Review Coffee at Home Purwokerto: Ngopi, Baca Buku, sampai Pinjam Buku
Saya termasuk orang yang senang menghabiskan waktu di kafe. Tapi bukan berarti setiap datang ke kafe saya selalu ingin ngobrol atau nongkrong ramai-ramai. Justru salah satu alasan saya suka datang ke kafe adalah karena saya bisa menyendiri untuk beberapa jam sambil membaca atau menyelesaikan pekerjaan.
Selain karena tuntutan pekerjaan sebagai dosen, membaca itu sudah seperti bagian dari kebutuhan. Mau tidak mau harus terus membaca karena bahan untuk mengajar juga tidak mungkin datang begitu saja. Selain membaca materi kuliah, saya juga masih suka membaca novel, buku biografi, buku inspirasi, atau buku-buku lain yang kebetulan menarik untuk saya.
Karena itu, saya cukup pilih-pilih kalau mencari kafe untuk membaca atau bekerja. Saya biasanya lebih nyaman di tempat yang tidak terlalu ramai, bahkan kalau bisa yang suasananya hening. Salah satu tempat yang beberapa kali saya datangi adalah Coffee at Home di Jalan Moh. Besar, Purwokerto. Instagram: coffeeathome16
Tulisan ini bukan review lengkap tentang semua hal yang ada di kafe tersebut. Saya belum sempat menjajaki seluruh ruangan, semua menu, maupun semua fasilitasnya. Ini lebih kepada pengalaman saya sebagai pengunjung yang memang datang untuk membaca, bekerja, ngopi, dan sesekali mengikuti diskusi.
Kafe yang Suasananya Hening


Hal pertama yang paling saya suka dari Coffee at Home adalah suasananya yang senyap. Bukan café yang diiringi music atau yang dikunjungi orang-orang yang mengobrol dengan suara keras.
Buat saya, kondisi seperti ini menyenangkan sekali untuk membaca. Apalagi kalau sedang membaca bahan kuliah atau sesuatu yang membutuhkan konsentrasi. Rasanya berbeda dengan membaca di rumah yang sering kali harus berhadapan dengan berbagai aktivitas lain.
Di Coffee at Home juga ada area indoor dan outdoor. Kalau ingin ngobrol ramai-ramai, area outdoor menurut pengamatan saya lebih cocok. Meja dan tempat duduk di luar cukup banyak dan suasananya memang lebih leluasa untuk berbincang. Ada juga pengunjung yang memilih area luar untuk merokok.
Sementara itu, area indoor terasa lebih tenang. Menariknya, bagian dalam kafe ini cukup luas dan terdiri dari beberapa ruangan seperti lapisan ruangan rumah, karena memang basic bagunannya adalah rumah tinggal yang cukup luas.
Ruangan pertama terasa seperti ruang tamu, tetapi sudah ditata dengan meja-meja untuk pelanggan. Kemudian ada ruangan berikutnya yang memiliki beberapa meja untuk bekerja atau membaca. Ada juga meja yang cukup besar dan terasa cocok untuk diskusi.
Semakin ke dalam, ruangannya semakin luas. Di bagian paling dalam terdapat beberapa kursi dan sofa, serta meja besar yang bisa digunakan untuk berdiskusi atau ngobrol bersama beberapa orang. Jadi, meskipun suasananya cenderung tenang, bukan berarti kafe ini hanya cocok untuk orang yang datang sendirian.
Namun anehnya, meski banyak pengunjung yang datang berdua atau berkelompok, suasananya masih tetap terasa tenang.
Banyak Buku di Berbagai Sudut


Nah, ini bagian yang paling menarik perhatian saya.
Coffee at Home punya cukup banyak koleksi buku. Buku-buku tersebut tidak hanya berada di satu tempat, tetapi bisa ditemukan di beberapa bagian ruangan. Semakin masuk ke bagian dalam, koleksinya juga terlihat semakin banyak.
Saya memang belum bisa mengatakan secara detail buku apa saja yang tersedia di setiap rak. Saya juga belum sempat mengategorikannya satu per satu. Jadi, kalau teman-teman ingin tahu koleksi lengkapnya, lebih baik datang dan melihat langsung.
Dari yang sempat saya lihat, ada novel berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Ada buku fiksi dan nonfiksi, buku-buku yang sifatnya umum, sampai buku yang cukup unik.
Yang membuat saya senang, ternyata ada juga buku-buku yang berhubungan dengan bidang perkuliahan. Bahkan beberapa buku yang saya temui berkaitan dengan mata kuliah yang sekarang saya ampu, seperti Sosiologi Komunikasi dan Komunikasi Massa.
Jadi, datang ke sini tidak selalu harus membawa buku sendiri. Kalau sedang ingin membaca sesuatu yang berbeda, bisa juga melihat-lihat koleksi yang tersedia.
Dan ternyata bukan cuma melihat.
Saya sudah dua kali meminjam buku dari Coffee at Home dan bahkan sudah memperpanjang masa peminjamannya. Aturannya, kalau tidak salah, maksimal bisa meminjam dua buku dengan masa peminjaman sampai sepuluh hari. Untuk persyaratannya cukup memberikan foto KTP. Sementara denda keterlambatan yang berlaku adalah Rp2.000 per hari.
Buat saya pribadi, keberadaan fasilitas peminjaman buku seperti ini menjadi nilai tambah tersendiri.
Ngopi, Makan, dan Tetap Bisa Membaca


