Belajar dari Teori Kebenaran Pragmatis dan Merefleksikannya pada Konflik Sehari-hari
Belakangan saya banyak menulis hal-hal ringan yang berkaitan dengan Sosiologi. Namun, saya juga pernah mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu, dan saya teringat ada teori kebenaran, yaitu teori kebenaran pragmatis. Sederhananya, teori ini memandang bahwa sesuatu dapat dianggap benar apabila memiliki kegunaan atau memberikan manfaat dalam kehidupan praktis.
Awalnya, pembahasan ini memang merupakan materi filsafat pada umumnya. Di kelas membahas kegunaan sebuah penemuan, teori, dan sebagainya. Ada definisi, konsep, dan berbagai pandangan tentang bagaimana sesuatu bisa disebut benar. Namun, semakin dipikirkan, saya justru menemukan bahwa gagasan tersebut cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya ketika kita menghadapi konflik dengan orang lain.
Konflik sosial maupun interpersonal juga menjadi daya tarik sendiri karena belakangan ini saya mengajar Sosiologi Komunikasi. Jadi ada kesinambungan pada rumpun keilmuan tersebut.
Saya kemudian berpikir, bukankah dalam beberapa situasi, persoalan yang kita hadapi tidak selalu membutuhkan pembuktian tentang siapa yang paling benar? Terkadang, yang lebih kita butuhkan justru sebuah solusi agar persoalan menemukan penyelesaiannya bagi semua pihak.
Mengenal Teori Kebenaran Pragmatis
Dalam filsafat, ada beberapa teori yang digunakan untuk menjelaskan kebenaran. Teori korespondensi, misalnya, memandang kebenaran sebagai kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Jika seseorang mengatakan bahwa hujan sedang turun, pernyataan itu benar apabila memang hujan sedang turun.
Ada pula teori koherensi yang melihat kebenaran berdasarkan kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan lain dalam suatu sistem pemikiran yang konsisten.
Sementara itu, teori kebenaran pragmatis memiliki penekanan yang berbeda. Kebenaran dilihat dari kegunaan atau konsekuensi praktisnya. Suatu gagasan dianggap benar apabila dapat bekerja, memberikan manfaat, atau membantu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan.
Tentu saja, teori ini tidak berarti bahwa semua hal yang menguntungkan otomatis benar secara moral atau faktual. Ada konteks dan pertimbangan yang perlu diperhatikan. Namun, gagasan tentang kegunaan inilah yang menarik untuk dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Membawa Teori ke Dalam Kehidupan Sehari-hari
Saya memang lebih tertarik membicarakan teori melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan karena pembahasan ilmiah tidak penting, tetapi karena saya merasa sebuah konsep akan lebih mudah dipahami ketika kita bisa menemukan contohnya dalam kehidupan sendiri.
Ini juga merupakan proses saya mengurai gagasan sehingga lebih kuat dalam membangun basic keilmuan untuk mengajar di kelas.
Kita mungkin tidak selalu menggunakan istilah kebenaran pragmatis ketika mengambil keputusan. Namun, tanpa sadar, kita sering menggunakan pertimbangan yang serupa.
Misalnya ketika menghadapi konflik. Ada persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan membicarakannya sampai tuntas. Namun, ada juga situasi ketika pembicaraan yang terus dilanjutkan justru membuat masalah semakin besar.
Dalam kondisi seperti itu, saya rasa kita perlu mempertimbangkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita perlu melihat apa dampak dari keputusan yang akan diambil.
Ketika Konflik Tidak Selalu tentang Siapa yang Benar
Konflik merupakan bagian dari kehidupan sosial. Dua orang bisa saja memiliki karakter, pendapat, kepentingan, atau cara pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi masalah, tetapi bisa berkembang menjadi konflik ketika masing-masing pihak merasa pendapatnya paling tepat.
Saya pernah beberapa kali melihat situasi seperti ini dalam grup WhatsApp wali murid. Misalnya, ketika ada pembahasan tentang lomba Agustusan, pembagian kelompok, atau persoalan lain yang melibatkan kepentingan beberapa orang tua.
