Rumah untuk Istri, Dunia untuk Adik
Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, Mika sudah bangun sejak subuh. Rara masih tidur di dalam kamar, napas kecilnya naik turun pelan. Mika menatap wajah anaknya beberapa detik, lalu beranjak ke dapur.
Kompor dinyalakan. Air direbus. Nasi dipanaskan. Semua dilakukan dalam diam, seperti rutinitas yang sudah hafal di luar kepala.
Di ruang tamu, Aris duduk sambil memainkan ponselnya. Seragam kerjanya sudah rapi—kemeja biru muda dengan logo perusahaan distribusi tempat ia bekerja sebagai staf logistik. Wajahnya tampak lelah, tapi bukan karena rumah.
“Mas, sarapannya sudah siap,” kata Mika pelan.
Aris hanya mengangguk tanpa menoleh. Jempolnya masih sibuk menggulir layar.
Beberapa menit kemudian, Aris duduk di meja makan. Ia mengambil nasi, lauk, lalu makan dengan cepat.
“Teh hangatnya mana?” tanyanya.
Mika buru-buru mengambilkan.
Setelah makan, Aris berdiri, merapikan tasnya.
“Nanti sore aku mungkin pulang telat. Ada stok barang yang harus dicek,” katanya.
“Iya, Mas,” jawab Mika singkat.
Aris sudah hampir keluar, tapi tiba-tiba berhenti.
“Oh iya, nanti Rara dimandiin sebelum aku pulang, ya. Kemarin kayaknya telat mandinya.”
Mika hanya mengangguk lagi.
Pintu tertutup.
Dan rumah itu kembali sunyi.
Mika berdiri di tengah dapur, memandangi piring kotor di tangannya. Tidak ada yang salah dengan kalimat Aris barusan. Tidak kasar. Tidak membentak.
Tapi, rasanya seperti perintah.
Seperti semua yang ia lakukan memang sudah seharusnya begitu.
Seperti ia… memang ada hanya untuk itu.
Tidak Pernah Selesai Dibicarakan
“Mas, aku kepikiran mau ngajar lagi.”
Kalimat itu pernah Mika ucapkan, entah sudah berapa kali.
Dan seperti biasa, Aris menarik napas panjang.
“Kita sudah bahas ini berkali-kali, kan?”
“Aku cuma ingin—”
“Rara masih kecil, Mika.”
Selalu itu.
Anak mereka masih kecil. Memang benar.
Butuh ibunya. Tidak salah.
Hanya saja, arah pembicaraan Mika bukan hanya itu.
“Kalau aku kerja, aku tetap bisa ngurus Rara, Mas. Kita bisa atur—”
“Diatur gimana?” potong Aris. “Kamu mau titipin ke orang lain? Aku nggak tega anak kita diasuh orang lain.”
Mika diam.
“Tapi aku juga…” suaranya melemah, “aku pengen punya aktivitas lagi.”
Aris menatapnya.
“Kamu itu sudah punya aktivitas. Ngurus rumah. Ngurus anak. Itu bukan aktivitas?”
Bukan itu maksudnya.
Mika ingin menjelaskan, tapi seperti biasanya, kata-katanya mentok di tenggorokan.
“Aku cuma… pengen merasa hidup lagi, Mas.”
Aris menghela napas.
“Kamu itu kebanyakan lihat orang di media sosial. Bandingin hidup. Padahal belum tentu mereka lebih bahagia.”
“Ini bukan soal itu.”
“Terus soal apa?”
Mika menatap meja.
Soal dirinya.
Soal rasa tidak berharga.
Soal menjadi manusia yang… hilang.
Soal bagaimana suaminya selalu berhak dirawat saat sakit, tapi tidak dengan dirinya. Aris yang merasa lebih berhak kumpul bersama rekan kerja di cafe dengan alasan memperluas koneksi, tapi Mika bahkan tidak punya kesempatan sekedar bertemu kawan lamanya. Aris yang mengeluarkan uangnya untuk apa saja dengan dalih hasil kerja kerasnya sendiri.
Tapi ia tahu, itu tidak akan dimengerti.
Atau setidaknya, mungkin ego yang tidak bisa mengerti.
