Rezeki yang Bernama Kemudahan
Resti datang lebih dulu. Ia duduk di kursi kayu dengan bantalan tipis berwarna cokelat tua. Restoran itu tidak terlalu ramai, tapi tidak juga sepi. Suara sendok beradu dengan piring, percakapan pelan antar pengunjung, dan aroma masakan yang hangat bercampur jadi satu. Resti merapikan ujung kerudungnya. […]









