setelah ia berusia 50 tahun. Artinya, kekayaan yang terlihat luar biasa besar pada masa tuanya bukan hanya hasil dari kemampuannya memilih investasi, melainkan juga dari waktu panjang yang ia miliki untuk membiarkan kekayaannya berkembang.

Uang yang sudah berkembang dapat menjadi dasar bagi pertumbuhan berikutnya. Jika proses itu berlangsung cukup lama, hasilnya bisa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan ketika seseorang baru memulai.

Tentu, bukan berarti siapa pun yang berinvestasi sejak muda pasti akan menjadi sekaya Buffett. Ia memiliki kemampuan, keputusan, dan kesempatan yang tidak dimiliki semua orang. Namun, kisahnya menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam proses membangun kekayaan.

Saya lalu berpikir, tidak semua orang punya kesempatan untuk mulai mengumpulkan uang sejak muda. Ada yang sejak awal sudah mempunyai modal dan dukungan keluarga. Ada pula yang harus menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk bertahan hidup.

Ada yang Sejak Muda Sudah Mengumpulkan Uang

Sekitar tahun 2010, saya mengenal seorang mahasiswa kedokteran di Purwokerto. Sebut saja A.

Orang tuanya mempunyai bisnis armada kendaraan di sebuah kota di luar Purwokerto. Armada yang mereka miliki cukup banyak dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada masa itu. Ada pertemuan antara kebutuhan pasar, modal yang tersedia, dan keterampilan menjalankan usaha. Kombinasi itulah yang membantu bisnis keluarga tersebut berkembang.

A juga mendapatkan dukungan finansial yang besar dari keluarganya. Biaya masuk kuliahnya, kalau tidak salah, sekitar Rp100 juta. Itu belum termasuk biaya semester, tempat tinggal di kos yang cukup bagus, biaya hidup, dan buku-buku kedokteran yang tidak murah.

Namun, bekal A bukan hanya uang. Sejak kecil, ia juga tumbuh dengan melihat bagaimana orang tuanya menjalankan bisnis. Ia mempunyai kesempatan untuk menyaksikan cara orang mengambil keputusan, membaca kebutuhan pasar, dan mengelola usaha. Tanpa disadari, lingkungan seperti itu bisa membentuk cara seseorang memandang peluang.

Ketika masih kuliah, A mulai menjalankan bisnis jual beli onderdil motor gede secara daring. Ia memanfaatkan marketplace yang sedang naik daun sekitar 2011–2012. Saya tidak ingat lagi platform mana yang digunakannya, tetapi yang saya ingat, usahanya berkembang hingga ia mempunyai gudang dan karyawan.

Bisnis itu menghasilkan uang yang cukup besar untuk ukuran mahasiswa pada masa itu, bahkan mencapai puluhan juta rupiah. Ia juga bisa bepergian ke Singapura dan Malaysia, serta menonton pertandingan sepak bola di stadion-stadion ternama.

Tentu, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa A berhasil hanya karena privilege. Ia tetap mempunyai inisiatif dan kemampuan menjalankan bisnis. Namun, kita bisa melihat bahwa ia memulai dengan bekal yang berbeda.

Ia memiliki dukungan modal, contoh nyata dari orang tuanya, dan kesempatan untuk mencoba. Ketika usahanya berkembang, ia bisa menggunakan hasilnya untuk memperbesar usaha atau memenuhi keinginannya yang lain.

Sejak muda, ia sudah mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan uang sekaligus belajar mengembangkannya.

Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki bekal seperti itu?

Ada yang Sejak Awal Sibuk Bertahan Hidup

Sekarang, bayangkan mahasiswa B. Ia berasal dari keluarga yang kesulitan membiayai pendidikan. Untuk kuliah, ia harus berusaha membiayai dirinya sendiri. Ia bekerja sebagai pramusaji atau mengajar les untuk mendapatkan uang tambahan. Penghasilannya mungkin hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

B tidak mempunyai modal usaha, jaringan bisnis, atau orang tua yang bisa menjadi tempat belajar menjalankan bisnis. Ia harus mencari tahu sendiri bagaimana caranya memperbaiki keadaan.