“Sudahlah,” kata Aris akhirnya. “Kita cukup dari gaji aku. Kamu fokus saja di rumah. Itu sudah paling baik.”
Kalimat itu terdengar seperti penutup.
Seperti keputusan.
Dan Mika tahu, setelah itu, tidak ada lagi ruang untuk bicara.
Dunia yang Diberikan untuk Orang Lain
Suatu sore, mereka berkunjung ke rumah orang tua Aris.
Udara pesisir terasa lembap. Dari kejauhan, tambak udang milik Pak Hadi, mertua Mika, terlihat luas, airnya berkilau terkena matahari sore.
Di ruang tamu, suasana ramai.
Nadia dan Salsa duduk di lantai, tertawa kecil sambil bercerita tentang kampus.
Aris terlihat berbeda di sini.
Lebih hidup.
Lebih banyak bicara.
“Nadia, nanti kalau sudah lulus sarjana Ilmu Komunikasi, jangan buru-buru nikah ya,” kata Aris. “Kamu harus kerja dulu. Kejar karier.”
Nadia tersenyum. “Iya, Kak.”
“Perempuan sekarang itu harus mandiri. Harus punya posisi. Lihat kayak Najwa Shihab, itu contoh perempuan hebat.”
Mika yang duduk di sudut hanya mendengarkan.
“Dan dalam Islam juga sudah ada contohnya,” lanjut Aris. “Khadijah itu pebisnis. Perempuan kuat.”
Mika menunduk.
Kata-kata itu… tidak asing.
Hanya saja, tidak pernah ditujukan padanya.
“Salsa juga,” kata Aris menoleh ke adiknya yang lebih muda. “Kamu di IT itu peluangnya besar. Apalagi sekarang era teknologi. Harus serius. Jangan main-main.”
“Iya, Kak,” jawab Salsa.
“Nanti kalau sudah kerja, jangan bergantung sama laki-laki. Kamu harus bisa berdiri sendiri.”
Mika menghela napas pelan.
Aneh.
Benar-benar aneh.
Di rumah, ia dilarang bekerja.
Di sini, perempuan harus mandiri.
Di rumah, ia diminta cukup di dapur.
Di sini, perempuan harus mengejar dunia.
Mika akhirnya memberanikan diri bicara, pelan.
“Mas… boleh tanya?”
Aris menoleh. “Apa?”
“Kamu kan selalu bilang perempuan harus mandiri, harus punya karier…” Mika berhenti sebentar. “Tapi kenapa aku nggak boleh?”
Ruangan mendadak lebih sunyi.
Aris tersenyum tipis.
“Kamu beda.”
“Bedanya di mana?”
“Kamu itu istri.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi menutup semua kemungkinan.
“Sebagai istri, kamu ikut suami,” lanjut Aris. “Kondisi kita sekarang ya seperti ini.”
“Kalau kondisi berubah?”
“Belum tentu.”
Lagi-lagi, tidak ada ruang.
Mika tidak melanjutkan.
Ia hanya tersenyum tipis.
Tapi di dalam, ada sesuatu yang perlahan retak.
Hal-Hal yang Tidak Pernah Dimiliki
Malam itu, Mika duduk di kamar, membuka ponselnya.
Ponsel lama, dengan layar yang sudah mulai redup.
Ia melihat media sosial.
Teman-temannya.
Ya, setelah menikah, satu-satunya cara paling mudah untuk tetap terhubung dengan teman-teman lamanya adalah lewat online.
Ada yang baru beli skincare.
Ada yang makan di restoran.
Ada yang liburan.
Ada yang sekadar tertawa di foto bersama.
Mika tersenyum kecil.
Dulu, ia juga begitu.
Dulu, dengan gaji dua juta setengah, ia masih bisa membeli hal kecil untuk dirinya.
Masih bisa memberi sedikit untuk orang tua.
Masih bisa mengajak adiknya makan di luar.
Sekarang?
Untuk keluar saja, ia harus menyisihkan lima ribu, sepuluh ribu, dari uang belanja harian.
Itu pun belum tentu cukup.
Pintu kamar terbuka.
Aris masuk.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
Aris merebahkan diri.
