Membaca Buku Saja Tidak Cukup, Terapkan Teknik PQ4R Supaya Lebih Membekas

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang bapak-bapak yang beberapa kali saya jumpai di sebuah kafe. Beliau sudah berusia sekitar 50 tahun dan pernah menjadi dosen di bidang filsafat. Sekarang, beliau sudah tidak lagi bekerja sebagai dosen.

Sebenarnya, saya tidak begitu mengenal beliau. Kami hanya beberapa kali bertemu secara kebetulan di kafe. Namun, setiap kali berjumpa, beliau sering mengajak saya mengobrol. Mulai dari menanyakan apa yang sedang saya baca sampai aktivitas sehari-hari saya. Kadang-kadang, obrolan kami berlangsung cukup lama.

Sampai suatu hari, saya kembali bertemu beliau ketika sedang membawa sebuah buku. Dari situ, obrolan kami mengarah pada cara membaca.

Beliau bertanya apakah saya menerapkan teknik membaca PQ4R. Saya menjawab bahwa saya belum menerapkannya secara khusus. Setelah itu, beliau menyarankan agar saya mencoba teknik tersebut, terutama karena saya juga seorang dosen.

Ada satu hal dari obrolan itu yang cukup membekas di pikiran saya. Kurang lebih, beliau menyampaikan bahwa membaca buku saja tidak cukup. Ada sesuatu yang sering kali kita lewatkan setelah selesai membaca, yaitu menuliskan kembali apa yang sudah kita baca.

Menurut beliau, gagasan dalam buku sebaiknya tidak berhenti sebagai sesuatu yang kita lewati begitu saja. Kita perlu mengolahnya, memahami inti pemikirannya, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa kita sendiri.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan selama ini saya juga masih sering membaca tanpa benar-benar mengolah apa yang saya baca. Ada banyak buku yang selesai dibaca, tetapi berapa banyak gagasannya yang masih bisa saya ceritakan kembali beberapa minggu atau bulan kemudian?

Dari obrolan singkat yang berlangsung lebih dari dua jam itu, saya kemudian tertarik untuk mengenal lebih jauh teknik membaca PQ4R.

Mengenal Teknik PQ4R Saat Membaca Buku

PQ4R merupakan metode membaca aktif yang terdiri dari enam tahap, yaitu Preview, Question, Read, Reflect, Recite, dan Review. Metode ini membantu kita membaca dengan lebih terarah, memahami isi bacaan, serta mengingat dan mengolah kembali informasi yang diperoleh.

Kalau biasanya kita membaca buku dari halaman pertama sampai terakhir, teknik ini mengajak kita melakukan sesuatu yang sedikit berbeda. Kita tidak hanya mengikuti tulisan penulis, tetapi juga berusaha memahami struktur pemikirannya, mengajukan pertanyaan, merenungkan gagasannya, dan mengingat kembali apa yang sudah dipelajari.

Bagi saya, bagian yang menarik justru terletak pada proses setelah membaca. Sebab, membaca bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan, tetapi memahami dan mengolah gagasan buku sampai menjadi pemikiran kita sendiri membutuhkan usaha yang berbeda.

Berikut enam tahap dalam metode PQ4R yang ingin saya coba terapkan.

1. Preview, Melihat Gambaran Besar Buku

Tahap pertama adalah preview, yaitu melihat gambaran umum buku sebelum mulai membacanya secara mendalam.

Kita bisa memulainya dengan membaca judul, daftar isi, pengantar, judul setiap bab, hingga bagian penutup. Tujuannya bukan untuk langsung memahami seluruh isi buku, melainkan mendapatkan gambaran tentang topik yang dibahas dan arah pemikiran penulis.

Saya kira, tahap ini cukup penting karena terkadang kita langsung membaca halaman pertama tanpa mengetahui ke mana arah pembahasan buku tersebut.

Padahal, dengan melihat gambaran besarnya terlebih dahulu, kita bisa memahami hubungan antara satu bab dan bab lainnya. Kita juga dapat memperkirakan gagasan utama yang ingin disampaikan penulis.

Bagi saya, tahap ini seperti melihat peta sebelum melakukan perjalanan. Kita memang belum mengetahui semua hal yang akan ditemui, tetapi setidaknya sudah memiliki gambaran tentang arah yang akan dituju.

2. Question, Mengajukan Pertanyaan Sebelum Membaca Lebih Jauh

Setelah mendapatkan gambaran umum, tahap berikutnya adalah question, yaitu menyusun pertanyaan tentang hal-hal yang ingin kita pahami dari buku tersebut.

Pertanyaan ini bisa muncul dari judul buku, daftar isi, atau persoalan yang sedang kita pikirkan. Misalnya, apa gagasan utama yang ingin disampaikan penulis? Mengapa penulis memiliki pandangan seperti itu? Apa persoalan yang sebenarnya sedang dibahas?

