Pahit Manis Pengalaman Membuat Cerpen

Awalnya saya mengira menulis cerpen akan menjadi sesuatu yang ringan. Sekadar tempat menuangkan ide di sela-sela waktu luang, seperti orang yang mencari hiburan kecil di tengah rutinitas harian.

Saya pikir menulis cerita fiksi akan terasa menyenangkan, mengalir begitu saja, lalu selesai. Tidak lebih dari itu. Bahkan dulu saya tidak terlalu memikirkan apakah tulisan saya akan dibaca banyak orang atau tidak. Saya hanya ingin belajar menulis cerita.

Namun ternyata, setelah cukup banyak cerpen saya terbit di blog, saya mulai menyadari bahwa kegiatan ini tidak sesederhana yang saya bayangkan. Menulis cerita ternyata bukan hanya soal merangkai konflik dan dialog, tetapi juga soal menghadapi dampak emosional dari cerita itu sendiri.

Ada kegelisahan yang muncul setelah tulisan dipublikasikan. Ada overthinking yang tidak saya duga sebelumnya. Dan lucunya, keresahan itu muncul baik ketika saya menulis cerita yang terlalu manis maupun ketika saya menulis cerita yang terlalu pahit.

Mengapa Cerita Pahit Lebih Mudah Muncul di Kepala Saya?

Kalau diperhatikan, sebagian besar cerpen saya memang didominasi cerita-cerita yang pahit. Konfliknya banyak berkaitan dengan rumah tangga, pernikahan, parenting, kelelahan menjadi ibu, komunikasi dengan pasangan, sampai peran perempuan yang terasa begitu kompleks setelah menikah.

Padahal sebenarnya niat awal saya sederhana. Saya hanya ingin membuat cerita yang terasa logis dan dekat dengan realita. Saya ingin menulis sesuatu yang mungkin relate bagi perempuan lain yang menjalani peran serupa. Karena setelah menikah, hidup memang tidak lagi sesederhana menjadi seorang pasangan saja. Ada banyak peran yang bercampur menjadi satu: menjadi istri, ibu, anak, menantu, kakak, ipar, bahkan penjaga perasaan banyak orang sekaligus.

Konflik-konflik kecil dalam kehidupan rumah tangga itulah yang sering muncul otomatis di kepala saya. Tentang finansial, komunikasi sehari-hari, rasa lelah, pengasuhan anak, sampai tanggung jawab moral untuk selalu menjaga sikap. Hal-hal seperti itu justru terasa lebih nyata dan lebih mudah saya bayangkan menjadi cerita.

Mungkin karena itulah ide-ide pahit lebih cepat datang dibanding cerita yang terlalu indah.

Cerpen seperti Harapan Terakhir yang Kandas, Rumah untuk Istri Dunia untuk Adik, atau Setengah Cerita lahir dari keresahan-keresahan kecil yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya tidak pernah berniat menggambarkan bahwa pernikahan hanya berisi penderitaan atau ketidakbahagiaan. Tidak. Saya hanya sedang menceritakan sebagian kecil sisi kehidupan yang kebetulan terasa paling kuat di pikiran saya.

Ketika Cerita yang Terlalu Manis Terasa “Kebanyakan Gula”

Di sisi lain, saya juga pernah menulis cerita yang lebih hangat, lebih terasa bijaksana, dan lebih penuh harapan. Misalnya seperti Di Balik Hidup yang Tampak Kacau, Takaran Hidup, atau Di Bahu yang Tak Pernah Mengeluh. Saat menulis cerita seperti itu, saya justru merasa senang ketika pembaca mengatakan hati mereka terasa hangat setelah membacanya.

Komentar-komentar seperti itu membuat saya merasa tulisan saya punya arti. Ada kepuasan tersendiri ketika cerita yang saya buat bisa memberi dampak positif untuk orang lain.

Namun anehnya, setelah selesai menulis cerita yang terlalu manis atau terlalu bijak, atau setidaknya ketika jumlah tulisannya lebih dari satu, saya sering merasa tidak nyaman juga.

