Gadis yang Kehilangan Proses

Malam itu hujan turun tipis di luar jendela apartemen kecil yang disewa Santi di pusat kota. Lampu-lampu gedung memantul di kaca jendela kamarnya. Di atas meja ada kopi dingin yang belum disentuh, tas mahal berwarna krem, serta sebuah iPhone terbaru yang kameranya bahkan lebih bagus daripada milik sebagian dosen di kampusnya.

Santi rebahan di kasur sambil memainkan layar ponselnya. Jemarinya berhenti ketika sebuah reels muncul.

“Pak… gimana kalau aku lulus kuliah tapi belum dapat kerja?”

Di video itu, seorang ayah menjawab dengan lembut.

“Bapak nyekolahin kamu bukan supaya kamu langsung kaya. Bapak nyekolahin kamu supaya kamu jadi orang berpendidikan, jadi manusia yang baik, dan punya kualitas. Kamu punya ilmu yang bermanfaat dulu, minimal buat diri sendiri. Kalau nanti habis lulus kamu belum kerja, ya nggak apa-apa. Masih ada bapak sama ibu.”

Santi terdiam.

Matanya perlahan panas.

Ia menatap pantulan dirinya di layar hitam ponsel. Wajahnya cantik. Kulitnya mulus. Pakaiannya mahal. Tapi entah kenapa, malam itu ia merasa dirinya sangat miskin.

Anak Pintar dari Desa yang Salah Arah

Dulu, Santi adalah anak yang pintar di desanya.

Ia selalu ranking. Guru-gurunya sering bilang kalau Santi punya otak pintar. Di desanya, Santi termasuk anak yang paling menonjol.

Ia bermimpi kuliah.

Ia ingin hidupnya berubah.

Ia tidak ingin menikah muda seperti sebagian besar gadis di kampungnya yang baru lulus SMA lalu langsung menggendong anak.

Namun sepertinya Santi lahir di tempat yang salah untuk mimpi sebesar itu.

Ayah dan ibunya hanyalah orang desa dengan pendidikan rendah. Mereka bukan orang jahat. Mereka hanya tidak punya wawasan yang cukup tentang bagaimana proses pendidikan bekerja.

Yang mereka lihat hanyalah hasil.

Ketika ada pemuda desa bernama Angga bekerja di Jepang dengan gaji puluhan juta, orang tua Santi langsung membandingkan.

“Kamu kan sama-sama lulusan SMA. Kenapa Angga bisa kerja di Jepang, kamu nggak?”

Padahal mereka tidak tahu bahwa Angga sekolah di SMK favorit di kota, punya jalur penyaluran kerja, dan orang tuanya mengeluarkan puluhan juta untuk biaya keberangkatan.

Lalu ada saudara jauh mereka yang bekerja di konveksi selama setahun di kota besar, kemudian membuka usaha sendiri.

“Nggak perlu sekolah tinggi-tinggi tuh ternyata. Lihat dia sekarang sukses.”

Santi kembali dibandingkan.

Belum selesai.

Ada lagi seorang gadis lulusan SMA yang pandai berceramah di majelis taklim.

“Kamu kan sekolah agama juga. Kok nggak bisa kayak dia?”

Santi hanya diam setiap kali mendengar itu.

Di usia remaja, perbandingan itu terasa begitu menghantam dirinya.

Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.

Santi baru lulus SMA, di mana seseorang masih mencari jati diri, masih sangat terpengaruh sikap dan perkataan orang terdekatnya.

Saat itu, ia tidak tahu_

Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa sekolahnya bahkan baru berdiri beberapa tahun?

Bahwa laboratoriumnya tidak lengkap?

Bahwa pelajaran yang harusnya jadi jalan mudah masuk kampus hanya diajarkan satu jam per minggu?

Bahwa kadang guru mengajar mata pelajaran yang bahkan bukan bidangnya?

Dan bahwa dirinya sendiri sebenarnya belum siap menghadapi dunia?

Namun tidak ada yang bertanya tentang proses.

Semua orang hanya bertanya hasil.

Kota yang Tidak Ramah

Setelah lulus SMA, Santi mencoba mendaftar beasiswa ke berbagai kampus.

Ia gagal.

Berkali-kali.

“Katanya pintar, kok beasiswa aja nggak dapat?” ibunya pernah berkata dengan nada kecewa.