Awalnya mungkin hanya ada satu orang yang menyampaikan keberatan. Kemudian orang lain menanggapi. Ada yang merasa pendapatnya tidak dihargai, ada yang tersinggung dengan cara penyampaian seseorang, lalu muncul balasan berikutnya. Persoalan yang awalnya sederhana bisa bergulung-gulung menjadi konflik yang lebih besar.
Dalam situasi seperti itu, saya tahu rasanya ketika ada orang yang tiba-tiba mengatakan, “Sudah, sudah, jangan dibahas lagi.”
Padahal, kita masih punya banyak unek-unek yang belum disampaikan. Ada hal-hal yang menurut kita perlu diluruskan. Ada keberatan yang belum sempat dijelaskan. Rasanya tentu tidak menyenangkan ketika pembicaraan dihentikan begitu saja.
Begitu juga ketika kita sedang menyampaikan keberatan, tetapi lawan bicara menjawab, “Aku iyain aja deh.” Kalimat singkat itu justru bisa membuat kita semakin kesal. Kita merasa tidak sedang mencari orang yang sekadar mengiyakan, tetapi ingin agar apa yang kita sampaikan benar-benar didengar.
Saya memahami perasaan tersebut karena saya termasuk orang yang senang mengusut persoalan sampai tuntas. Biasanya, saya baru merasa lega ketika sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan dan persoalannya terasa selesai.
Namun, saya juga pernah berada di posisi sebaliknya. Ada kalanya saya merasa pembicaraan sudah terlalu panjang, sementara ada urusan lain yang harus dipikirkan. Saya mulai menyadari bahwa meneruskan konflik tidak selalu memberikan hasil yang lebih baik bagi kedua belah pihak.
Di sinilah saya melihat bahwa persoalan konflik tidak sesederhana menentukan siapa yang memulai dan siapa yang paling banyak melakukan kesalahan. Ada pertimbangan lain yang terkadang jauh lebih penting.
Ada Kalanya Kita Perlu Menghentikan Pembicaraan
Saya pernah mengalami situasi ketika ada anggota keluarga yang berkonflik dengan orang tua saya. Sebagai anak, tentu ada keinginan untuk membela orang tua. Ketika merasa ada sesuatu yang tidak beres, saya ingin menyampaikan keberatan dan membicarakan persoalan tersebut sampai jelas.
Bahkan, dalam perjalanan menggunakan kendaraan, saya masih terus membicarakan persoalan itu. Saya mengungkapkan kekesalan tentang sikap paman yang menurut saya kurang tepat. Rasanya masih banyak hal yang ingin saya sampaikan.
Namun, orang tua saya justru meminta agar pembicaraan dihentikan. Bukan karena persoalannya sudah selesai atau mereka menganggap tidak ada masalah, tetapi karena ada hal lain yang sedang mereka pikirkan.
Bisa jadi bapak sedang memikirkan sawah, tanah warisan orang tuanya, atau persoalan sekolah adik saya. Ada banyak urusan yang harus dipikirkan dalam waktu bersamaan. Sementara itu, saya masih sibuk membicarakan konflik yang sama.
Dalam kondisi seperti itu, saya mulai memahami bahwa ada kalanya pembicaraan memang perlu dihentikan sementara.
Bukan berarti saya harus menganggap persoalan tersebut tidak penting. Bukan pula berarti keberatan yang saya rasakan harus diabaikan. Namun, ada saatnya kita perlu mengalihkan perhatian ke hal lain yang lebih mendesak.
Misalnya, persoalan tersebut bisa dibicarakan kembali besok ketika situasinya lebih memungkinkan. Jika memang perlu, kita bisa menemui orang yang bersangkutan secara langsung untuk membicarakannya dengan lebih tenang.
Jadi, menghentikan pembicaraan tidak selalu berarti menyelesaikan konflik. Ada kalanya itu hanya jeda agar persoalan tidak terus memenuhi pikiran, sementara ada tanggung jawab lain yang juga perlu diperhatikan.
