Mengapa Kita Sulit Mempercayai bahwa Ada Hubungan yang Benar-Benar Tulus?
Pernahkah kita melihat pasangan yang terlihat begitu mesra, lalu diam-diam berpikir bahwa kebahagiaan mereka mungkin hanya sementara? Atau ketika melihat seseorang begitu setia kepada pasangannya, kita justru merasa bahwa suatu saat pasti ada pengkhianatan yang terjadi?
Menariknya, terkadang kita tidak benar-benar mengenal kehidupan orang-orang tersebut. Kita hanya melihat mereka dari luar, tetapi sudah memiliki kesimpulan sendiri tentang bagaimana hubungan mereka berjalan.
Saya jadi teringat dengan tulisan sebelumnya tentang hal-hal yang sulit kita percayai sebelum mengalaminya sendiri. Salah satu hal yang menarik untuk direnungkan adalah bagaimana pengalaman dan lingkungan sosial ternyata bisa membentuk keyakinan kita tentang cinta, kesetiaan, dan hubungan antarmanusia.
Bagaimana Lingkungan Membentuk Cara Kita Memandang Hubungan?
Dalam kajian komunikasi massa, ada teori yang dikenal dengan nama teori kultivasi (cultivation theory) yang dikembangkan oleh George Gerbner. Secara sederhana, teori ini menjelaskan bagaimana paparan media secara terus-menerus dapat membentuk persepsi seseorang tentang realitas sosial.
Apa yang sering kita tonton dan konsumsi bisa memengaruhi cara kita melihat dunia. Jika seseorang terus-menerus terpapar tayangan yang menggambarkan kekerasan, misalnya, ia bisa memiliki persepsi bahwa dunia jauh lebih berbahaya daripada kenyataan yang sebenarnya.
Menariknya, gagasan ini juga bisa menjadi bahan refleksi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya media, lingkungan pergaulan, keluarga, pengalaman pribadi, bahkan orang-orang yang kita jadikan panutan turut membentuk keyakinan kita.
Apa yang sering kita lihat dan dengar perlahan-lahan bisa dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Bahkan, kita mungkin tidak menyadari bahwa ada kenyataan lain yang berbeda dari apa yang selama ini kita kenal.
Saya pernah cukup lama berada di lingkungan sosial yang membuat saya melihat hubungan antarmanusia dari sudut pandang yang kurang menyenangkan. Ada beberapa fenomena yang sampai sekarang masih saya ingat.
Pertama, saya pernah mendengar komentar seseorang yang usianya sudah cukup matang dan telah menikah ketika melihat pasangan muda yang baru menikah terlihat mesra.
Kurang lebih komentarnya seperti ini, “Sekarang memang masih mesra. Nanti satu atau dua tahun lagi belum tentu.”
Saya cukup heran mendengarnya. Mengapa melihat kebahagiaan pasangan lain justru memunculkan komentar seperti itu? Mengapa bukan mendoakan agar hubungan mereka tetap harmonis?
Komentar serupa ternyata juga sering ditemukan di media sosial. Ketika ada pasangan yang membagikan momen kebersamaan, tidak jarang muncul tanggapan bahwa pernikahan mereka masih seumur jagung. Isinya masih bahagia-bahagia saja. Belum tahu bagaimana nanti.
Coba kita pikirkan sebentar. Apakah kita juga pernah memiliki pemikiran seperti itu?
Seolah-olah hubungan yang baru dimulai memang wajar dipenuhi kebahagiaan, tetapi semakin lama dijalani, cinta akan memudar, kesetiaan mulai dipertanyakan, dan konflik menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan.
Fenomena kedua yang pernah saya temui adalah candaan di lingkungan pertemanan. Dalam sebuah perkumpulan, ada pasangan suami istri yang sedang menerima kunjungan teman-temannya. Ketika sang suami memberikan kombinasi angka dan huruf sebagai kata sandi Wi-Fi rumahnya, beberapa teman laki-lakinya justru melontarkan candaan bernada sindiran.
Mereka menebak-nebak apakah kombinasi tersebut merupakan tanggal spesial yang berkaitan dengan perempuan lain.