Kalimat itu terus menghantui kepalanya.

Akhirnya Santi memutuskan pergi ke kota.

Ia ingin kuliah. Apa pun caranya.

Setidaknya ia ingin menyelamatkan dirinya dari pernikahan dini.

Ia diterima di kampus kecil yang bahkan program studinya belum memiliki akreditasi memuaskan. Jurusan ekonomi itu dipilih bukan karena cita-cita, melainkan karena hanya itu yang masih mau menerima dirinya.

Biayanya ia dapatkan dengan bekerja terlebih dahulu selama satu tahun di sebuah restoran.

Awalnya ia melamar menjadi pramusaji.

Namun manajernya menggeleng.

“Kamu cantik sih… tapi terlalu pendiam. Wajah kamu juga jutek terus. Kamu cleaning service dulu aja ya. Belajar pelan-pelan.”

Akhirnya setiap sore sampai malam, Santi membersihkan lantai, mencuci peralatan, dan mengangkat sampah.

Tubuhnya lelah.

Setelah resmi menjadi mahasiswa pun, kuliahnya berantakan.

Dan pikirannya terus dihantui pertanyaan yang sama:

“Aku harus cepat sukses… tapi caranya gimana?”

Di kos-kosan kecilnya, ia tinggal satu kamar dengan Dinda.

Berbeda dengan Santi, Dinda terlihat hidup dengan tenang.

Malam itu, setelah pulang kerja, Santi duduk di lantai sambil memandangi Dinda yang sedang tertawa menonton video lucu di ponselnya.

“Dinda…” panggil Santi pelan.

“Hm?”

“Kamu nanti kalau lulus mau jadi apa?”

Dinda tertawa kecil.

“Belum tahu.”

“Kok bisa belum tahu?”

“Ya masih lama, San. Kata orang tuaku, aku nggak usah terlalu mikirin hasil sekarang.”

Santi terdiam.

Dinda melanjutkan sambil tersenyum santai.

“Aku tuh sebenernya kurang pinter, San. Udah disekolahin bagus dari SMA, tapi tetap aja nggak lolos kampus besar.”

Ia malah tertawa setelah mengatakannya.

“Tapi kata orang tuaku, mungkin aku cuma nggak jago di semua pelajaran. Belum tentu aku gagal di hidup.”

Dinda mengambil buku psikologi di samping kasurnya.

“Aku suka psikologi. Jadi ya udah, pelan-pelan aja dijalanin.”

“Kamu nggak takut masa depanmu nggak jelas? Kita kan beajar di kampus yang belum begitu bagus.”

“Nggak terlalu. Orang tuaku bilang, fokus aja sama proses. Nanti jalan hidup bakal kebentuk sendiri.”

Kalimat itu menusuk Santi diam-diam.

Karena ia sadar…

Jangankan bisa berpikir seperti Dinda,

Ia bahkan tidak pernah diberi kesempatan menjalani proses dengan tenang.

Dunia yang Menelan Santi

Santi semakin tenggelam.

Ia terlalu lelah untuk ikut organisasi.

Terlalu capek untuk belajar serius.

Bahkan kadang tertidur di kelas karena malam sebelumnya bekerja sampai larut.

Bahkan ia tidak punya teman.

Ia terlalu sibuk memikirkan apa yang mungkin orang katakan jika mereka tahu ia bekerja sebagai cleaning service.

Karena yang ia pahami, manusia selalu dipandang dari pencapaiannya.

____

Lalu datanglah Pak Alex.

Seorang pelanggan restoran yang suatu malam memperhatikan Santi saat membersihkan meja.

Gelegatnya sedikit membuat tidak nyaman.

“Kamu punya potensi,” katanya sambil tersenyum dan memberikan kartu nama.

Tanpa berpikir panjang, ia datangi kantor Pak Alex meskipun hati kecilnya ragu.

Satu hal yang ia pikirkan: yang penting hidupnya bisa lebih baik.

Tanpa bercerita kepada siapapun, termasuk Dinda.

Tanpa konsultasi sedikitpun dengan orang yang lebih dewasa.

Dan sejak malam itu…

hidup Santi berubah.

_____

Santi tidak tahu bahwa pekerjaan “melayani pelanggan hotel” yang ditawarkan Pak Alex adalah pintu menuju dunia malam.

Awalnya ia menangis.

