Di Balik Hidup yang Tampak Kacau
“Maaf ya, Farah… aku baru sempat datang sekarang.”
Wina berdiri di ambang pintu, sedikit canggung. Tangannya membawa kantong kecil berisi kado bayi—tidak mahal, tapi dipilih dengan hati-hati.
Farah tersenyum tipis. “Enggak apa-apa, Win. Masuk aja.”
Rumah itu sederhana. Lantainya masih semen halus, beberapa bagian dinding terlihat mulai kusam. Di ruang tengah, seorang bayi tertidur di ayunan kain. Di sudut ruangan, anak kecil berumur sekitar tiga tahun duduk diam memainkan mobil-mobilan.
Wina melangkah masuk pelan.
“Kamu capek banget kelihatannya,” katanya hati-hati.
Farah tertawa kecil, tapi matanya sayu. “Iya… begitulah.”
Wina duduk di kursi plastik. Matanya tak lepas dari Farah—teman lamanya yang dulu selalu terlihat rapi, percaya diri, dan… lebih siap menghadapi hidup.
“Ini anak kedua ya?” tanya Wina.
“Iya. Baru sebulan.”
“Lucu banget…” Wina tersenyum, lalu menatap Farah lagi. “Kamu nanti balik ngajar lagi, kan?”
Pertanyaan itu membuat Farah diam.
Beberapa detik.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Enggak, Win.”
Wina mengernyit. “Kenapa?”
Farah menarik napas panjang. “Aku sudah enggak ngajar lagi.”
“Loh? Kenapa? Itu kan cita-cita kamu dari dulu…”
Farah menunduk. Tangannya meremas ujung bajunya.
“Aku sudah capek, Win…” suaranya pelan. “Udah lima tahun aku menyiapkan diri. Latihan, belajar, buat bisa daftar guru PNS. Enggak pernah dapat yang dekat sini.”
“Kan kamu bisa daftar di luar kota… PNS biasanya kan gitu.” Wina langsung menyahut.
Farah tersenyum pahit. “Aku enggak pernah diizinin.”
“Enggak diizinin?”
“Iya. Suamiku enggak mau aku jauh dari rumah.”
Wina terdiam.
“Dia bilang… perempuan itu sebaiknya di rumah. Ngurus anak.”
“Atau mungkin daftar di sekolah swasta. Kan lumayan juga gajinya.” Wina mencoba memberi masukan.
“Suamiku tetap nggak setuju. Tetap kurang.”
“Kurang gimana?” Wina menyelidik.
“Gajinya 2,5 juta, pulangnya jam 5 sore. Suamiku menganggap itu nggak sepadan.”
Suasana mendadak hening.
“Sekarang suamimu ke mana?” tanya Wina pelan.
“Ke kebun.”
“Masih ngajar?”
“Enggak. Dia berhenti dari honorer. Katanya enggak cukup. Sekarang bertani sayur.”
Wina mengangguk pelan.
Di kepalanya, satu pertanyaan terus berputar:
Bagaimana bisa… jadi seperti ini?
Daftar Isi
Saat Segalanya Terasa Jelas
Dulu, semuanya terasa sangat jelas.
Atau setidaknya… terlihat jelas.
“Win, aku tuh heran sama kamu.”
Farah duduk di kasurnya, sambil menatap Wina yang baru pulang kerja. Jam sudah hampir sepuluh malam.
Wina melepas sepatu dengan pelan. “Heran kenapa?”
“Kamu tuh capek-capek kuliah, tapi kayak enggak niat.”
Wina tersenyum tipis. Ia terlalu lelah untuk berdebat.
“Maksudnya?”
“Kuliah kamu berantakan. Nilai juga biasa aja. Tugas sering telat. Terus kerja kamu juga… ya gitu-gitu aja.”
Wina hanya diam.
“Ya, gimana lagi Far. Aku kerja buat bertahan hidup.” Akhirnya Wina buka suara.
