Review Duanja Coffee Tempat Nyaman untuk Bekerja dan Menikmati Waktu Sendiri

Kalau teman-teman mencari kafe di Purwokerto yang nyaman, luas, cocok untuk WFC (Work From Café), bisa buat nongkrong, menyendiri, membaca, ngerjain tugas kuliah, dan lain-lain, maka kafe Duanja jawabannya.

Lokasinya di Jl.Pungkuran No. 04, Purwokerto Timur. Belakang Kantor Pemda Alun-Alun Purwokerto. Boleh cek lengkapnya di Instagram Duanja Coffee @duanjacoffee

Kali ini saya akan review pengalaman saya jadi pelanggan setia kafe satu ini. Tidak hanya sekali dua kali, tapi memang benar-benar datang hampir tiap hari (meski tidak selalu).

Ini adalah kafe langganan kedua setelah Colony Social Space. Saya pindah ke Duanja karena perubahan aktivitas beberapa waktu terakhir.

Awalnya karena lokasinya yang satu arah dengan sekolah anak. Lalu, mencoba di malam hari dan ternyata cocok untuk kebutuhan.

Misalnya kafe ini lebih senyap untuk membaca, karena itu tadi, saya memiliki profesi baru sebagai pengajar. Tidak hanya mengerjakan pekerjaan freelance. Selain itu, mungkin saya juga memang butuh suasana baru.

Supaya lebih jelas, saya berikan ulasannya di bawah ini ya.

Suasana Ruangan yang Membuat Betah

Kalau dari suasananya, Duanja Coffee punya karakter yang berbeda dari kafe yang desainnya sangat modern atau sengaja dibuat sangat Instagramable. Buat saya, justru ada kesan seperti sedang berada di sebuah rumah.

Bangunannya memberikan nuansa bangunan lama seperti bangunan Belanda, dengan lantai seperti tehel-tehel kecil berwarna gelap. Dindingnya putih polos. Pencahayaannya juga menurut saya tidak terlalu terang, cenderung temaram, sehingga memberikan kesan hangat dan agak klasik.

Ternyata saya suka suasana seperti ini. Jujur, awalnya memang agak kurang, karena saya pribadi menyukai desain minimalis modern seperti Colony. Namun, ternyata, lama-lama nyaman juga.

Duanja juga bersih dan ber-AC sehingga terasa sejuk sepanjang berada di sana. Ada area indoor dan outdoor, tetapi selama ini saya hampir selalu memilih duduk di dalam.

Di ruangan indoor juga ada beberapa pilihan area. Ada ruangan terbuka dengan meja panjang seperti meja untuk meeting, ada sofa, ada kursi tinggi yang cocok untuk orang yang membawa laptop karena tersedia beberapa colokan.

Ada area lain yang justru sangat saya sukai. Ruangannya seperti dibagi menjadi beberapa bagian. Favorit saya adalah sofa berwarna hijau dengan bahan seperti kulit sintetis. Sofanya lebar, mejanya juga cukup besar, sehingga enak untuk meletakkan laptop, buku, dan barang-barang lain.

Kalau tempat itu sedang penuh, saya biasanya pindah ke meja dan kursi kayu di area yang sama. Kursi dan meja kayu juga tetap nyaman buat saya.

Ada juga ruangan dengan sofa melengkung di bagian sudut dengan meja bundar yang juga merupakan tempat favorit saya. Kemudian ada meja panjang yang bisa digunakan beberapa orang sekaligus. Kalau untuk pertemuan kecil atau meeting, menurut saya cukup memungkinkan.

Ada pula ruangan yang desainnya malah terasa seperti kamar di sebuah rumah karena bisa tertutup dengan pintu geser. Ruangan seperti ini bisa digunakan untuk kegiatan komunitas atau pertemuan. Di dalamnya ada meja panjang, kursi, dan whiteboard.

Menu yang Beragam

Hal lain yang merupakan keunggulan Duanja adalah pilihan menunya. Mereka punya pilihan menu yang beragam.

Ada kopi, non-kopi, minuman yang lebih menyegarkan, dan air mineral. Untuk makanan juga ada makanan berat, makanan ringan, dessert, dan beberapa pilihan lainnya.

