Laki-Laki yang Tak Bersalah

Arga duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Di depannya, Selin menunduk, bahunya sedikit bergetar. Mereka bertemu di tempat biasa. Namun, kali ini dengan pembicaraan yang lebih serius.

“Aku nggak bisa nunggu kamu terus, Ga…”

Kalimat itu keluar pelan, seperti sesuatu yang sudah lama disiapkan tapi tetap terasa berat saat diucapkan. Selin mengangkat wajahnya sedikit. Matanya basah, tapi tetap indah. Bahkan dalam keadaan seperti itu, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang ingin memaklumi segalanya.

“Aku juga harus realistis.”

Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Selin dengan ekspresi yang sulit ditebak—tidak marah, tidak juga sedih. Lebih seperti seseorang yang terlalu lelah untuk memilih reaksi.

Selalu seperti ini, pikirnya.
Dia menangis, dan dunia seolah berpihak padanya.

“Aku cuma ingin hidup yang pasti,” lanjut Selin, suaranya sedikit bergetar. “Aku akan menikah, Ga… dengan seseorang yang… sudah siap.”

Ada jeda. Waktu seperti berhenti di antara mereka.

“Jadi selama ini…” Arga akhirnya bersuara, pelan, nyaris datar. “Kurang apa?”

Selin menutup matanya. Air matanya jatuh lebih deras, seolah pertanyaan itu terlalu kejam untuk dijawab.

Di meja itu, siapa pun yang melihat mungkin akan berpikir hal yang sama: laki-laki ini egois. Tidak tahu diri. Tidak peka. Di hadapannya ada perempuan yang jelas-jelas hanya ingin masa depan yang layak, tapi ia masih bertanya seolah-olah dirinya sudah cukup.

Dan mungkin, pada saat itu, Arga memang terlihat seperti orang yang tidak pantas dipertahankan.

Awal yang Terasa Seperti Keberuntungan

Sebelum semua itu, semuanya terasa seperti keberuntungan yang tidak masuk akal.

Arga pertama kali melihat Selin di koridor kampus, di antara lalu-lalang mahasiswa yang terburu-buru. Ia tidak melakukan apa pun yang istimewa. Hanya berjalan, membawa buku, dengan rambut yang jatuh rapi di bahunya.

Tapi ada sesuatu yang membuat langkah Arga terhenti.

Bukan hanya cantik.
Tapi jenis wajah yang membuat seseorang ingin menjadi lebih baik, hanya untuk pantas berdiri di sampingnya.

Saat itu, Arga bahkan tidak berani membayangkan bahwa suatu hari ia akan duduk berhadapan dengan perempuan itu, apalagi menjadi bagian dari hidupnya.

Selin yang mendekat lebih dulu. Entah bagaimana, percakapan kecil berubah jadi kebiasaan. Dari sekadar bertanya tentang tugas, menjadi saling menunggu di akhir kelas. Dari sekadar berjalan bersama, menjadi seseorang yang tidak ingin dilepas terlalu cepat.

Selin sering meminta hal-hal kecil.

“Temenin aku ke perpustakaan, ya?”
“Bantu aku ngerjain ini, aku nggak ngerti…”

Dan Arga selalu mengangguk.

Ia tidak pernah merasa dimanfaatkan.
Ia hanya merasa dibutuhkan.

Ada kepuasan aneh dalam dirinya setiap kali Selin mencarinya. Seolah dari sekian banyak orang yang mungkin lebih baik darinya, Selin tetap memilihnya untuk tinggal lebih lama.

Dan bagi Arga, itu sudah lebih dari cukup.

Hal-Hal Kecil yang Mulai Menggerus

Segalanya tidak berubah secara tiba-tiba. Tidak ada satu momen besar yang bisa ditunjuk sebagai awal kehancuran. Semua terjadi perlahan, hampir tidak terasa.

Permintaan Selin bertambah.

Bukan hanya menemani, tapi mengantar. Bukan hanya membantu, tapi mengerjakan. Waktu Arga mulai tersusun bukan berdasarkan kebutuhannya sendiri, tapi berdasarkan kapan Selin membutuhkannya.

Ia mulai lelah. Tapi kelelahan itu tidak pernah cukup besar untuk membuatnya berhenti.

Suatu hari, Arga mendapat kesempatan magang di sebuah start-up yang sudah lama ia incar. Kesempatan itu datang tanpa diduga, seperti pintu yang tiba-tiba terbuka setelah lama terkunci.

“Selin, aku dapat…” ia hampir tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

Tapi Selin sedang tidak dalam keadaan yang sama.

“Aku lagi butuh kamu banget, Ga,” katanya pelan. “Aku lagi nggak baik-baik aja.”

Arga menatapnya. Ada sesuatu dalam cara Selin berkata begitu—rapuh, seolah dunia sedang tidak berpihak padanya.