Setelah lulus dari fakultas pendidikan, ia akhirnya menjadi guru SD berstatus PNS di daerah pinggiran kota. Ia bersyukur memiliki pekerjaan tetap, tetapi gajinya tidak besar. Sebagian penghasilannya digunakan untuk membantu orang tua dan menyekolahkan adik-adiknya.

Setelah menikah dan memiliki anak, kebutuhan keluarga semakin bertambah. Uangnya kembali digunakan untuk memenuhi berbagai keperluan. Bertahun-tahun bekerja, tetapi tabungan yang terkumpul tidak banyak.

B sebenarnya tidak tinggal diam. Ia mencoba berjualan kecil-kecilan, belajar pemasaran digital, membaca buku bisnis, membuat konten, dan mengikuti berbagai pelatihan. Ia pernah mencoba merintis usaha les, tetapi tidak berkembang karena banyak keluarga di lingkungannya belum mampu membayar. Usaha lain pun belum menghasilkan keuntungan berarti.

Bukan karena ia tidak mau bekerja keras. Hanya saja, ia mempunyai keterbatasan modal, waktu, dan energi. Ia juga harus membagi perhatian antara pekerjaan, keluarga, dan berbagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Ketika berusia 30 atau 40 tahun, ia mungkin masih menjalani kehidupan yang sama. Sementara itu, sebagian orang yang sejak muda memiliki modal dan kesempatan sudah jauh lebih maju secara finansial.

Lantas, apakah semua yang dilakukan B selama ini sia-sia?

Belum tentu. Sebab, selama bertahun-tahun itu, B tidak hanya bekerja dan mencoba mencari uang. Ia juga mengumpulkan pengalaman.

Ia belajar menulis, memahami media sosial, mengenali kebutuhan orang lain, dan mengetahui bagaimana sebuah usaha dijalankan. Ia mendapatkan pengalaman mengajar, belajar dari kegagalan, dan memahami bahwa tidak semua gagasan cocok diterapkan dalam setiap keadaan.

Memang, pengalaman tidak otomatis berubah menjadi uang. Namun, pengalaman bisa menjadi bekal yang berguna ketika seseorang menemukan kesempatan yang tepat.

Dan bagaimana jika kesempatan itu baru datang ketika B berusia 60 tahun?

Bagaimana Jika Kesempatannya Baru Datang di Usia 60 Tahun?

Bayangkan B akhirnya pensiun sebagai guru. Anak-anaknya sudah dewasa, sementara ia mulai memikirkan kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi hari-harinya.

Ia kemudian menulis buku tentang pengalaman hidupnya sebagai guru. Isinya bukan teori yang rumit, melainkan cerita tentang murid, keluarga, pendidikan, dan pelajaran kehidupan yang ia temukan selama puluhan tahun mengajar.

Awalnya, ia hanya ingin membagikan pengalaman. Namun, ternyata buku itu terbit pada momentum yang tepat. Banyak orang sedang tertarik pada tema pendidikan dan pengalaman hidup seorang guru. Bukunya mulai dikenal, penjualannya meningkat, dan semakin banyak orang membicarakannya.

Pengalaman B sebagai guru menjadi bahan utama bukunya. Kemampuannya menulis membantu menyusun cerita. Pengetahuannya tentang pemasaran digital membantu memperkenalkan buku tersebut kepada pembaca. Relasi yang ia bangun selama bertahun-tahun mungkin juga membuka jalan untuk bertemu penerbit atau orang-orang yang bisa membantunya.

Berbagai pengalaman yang sebelumnya terlihat terpisah akhirnya bertemu dalam satu kesempatan.

Bagaimana jika buku itu kemudian menjadi bestseller dan menghasilkan pendapatan yang besar? Pada usia 60 tahun, B justru menemukan peluang yang mengubah keadaan finansialnya.