Saya rasa pengalaman seperti ini cukup menggambarkan bagaimana sebuah keputusan bisa dipertimbangkan berdasarkan manfaatnya. Kita mungkin masih merasa kesal, tetapi memilih diam untuk sementara bisa menjadi keputusan yang lebih baik daripada terus membicarakan persoalan ketika orang lain sedang tidak memiliki ruang untuk memikirkannya.
Kapan Sebaiknya Konflik Dihentikan?
Menurut saya, tidak semua konflik harus dihentikan. Ada persoalan yang memang perlu dibicarakan sampai tuntas, terutama ketika ada kesalahan yang harus diakui atau ada hak seseorang yang perlu diperjuangkan.
Namun, ada beberapa situasi ketika menghentikan konflik justru menjadi pilihan yang lebih bermanfaat.
Pertama, ketika meneruskan perdebatan justru berpotensi memperbesar masalah. Misalnya, persoalan yang awalnya hanya berupa perbedaan pendapat mulai mengarah pada saling menghina, ancaman, atau bahkan kemungkinan kekerasan fisik. Dalam situasi seperti ini, memaksakan pembicaraan agar selesai saat itu juga bukan keputusan yang bijak.
Kedua, ketika ada kepentingan lain yang lebih mendesak. Kita mungkin sedang berkonflik dengan seseorang, tetapi pada saat yang sama ada pekerjaan, tanggung jawab, atau persoalan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Jika meneruskan perdebatan justru membuat kedua pihak kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan urusan yang lebih penting, mengambil jeda bisa menjadi pilihan yang masuk akal.
Ketiga, ketika kita mulai menyadari bahwa perdebatan tidak lagi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Masing-masing pihak hanya mengulang pendapat, membalas perkataan, dan berusaha mempertahankan posisinya. Tidak ada informasi baru, tidak ada upaya memahami, dan tidak ada jalan keluar yang ditemukan.
Namun, ada satu hal yang menurut saya juga perlu diperhatikan. Menghentikan konflik begitu saja bukan berarti kita boleh mengabaikan akibatnya.
Bayangkan jika ada persoalan yang belum selesai, kemudian salah satu pihak diminta diam tanpa pernah mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan keberatan. Bisa jadi persoalan tersebut justru tersimpan menjadi dendam. Bisa pula muncul masalah baru karena orang yang bersangkutan mencari cara lain untuk melampiaskan kekecewaannya.
Dalam situasi seperti itu, menghentikan pembicaraan tanpa rencana penyelesaian bukanlah solusi yang benar-benar bermanfaat. Kita tetap perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan, memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk berbicara, dan mencari waktu yang lebih tepat untuk menyelesaikannya.
Jadi, pertimbangannya bukan sekadar apakah konflik perlu dihentikan atau diteruskan. Kita perlu melihat konsekuensi dari kedua pilihan tersebut. Mana yang memberikan manfaat lebih besar? Mana yang justru berpotensi menimbulkan kerugian baru?
Tidak Harus Selalu Menang untuk Menemukan Solusi
Dari teori kebenaran pragmatis, kegunaan sebuah keputusan juga penting untuk dipertimbangkan. Gagasan ini bisa menjadikan pondasi berpikir ulang tentang kebiasaan kita dalam menghadapi konflik.
Ada kalanya kita terlalu sibuk membuktikan bahwa pendapat kita benar. Kita ingin orang lain mengakui kesalahannya, memahami alasan kita, dan memberikan pembenaran atas apa yang kita rasakan. Padahal, belum tentu semua itu membawa kita pada penyelesaian masalah.
Bukan berarti kita harus selalu mengalah atau membiarkan orang lain melakukan kesalahan. Ada persoalan yang memang harus diperjuangkan dan diselesaikan. Namun, kita juga perlu memiliki kemampuan untuk melihat kapan sebuah perdebatan sudah tidak lagi memberikan manfaat.
Menyelesaikan konflik bukan selalu tentang siapa yang berhasil mempertahankan pendapatnya. Terkadang, keputusan yang lebih baik justru lahir ketika kita bersedia melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas, dan mempertimbangkan apa yang paling bermanfaat bagi semua pihak.