Farah melanjutkan, “Tetep aja, kalau kayak gini, apa kamu bisa sukses nantinya?”
Wina menarik napas pelan. “Sebenarnya, aku pengen punya bisnis, Far.”
Farah langsung tertawa kecil. “Bisnis?”
“Iya.”
“Bisnis apa?”
“Belum tahu pasti… tapi aku pengen punya usaha sendiri. Kayak Bu Wulandari itu.”
“Nggak sekarang pastinya. Setidaknya suatu hari nanti.” Lanjut Wina.
Farah menggeleng. “Win… kamu tuh kuliah ekonomi aja enggak benar. Mau bisnis?”
Kalimat itu menusuk, tapi Wina juga tidak bisa membantah.
“Sekarang aja kamu cuma kerja jadi pramusaji. Semester lalu cleaning service. Besok paling ganti lagi.”
Wina menatap lantai.
“Aku tuh cuma realistis, Win,” lanjut Farah. “Kamu itu enggak fokus. Kuliah setengah-setengah, kerja juga setengah-setengah.”
Sunyi.
Farah bersandar santai. “Kalau aku jadi kamu, aku mending fokus satu. Atau ya… cari jalan yang lebih gampang.”
“Maksudnya?”
Farah tersenyum tipis. “Nikah sama orang yang mapan.”
Wina menoleh.
“Serius, Win. Hidup itu enggak usah dipersulit.”
Wina tersenyum kecut.
“Aku nggak mau ah, Far. Takut.”
“Ih, beneran. Daripada kamu kuliah setengah-setengah, kerja juga gitu-gitu aja.” Ucap Farah sambil tersenyum.
Percakapan itu menggantung.
Tidak ada jawaban.
Entah karena Wina sudah sangat lelah, atau memang ia juga tidak tahu harus menjawab apa.
Di Balik Kekacauan Itu
Farah hanya melihat lelahnya Wina.
Mungkin tepatnya kacaunya hidup Wina.
Tapi tidak pernah melihat… apa yang dipelajari Wina dari kelelahan itu.
“Win, kamu tahu enggak… usaha ini sehari bisa 15 juta.”
Pak Anggoro berdiri di samping kasir, suatu malam ketika restoran sedang sepi.
Beliau kadang tiba-tiba bercerita kepada karyawanannya. Tidak hanya Wina.
Wina tertegun. “Serius, Pak?”
“Iya. Kadang sampai 20 juta.”
“Untungnya berapa?”
“Sekitar 30 persen.”
Wina mengangguk pelan. Angka-angka itu ia simpan baik-baik di kepalanya.
“Nih ya, saya dulu juga kuliah jurusan farmasi. Tapi karena kerja di apotek malah gitu-gitu aja, saya akhirnya memilih buka warung makan aja. Lebih untung.”
Pak Anggoro sering membicarakan bisnis.
Bisa dibilang, ia fanatik dunia bisnis ketimbang pekerjaan jadi karyawan.
Hampir setiap hari bosnya itu mengajak Wina ngobrol.
Dari obrolan sederhana, Wina belajar tentang:
- omset
- biaya operasional
- pajak
- sewa tempat
Kadang Bu Sinta, istri Pak Anggoro juga datang. Memantau warung makan. Meskipun hanya dua hari sekali.
Wina juga selalu senang mendengar cerita Bu Sinta tentang kehidupan circle-nya.
Ada ibu-ibu yang bisnis kost, usaha restoran, kuliner, dan lain-lain.
Kadang Bu Sinta juga membahas tentang relasi, jaringan, persaingan bisnis, gaya hidup, hingga rumor-rumor kalangan atas.
Semua itu… tidak pernah masuk ke ruang kelas.
______
Setelah satu tahun bekerja di warung Pak Anggoro, Wina pindah jadi kasir di cafe dekat kampus.
Alasannya sederhana. Ingin mencari pengalaman baru.