Untuk urusan menu, saya memang belum mencoba semuanya. Jadi saya juga tidak mau mengklaim sudah mereview seluruh menu yang tersedia.
Secara umum, pilihannya cukup beragam. Ada makanan ringan, makanan yang lebih mengenyangkan, menu coffee, sampai minuman non-coffee.
Kalau datang sendiri, salah satu yang paling sering saya pesan adalah kopi gula aren. Ini termasuk minuman yang cukup sering saya pilih ketika sedang membaca atau mengerjakan sesuatu. Harganya sekitar Rp26 ribu.
Untuk makanan ringan, saya biasanya pesan dimsum yang harganya sekitar Rp15 ribu. Risol mayo juga salah satu yang pernah saya pesan, dengan harga yang kurang lebih sama.
Pernah juga saya datang dalam kondisi belum makan siang. Akhirnya saya pesan menu nasi atau rice bowl. Isinya nasi dengan telur orak-arik, sambal matah, serta sayuran seperti wortel dan kubis. Untuk makanan utama lainnya, dari yang saya lihat, kisaran harganya sekitar Rp20–30 ribuan per menu.
Tentu pilihan menunya masih banyak dan bisa berubah, jadi untuk daftar menu terbaru sebaiknya langsung dicek ketika datang.
Buat saya, kombinasi makanan dan minuman yang cukup terjangkau dengan suasana yang tenang membuat kafe ini nyaman untuk duduk lebih lama.
Saya Biasanya Datang untuk Apa?
Kalau datang sendiri, biasanya saya datang untuk dua alasan: membaca atau mengerjakan pekerjaan.
Kadang saya membawa bahan bacaan kuliah. Kadang membaca buku yang memang ingin saya baca untuk diri sendiri. Kadang juga membawa laptop untuk menyelesaikan pekerjaan freelance, seperti blogging atau content placement.
Biasanya saya tidak sengaja berangkat dari rumah hanya untuk ke Coffee at Home karena lokasinya lumayan jauh dari rumah saya. Saya lebih sering mampir setelah pulang kuliah, terutama kalau pulangnya masih sekitar siang atau sekitar pukul dua.
Kalau sudah lewat pukul empat, biasanya saya tidak mampir karena sudah terlalu sore.
Alasannya, kalau sudah sampai rumah, pekerjaan freelance kadang harus berbenturan dengan pekerjaan rumah. Akhirnya pekerjaan yang tadinya ingin dikerjakan malah tertunda, bahkan bisa tidak jadi dikerjakan. Jadi, mampir sebentar ke kafe setelah kuliah justru menjadi semacam ruang transisi sebelum kembali ke rumah.
Selain membaca dan bekerja sendiri, saya juga sering ke Coffee at Home untuk kegiatan komunitas Kenal Jurnal, yaitu komunitas yang rutin berdiskusi tentang jurnal penelitian sekitar dua minggu sekali. Instagram: @kenaljurnal
Di komunitas ini, kami biasanya membawa satu jurnal untuk dibaca dan dibahas. Tidak harus selalu menjadi orang yang mempresentasikan jurnal. Kalau sedang tidak sempat membaca, datang untuk menyimak pembahasan orang lain juga tetap menyenangkan.
Topiknya pun macam-macam, mulai dari kesehatan anak, ilmu gizi, psikologi, teknik informatika, hukum, agama, filsafat, dan berbagai bidang lainnya. Buat saya, suasana Coffee at Home yang tenang memang cukup mendukung kegiatan seperti ini.


Jadi, Cocok untuk Siapa?
Kalau berdasarkan pengalaman pribadi saya, Coffee at Home cocok untuk orang yang memang mencari kafe bukan sekadar untuk nongkrong.
Kalau Anda suka membaca buku sambil minum kopi, cari buku-buku yang bagus untuk menambah literasi maupun hiburan, ingin mengerjakan pekerjaan dengan laptop, membutuhkan tempat untuk diskusi yang tidak terlalu gaduh, atau sekadar ingin duduk sendiri beberapa jam, tempat seperti ini bisa menjadi pilihan.
Untuk diskusi kelompok atau ngobrol ramai-ramai, area outdoor menurut saya lebih pas. Sementara untuk membaca, bekerja, atau diskusi yang lebih serius, saya pribadi lebih nyaman di area indoor.
Dan tentu saja, tidak semua orang mencari kafe dengan suasana seperti ini. Ada yang justru senang dengan musik, suasana ramai, atau tempat yang lebih hidup. Kalau Anda tipe yang seperti itu, mungkin pengalaman yang dicari memang berbeda.
Tapi kalau Anda termasuk orang yang bisa betah berjam-jam hanya dengan buku, laptop, secangkir kopi, dan suasana yang tenang, saya rasa Coffee at Home adalah tempat yang layak dicoba.

suka banget cafe yang suasana hening gini, jadi pengen mampir juga