Satu Juta Rupiah
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, lampu kamar dibiarkan redup.
Anaknya sudah tertidur di pangkuannya. Napasnya kecil, teratur. Wina duduk di atas dipan sembari bersandar di dinding, punggungnya terasa pegal, tapi ia tidak berpindah.
Tangan kanannya meraih ponsel.
Bukan ponsel baru. Tidak juga mahal. Tapi cukup untuk membuatnya bisa melihat dunia yang selama ini terasa jauh.
Layar menyala.
Notifikasi masuk.
Ia membukanya perlahan, seperti takut salah.
Transfer masuk: Rp1.000.000
Wina tidak langsung tersenyum.
Tangannya gemetar.
Beberapa detik, ia hanya menatap angka itu. Satu juta rupiah. Angka yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Tapi bagi Wina, angka itu seperti sesuatu yang… tidak pernah benar-benar ia miliki selama ini.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia buru-buru mengusapnya, refleks. Seolah ada seseorang yang akan melihatnya menangis.
Padahal tidak ada siapa-siapa.
Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara yang hampir keluar. Entah itu tawa atau tangis, ia sendiri tidak tahu.
Yang ia tahu, dadanya terasa penuh.
Dalam hidupnya setelah menikah… ia merasa memiliki sesuatu.
Benar-benar miliknya.
Daftar Isi
Enam Juta yang Tak Pernah Jadi Miliknya
Suaminya, Fajar adalah seorang guru PNS.
Gajinya enam juta.
Di kampung itu, angka itu bukan kecil. Bahkan sering jadi bahan obrolan tetangga.
“Enak ya kamu, Fajar PNS.”
“Kehidupanmu pasti terjamin.”
Wina hanya tersenyum setiap mendengar itu.
Ia tidak pernah tahu harus menjawab apa.
Karena yang ia rasakan… tidak seperti itu.
Enam juta itu tidak pernah terasa seperti miliknya.
Sejak awal menikah, semua keputusan selalu dipegang suaminya.
Mau beli motor?
“Atas nama aku ya, ini kan uangku.”
Mau beli bahan bangunan?
“Ini hasil kerjaku.”
Setiap kalimat selalu sama.
Seolah Wina tidak pernah benar-benar ada di dalamnya.
Dari enam juta itu, dua juta rutin diberikan kepada ibunya.
Kadang lebih.
Kadang juga dipakai untuk kebutuhan adiknya yang masih kuliah.
Sisanya?
Tidak pernah jelas ke mana.
Wina hanya menerima uang belanja harian.
Lima puluh ribu.
Untuk belanja sayur dan lauk ke pasar dan keperluan dapur lainnya.
“Cukup itu. Jangan boros,” kata Fajar suatu pagi.
Wina mengangguk.
Memang cukup. Di desa, lima puluh ribu bisa jadi banyak kalau dihemat. Bahkan kadang masih ada sisa.
Tapi bukan itu yang membuatnya sesak.
Yang membuatnya sesak adalah cara uang itu diberikan.
Seolah ia bukan istri.
Seolah ia hanya… orang yang diberi.
Pernah suatu hari, Wina memberanikan diri bicara.
“Mas… boleh aku bilang sesuatu?”
“Apa?”
“Kalau aku kuliah… boleh nggak?”
Fajar menatap sekilas, lalu tertawa kecil.
“Ngapain aneh-aneh? Kamu itu enak, tinggal di rumah. Aku yang kerja. Jangan banyak mau.”
“Tapi aku juga ingin sukses seperti kamu, mas.”
Tatapan Fajar semakin mengejek.
“Kamu kayak lupa asalnya kamu gimana.”
Kalimat itu pendek.
Tapi entah kenapa, terasa panjang sekali di kepala Wina.
Sejak saat itu, ia tidak pernah bertanya lagi.
Ia tahu persis, keinginan kuliah itu mungkin terlalu berlebihan untuk orang seperti Wina.
Bahkan seperti meminta hal yang mustahil.
Awal Mula Menikah
Dulu Wina memang punya semangat belajar yang tinggi.
Ia juga siwa yang berprestasi.
Namun, kedua orang tuanya meninggal saat ia hampir lulus SMA.
Ia terpaksa tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan sering sakit.
Wina mulai membantu neneknya menjual jamu ke rumah-rumah.
Sampai suatu hari, Bu Murni yang kini jadi mertuanya menawarkan perjodohan dengan anaknya.
“Nikah sama anak saya, Win.”
“Udah lulus PNS, kamu nanti gak perlu jualan jamu lagi.”
Memang benar, setelah menikah ia tidak lagi menjual jamu.
Bukan karena hidup lebih baik, tapi tepatnya karena aktivitasnya berpindah.
Ia harus bangun pagi sejak pukul empat.
Memasak, mencuci pakaian, piring kotor, dan menyiapkan keperluan kerja suaminya.
Setelah suaminya berangkat kerja, mertuanya memintanya membersihkan rumah dan halaman.
“Kamu kan nggak ada kerjaan, lebih baik bantu ringankan beban ibu.”
“Kamu sudah beruntung. Nikah sama anak saya yang kerjaannya tetap.”