Ini menurut saya sangat membantu karena kebutuhan orang yang datang ke kafe memang berbeda-beda. Ada yang datang dalam keadaan lapar karena belum makan. Ada yang memang ingin makan berat. Ada yang sudah kenyang dan cuma ingin minum. Ada juga yang datang untuk ngobrol sambil pesan makanan ringan.

Kalau untuk minuman, favorit saya yang paling saya suka di Duanja adalah Butterscotch Sea Salt. Rasanya pekat dan terasa perpaduan gurih, asin, manis, dan aroma kopi. Buat saya, ini salah satu minuman yang memang terasa khas ketika saya memesannya di sini.

Saya juga suka beberapa minuman non-kopi yang berbasis buah dan terasa segar. Mereka menamainya “Manis Mandja”, “Kesegaran”, dan lain-lain. Ada yang warnanya merah muda, kuning, sampai merah keunguan.

Penyajiannya menurut saya menarik. Minumannya menggunakan gelas bening yang cukup besar, lalu ada gelas kecil berisi es. Jadi minumannya bisa dituangkan sedikit demi sedikit.

Kalau ingin kopi yang lebih familiar, saya biasanya memilih kopi susu gula aren. Tetapi kalau dibuat peringkat pribadi, kopi susu gula aren di Duanja berarti urutan ke-3 terfavorit ya.

Untuk makanan berat, saya sering memesan Bebek Goreng Sambal Dabu. Ini salah satu yang paling sering saya pilih ketika sedang lapar. Bebeknya gurih, bagian kulitnya renyah, tetapi bagian dalamnya lembut dan tidak terasa alot. Sambalnya juga seger.

Selain itu saya pernah memesan ramen yang pedas, salad sayuran kale yang kadang disajikan dengan ayam, roti atau sandwich dengan potongan ayam dan saus, serta nasi goreng.

Kalau untuk makanan ringan seperti kentang goreng dan sejenisnya, saya pribadi bukan penggemarnya. Jadi saya tidak akan bilang semua menu di sini cocok dengan selera saya. Saya memang lebih suka makanan berat, dessert, atau minuman.

Menurut saya, kekuatan menunya justru ada pada keberagamannya. Jadi orang yang datang ke sini tidak harus punya kebutuhan yang sama dengan saya.

Mushalla yang Menjadi Nilai Plus

Satu hal yang saya sukai dari Duanja adalah mushallanya.

Buat saya, keberadaan musala yang nyaman itu penting, terutama karena saya bisa menghabiskan waktu cukup lama di kafe.

Musalanya luas, bersih, dan terawat. Mukena dan sajadah tersedia dan ditata dengan rapi. Ruangannya juga punya pencahayaan yang terang dan hangat, serta menggunakan AC.

Area wudunya juga memadai. Ada beberapa keran dan tersedia sandal yang memang digunakan untuk area wudu. Sajadahnya lumayan banyak dan selama saya menggunakannya kondisinya bersih.

Mukena yang tersedia memang tidak banyak, sekitar beberapa saja, tetapi menurut saya sudah cukup untuk ukuran kafe. Karena orang yang salat di sana umumnya bergantian. Toiletnya juga berada dekat dengan area wudu.

Hal lain yang saya perhatikan adalah ketika masuk waktu salat, pelayanan bisa mengalami jeda. Saya tidak hafal persis berapa lama atau bagaimana jadwalnya, tetapi staff biasanya mengomunikasikan kepada pelanggan apabila pesanan membutuhkan waktu lebih lama.

Saya justru sangat respect dengan hal tersebut.

Karena bagi saya, tempat usaha yang memberi ruang kepada staff untuk menunaikan ibadah itu sesuatu yang sangat baik. Saya beberapa kali datang bertepatan dengan waktu salat dan melihat staff, terutama laki-laki melakukan salat berjamaah.

Tempat untuk Menikmati Solitude

Ada satu hal lain yang mungkin agak personal, tetapi justru menjadi salah satu alasan saya betah di Duanja.

Saya cukup jarang bertemu dengan orang yang saya kenal di sini.

Selama berbulan-bulan datang, mungkin hanya satu atau dua kali saya bertemu dengan orang yang saya kenal. Itu pun bukan teman dekat, lebih kepada kenalan dari lingkungan kampus.