“Ini nanti kita undang influencer ya,” kata Mbak Catherine suatu siang.
Wina pura-pura sibuk di kasir, tapi telinganya menangkap jelas.
“Fokusin ke menu matcha kita. Lagi naik.”
“Kontennya gimana, Mbak?” tanya influencer itu.
“Bikin seolah-olah kamu lagi hunting minuman matcha terbaik. Terus, menemukan varian menu terbaik itu di café kita.”
Wina terdiam.
Oh… jadi marketing itu seperti ini.
Hari demi hari, ia belajar.
Kadang dari yang ia dengar, obrolan, atau dari briefing langsung.
Tanpa sadar.
Tanpa disadari orang lain.
Sampai akhirnya…
“Win, kamu mau coba pegang digital marketing?” tanya manajer suatu hari.
Wina kaget. “Aku?”
“Iya. Kamu cepat tangkap. Mau belajar?”
Waktu itu Catherine pindah ke café lain dalam naungan manajemen yang sama.
Wina mengangguk tanpa ragu.
Bisnis Impian Wina
Dua tahun sejak menjadi digital marketing.
Dua tahun ia menabung.
Dan satu hari, ia berdiri di depan kontainer bekas berwarna kuning kecoklatan.
“Ini serius kamu buka usaha di sini?” tanya temannya.
Wina tertawa kecil. “Serius.”
Awalnya sepi.
Lalu ramai.
“Mbak, duduknya enggak ada?”
Komentar itu muncul berulang kali dari pelanggan.
Wina berpikir.
Besoknya, ia membeli kursi lipat.
Meja sederhana.
Sedikit atap tambahan.
Sederhana.
Tapi cukup.
Dan dari situlah semuanya tumbuh.
Hidup yang Berjalan Berbeda
“Win…”
Suara Farah memecah lamunan.
“Kamu sekarang gimana?”
Wina tersenyum kecil. “Masih jalanin usaha aja.”
“Yang kopi kontainer itu?”
“Iya.”
Farah mengangguk. “Aku lihat di Instagram… sekarang cabangnya banyak ya.”
Wina tertawa pelan. “Masih belajar, Rah.”
Farah menatapnya lama.
Ada sesuatu di matanya.
Bukan iri.
Lebih seperti… penyesalan yang tidak ingin diakui.
“Dulu aku sering ngomong aneh-aneh ya ke kamu,” katanya pelan.
Wina menggeleng. “Enggak kok.”
“Enggak, aku ingat. Aku sering ngerasa paling benar.”
Wina diam.
Farah tersenyum pahit. “Padahal aku enggak tahu apa-apa tentang hidup kamu waktu itu.”
Sunyi.
Wina menatap Farah, lalu berkata pelan:
“Dulu aku juga sering ragu, Rah.”
Farah menoleh.
“Aku juga sering mikir… kamu benar.”
“Terus?”
“Tapi aku enggak punya pilihan lain selain jalan terus.”
Air mata Farah jatuh tanpa suara.
Wina menghela napas, lalu berkata pelan:
“Hidup itu panjang, Rah.”
Farah menatapnya.
“Kita enggak pernah tahu nanti bakal kayak gimana.”
Sunyi sejenak.
“Dulu aku yang kelihatan kacau,” lanjut Wina. “Sekarang mungkin kamu lagi di fase itu.”
Farah menunduk.
“Tapi itu bukan akhir.”
Farah terisak pelan.
Wina menggenggam tangannya.
“Siapa tahu nanti… justru kamu yang jauh lebih baik.”
Farah mengangguk pelan.
Di luar, angin sore berhembus pelan.
Kali ini, di usia mereka yang sudah dewasa itu, tidak ada lagi yang merasa lebih tinggi.
Karena mereka sama-sama sadar—
hidup tidak pernah berhenti di satu titik.
Dan tidak pernah benar-benar bisa ditebak.
