Takaran Hidup
Sore itu, matahari belum benar-benar tenggelam. Cahaya jingga masih menempel di ujung-ujung daun pisang di halaman sempit milik Pak Wiryo.
Di teras rumahnya yang sederhana, Pak Wiryo duduk bersila bersama istrinya. Di depan mereka, karung kecil dan nampan bambu berisi kapulaga terbuka. Tangan mereka sibuk memilah—yang berisi dipisahkan, yang kosong dibuang ke sisi lain.
“Yang ini kosong lagi,” gumam istrinya pelan.
Pak Wiryo hanya mengangguk. Tangannya tetap bekerja.
Dari rumah sebelah, suara langkah sandal mendekat. Tidak lama, Pak Rojak sudah berdiri di pagar bambu, membawa cangkir kopi.
Ia menyandarkan tubuhnya santai, menatap aktivitas di teras itu.
“Jam segini masih kerja juga, Yo?” katanya, setengah tertawa.
Pak Wiryo menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Iya, ini kapulaga titipan. Besok diambil pengepul.”
Pak Rojak menghela napas panjang, seolah heran.
“Perasaan dari dulu aku lihat kamu begini terus,” katanya. “Kerja nggak kenal waktu. Tapi ya… hidupmu gitu-gitu saja.”
Ia menyeruput kopinya, lalu menambahkan dengan nada ringan yang justru terasa menekan.
“Kalau aku, jam segini ya enaknya ngopi. Santai. Tapi duit tetap jalan.”
Istri Pak Wiryo diam. Tangannya berhenti sesaat, lalu kembali memilah.
Pak Wiryo hanya tersenyum kecil. Tidak membalas.
“Capek, Yo… hidup kok dibikin susah begitu,” lanjut Pak Rojak. “Lihat aku. Santai, tapi cukup.”
Angin sore berhembus pelan. Daun-daun bergerak pelan, seperti ikut menyaksikan percakapan yang tidak pernah benar-benar seimbang itu.
Pak Wiryo menunduk lagi, mengambil satu per satu kapulaga.
Dalam diam, ia berkata pada dirinya sendiri:
Hidup ini memang tidak selalu terlihat sama dari luar.
Dan tanpa ia sadari, pikirannya perlahan mundur ke masa lalu.
Daftar Isi
Awal yang Sama, Jalan yang Berbeda
Dulu, mereka tidak seperti ini.
Pak Wiryo dan Pak Rojak tumbuh di dusun yang sama. Bahkan, mereka sepupu. Sama-sama lahir dari keluarga petani sederhana. Sama-sama hanya punya warisan satu petak sawah.
Waktu kecil, Pak Wiryo dikenal pendiam. Tapi kalau soal pelajaran, dia selalu paling cepat menangkap.
Pak Rojak sebaliknya. Tidak terlalu menonjol di kelas, tapi pandai bergaul. Selalu punya cara untuk membuat orang tertawa.
Setelah lulus SD, keduanya berhenti sekolah.
Hidup berjalan sederhana, sampai akhirnya mereka menikah.
Di situlah jalan mereka mulai berbeda.
Pak Wiryo menikah dengan perempuan yang sama-sama sederhana. Istrinya lulusan pesantren, sering diminta mengajar anak-anak mengaji di surau. Hidup mereka pas-pasan, tapi tenang.
Sementara Pak Rojak… nasibnya berubah cepat.
Ia menikah dengan perempuan dari keluarga berada. Sawahnya luas. Ternaknya banyak.
Sejak itu, hidupnya terasa melompat.
Rumahnya berdiri lebih besar. Halamannya lebih luas. Orang-orang mulai bekerja di ladangnya.
Dan perlahan, sesuatu dalam dirinya ikut berubah.
“Wiryo,” suatu hari ia pernah berkata, “kalau kamu mau, kerja saja di ladangku. Daripada sawahmu cuma segitu.”
Nada itu terdengar seperti tawaran. Tapi ada sesuatu yang lebih tajam di baliknya.
Pak Wiryo hanya tersenyum. “Terima kasih, Jak. Tapi sekarang aku masih ngurus sawahku dan ada kerjaan di pengepul.”
Waktu terus berjalan.
Anak-anak mereka tumbuh.
Pak Wiryo dikaruniai dua anak perempuan: Sri dan Wulan.
Pak Rojak punya dua anak laki-laki: Aris dan Andra.
Dan entah sejak kapan, perbandingan itu mulai sering diucapkan.
“Anakmu perempuan semua, Yo,” kata Pak Rojak suatu sore. “Nanti juga ikut suami. Beda sama anakku. Laki-laki. Bisa diandalkan.”
Ia tertawa kecil.
“Lihat saja aku. Walaupun sawah ini dari istriku, tetap aku yang ngurus. Laki-laki memang begitu.”
Pak Wiryo hanya mengangguk pelan.
Di dalam hatinya, ia percaya satu hal:
Hidup tidak berhenti di satu keadaan. Dan tugasnya hanya berusaha.
Pilihan yang Diremehkan
Hari itu, Pak Wiryo datang ke rumah Pak Rojak dengan langkah pelan.
