Langkah Kecil dari Desa

“Bu… apakah di sini sedang butuh pegawai?”

Perempuan itu berdiri di depan kedai kecil dekat alun-alun kota sambil menggenggam tali tas kainnya yang sudah kusam. Kerudung cokelat mudanya sedikit basah oleh gerimis sore. Wajahnya lelah, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang keras kepala.

Di depannya, seorang perempuan paruh baya keluar dari balik meja kasir.

“Kamu cari kerja?” tanyanya.

“Iya, Bu. Kerja apa saja.”

Perempuan itu mengamati Astri dari ujung kepala sampai kaki. Tubuhnya kurus tinggi. Sandalnya murah. Tasnya terlihat tua. Tapi cara bicaranya rapi.

“Kamu pernah kerja di kedai minuman?”

“Belum pernah. Tapi saya mau belajar.”

Perempuan itu tersenyum kecil.

“Nama ibu Wati. Kebetulan ibu memang lagi cari orang buat jaga kedai sore sampai malam.”

Mata Astri langsung berbinar.

“Beneran, Bu?”

“Iya. Tapi gajinya enggak besar. Lima puluh ribu sehari.”

Astri hampir tidak percaya.

Lima puluh ribu.

Itu berarti ia bisa bertahan hidup lebih lama di kota ini.

“Kalau kamu mau, belajar sekarang juga.”

Astri mengangguk cepat.

“Mau, Bu.”

Dan sore itu, di tahun 2015, ketika minuman boba murah mulai memenuhi kota-kota kecil, Astri memulai langkah kecilnya.

Dari Nama yang Dipinjam dari Penyanyi

Nama Astri sebenarnya terinspirasi dari Nicky Astria.

Ayahnya penggemar berat penyanyi rock itu sejak muda.

“Suara Nicky Astria itu kuat,” kata ayahnya suatu malam ketika Astri kecil bertanya kenapa namanya Astri. “Bapak pengin anak perempuan bapak juga kuat.”

Dan ternyata benar.

Astri tumbuh menjadi anak yang kalau sudah punya keinginan, sulit dihentikan.

Waktu kecil, ia pernah menangis tujuh hari berturut-turut hanya karena ingin pergi ke pantai saat libur Idulfitri.

Hari pertama hujan.

“Besok aja,” kata ibunya.

Besoknya hujan lagi.

“Kalau gitu lusa.”

Sampai hari ketujuh, Astri tetap menagih janjinya.

“Aku tetap mau ke pantai.”

Dan hari ketujuh itu akhirnya cerah.

Ayahnya sampai tertawa sepanjang perjalanan naik ojek.

“Kamu ini keras kepala banget, ya.”

Hal yang sama terjadi saat SD.

Astri selalu juara kelas sampai suatu hari ia kalah nilai pelajaran tauhid dari anak-anak yang mengaji di Pondok Pesantren Nurul Huda.

“Kenapa kalian bisa pinter banget?” tanya Astri polos.

“Kami belajar lagi di pondok.”

Besoknya, Astri langsung pindah tempat mengaji tanpa pikir panjang.

Bukan karena ikut teman.

Tapi karena ia tidak suka kalah.

Saat kelas enam SD, wali kelasnya pernah berdiri di depan kelas kayu mereka dan berkata,

“Walaupun kalian anak desa, cita-cita kalian jangan kecil.”

Kalimat itu tertanam di kepala Astri.

Hari itu juga, ia menulis di belakang bukunya:

Aku ingin menjadi perempuan berpendidikan. Aku ingin jadi sarjana.

Di desanya waktu itu, hampir tidak ada perempuan kuliah.

Sebagian besar menikah setelah lulus SMA.

Sebagian lagi bekerja di pabrik.

Dan Astri takut hidupnya berhenti di sana.

Kota, Kedai Minuman, dan Sahabat Baik

Setelah lulus SMA, Astri sebenarnya sadar keluarganya tidak mampu.

Ayahnya hanya buruh serabutan. Ibunya membantu tetangga membuat kerupuk.

Sementara ia punya tiga adik.

Suatu malam, ayahnya berkata pelan,

“Kami enggak sanggup biayai kuliah kamu.”

Kalimat itu membuat rumah kecil mereka hening.

“Tapi…” ayahnya melanjutkan, “kami juga tahu kamu enggak mungkin menyerah.”

Astri menunduk.

“Aku cuma minta izin pergi ke kota, Pak.”

“Buat kuliah?”

“Buat cari jalan.”

Ayahnya terdiam lama.

Mereka akhirnya mengumpulkan uang lima ratus ribu rupiah.

Uang itu bahkan hasil berutang ke beberapa tetangga.

