Gang Kecil dan Ibu-Ibu Penjual Keripik

Setiap pukul setengah tiga sore, Mira mendorong stroller biru navy itu keluar gang seperti biasa.

Bimo duduk di dalamnya dengan perut bulat maju ke depan, hanya memakai kaus dalam putih dan celana kolor kecil bergambar bebek. Pipinya mengembang seperti bakpao. Rambutnya tipis menempel di dahi karena keringat.

Kalau sudah duduk di stroller, wajahnya langsung berubah damai.

“Da-da-da,” katanya sambil menunjuk ayam atau kucing yang lewat.

“Iya, Pak Lurah,” jawab Mira lelah.

Gang tempat mereka tinggal sempit sekali. Kalau ada motor lewat, stroller harus minggir sampai rodanya naik sedikit ke selokan. Rumah-rumah berhimpitan. Dari satu rumah terdengar suara blender, dari rumah lain terdengar ibu-ibu memarahi anak karena tak kunjung lepas dari hape.

Di ujung gang ada sawah luas dengan jalan aspal kecil hingga perumahan sebrang. Tempat itu jadi penyelamat Mira. Pagi hari, udara masih enak dan Bimo bisa melihat burung, motor pengangkut rumput, atau bapak-bapak memberi makan ikan di sawah yang disulap jadi kolam ikan mujair.

Di rumah, Bimo seperti punya jadwal rewelnya sendiri. Satu jam berada di dalam rumah, ia mulai gelisah.

Konveksi Kecil Milik Anjar

Rumah mereka memang tidak ramah untuk anak satu tahun yang sedang aktif-aktifnya. Konveksi kecil milik Anjar menyulap rumah itu jadi pabrik pakaian mini. Kadang ada meja penuh pesanan baju sampai Mira harus makan sambil menggeser plastik packing.

Anjar bekerja dari rumah, tapi justru karena itu ia hampir selalu sibuk.

“Yang ini harus selesai besok,” katanya hampir tiap malam.

Mira mengerti. Sangat mengerti. Justru itu masalahnya. Ia terlalu mengerti sampai tidak tega meminta bantuan.

Jadi hidupnya hanya tiga hal:
menggendong Bimo,
menyuapi Bimo,
dan mencari cara agar Bimo tidak bosan.

Pilihan hiburan paling murah adalah stroller.

Gratis.
Tidak perlu tiket.
Tidak perlu AC.
Tidak perlu bensin.

Hanya perlu tenaga batin.

Penduduk Gang yang Ramah

Untungnya, sebagian besar warga gang itu ramah.

“Dedeknya jalan-jalan lagi!” sapa seorang ibu sambil tertawa.

“Gerah ya, enggak pakai baju?” kata yang lain sambil mencubit pipi Bimo.

Bahkan ada bapak-bapak yang sedang beli rokok berkata, “Wah, enak banget hidupnya. Tinggal duduk didorong kayak juragan proyek.”

Bimo menatap bapak itu dengan wajah serius, tapi tampak makin menggemaskan.

Mira biasanya tertawa kecil. Interaksi ringan seperti itu justru menyelamatkan harinya.

Sampai ia melewati rumah Bu Kas.

Rumah Bu Kas berada dekat surau kecil. Bagian depannya terbuka langsung ke dapur. Kalau lewat situ, orang bisa melihat wajan besar, toples keripik, plastik-plastik emping, dan kadang tumpukan rempeyek yang baru diangkat dari minyak.

Suaminya hampir selalu duduk di kursi plastik depan rumah memakai kaus dalaman dan celana pendek, sibuk mengusir ayam atau menatap jalan.

Setiap Mira lewat, suami Bu Kas selalu begitu.

Sementara Bu Kas sendiri seperti punya tenaga cadangan tersembunyi.

Pagi jualan keripik.
Sore jadi tukang kebun di rumah orang kaya belakang gang.

Tapi ada satu kemampuan Bu Kas yang paling mengagumkan.

