Review Café Colony Purwokerto yang Bikin Betah WFC

Ada satu kafe di Purwokerto yang sering saya datangi. Bahkan hampir setahun lamanya. Bukan buat nongkrong ramai-ramai atau sekedar menikmati menunya. Namun, untuk Work from Cafe (WFC).

Laptop dibawa, duduk beberapa jam, pesan makan atau minum, lalu bekerja.

Kafe itu adalah Colony Coffee, Eatery & Social Space.

Bahkan, bisa dibilang Colony menjadi salah satu kafe pertama di Purwokerto yang saya datangi untuk pekerjaan freelance. Kalau sedang banyak pekerjaan dan ingin suasana berbeda dari rumah, saya seringnya ya ke sini.

Frekuensinya juga tidak tentu. Kadang dua hari sekali, kadang menyesuaikan banyaknya pekerjaan. Yang jelas, hampir setahun saya cukup sering berada di Colony.

Kok bisa se-istiqomah itu? Ini alasannya.

Lokasi Colony Social Space Purwokerto

Lokasi Cafe Colony Purwokerto
Sumber dari IG @esaaaaf

Colony Social Space berada di Jalan Letjen Pol Sumarto, di sekitar Perempatan Karangjambu, Purwokerto.

Kalau dari arah kampus 1 UIN SAIZU Purwokerto menuju Perempatan Karangjambu, lokasinya ada di sebelah kiri jalan dan cukup dekat dengan lampu merah. Jadi sebenarnya cukup mudah ditemukan.

Dari luar, bangunannya didominasi warna putih dengan tulisan COLONY yang besar. Desainnya minimalis-modern dan dari luar terlihat seperti bangunan yang masih relatif baru.

Kalau malam, menurut saya justru terlihat semakin estetik.

Pertama kali melihatnya, kesannya memang kafe modern yang cukup kekinian. Tetapi setelah beberapa kali datang, yang lebih menarik buat saya justru pilihan ruangannya.

Ada Area Atas dan Bunker di Bawah

Review Cafe Colony Social Space Purwokerto
Sumber: IG @sembari_mampir

Saya paling sering memilih area lantai atas.

Suasananya terang karena ada jendela kaca yang cukup besar. Cahaya dari luar membuat ruangan terasa lebih lapang dan menurut saya bagian ini juga cukup cantik kalau mau difoto untuk Instagram.

Di lantai atas ada area yang bisa digunakan untuk duduk biasa, ngobrol, atau bekerja. Ada juga ruangan yang dipisahkan dengan kaca dan dilengkapi gorden.

Kalau tidak salah, ruangan ini cukup fleksibel. Kadang meja dan kursinya ditata terpisah, tetapi bisa juga digabung menjadi meja panjang untuk meeting. Kapasitasnya lumayan banyak, mungkin sekitar belasan orang.

Saya sendiri beberapa kali memilih area ini ketika ingin bekerja dengan suasana yang sedikit lebih privat.

Sementara itu, di bawah ada area bunker. Suasananya lebih gelap dibandingkan lantai atas dan lebih terasa seperti tempat untuk nongkrong santai. Biasanya juga ada pengunjung yang merokok di area ini.

Di bunker inilah ada panggung untuk live music.

Tapi soal live music nanti saya bahas sendiri karena memang menjadi salah satu bagian yang menarik dari Colony.

Menu yang Banyak Pilihannya

Kalau soal menu, menurut saya Colony termasuk cukup lengkap.

Ada makanan berat, makanan ringan, camilan, dessert, coffee, sampai minuman non-coffee. Jadi mau datang karena lapar atau hanya ingin pesan minuman sambil membawa laptop, pilihannya cukup banyak.

Untuk menu dan harga terbaru, saya tidak ingin menuliskannya secara detail karena bisa saja sudah berubah. Lebih baik langsung cek Instagram Colony Social Space di @colonysocialspace.

Kalau ditanya menu favorit saya, salah satunya tentu Kopi Susu Colony.