Tangannya menggenggam ujung sarung. Wajahnya terlihat ragu, tapi tekadnya jelas.
“Jak… aku mau ngomong sebentar.”
Pak Rojak yang sedang duduk santai langsung menoleh. “Apa, Yo?”
Pak Wiryo menarik napas.
“Aku mau menggadaikan sawah… butuh uang sepuluh juta.”
Pak Rojak mengernyit. “Buat apa?”
“Buat Sri,” jawab Pak Wiryo. “Dia dapat beasiswa. Mau kuliah. Tapi butuh biaya buat awal… laptop, keperluan.”
Pak Rojak tertawa pendek.
“Kamu serius?” katanya. “Gadai sawah satu-satunya demi anak perempuan?”
Pak Wiryo diam.
“Di desa ini, ada nggak perempuan yang sampai sarjana?” lanjut Pak Rojak. “Ujung-ujungnya ya ke dapur juga.”
Pak Wiryo menatapnya pelan. “Dia pintar, Jak. Dia ingin sekolah.”
“Menurut kamu,” sahut Pak Rojak cepat. “Perempuan itu nanti tetap ikut suami. Buat apa tinggi-tinggi sekolah?”
Ia menyandarkan tubuhnya.
“Anakku dua-duanya laki-laki. Walaupun nggak pintar-pintar amat, tetap bisa ngurus sawah. Itu masa depan.”
Pak Wiryo menunduk sebentar.
“Namanya hidup… bisa berubah, Jak,” katanya pelan. “Aku cuma ingin memberi anakku kesempatan.”
Beberapa detik hening.
Lalu Pak Rojak berdiri, masuk ke dalam rumah, dan kembali dengan uang.
“Nih,” katanya sambil menyerahkan. “Aku bantu. Tapi ingat… jangan sampai nyesel.”
Pak Wiryo menerimanya dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Jak.”
Dan hari itu, tanpa banyak orang tahu, sebuah keputusan kecil mulai mengubah banyak hal.
Saat Hidup Berubah
Tahun-tahun berlalu.
Sri lulus kuliah. Langsung lulus PNS. Ia menjadi guru SD. Tidak langsung menikah. Ia memilih membantu keluarganya.
Langkah pertamanya adalah mendukung sekolah adiknya.
Wulan menyusul. Dengan cara yang berbeda.
Wulan memang lebih atraktif dibandingkan Sri.
Awalnya hanya iseng membuat video. Makan di warung dekat kampus, direkam dengan ponsel dari kakaknya.
“Ini serius?” tanya Sri waktu itu.
Wulan tertawa. “Aku seneng aja kak, bikin konten makan-makan.”
Ternyata benar.
Pelan-pelan, penontonnya bertambah. Pengikutnya naik. Namanya dikenal.
Sampai suatu hari, ia pulang membawa kabar.
“Pak, Bu… rumah kita kita bangun lagi, ya.”
Pak Wiryo dan istrinya hanya saling pandang.
Sementara itu…
Hidup di rumah sebelah berjalan berbeda.
Aris, anak pertama Pak Rojak, hanya bertahan dua semester kuliah. Ia tidak tahan, didorong belajar, dipaksa Pak Rojak.
Akhirnya bekerja di pabrik.
Pak Rojak memarahinya dan memintanya membantu menggarap sawah atau ternak.
Aris menolak dengan alasan gengsi. Tak mau jadi petani.
Ia ingin membuktikan diri, mengadu nasib di kota. Menjadi buruh pabrik.
Sayangnya…. pembuktian itu malah membuatnya jadi gelap mata.
Terjerat pinjaman online. Sangat besar.
Entah apa penyebabnya.
“Pak… aku butuh bantuan.”
Dan untuk pertama kalinya, Pak Rojak menjual sebagian hartanya.
Andra tidak jauh berbeda. Merantau, bermimpi besar… lalu terjebak judi online.
Satu per satu, sawah itu berkurang.
Sampai akhirnya, yang tersisa hanya satu petak.
Suatu sore, yang terasa asing sekaligus familiar, Pak Rojak berdiri di depan rumah Pak Wiryo.
Tidak lagi membawa kopi.
Tangannya kosong.
“Yo…” suaranya pelan.
Pak Wiryo keluar, menatapnya.
“Aku… mau minta tolong.”
Angin sore kembali berhembus. Sama seperti dulu.
“Aku mau menggadaikan sawah… buat biaya hidup.”
Kali ini, tidak ada tawa. Tidak ada sindiran.
Hanya diam.
Pak Wiryo menatapnya lama. Lalu mengangguk pelan.
“Masuk dulu, Jak.”
Mereka duduk di tempat yang dulu sama.
Di teras itu.
Dan tanpa perlu banyak kata, waktu telah menjelaskan semuanya.
_______
Di ujung senja itu, hidup seperti berbisik pelan:
Bahwa tidak semua yang tampak kuat akan tetap berdiri.
Dan tidak semua yang tampak lemah akan selamanya tertinggal.
Karena pada akhirnya, setiap orang hanya sedang menjalani…
takaran hidupnya masing-masing.