Bagi sebagian orang mungkin hal seperti ini tidak penting. Tetapi bagi saya cukup penting.

Karena ketika saya datang ke Duanja, saya memang sering tidak sedang ingin bertemu siapa-siapa.

Kadang saya datang karena ada deadline. Kadang ingin membaca. Kadang ingin menyelesaikan pekerjaan freelance. Tetapi ada kalanya saya datang memang hanya ingin sendiri.

Saya pernah menggunakan istilah solitude untuk menggambarkan kebutuhan seperti ini. Solitude buat saya bukan berarti saya tidak suka bersosialisasi atau tidak mau bertemu orang.

Justru kalau saya memang ingin bertemu teman, saya akan mengatur waktu untuk bertemu. Kalau tidak sengaja bertemu orang yang saya kenal di kafe, tentu saya tetap menyapa dan ngobrol. Kalau sedang tidak ada pekerjaan mendesak, saya juga tidak masalah.

Tetapi kalau sedang mengejar deadline, biasanya saya akan mengatakan dengan baik bahwa saya sedang harus menyelesaikan sesuatu dan belum bisa ngobrol lama.

Buat saya, waktu sendiri itu seperti laptop yang sedang kita sleep atau bahkan dimatikan sebentar supaya bisa diisi ulang baterainya.

Setelah seharian menjalani berbagai aktivitas, bertemu banyak orang, berpikir tentang banyak hal, dan mengerjakan banyak pekerjaan, ada waktunya kita memang perlu berhenti sebentar dari aktivitas sosial.

Dan Duanja menjadi salah satu tempat yang memungkinkan saya melakukan itu.

Pelayanan yang Ramah dan Komunikatif

Menurut saya, pelayanan adalah bagian yang tidak kalah penting dari sebuah kafe. Kalau suasana dan menu sudah bagus tetapi pelayanannya membuat tidak nyaman, pengalaman berkunjung tentu akan berbeda.

Bahkan bagi sebagian orang, pelayanan mungkin menjadi pertimbangan nomor satu. Buat saya sendiri, pelayanan di Duanja rasanya setara dengan suasana dan menu.

Staff-nya ramah, baik laki-laki maupun perempuan. Selama saya datang, tidak ada yang membuat saya merasa tidak nyaman. Kasirnya juga profesional dan cekatan.

Saya juga pernah memperhatikan bagaimana mereka melayani pelanggan yang masih memilih menu cukup lama. Mereka terlihat sabar dan tidak menunjukkan sikap terburu-buru atau tidak sabar menunggu.

Bagi saya, pelayanan bukan hanya soal senyum dan keramahan ketika berbicara. Cara membawa makanan dan minuman, kecepatan menyiapkan pesanan, cara berkomunikasi, semuanya masuk dalam pengalaman pelayanan.

Dan sejauh yang saya alami, pelayanan di Duanja termasuk cepat.

Kalau memang ada kondisi tertentu yang membuat pesanan membutuhkan waktu lebih lama, mereka juga mengomunikasikannya. Misalnya pada waktu salat, ketika proses pembuatan menu kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama, pelanggan diberi tahu dan diberi pilihan apakah bersedia menunggu.

Cara seperti itu lebih membuat pelanggan nyaman.

Diskon Khusus yang Membuat Makin Betah

Karena saya cukup sering datang, pernah suatu hari ada staff yang datang ke meja ketika sedang mengantarkan minuman. Saya kemudian diberi tahu bahwa saya mendapatkan diskon 20 persen karena cukup sering datang.

Jujur saya senang.

Rasanya seperti ada apresiasi untuk pelanggan yang memang sering datang.

Selain itu, saya juga pernah mendapatkan diskon melalui komunitas Semeja Kerja, komunitas remote worker yang saya ikuti dan beberapa kali mengadakan kegiatan di Duanja.

Jadi dalam pengalaman saya ada beberapa bentuk keuntungan yang pernah saya dapatkan, baik sebagai pelanggan yang sering datang maupun melalui diskon komunitas.

Kalau teman-teman penasaran apakah saat ini ada program diskon atau membership tertentu, menurut saya paling aman langsung bertanya kepada staff.