Padahal, istri dan anak kecilnya berada di tempat yang sama. Mungkin bagi mereka itu hanya candaan. Namun, saya melihat ada sesuatu yang cukup mengganggu dari cara berpikir di balik candaan tersebut. Seolah-olah kesetiaan seorang suami memang pantas dicurigai, bahkan ketika tidak ada alasan yang jelas.
Fenomena ketiga berkaitan dengan pendekatan romantis (PDKT) oleh orang-orang yang sudah punya pasangan kepada seorang wanita cantik. Saya pernah mengenal beberapa perempuan yang terbilang menarik secara visual dan pembawaan. Dari cerita mereka, ternyata ada laki-laki yang sudah memiliki pacar, bahkan bertunangan dan menikah, tetapi tetap berusaha mendekati mereka.
Bukan sekadar mengagumi dari jauh. Ada yang menghubungi melalui SMS dan telepon, mengajak bertemu, bahkan menunjukkan ketertarikan secara serius.
Cerita-cerita seperti ini, ditambah pengalaman mendengar perselingkuhan dari orang-orang yang sudah menikah maupun sosok yang pernah dijadikan panutan, perlahan membentuk gambaran tertentu tentang hubungan.
Tanpa disadari, kita bisa mulai mempercayai bahwa tidak ada hubungan yang benar-benar bisa dipercaya. Pernikahan dianggap hanya sebagai formalitas, sedangkan kesetiaan seolah-olah hanya berlaku selama seseorang belum menemukan orang lain yang lebih menarik.
Ketika Kecurigaan Menjadi Cara Kita Memandang Hubungan Orang Lain
Masalahnya, keyakinan seperti itu tidak berhenti sebagai pemikiran. Ia bisa memengaruhi cara kita memperlakukan orang lain.
Kita menjadi mudah curiga kepada pasangan sendiri. Ketika seseorang terlihat bahagia dengan pasangannya, kita menganggap kebahagiaan itu hanya sementara. Ketika melihat pasangan yang sudah lama bersama, kita berasumsi bahwa mereka mungkin hanya bertahan karena sudah terlanjur menjalani hubungan terlalu lama.
Bahkan, kita bisa meremehkan komitmen orang lain melalui perkataan maupun tindakan.
Ada yang dengan mudah melontarkan komentar sinis terhadap pasangan yang sedang berbahagia. Ada pula yang merasa tidak masalah mendekati seseorang yang sudah memiliki pasangan karena menganggap hubungan orang tersebut mungkin sebenarnya tidak sebaik yang terlihat.
Dalam bentuk yang lebih jauh, cara pandang seperti ini bisa membuat seseorang merasa tidak ada yang salah ketika berusaha merebut pasangan orang lain.
Mengapa bisa demikian?
Salah satu kemungkinannya adalah karena ia tidak benar-benar melihat hubungan tersebut sebagai sesuatu yang bernilai. Ia tidak membayangkan adanya ikatan emosional, perjuangan, kepercayaan, dan komitmen yang mungkin telah dibangun bertahun-tahun oleh dua orang di dalamnya.
Tentu saja, perselingkuhan dan pengkhianatan memang nyata. Tidak semua pernikahan berjalan harmonis dan tidak semua orang mampu menjaga komitmennya. Namun, apakah pengalaman-pengalaman tersebut cukup untuk membuat kita menyimpulkan bahwa semua hubungan pasti memiliki cerita yang sama?
Menurut saya, di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai pengalaman buruk yang sering kita lihat membuat kita kehilangan kemampuan untuk mempercayai bahwa hubungan yang tulus juga benar-benar ada.
Mengenal Cinta yang Tulus Membuat Kita Lebih Berempati
Ada satu hal yang kemudian membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana seharusnya memandang hubungan orang lain.
Saya menyadari bahwa ketika seseorang pernah mengenal cinta yang begitu dalam, ia mungkin akan memiliki perspektif berbeda tentang hubungan manusia.
Cinta seperti ini tidak selalu harus berakhir dengan pernikahan atau hubungan yang berhasil diwujudkan. Bisa saja seseorang pernah mencintai dengan tulus, memiliki ikatan emosional yang begitu kuat, tetapi pada akhirnya tidak berjodoh.