“Ini cuma cukup buat biaya hidup awal,” kata ibunya.

“Enggak apa-apa,” jawab Astri cepat. “Aku enggak minta dibiayai kuliah sekarang.”

Ia berangkat ke kota bersama Ranti, teman SMA-nya.

Ranti berbeda jauh dari Astri.

Ayah Ranti punya dua truk pengangkut kopra dan gula merah. Uang jajannya sejak SMA terkenal paling besar satu sekolah.

Tapi Ranti tidak pernah sombong.

Ia justru paling sering mentraktir teman-temannya.

“Mi ayam empat, Bu!” teriaknya dulu di kantin.

Dan yang paling sering dibelikan makan adalah Astri.

“Udah, makan aja. Aku lagi pengin traktir.”

Mereka bersahabat sejak kelas satu SMA.

Ranti memang sering minta contekan waktu ujian.

“Astrii… dikit aja…”

“Enggak.”

“Yaudah…”

Dan anehnya, Ranti tidak pernah marah.

Ia justru bangga punya teman sepintar Astri.

Di kota, Ranti langsung kuliah jurusan Bahasa Inggris.

Sementara Astri berjalan kaki dari toko ke toko mencari kerja.

Minimarket.

Toko sembako.

Toko alat rumah tangga.

Warung makan.

Rumah-rumah besar.

Bahkan ia pernah menawarkan diri jadi guru les anak SD.

Tapi tidak ada yang menerima.

Sampai akhirnya ia bertemu Bu Wati di kedai minuman kecil dekat alun-alun.

Di situlah hidupnya berubah sedikit demi sedikit.

Lima Puluh Ribu dan Mimpi yang Nyaris Padam

Kerja di kedai ternyata melelahkan.

Astri mulai kerja sore sampai hampir tengah malam.

Ia belajar meracik minuman, mencatat pesanan, menghitung uang, bahkan menghadapi pelanggan cerewet.

Kadang tangannya pegal karena mengocok minuman terus-menerus.

Tapi Astri bertahan.

Dari lima puluh ribu rupiah per hari, ia hidup sehemat mungkin.

Pagi makan bubur murah.

Siang nasi sayur dengan tempe.

Malam kadang hanya air putih.

Sisanya dipakai beli paket data dan buku latihan masuk perguruan tinggi.

Karena diam-diam, Astri belum menyerah pada cita-citanya.

Siang hari yang kosong ia gunakan untuk belajar.

Ia membeli buku soal ujian masuk kampus bekas.

Mencatat rumus.

Belajar matematika.

Belajar bahasa Inggris.

Belajar ilmu sosial.

Belajar psikotes.

Kadang sampai tertidur di meja kos.

Ranti sering pulang kuliah sambil membawa makanan.

“Nih, bakso.”

“Besok aku ganti, ya Ran.”

“Kalau aku ngasih, jangan dijadiin utang.”

Astri sering ingin berkaca-kaca mendengar itu.

Sebab di kota besar yang asing, ia masih punya sahabat yang benar-benar tulus.

Suatu hari, kedai Bu Wati berhenti beroperasi sementara.

Alun-alun direnovasi.

Pedagang dilarang buka, sampai waktu yang tidak ditentukan.

Dan mendadak Astri kehilangan penghasilan.

Tabungannya habis sedikit demi sedikit.

Tujuh ratus ribu.

Lima ratus ribu.

Sampai akhirnya tersisa lima puluh ribu.

Ia mulai putus asa.

“Kayaknya aku enggak bisa kuliah tahun ini,” katanya lirih pada Ranti malam itu.

“Kamu jangan sampe nyerah.”

“Aku capek, Ran.”

“Bertahan dulu aja.”

“Aku bahkan enggak tahu besok dapat uang dari mana.”

Ranti langsung membuka dompetnya.

“Nih.”

Astri kaget.

“Aku enggak bisa terus-terusan dibantu.”

“Siapa bilang terus-terusan?”

“Tapi—”

“Astri,” potong Ranti pelan, “kadang orang cuma butuh ditemenin sampai kuat lagi.”

Kalimat itu tinggal lama di kepala Astri.

Besoknya, Astri mulai menjual es teh sendiri.

Ia membeli kotak es kecil.

Meracik minuman sederhana.

Lalu berjualan keliling di area nongkrong dekat alun-alun atau keramaian mana saja.

“Es teh tiga ribu!”

Untungnya kecil.

Kadang cuma dapat sepuluh ribu sehari.

Kadang dua puluh ribu.

Tapi Astri tetap berjalan.

Karena ia tahu satu hal:

Kalau berhenti, semuanya selesai.