Ia bisa mendeteksi stroller Bimo, bahkan sebelum melewati rumahnya.

Atau sebelum berbelok ke depan kebun juragan tempat ia bekerja.

Entah sedang menyapu.
Entah sedang menggoreng.
Entah sedang memetik daun.

Begitu roda stroller Mira terdengar…

srak… srak… srak…

Bu Kas selalu muncul.

“Lho, anaknya diajak keluar lagi, Mbak?”

Atau:

“Ini panas loh.”

Atau:

“Udah mendung tuh. Nanti masuk angin.”

Atau yang paling membuat Mira ingin menghilang:

“Emang enggak bisa main di rumah ya, anaknya?”

Semua itu diucapkan dengan alis mengerut dan mata tajam penuh selidik.

Padahal Mira hanya lewat.

Tidak berisik.
Tidak mampir.

Hanya lewat.

“Atau, mungkin Mira memang harus mampir?”

Kadang, banyak kemungkinan di luar dugaan.

Tapi, raut wajah Bu Kas saja membuat siapapun enggan untuk berlama-lama.

Pagi yang Melelahkan

Suatu pagi, Mira keluar rumah dalam keadaan hampir roboh.

Dari subuh ia belum sempat sarapan. Bimo rewel sejak bangun tidur. Baru selesai mandi, baru selesai makan, tiba-tiba Vina datang.

Adik Anjar itu memang punya bakat khusus: datang, menggoda Bimo sampai menangis, lalu duduk santai sambil minum teh.

“Aduh gemes banget sih!” katanya sambil mencubit pipi Bimo.

Lima detik kemudian Bimo meraung.

Setelah hampir sepuluh menit menenangkan anaknya, Mira akhirnya menyerah dan mengeluarkan stroller.

“Yuk kita keliling bentar,” katanya lesu.

Ia bahkan belum sempat makan.

Matanya panas.
Kepalanya berat.
Perutnya kosong.

Bimo duduk tenang seperti bos kecil yang berhasil mendapatkan kendaraan dinasnya kembali.

Mereka melewati surau kecil.

Mungkin karena perut kosong, Mira lupa memilih jalan untuk ia lewati.

Benar saja,

Bu Kas muncul dari balik dapur sambil membawa sutil.

“Pagi-pagi kok udah keluar lagi, Mbak?”

Mira diam.

“Anaknya enggak bisa diem di rumah? Apa gimana sih, mbak?”

Mira diam lagi.

“Sering banget jalan-jalan.”

“Padahal masih pagi banget loh ini.”

Kalimat itu sebenarnya pendek.

Tapi bagi orang yang lelah, kalimat pendek bisa terasa seperti lemparan batu.

Mira menatap Bu Kas sebentar. Matanya merah dan basah. Ia ingin menjelaskan banyak hal.

Bahwa rumahnya sempit.

Bahwa ia sendirian.

Bahwa suaminya sibuk bekerja.

Bahwa ia belum sarapan.

Bahwa hari ini lebih lelah dari biasanya.

Bahwa kadang ia cuma ingin melihat sedikit dunia supaya tidak merasa hidupnya sesempit gang itu.

Bahwa stroller itu mungkin satu-satunya hiburan murah yang masih bisa ia berikan pada anaknya.

Tapi tentu saja semua itu terlalu panjang untuk dijelaskan di depan ibu-ibu penjual keripik itu.

Jadi Mira hanya tersenyum kecil.

Lalu mendorong stroller lagi.

Srak…
srak…
srak…

Bimo melambaikan tangan ke ayam yang lewat.

Tidak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi.

You May Also Like

1 Comment

  1. Mario Andaru Mei 15, 2026 at 12:59 pm

    Aku jadi kebayang suasana gang kecil yang kadang malah nyimpan cerita-cerita hangat kayak gini 😊 Sosok ibu penjual keripik begini tuh kadang sederhana tapi ngena banget di ingatan. Hal kecil yang ternyata bisa bikin hati ikut hangat juga ya.

Leave a Reply