Dengan mengajukan pertanyaan, kita mempunyai tujuan ketika membaca. Kita tidak sekadar mengikuti kalimat demi kalimat, tetapi berusaha menemukan jawaban atas sesuatu yang memang ingin kita pahami.

Menurut saya, kebiasaan ini juga bisa membuat kegiatan membaca terasa lebih personal. Setiap orang mungkin membaca buku yang sama, tetapi membawa pertanyaan yang berbeda. Akibatnya, hal yang dianggap penting oleh seseorang belum tentu sama dengan hal yang menarik perhatian pembaca lainnya.

3. Read, Membaca dengan Tujuan yang Jelas

Tahap ketiga adalah read, yaitu membaca isi buku secara lebih mendalam.

Pada tahap ini, kita mulai mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya. Kita berusaha memahami argumen penulis, memperhatikan konsep penting, serta melihat bagaimana satu gagasan berhubungan dengan gagasan lainnya.

Jika menemukan bagian yang penting, kita bisa memberi tanda atau membuat catatan singkat. Namun, menurut saya, kita juga perlu berhati-hati agar tidak terlalu sibuk menandai hampir setiap halaman sampai lupa memahami isi bacaan.

Membaca aktif bukan berarti harus membuat banyak coretan. Hal yang lebih penting adalah mengetahui mengapa suatu bagian dianggap penting dan bagaimana bagian tersebut membantu kita memahami keseluruhan buku.

Saya membayangkan tahap ini sebagai proses berdialog dengan penulis. Kita memang tidak bisa langsung bertanya kepadanya, tetapi kita dapat terus menguji pemikiran yang disampaikan melalui pertanyaan-pertanyaan kita sendiri.

4. Reflect, Merenungkan Gagasan dan Menghubungkannya dengan Kehidupan

Bagi saya, tahap reflect adalah salah satu bagian yang paling menarik. Pada tahap ini, kita tidak hanya berusaha memahami apa yang dikatakan penulis, tetapi juga merenungkan maknanya.

Apakah gagasan tersebut mengubah cara kita melihat suatu persoalan? Apakah ada pengalaman yang membuat kita memahami gagasan itu dengan cara berbeda? Atau justru ada bagian yang membuat kita mempertanyakan kembali pemahaman yang selama ini kita miliki?

Refleksi tidak selalu berarti menyetujui pendapat penulis. Kita juga boleh merasa kurang sepakat, menemukan keterbatasan sebuah gagasan, atau melihat bahwa suatu teori tidak sepenuhnya sesuai dengan pengalaman kita.

Saya sendiri cukup sering menghubungkan gagasan dari buku dengan hal-hal lain yang sedang saya pikirkan. Kadang-kadang, hubungan itu mungkin tidak terlihat langsung berkaitan. Namun, justru dari proses menghubungkan berbagai gagasan itulah saya bisa menemukan sudut pandang baru.

Misalnya, ketika membaca The Psychology of Money karya Morgan Housel, saya tertarik pada pembahasan tentang pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang. Ada analogi tentang zaman es yang menggambarkan bagaimana perubahan besar dapat terbentuk melalui proses yang berlangsung sangat lama. Pembahasan ini juga bisa dihubungkan dengan perjalanan Warren Buffett dalam membangun kekayaannya melalui investasi dan efek pertumbuhan yang terakumulasi selama puluhan tahun. Oh ya, saya sudah menulisnya dengan judul Bagaimana Jika Kita Baru Menemukan Kesuksesan di Usia 60 Tahun?

Namun, ketika merenungkan gagasan tersebut, saya tentu tidak bisa begitu saja menyamakan kondisi keuangan saya dengan kondisi Warren Buffett. Situasi, kesempatan, sumber daya, dan perjalanan hidup kami sangat berbeda.

Justru dari perbedaan itulah saya bisa mengajukan pertanyaan lain. Apa makna pertumbuhan jangka panjang bagi seseorang dengan penghasilan dan kemampuan finansial yang terbatas? Bagaimana saya bisa menerapkan prinsip konsistensi dalam kehidupan sendiri tanpa harus membandingkan hasil akhirnya dengan pencapaian orang lain?

Bagi saya, refleksi semacam ini membuat buku terasa lebih dekat dengan kehidupan. Gagasan yang semula berada di dalam halaman buku menjadi bahan untuk memahami pengalaman dan keadaan kita sendiri.

5. Recite, Menceritakan Kembali dengan Bahasa Sendiri

Nah, inilah tahap yang paling saya ingat dari obrolan dengan bapak dosen tersebut, terutama karena beliau menekankan pentingnya menuliskan kembali isi buku.

Dalam metode PQ4R, recite berarti mencoba mengutarakan kembali apa yang sudah dipahami tanpa terus-menerus bergantung pada teks. Kita bisa menjelaskannya secara lisan atau menuliskannya menggunakan bahasa sendiri.

Mengapa tahap ini penting?