Langkah Kecil yang Sampai Tujuan

Suatu malam, Ranti datang sambil membawa informasi.

“Kamu tahu beasiswa Bidikmisi?”

Astri menggeleng.

“Itu beasiswa penuh. Dapat uang kuliah sama uang hidup.”

Astri langsung tertawa kecil.

“Mana mungkin aku keterima.”

“Kamu ranking terus dari SMA.”

“Tapi aku miskin.”

“Ya memang itu syaratnya.” Ranti sedikit terkekeh.

Mereka akhirnya mengurus semuanya bersama-sama.

Surat keterangan tidak mampu.

Foto rumah.

Berkas rapor.

Penghasilan orang tua.

Astri bahkan pulang kampung dua hari untuk melengkapi syarat.

Dan di tengah semua itu, kabar baik datang bersamaan.

Pedagang di alun-alun diizinkan buka lagi.

Kedai Bu Wati kembali beroperasi.

“Ayo kerja lagi,” kata Bu Wati sambil tersenyum.

Dan beberapa minggu kemudian, Astri menerima pengumuman yang mengubah hidupnya.

Ia diterima beasiswa penuh.

Jurusan Ekonomi.

Pilihan pertamanya.

Astri menangis malam itu.

Benar-benar menangis.

Bukan karena merasa hebat.

Tapi karena untuk pertama kalinya, cita-cita yang ia tulis di buku SD terasa nyata.

____

Kuliah ternyata tetap berat.

Astri masih bekerja di kedai sampai semester dua.

Ia pernah tipes karena kelelahan.

Dan saat sakit dua minggu, Bu Wati tidak mencari pengganti.

“Nanti kalau kamu sehat, balik lagi aja.”

“Tapi kedainya gimana, Bu?”

“Ibu gantian jaga.”

Astri tidak pernah lupa kebaikan itu.

Memasuki semester berikutnya, kedai minuman mulai sepi.

Tren berubah.

Persaingan makin banyak.

Akhirnya Bu Wati memutuskan menutup kedai dan membuka usaha baru bernama Bakso Raja Sapi di rumahnya yang jauh dari pusat kota.

Astri tidak bisa ikut bekerja lagi.

Tapi saat itu ia sudah mulai menemukan jalannya sendiri.

Di kampus, ia bergabung dengan komunitas mahasiswa wirausaha.

Ikut seminar UMKM.

Lomba business plan.

Belajar membuat proposal usaha.

Dan beberapa kali kelompoknya menang pendanaan kecil.

Semua pengalaman itu membuat Astri sadar:

Ia mungkin tidak akan jadi mahasiswa paling terkenal.

Bukan aktivis kampus.

Bukan agent of change yang berdiri di atas mobil komando.

Tapi ia tetap bisa tumbuh dengan caranya sendiri.

Pelan.

Kecil.

Tapi nyata.

Tahun 2019, Astri akhirnya lulus sebagai sarjana ekonomi.

Tidak lama setelah itu, ia membuka café kecil dekat kampus bersama beberapa temannya.

Kafe itu tidak besar.

Tidak mewah.

Tapi setiap kali melihat papan nama kedai itu, Astri selalu teringat satu hal:

Dulu ia datang ke kota hanya dengan lima ratus ribu rupiah dan tas kain lusuh.

Sekarang, ia sudah menjadi perempuan pertama di keluarga besarnya yang berhasil menjadi sarjana.

Ia bukan jutawan. Mungkin belum.

Bukan tokoh terkenal.

Bukan perempuan yang mengubah dunia.

Tapi Astri berhasil mencapai cita-cita masa kecilnya:

Menjadi perempuan yang kuat.

Berdiri di atas kaki sendiri.

Kadang perubahan memang tidak dimulai dari langkah besar.

Kadang, perubahan dimulai dari seorang yang memilih untuk tetap berjalan, bahkan ketika hidup terlihat mustahil.

Cerpen ini adalah karya fiksi. Namun, terinspirasi dari semangat anak-anak muda dalam buku 101 Young CEO karya Muhammad Ilman Akbar, yang memperlihatkan bahwa langkah besar sering kali dimulai dari keberanian yang sederhana.
Lewat Astri, saya juga ingin menyampaikan bahwa kesuksesan tidak selalu dibangun sendirian. Sering kali, ada orang-orang baik yang diam-diam ikut menopang langkah kita—seperti Ranti dan Bu Wati dalam cerita ini. Sebab dalam hidup, selain kerja keras dan keberanian, kehadiran orang yang tulus membantu tanpa pamrih juga bisa menjadi alasan seseorang mampu bertahan sampai mencapai tujuannya.

You May Also Like

Leave a Reply