Memohon.

Takut.

Namun hidup yang terus menekannya membuat pertahanannya perlahan runtuh.

Ia mulai berpikir:

“Mungkin ini satu-satunya jalan.”

Semester tiga, Santi pindah kos.

“Aku sekarang kerja di hotel,” katanya kepada Dinda.

Dinda percaya begitu saja.

Mereka mulai jarang bertemu.

Dan sejak itulah, kehidupan mereka benar-benar berjalan di dua jalur yang berbeda.

Dua Jalan yang Berbeda

Semester demi semester berlalu.

Dinda tumbuh perlahan.

Ia aktif di himpunan mahasiswa psikologi lintas kampus. Entah bagaimana ia bisa mendapatkan itu.

Ia juga ikut volunteer pendampingan anak-anak panti asuhan.

Kadang membantu administrasi dan observasi ringan di klinik psikologi milik orang tuanya.

Ia juga mengikuti kursus online tentang child psychology dan counseling skills.

Media sosial Dinda dipenuhi foto seminar, buku-buku psikologi, kegiatan sosial, dan senyum yang terlihat tulus.

Hidupnya sederhana.

Tapi hidupnya sehat.

Gadis yang Kehilangan Proses

Kini Santi sudah semester tujuh.

Ia punya iPhone mahal.

Tas bermerek.

Pakaian bagus.

Skincare mahal.

Ia bisa makan di kafe mewah.

Bahkan mengirim uang rutin ke kampung.

Orang tuanya bangga.

Mereka mengira anaknya sukses di kota.

Padahal setiap malam Santi merasa hidupnya semakin hancur.

Ia tidak punya pengalaman organisasi.

Tidak punya relasi sehat.

Tidak punya keterampilan nyata.

Tidak punya masa depan yang jelas.

Yang paling menyakitkan…

ia merasa dirinya sudah terlalu kotor untuk dicintai dengan tulus.

Malam itu, setelah melihat video tentang ayah yang mendukung anaknya tadi, Santi membuka media sosial Dinda.

Dinda baru saja mengunggah foto kegiatan pendampingan anak-anak panti.

Di slide berikutnya ada foto seminar psikologi.

Lalu foto buku catatan penuh coretan materi konseling.

Di unggahan terakhir, Dinda menulis:

“Tidak apa-apa berjalan pelan, selama tetap berada di jalan yang benar.”

Santi menatap tulisan itu lama sekali.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Tiba-tiba ia sadar sesuatu.

Dinda yang hidup santai justru punya masa depan.

Sedangkan dirinya…

yang sejak dulu dipaksa berlari…

bahkan tidak tahu sedang menuju ke mana.

Santi memeluk lututnya di atas kasur apartemen itu.

Di luar, hujan masih turun perlahan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Santi akhirnya mengerti:

Yang hilang dari hidupnya bukan hanya masa depan.

Melainkan proses untuk tumbuh sebagai manusia.

Cerita ini sepenuhnya adalah karya fiksi. Namun, cerpen ini sengaja ditulis untuk mengangkat realitas sosial tentang kemiskinan, keterbatasan pendidikan, lemahnya nilai moral dan keimanan, serta budaya lingkungan yang sering mengukur harga seseorang dari pencapaian, uang, dan keberhasilan yang terlihat di permukaan. Dalam keadaan seperti itu, tidak sedikit anak muda yang sebenarnya masih sedang bertumbuh justru dipaksa untuk segera menunjukkan hasil, tanpa diberi ruang untuk berproses dengan sehat.
Tekanan seperti itulah yang kadang membuat seseorang kehilangan kejernihan dalam memilih jalan hidup. Sebagian terjebak pada jalan-jalan instan seperti judi online, pinjaman online, hingga dunia gelap seperti prostitusi. Tokoh Santi lahir dari ketakutan, tekanan, dan pragmatisme yang terus menumpuk di dalam dirinya.
Cerpen ini juga menjadi kebalikan dari cerita sebelumnya: Langkah Kecil dari Desa — tentang bagaimana seseorang tetap punya ruang untuk bertumbuh dengan tenang, berpikir jernih, dan punya relasi yang sehat meskipun hidupnya berat. Ia masih bisa menjaga dirinya tetap berada di jalan yang benar hingga mencapai mimpinya.

You May Also Like

Leave a Reply