Saya juga pernah suka salah satu minuman matcha mereka. Saya lupa nama persisnya, tetapi karakter matchanya cukup pekat. Rasanya creamy karena dicampur susu dan ada semacam taburan di atasnya. Nanti saya lebih baik tampilkan fotonya saja daripada salah menyebut nama menu.

Untuk makanan, yang paling sering saya suka adalah Nasi Goreng Sambal Matah.

Saya suka karena porsinya menurut saya cukup besar. Jadi kalau datang ke Colony dalam kondisi lapar, nasi goreng ini cukup aman untuk dijadikan pilihan makan siang atau makan malam.

Selain itu ada ramen, berbagai makanan berat, bahkan steak. Kalau tidak salah, ada pilihan steak dengan ukuran sekitar 300 gram sampai 600 gram.

Ada juga menu ayam yang pernah saya coba. Saya lupa nama menunya, tetapi bentuknya seperti ayam dengan paprika dan bumbunya cukup kuat. Saya pribadi justru suka makanan dengan bumbu yang terasa seperti ini.

Oh iya, sistem pesan di sini juga cukup sederhana. Biasanya kita pesan dulu di kasir, baru mencari tempat duduk. Tetapi kalau sedang antre, tentu bisa mencari tempat duduk terlebih dahulu.

Saya suka area atas yang dekat dengan kasir. Jadi kalau tiba-tiba ingin pesan minuman lagi atau ada pesanan tambahan, tinggal jalan sedikit ke kasir. Tidak perlu mencari-cari staf.

Pelayanan yang Membuat Saya Betah

Nah, ini salah satu bagian yang menurut saya sangat penting.

Setelah mengunjungi berbagai kafe, saya semakin merasa bahwa pelayanan itu ternyata berpengaruh besar terhadap pengalaman kita di sebuah tempat.

Colony menurut pengalaman saya punya pelayanan yang menyenangkan.

Karyawannya ramah, komunikasinya enak, dan cekatan. Bahkan petugas parkirnya pun menurut saya ramah.

Hal kecil yang saya suka adalah cara mereka menyampaikan sesuatu kepada pengunjung.

Misalnya kita ingin menggunakan sebuah ruangan, tetapi ternyata ruangan tersebut sudah dipesan. Cara menyampaikannya tetap sopan dan tidak membuat kita merasa seperti melakukan kesalahan.

Buat saya, hal seperti ini sederhana, tetapi penting.

Karena sebagai pengunjung, kita tentu tidak selalu tahu kondisi di dalam kafe. Jadi ketika staf menyampaikan informasi dengan cara yang baik, kita juga merasa nyaman.

Mungkin salah satu alasan saya bisa betah datang berkali-kali ke sini ya karena hal-hal kecil seperti itu.

Hampir Setahun Membawa Pekerjaan ke Sini

Kalau ditanya alasan saya dulu sering ke Colony, jawabannya sederhana: saya bisa bekerja dengan  fokus di sini.

Saya membawa pekerjaan freelance saya ke sini. Mulai dari content placement, posting artikel blog, sampai pekerjaan digital marketing lainnya.

Ruangan ber-AC dan sejuk. Ada Wi-Fi, colokan, meja yang cukup luas untuk laptop, dan beberapa pilihan tempat duduk.

Saya juga suka karena ada pilihan tempat yang terasa lebih privat, terutama ruangan kaca yang tadi saya ceritakan.

Kalau sedang ingin suasana lebih terbuka, saya bisa duduk di area atas dekat kasir.

Dan yang paling penting, saya tidak terlalu sering bertemu dengan orang yang saya kenal.

Sesekali tentu pernah bertemu satu-dua orang. Tetapi sebagian besar waktu saya bisa duduk, membuka laptop, lalu mengerjakan pekerjaan tanpa banyak distraksi.

Buat pekerjaan yang sifatnya repetitif, seperti punya sepuluh artikel yang harus diunggah satu per satu ke blog, suasana seperti ini lumayan membantu. Ada musik, ada aktivitas orang lain, tetapi tidak sampai membuat saya kehilangan fokus.

Jadi kalau ada yang bertanya apakah Colony cocok untuk work from cafe, menurut saya cocok.