Tentu, ini hanya ilustrasi. Tidak ada jaminan bahwa seorang guru yang rajin belajar akan menjadi penulis sukses ketika pensiun. Buku yang bagus pun belum tentu laris. Ada banyak faktor yang menentukan hasil akhirnya.

Namun, cerita ini menggambarkan kemungkinan bahwa sesuatu yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun baru terlihat nilainya ketika bertemu dengan kesempatan yang sesuai.

Bukan berarti B selama ini sedang menumpuk uang seperti Warren Buffett. Ia menumpuk hal lain: pengalaman mengajar, pengetahuan, keterampilan, kegagalan, dan pemahaman tentang kehidupan. Semua itu tidak menjamin kekayaan, tetapi bisa membantunya memanfaatkan peluang ketika kesempatan datang.

Kesempatan, Keterampilan, dan Waktu yang Tepat

Saya teringat pada kisah Bill Gates ketika masih bersekolah. Ini juga dibahas di buku yang sama, yaitu The Psikology of Money. Pada akhir 1960-an, sekolahnya, Lakeside School, menyediakan akses ke terminal komputer yang terhubung dengan komputer utama melalui saluran telepon. Akses itu didukung oleh dana dari Mothers’ Club sekolahnya. Pada masa ketika kesempatan semacam ini masih sangat terbatas, Gates dan Paul Allen memperoleh ruang untuk belajar dan bereksperimen dengan pemrograman sejak muda. Gates sendiri pernah menyampaikan bahwa pengalaman di Lakeside berperan penting dalam perjalanan yang kemudian mengarah pada pendirian Microsoft.

Apakah akses komputer saja yang membuat Gates sukses? Tentu tidak. Ada kemampuan, ketekunan, keputusan, kerja sama, dan banyak kesempatan lain yang ikut berperan. Namun, akses tersebut memberinya kesempatan belajar lebih awal, pada masa ketika teknologi komputer sedang berkembang.

Dari cerita ini, saya melihat bahwa kesuksesan sering kali muncul ketika beberapa hal bertemu: keterampilan, pengalaman, kesempatan, waktu yang tepat, dan kondisi lingkungan yang mendukung. Bahkan, perubahan sosial atau kebijakan tertentu bisa ikut membuka peluang yang sebelumnya tidak tersedia.

Kita tidak bisa mengendalikan semua faktor tersebut. Kita juga tidak bisa memastikan kapan kesempatan besar akan datang. Ada orang yang memperoleh hasil ketika masih muda, ada yang baru menemukannya ketika usia sudah lanjut, dan ada pula yang tidak pernah memperoleh keberhasilan finansial sebesar yang diharapkan meskipun telah berusaha keras.

Namun, menurut saya, ada satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah-kisah tadi: jangan terburu-buru menilai seluruh perjalanan hanya dari hasil yang terlihat hari ini.

Kita tetap perlu berusaha, belajar, mengevaluasi pilihan, dan mencari peluang yang masuk akal sesuai keadaan. Tetapi kita juga perlu memahami bahwa titik awal setiap orang berbeda. Tidak semua orang bisa mengumpulkan uang sejak muda karena sebagian harus menggunakannya untuk bertahan hidup.

Bagaimana jika kita baru menemukan kesuksesan di usia 60 tahun? Mungkin saja. Mungkin pula kesuksesan kita hadir dalam bentuk yang berbeda dari bayangan semula.

Yang jelas, kita tidak perlu menganggap bahwa semua tahun yang belum menghasilkan banyak uang adalah tahun-tahun yang sia-sia. Selama kita terus belajar dan menggunakan pengalaman dengan bijak, selalu ada kemungkinan bahwa bekal yang terkumpul hari ini akan berguna pada masa mendatang.

Sebab, seperti lapisan es yang terbentuk sedikit demi sedikit, hasil dari sebuah proses panjang terkadang baru terlihat setelah waktu berlalu. Kita memang tidak bisa menjamin hasil akhirnya. Namun, kita bisa terus membangun bekal, sambil tetap menjalani dan menghargai proses kehidupan yang ada di depan kita sekarang.

You May Also Like

Leave a Reply