Kesempatan itu tidak datang dua kali.
Tapi Selin… bisa pergi kapan saja.

Dan Arga memilih Selin.

Teman-temannya mulai menjauh.

“Lu dimanfaatin, Ga.”

Kalimat itu pernah diucapkan seseorang dengan nada setengah kesal, setengah peduli.

Arga hanya tersenyum tipis. “Kalian nggak ngerti dia.”

Dan mungkin benar. Mereka memang tidak mengerti.

Atau mungkin, Arga yang tidak ingin mengerti.

Permintaan yang Tak Pernah Terakhir

Hal-hal kecil yang dulu terasa ringan mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi diabaikan.

Uang Arga perlahan habis. Bukan karena ia boros, tapi karena selalu ada alasan untuk memberi.

“Aku lagi butuh…”
“Nanti aku ganti, ya…”

Janji itu tidak pernah benar-benar ditagih. Dan Selin tidak pernah benar-benar mengingatnya.

Tapi Arga tidak keberatan.

Ia sudah terlalu jauh untuk berhenti sekarang.

Sampai suatu malam, Selin menangis lebih lama dari biasanya.

“Aku nggak bisa, Ga…” suaranya pecah. “Kalau ini gagal… aku benar-benar hancur.”

Skripsi.

Itu yang sedang dihadapinya. Sesuatu yang bagi sebagian orang adalah akhir, tapi bagi Selin terasa seperti jurang.

Arga tahu ini berbeda.
Untuk pertama kalinya, ia tahu ini salah.

Tapi untuk pertama kalinya juga… ia tidak peduli.

Ia mulai mengerjakan skripsi Selin. Awalnya hanya membantu. Lalu memperbaiki. Lalu mengambil alih.

Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri, ia berikan seluruhnya untuk Selin.

Malam-malamnya habis di depan layar, bukan untuk masa depannya, tapi untuk masa depan seseorang yang ia percaya akan tinggal bersamanya.

Dan perlahan, tanpa ia sadari, ia meninggalkan dirinya sendiri.

Yang Tersisa Hanya Diam

Selin lulus.

Dengan nilai yang baik. Dengan pujian. Dengan masa depan yang tampak rapi di depan mata.

Arga tertinggal.

Skripsinya terbengkalai. Kesempatan yang dulu ia miliki sudah lama hilang. Teman-temannya sudah berjalan lebih dulu, meninggalkannya di belakang.

Dan di sebuah kafe, di sore yang terasa terlalu biasa untuk sesuatu yang akan berakhir, Selin duduk di hadapannya.

“Aku nggak bisa nunggu kamu terus, Ga…”

Sekarang, kalimat itu terdengar berbeda.

Bukan lagi sekadar keinginan. Tapi keputusan.

“Aku juga harus realistis.”

Arga menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Selin sebagai seseorang yang perlu ia lindungi.

Ia melihat seseorang yang… memang tidak pernah berniat tinggal.

“Jadi selama ini… aku kurang apa?”

Kini pertanyaan itu bukan tuntutan.
Tapi sisa dari sesuatu yang sudah habis.

Selin menangis. Lagi.

“Aku cuma… ingin hidup yang pasti…”

Dan Arga akhirnya mengerti.

Selin tidak pernah belajar mencintai.
Ia hanya belajar untuk dicintai.

Dan Arga… terlalu sibuk memberi, sampai lupa bahwa cinta seharusnya tidak menghapus dirinya sendiri.

_______

Beberapa bulan setelah itu, Arga melihat sebuah foto di ponselnya.

Selin, dalam gaun putih. Berdiri di samping seorang laki-laki yang tampak mapan, rapi, dan siap dengan hidupnya.

Senyumnya sama seperti dulu. Hangat. Meyakinkan. Seolah tidak ada yang pernah benar-benar rusak.

Caption di bawahnya sederhana. Bahagia.

Arga tidak merasakan apa-apa. Tidak marah. Tidak juga sedih.

Hanya kosong.

Ia menutup layar ponselnya, lalu menatap ruang di depannya yang terasa terlalu luas untuk seseorang yang pernah punya arah. Yang hilang bukan Selin.
Tapi dirinya sendiri—
yang dulu sempat punya masa depan,
sebelum ia memberikannya
kepada seseorang
yang tidak pernah berniat menjaganya.

Cerpen ini terinspirasi dari drama Korea berjudul “The Innocent Man” dengan cerita yang lebih kelam. Seorang laki-laki cerdas jurusan kedokteran yang mengorbankan dirinya jadi tersangka menggantikan pacarnya.
Selain itu, diadaptasi supaya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, di mana banyak kaum laki-laki yang berkorban tanpa batas untuk kekasihnya. Namun, mereka tidak mendapatkan balasan yang pantas.

You May Also Like

Leave a Reply