Rasanya seperti habis minum kopi susu gula aren dengan gula yang terlalu banyak. Awalnya enak, tetapi lama-lama terasa terlalu manis sampai membuat tidak nyaman.

Saya merasa cerita seperti itu terlalu ideal untuk kehidupan nyata. Meskipun ada sebagian yang diambil dari kisah nyata.

Mungkin rasa kurang nyaman itu disebabkan pembuatan ceritanya terasa menggambarkan kebijaksanaan. Padahal tentunya di kehidupan nyata tetap ada dinamika yang sama-sama pahit.

Tidak semua hubungan berjalan hangat. Tidak semua konflik memiliki akhir yang menenangkan. Kira-kira begitu.

Akhirnya saya seperti mencari penyeimbangnya lagi dengan menulis cerita yang lebih pahit. Dan anehnya, ide cerita pahit itu justru muncul bertubi-tubi.

Ternyata Menulis Cerpen Tidak Selalu Menjadi Healing

Salah satu hal yang paling tidak saya duga adalah ternyata menulis cerpen bisa memunculkan beban pikiran baru. Terutama setelah cerita itu selesai dipublikasikan.

Saat proses menulis, biasanya ide mengalir begitu saja. Saya bahkan sering merasa cerita itu bagus, relate, dan mungkin bisa menjadi kritik sosial juga. Tetapi setelah cerita itu selesai dan dibaca orang lain, muncul kegelisahan yang sebelumnya tidak ada.

Saya mulai overthinking.

Apakah pembaca akan menganggap saya terlalu banyak pengalaman negatif?

Apakah saya terlihat seperti orang yang tidak bersyukur dan hanya melihat kehidupan dari sisi buruknya saja?

Apakah cerpen saya akan membuat orang lain merasakan suasana hati yang kacau?

Kadang saya membayangkan ada pembaca yang sebenarnya sedang baik-baik saja, sedang bahagia dengan hidupnya, lalu setelah membaca tulisan saya justru ikut terbawa suasana gelap dari cerita tersebut. Pikiran seperti itu sering membuat saya merasa bersalah.

Belum lagi kekhawatiran bahwa pembaca laki-laki atau pembaca yang belum menikah mungkin akan menangkap kesan bahwa laki-laki selalu menjadi antagonis dalam cerita saya. Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu. Saya hanya sedang menulis dari sudut pandang yang dekat dengan pengalaman emosional saya sebagai perempuan.

Dan di titik itu saya mulai sadar bahwa menulis fiksi ternyata bukan sekadar kegiatan santai. Ada bagian emosional dari diri penulis yang ikut terlibat di dalamnya.

Jika Suatu Hari Saya Berhenti Menulis Cerpen untuk Sementara

Pada akhirnya saya menyadari bahwa blog ini memang menjadi tempat saya berefleksi. Awalnya melalui tulisan biasa, lalu berubah menjadi cerpen karena saya ingin mencoba gaya penulisan yang berbeda. Saya ingin belajar menyampaikan keresahan dan gagasan dalam bentuk cerita.

Namun semakin lama, saya juga sadar bahwa saya tetap harus menjaga diri sendiri. Karena ternyata terlalu lama berada di dalam cerita-cerita yang emosinya berat juga bisa melelahkan pikiran.

Jadi kalau suatu hari nanti pembaca tidak lagi menemukan cerpen baru di blog saya dalam waktu yang cukup lama, mungkin itu bukan karena saya berhenti menyukai menulis. Bisa jadi saya hanya sedang ingin beristirahat sejenak dari dunia cerita.

Mungkin saya ingin kembali fokus ke hal-hal teknis seperti desain website, belajar hal baru, keluarga, fokus mengajar, atau menyelesaikan pekerjaan lainnya. Mungkin saya hanya ingin memberi ruang untuk pikiran saya bernapas sebentar tanpa harus terus-menerus tenggelam dalam konflik-konflik fiksi yang ternyata ikut meninggalkan jejak emosional di kepala saya sendiri.

Karena sekarang saya mulai memahami satu hal: menulis cerpen memang bisa menjadi tempat healing, tetapi dalam waktu yang sama juga bisa menjadi tempat lahirnya kegelisahan baru.