Sebab, ketika membaca, terkadang kita merasa sudah memahami suatu gagasan hanya karena kalimat-kalimatnya terasa masuk akal. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali tanpa membuka buku, kita justru kesulitan menyusun kata-kata.

Dari situ, kita bisa mengetahui bagian mana yang benar-benar sudah dipahami dan bagian mana yang masih perlu dipelajari ulang.

Saya ingin mencoba menerapkan tahap ini melalui tulisan di blog. Jadi, setelah membaca sebuah buku, saya tidak hanya menyimpan catatan atau menandai halaman yang menarik. Saya ingin mencoba menceritakan kembali gagasan utama buku tersebut, menyarikan pemikiran penulis, lalu menuliskan apa yang saya pahami dengan bahasa sendiri.

Tulisan itu tidak harus menjadi rangkuman lengkap dari seluruh isi buku. Saya juga tidak harus membahas setiap bab secara berurutan. Bisa jadi, saya hanya mengambil satu gagasan yang menarik, kemudian menjelaskannya dan menghubungkannya dengan refleksi pribadi.

Dengan begitu, tulisan yang dihasilkan bukan sekadar ringkasan, melainkan juga dokumentasi atas proses berpikir saya setelah membaca.

6. Review, Memeriksa Kembali Apa yang Sudah Dipahami

Tahap terakhir adalah review, yaitu meninjau kembali materi yang sudah dibaca dan dipelajari.

Setelah mencoba menceritakan kembali isi buku, kita bisa membuka buku lagi untuk memeriksa apakah pemahaman kita sudah tepat. Apakah ada gagasan penting yang terlewat? Apakah kita keliru memahami maksud penulis? Apakah catatan yang dibuat sudah cukup mewakili pokok pembahasan?

Tahap ini juga bisa dilakukan beberapa waktu setelah membaca. Kita dapat melihat kembali catatan atau tulisan yang pernah dibuat untuk mengingat gagasan utama buku tersebut.

Menurut saya, tahap review penting agar kita tidak hanya mengandalkan ingatan. Ketika menuliskan refleksi pribadi, kita memang memiliki kebebasan untuk mengembangkan pemikiran, tetapi tetap perlu membedakan antara gagasan asli penulis dan penafsiran kita sendiri.

Dengan begitu, tulisan yang dihasilkan bisa menjadi bahan belajar yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang membacanya.

Termotivasi untuk Mulai Menuliskan Buku yang Saya Baca

Sejujurnya, saya belum bisa mengatakan bahwa saya sudah menerapkan metode PQ4R secara konsisten. Saya masih dalam tahap mengenal dan mencoba memahami bagaimana metode ini dapat diterapkan dalam kebiasaan membaca sehari-hari.

Namun, obrolan dengan bapak dosen tersebut membuat saya memikirkan kembali hubungan antara membaca dan menulis.

Selama ini, saya memang sesekali menuliskan refleksi dari buku yang sedang dibaca. Salah satunya adalah ketika membaca The Psychology of Money. Saya tertarik pada gagasan tentang pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang, lalu mencoba menghubungkannya dengan keadaan finansial dan pengalaman hidup saya sendiri.

Ke depannya, saya ingin mencoba melakukannya dengan lebih teratur. Setiap kali ada kesempatan membaca buku yang menarik, saya ingin menyisihkan waktu untuk menuliskan kembali gagasan yang paling berkesan, pemahaman yang saya peroleh, serta pertanyaan yang muncul setelah membacanya.

Mungkin tidak semua buku akan saya tuliskan secara lengkap. Ada buku yang cukup dirangkum gagasan utamanya, ada yang menarik untuk direnungkan lebih jauh, dan ada pula yang mungkin baru bisa saya pahami setelah membacanya kembali.

Saya juga ingin menjadikan blog ini sebagai tempat menyimpan hasil pembacaan tersebut. Bukan karena saya merasa sudah memahami semua hal yang saya baca, melainkan justru karena saya ingin terus belajar dan memiliki catatan tentang perjalanan berpikir saya.

Saya teringat bahwa obrolan itu bermula dari pertemuan yang sebenarnya sederhana. Saya sedang duduk di kafe sambil membawa sebuah buku, lalu seseorang yang tidak begitu saya kenal mengajak berbicara tentang cara membaca.

Dari obrolan tersebut, saya mendapat pengingat bahwa membaca bukan hanya soal berapa banyak buku yang berhasil kita selesaikan. Ada proses lain yang tidak kalah penting, yaitu memahami, merenungkan, mengingat, dan mengolah kembali gagasan yang kita temukan.

Sebab, pada akhirnya, buku yang selesai kita baca belum tentu menjadi pengetahuan yang benar-benar kita kuasai. Barangkali, kita baru mulai memilikinya ketika mampu menjelaskan kembali gagasannya, mengujinya dengan pemikiran sendiri, dan menemukan maknanya dalam kehidupan.

Dan saya ingin mulai belajar melakukan itu, satu buku demi satu buku.

You May Also Like

Leave a Reply