Salah satu contohnya, kopi susu gula aren yang harga normalnya sekitar Rp23 ribuan plus PPN, setelah mendapatkan diskon 20 persen waktu itu saya membayar sekitar Rp18 ribuan. Saya pernah duduk membaca atau bekerja sekitar dua sampai tiga jam hanya dengan membeli minuman tersebut.

Duanja Coffee Cocok untuk Siapa?

Nah, setelah saya bercerita cukup panjang tentang aktivitas saya di Duanja, saya rasa perlu ditegaskan bahwa pengalaman saya tentu bukan patokan untuk semua orang.

Sejak awal saya memang lebih banyak melihat Duanja dari kebutuhan saya sendiri. Saya datang untuk bekerja freelance, membaca, menulis, menyiapkan pekerjaan sebagai dosen, bertemu komunitas remote worker, atau sesekali hanya ingin menikmati waktu sendiri.

Tetapi kalau memperhatikan orang-orang yang datang ke sini, ternyata aktivitasnya jauh lebih beragam.

Ada yang datang untuk mengerjakan tugas. Saya cukup sering melihat mahasiswa duduk di kursi-kursi tinggi sambil membuka laptop. Ada yang mengerjakan tugas sendirian, ada juga yang berdua atau dalam kelompok kecil.

Ada yang datang untuk meeting. Bahkan pernah di meja besar yang persis berada di depan saya ada sekitar empat orang yang sedang berdiskusi. Waktu itu saya sempat mendengar mereka membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan penjualan produk impor dari China.

Ada juga yang datang untuk kegiatan komunitas. Saya sendiri pernah datang ke Duanja dalam kegiatan komunitas Semeja Kerja, kalau tidak salah satu atau dua kali.

Komunitas Remote Worker Purwokerto Semeja Kerja di Duanja Coffee
Acara komunitas Semeja Kerja Purwokerto di Duanja Coffee (Didesain ulang dengan GPT)

Kemudian ada juga yang datang untuk belajar sesuatu bersama. Misalnya membuat janji dengan teman untuk membahas atau mempelajari sesuatu.

Kalau malam hari, saya juga sering melihat area outdoor digunakan untuk duduk santai. Ada anak-anak muda, laki-laki maupun perempuan, yang datang sendiri atau berdua. Ada yang sekadar ngobrol, ada yang datang bersama teman, dan kadang suasananya cukup ramai.

Ada juga pasangan suami istri yang membawa anak. Jadi bukan hanya anak muda atau orang yang datang membawa laptop.

Bahkan kadang saya mendengar orang sedang ngobrol cukup serius, curhat, atau membicarakan masalah pribadi. Bukan karena saya sengaja mendengarkan, tetapi memang posisi mejanya cukup dekat dan suara mereka terdengar. Saya tentu tidak tahu apa sebenarnya yang sedang mereka ceritakan.

Dari situ saya melihat bahwa Duanja sebenarnya bisa digunakan untuk banyak kebutuhan.

Kalau ingin bekerja atau membaca, ada pilihan area indoor yang cukup nyaman. Kalau ingin meeting, ada meja dan ruangan yang bisa menampung beberapa orang. Kalau ingin mengerjakan tugas bersama teman, juga memungkinkan.

Kalau ingin sekadar ngobrol santai, tentu bisa. Kalau datang bersama keluarga dan anak-anak juga saya melihat ada yang melakukannya. Kalau ingin duduk di luar sambil menikmati suasana malam, tersedia area outdoor.

Jadi, buat saya, Duanja Coffee bukan hanya tempat untuk orang yang datang membawa laptop seperti saya.

Pilihan tempat duduknya pun sebenarnya kembali kepada selera masing-masing. Ada yang suka sofa, ada yang lebih nyaman di kursi tinggi, ada yang memilih ruangan indoor, ada yang lebih suka outdoor. Saya sendiri punya tempat favorit, tetapi belum tentu tempat favorit saya menjadi tempat yang paling nyaman untuk orang lain.

Sekian review Duanja Coffee berdasarkan pengalaman dan opini pribadi saya, ya. Semoga menginspirasi.

You May Also Like

Leave a Reply