Dan mungkin, itulah pahit manisnya menjadi penulis cerita.

You May Also Like

13 Comments

  1. Annisakih Mei 17, 2026 at 10:20 am

    Gapapa banget break dulu mbak. Selama ini cerpen-cerpennya sudah ikut menghibur saya. Dan saya suka penasaran juga sama rahasia dibalik dapurnya, apakah berdasarkan kisah nyata atau curhatan teman, kolega, tetangga atau anggota keluarga lain gitu hehehe

    1. Iim Rohimah Mei 17, 2026 at 12:43 pm

      Campuran kak. Ada yg ngambil dari kisah sendiri, curhatan orang di media sosial, atau memang mengamati fenomena sosial.

  2. Resa Roosmana Mei 17, 2026 at 11:10 am

    Nah ini, suka duka di balik layar sebuah karya emang selalu menarik buat disimak. Prosesnya itu lho yang mahal dan bikin kita terus belajar. Tulisannya mengalir santai dan bikin yang baca jadi ikut bersemangat. Sukses terus untuk proses kreatifnya dan ditunggu cerpen-cerpen terbarunya ya!

    1. Iim Rohimah Mei 17, 2026 at 12:42 pm

      Terimakasih kak. Semoga tulisan saya bermanfaat, baik buat diri sendiri maupun orang banyak.

  3. April Fatmasari Mei 17, 2026 at 11:46 am

    Keren banget Kak. Sudah banyak menuliskan cerpen dengan berbagai macam konflik dan tema. Saya pingin banget bisa belajar, tapi kadang sudah terpatahkan dengan overthinking yang seperti Kak Iim rasakan. Akhirnya mengurungkan niat deh. Padahal harusnya bisa mulai dulu ya Kak, apalagi dengan tema yang dekat keseharian. Semoga saya bisa ketularan bisa nulis cerpen nih Kak

    1. Iim Rohimah Mei 17, 2026 at 12:41 pm

      Overthinking bisa dua hal kak. Pertama, memang alarm untuk bernafas atau mungkin berhenti. Kedua, hanya fase yang biasa dialami berbagai proses apapun. Segalanya pasti ada masa sulitnya.

  4. Fenni Bungsu Mei 17, 2026 at 2:55 pm

    Cerita pahit bisa jadi inspirasi menuangkan dalam bentuk tulisan seperti cerpen. Saya pernah kak, malah hal pahit yang notabene orang yang membuat saya bersedih saya jadikan tokoh jahat dalam cerita. Pokoknya tetap semangat menulis ya

  5. Jiah Al Jafara Mei 17, 2026 at 8:51 pm

    Aku sudah lama gak nulis cerpen. Kalau mau nulis fiksi lagi, kayanya butuh belajar ulang. Sadar banget jika bikin cerita, tetap harus sesuai logika, gak asal sampai plot hole

  6. antung apriana Mei 18, 2026 at 6:48 am

    Memang kadang ada juga orang yang baca cerpen itu pengen yang happy ending soalnya kadang hidup sudah terlalu berat trus baca cerita yang nyesek malah tambah kesal deh. Take your time ya, mbak ditunggu cerpen-cerpen selanjutnya

  7. lendyagassi Mei 19, 2026 at 7:19 am

    Menulis dengan plot story line dan juga memiliki karakter yang konsisten sedari awal itu gak mudah.
    Ka Iim uda melewati itu semua dan memiliki banyak sekali kisah yan ditulis…itu keren banget.
    Masalah ending, everyone have their own path.
    Bukan berarti sering nulis begitu tapi itu jadi pengalaman pribadi sang penulis.. karena menurutku, seorang penulis selalu masuk ke karakter dan cerita yang ditulisnya. Bisa jadi terinspirasi dari buku atau film yang ditonton.

    Semangat berkarya.

    1. Iim Rohimah Mei 19, 2026 at 2:05 pm

      Betul Kak Lendy, makasih masukannya.

  8. duniamasak Mei 19, 2026 at 9:24 am

    semangat berkarya ya kak, sukses selalu 😀

Leave a Reply