Namun, pengalaman tersebut tetap bisa mengajarkan sesuatu.
Begitu juga mungkin seseorang yang benar-benar memiliki pasangan yang setia dan memilihi ikatan batin yang kuat. Baik itu dalam pernikahan atau hubungan yang menuju jenjang pernikahan.
Ketika kita pernah merasakan bagaimana berharganya seseorang dalam kehidupan kita, bagaimana sulitnya menggantikan ikatan emosional yang sudah terbentuk, kita akan lebih mudah memahami bahwa orang lain mungkin juga memiliki hubungan yang sama berharganya.
Misalnya, ketika melihat pasangan suami istri yang sedang mengantar anaknya ke sekolah, berangkat bekerja bersama, atau sekadar menikmati waktu berdua, kita tidak lagi terburu-buru menilai hubungan mereka.
Bisa jadi mereka benar-benar saling mencintai. Bisa jadi mereka memiliki cerita panjang tentang bagaimana mempertahankan hubungan, melewati kesulitan, dan belajar menerima kekurangan satu sama lain.
Kita memang tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah mereka. Namun, setidaknya kita bisa memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa hubungan mereka memang tulus dan layak dihargai.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk empati yang penting. Kita tidak harus mengetahui seluruh cerita seseorang untuk bisa menghormati hubungan yang sedang dijalaninya.
Menghormati Komitmen Dimulai dari Cara Kita Menjaga Batas
Pemahaman tersebut ternyata juga memengaruhi cara saya berinteraksi dengan orang lain.
Ketika mengenal seorang laki-laki yang sudah memiliki istri, misalnya, saya berusaha menempatkan hubungan itu dengan sewajarnya. Saya tidak merasa perlu mencari kedekatan personal yang tidak mendesak, apalagi sengaja mencari perhatian atau mengikuti kehidupan pribadinya tanpa alasan yang jelas.
Dalam sebuah komunitas, misalnya, ketika mengenal pasangan suami istri, saya cenderung lebih banyak menyapa dan berinteraksi dengan istrinya. Jika suaminya mengajak berbicara, tentu saya tetap bisa merespons dengan ramah. Namun, saya tidak merasa perlu membangun kedekatan khusus.
Begitu pula di media sosial. Saya tidak merasa harus mengikuti setiap aktivitas pribadi laki-laki yang sudah memiliki pasangan. Jika ada informasi pekerjaan atau hal profesional yang relevan, tentu berbeda persoalannya.
Bagi saya, menjaga batas seperti ini bukan berarti kita harus mencurigai semua interaksi antara laki-laki dan perempuan. Ini lebih kepada kesadaran bahwa ada hubungan yang perlu kita hormati, termasuk dengan tidak menciptakan kedekatan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Saya juga tidak ingin menganggap bahwa setiap orang yang berinteraksi dengan pasangan orang lain pasti memiliki niat tertentu. Namun, menurut saya, menjaga sikap dan memahami batasan merupakan bentuk penghargaan terhadap komitmen orang lain.
Pada akhirnya, kita memang tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana hubungan seseorang berjalan. Ada pasangan yang terlihat biasa saja, tetapi memiliki ikatan emosional yang begitu kuat. Ada pula yang terlihat sangat mesra, tetapi sedang berjuang menghadapi persoalan rumah tangganya.
Kita tidak bisa menyimpulkan semuanya hanya dari apa yang terlihat.
Mungkin, salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah jangan menjadikan pengalaman dan lingkungan kita sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai hubungan orang lain.
Sebab, ketika kita mulai memahami bahwa cinta yang tulus itu mungkin ada, kita juga akan lebih mudah menghargai komitmen yang sedang dijaga oleh orang lain.
Kita tidak harus memiliki hubungan yang sempurna untuk bisa menghormati hubungan orang lain. Cukup dengan menyadari bahwa di balik sebuah hubungan, ada dua manusia yang mungkin sedang berusaha menjaga sesuatu yang sangat berharga bagi mereka.