Hanya saja, kalau Anda mencari tempat untuk membaca dalam suasana yang benar-benar sunyi, mungkin perlu mempertimbangkan lagi. Karena di sini tetap ada musik dan aktivitas pengunjung.

Bahkan saya pernah melihat sesama dosen menggunakan area bunker untuk mengajar online.

Bagaimana dengan Shalat?

Ini juga saya perhatikan karena kalau bekerja sampai berjam-jam, tentu waktu salat bisa bertepatan dengan waktu kita berada di kafe.

Mushola berada di area bawah atau bunker. Jadi kalau kita duduk di lantai atas, memang perlu turun dulu untuk wudu dan salat.

Ada tempat wudu, kamar mandi, dan toilet di area bawah.

Sepengalaman saya, musholanya bersih. Ada mukena dan beberapa sajadah yang bisa digunakan. Ruangannya juga lumayan luas, kurang lebih seperti ukuran kamar tidur, sehingga menurut saya masih cukup nyaman kalau ingin salat sendiri maupun berjamaah.

Jadi untuk teman-teman Muslim yang mungkin bekerja atau meeting cukup lama di Colony, menurut saya fasilitas ini sangat membantu.

Ada Live Music dan Acara Lain

Di bunker tadi ada panggung yang biasanya digunakan untuk live music.

Selain live music, Colony juga sesekali mengadakan acara lain, misalnya stand up comedy.

Saya sendiri tidak terlalu mengikuti jadwal acaranya karena kalau datang ke Colony memang niat utamanya bekerja.

Kalau ingin tahu jadwal live music atau acara terbaru, lebih baik cek langsung Instagram Colony, ya.

Tetapi dari konsep ruangannya, area bunker memang cukup cocok untuk duduk santai, makan, ngobrol dengan teman, sekaligus melihat pertunjukan.

Jadi, Colony Cocok untuk Siapa?

Selama cukup sering datang ke sini, saya melihat pengunjungnya cukup beragam.

Ada yang datang membawa laptop seperti saya. Ada mahasiswa yang mengerjakan tugas atau berdiskusi. Pernah juga saya melihat mahasiswa menggunakan area Colony untuk kegiatan mereka.

Ada yang meeting, bertemu teman, datang berdua dengan pasangan, sampai keluarga yang membawa anak.

Saya bahkan pernah datang dan ternyata seluruh area atas sedang dibooking untuk kegiatan mahasiswa. Jadi ya, akhirnya tidak bisa duduk di sana. Dari situ kelihatan juga bahwa tempat ini memang bisa digunakan untuk kegiatan kelompok.

Itulah yang menurut saya menarik dari Colony.

Tempatnya cukup fleksibel.

Mau bekerja bisa. Mau meeting bisa. Mau ngobrol dengan teman juga bisa. Mau makan bersama keluarga juga tidak masalah.

Belakangan saya memang sudah tidak sesering dulu datang ke sini. Bukan karena Colony tiba-tiba menjadi tidak nyaman.

Rutinitas saya saja yang berubah.

Setelah mulai mengajar, saya lebih sering mencari kafe yang dekat dengan rute perjalanan, buka lebih pagi, atau tempat yang tidak menggunakan musik ketika saya ingin membaca materi kuliah. Pekerjaan blog pun sekarang kadang saya bawa ke kampus atau saya selesaikan di rumah.

Jadi kalau sekarang saya lebih jarang terlihat di Colony, sebenarnya bukan berarti saya sudah tidak merekomendasikannya.

Justru karena pernah konsisten selama hampir setahun, saya bisa bilang bahwa Colony Social Space adalah salah satu kafe di Purwokerto yang menurut saya tergolong recommended.

Terutama kalau Anda mencari tempat yang bisa dipakai untuk bekerja, meeting, makan, atau sekadar nongkrong dengan suasana yang cukup nyaman.

Kalau kebutuhan Anda cocok dengan karakter tempatnya, bisa jadi Anda juga betah seperti saya dulu.

You May Also Like

Leave a Reply