“Saya yang nyekolahin dia. Kamu tinggal menerima hasilnya.”
“Jarang loh, lulusan sarjana mau sama lulusan SMA.”
Kalimat-kalimat itu sering terlontar dari mertuanya tanpa beban.
Seolah Wina sudah sangat beruntung menikah dengan Fajar.
Hal-Hal Kecil yang Disembunyikan
Tidak ada yang tahu, bahwa sejak kecil Wina suka menulis.
Termasuk suami dan mertuanya.
Dulu, waktu SD, ia sering jadi yang paling cepat selesai kalau disuruh mengarang.
Guru-gurunya bilang tulisannya “hidup”.
Wina sendiri tidak pernah tahu maksudnya apa. Ia hanya senang menulis.
Setelah orang tuanya meninggal, hidupnya berubah.
Ia membantu neneknya.
Jualan jamu.
Kadang kerja serabutan.
Sampai SMA, ia masih sempat menulis. Setelah itu, semakin jarang.
Bukan karena tidak mau.
Tapi karena tidak sempat.
Setelah menikah, kebiasaan itu kembali.
Diam-diam.
Di dalam lemari, di bagian paling bawah, ada sepuluh buku tulis.
Tidak ada yang tahu.
Isinya penuh tulisan tangan Wina.
Cerita.
Curhat.
Potongan pikiran.
Kadang ia menulis saat malam, ketika semua sudah tidur.
Kadang siang, saat rumah sedang sepi.
Ia menulis pelan-pelan, seolah takut suaranya terdengar.
Seperti sedang melakukan sesuatu yang tidak boleh.
Dari uang belanja, Wina juga menyisihkan sedikit demi sedikit.
Tidak tentu.
Kadang lima ribu.
Kadang sepuluh.
Kadang dua puluh.
Ia simpan di bawah lemari, di tempat yang ia buat sendiri.
Butuh waktu lama.
Sangat lama.
Sampai akhirnya ia bisa membeli sebuah ponsel.
Bukan yang mahal. Tapi cukup untuk mengakses internet.
Dari situlah semuanya berubah.
Suatu malam, saat rumah benar-benar sepi, Wina menemukan sebuah aplikasi.
Warna hijau.
Aplikasi untuk menulis cerita.
Awalnya ia hanya membaca.
Lalu mencoba menulis.
Cerita pertamanya sederhana.
Tentang seorang perempuan yang tidak pernah merasa memiliki apa-apa.
Ia tidak berharap banyak.
Tapi beberapa hari kemudian, ada notifikasi.
Orang-orang membaca.
Mengomentari.
Mengatakan tulisannya… terasa relate dengan kehidupan mereka.
Wina tidak tahu harus merasa apa.
Ia hanya terus menulis.
Setiap malam.
Setiap ada waktu.
Dengan nama pena.
Tanpa foto.
Tanpa identitas.
Hanya tulisan.
Dan perlahan, pembacanya bertambah.
Satu Juta yang Mengubah Segalanya
Malam itu, Wina masih memegang ponselnya.
Angka satu juta itu masih ada di layar.
Ia menarik napas pelan.
Pikirannya melayang ke semua hal yang pernah ia lewati.
Kalimat-kalimat yang dulu ia terima.
“Jangan banyak mau.”
“Kamu itu enak, tinggal makan.”
“Ngapain kerja? Bikin malu suami.”
Dulu, ia percaya.
Sekarang… tidak lagi.
Ia tidak marah.
Tidak juga ingin membalas.
Ada sesuatu yang berubah, tapi tidak terlihat dari luar.
Ia melihat anaknya yang tertidur.
Wajah kecil itu tenang.
Wina mengusap pelan rambutnya.
“Maaf ya…” bisiknya hampir tanpa suara.
Entah untuk apa.
Mungkin untuk semua hari ketika ia merasa tidak cukup.
Ia berdiri pelan, mengambil salah satu buku tulis dari lemari.
Buku lama.
Halaman depannya sudah agak kusut.
Ia membuka halaman terakhir.
Kosong.
Wina mengambil pulpen.
Tangannya masih sedikit gemetar, tapi kali ini bukan karena takut.
Ia menulis pelan.
Target 2 tahun:
Masuk universitas – jurusan sastra
Ia berhenti sejenak.
Menatap tulisan itu.
Dulu, itu terasa mustahil.
Sekarang… tidak lagi.
Ia menutup buku itu perlahan.
Di luar, tidak ada yang berubah.
Rumah itu masih sama.
Orang-orang di dalamnya juga sama.
Besok pagi, mungkin ia akan kembali bangun sebelum subuh.
Masak.
Mencuci.
Mengurus anak.
Seperti biasa.
Tidak ada yang akan tahu tentang satu juta itu.
Juga tidak ada yang akan tahu tentang cerita-cerita yang ia tulis.
Cerita ini fiktif belaka. Baik tokoh, latar, maupun alurnya. Namun, sengaja dibuat untuk mengangkat isu kekerasan finansial yang sering terjadi dalam pernikahan. Siapa yang menghasilkan uang, dialah pemiliknya. Siapa yang tidak menghasilkan, maka sebanyak apapun perannya, tetap tidak memiliki apa-apa.