“Oh iya, tadi aku kirim uang ke rumah. Dua juta. Buat bantu biaya kuliah Nadia sama Salsa.”
Mika mengangguk.
Ia sudah tahu.
Selalu begitu.
Dari gaji lima juta suaminya itu, rutin selalu diberikan dua juta untuk adik-adiknya.
“Mas…” suaranya pelan.
“Hmm?”
“Bapak… sakit lagi.”
Aris diam sebentar.
“Sudah dibawa ke dokter?”
“Belum ada biaya, Mas. Kata dokter harus operasi…”
Aris menghela napas.
“BPJS-nya nggak ada?”
“Ini nggak kekover, Mas.”
Aris mengusap wajahnya.
“Kita juga lagi nggak ada uang, Mika.”
“Mas…” suara Mika mulai bergetar, “aku cuma minta izin kerja… dengan begitu, kalau…”
Aris langsung bangkit.
“Ini lagi?”
“Aku cuma ingin bantu, Mas. Bapak sudah lama sakit…”
“Ini modus kamu, ya?” potong Aris.
Mika terdiam.
“Pakai alasan bapak supaya bisa kerja?”
“Mas…”
“Kita sudah bahas. Jangan ulang lagi.”
Hening.
Mika tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Air matanya jatuh pelan.
Tidak ada suara.
Tidak ada perlawanan.
Hanya diam yang panjang.
_________
Malam semakin larut.
Aris sudah tertidur.
Mika masih terjaga.
Ia memandang langit-langit kamar.
Pikirannya melayang ke masa lalu.
Ayahnya.
Pak Rahmat.
Buruh bangunan.
Yang dulu rela berhutang demi membayar kuliahnya.
Ibunya.
Bu Siti.
Yang tanpa ragu menjual gorengan keliling supaya Mika bisa tetap sekolah.
Dan dirinya.
Yang dulu waktu kuliah mengajar les ke rumah-rumah orang.
Yang percaya… suatu hari ia akan membantu orang tuanya.
Suatu hari bisa merasakan kehidupan yang lebih bermakna sekaligus lebih hidup.
Bahkan, setelah lulus, ia juga sudah mulai sempat mengajar, sesuai cita-cita dan harapan orang tuanya.
Mika memejamkan mata.
Dadanya terasa sesak.
Di luar kamar, rumah itu tetap sama.
Tenang.
Rapi.
Seperti tidak ada yang salah.
Tapi di dalamnya, ada seseorang yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan di tempat lain, ada dua perempuan yang sedang disiapkan untuk menaklukkan dunia.
Sementara satu perempuan lain… bahkan tidak diberi ruang untuk memilih hidupnya sendiri.
Malam itu, Mika tidak menangis keras.
Ia hanya menutup wajahnya dengan bantal.
Dan malam itu, ia tidak tahu harus berharap kepada siapa.

Ceritanya menarik kak. Bikin sedih jadinya. Tetap semangat kak bikin cerbung nya, hehehe
Eh ada blogger cowok ternyata. Selamat membaca ya Kak. Ini nyindir sebagian cowok kok, ga semua kaya di cerpen ini.
relate, itulah fakta yang banyak terjadi saat ini, padahal sejatinya lelaki yang bijak tidak seperti itu. Jika dia telah menikah istri menjadi tanggung jawabnya pun keluarga istrinya
ceritanya bagus mbak
Tidak semua suami muda, tapi banyak yang menganggap istri sudah jadi hak dia atur. hmmm. Sementara adik perempuan, didukung sukses.
Aah..sayangnya masih banyak perempuan2 seperti Mika yg kehilangan jati dirinya tanoa tahu harus bgmn.. Terima kasih, sharing cerita apik ini..
Boleh share lagi mbak, biar banyak yg relate. Dan laki-laki model Aris ketampar. hehe
Judulnya langsung menarik karena menyentuh sisi emosional keluarga. Aku jadi kepikiran bagaimana peran dan tanggung jawab dalam keluarga seringkali tidak seimbang, apalagi kalau sudah menyangkut prioritas hidup. Kadang keputusan seperti ini memang tidak mudah, tapi penting untuk tetap adil tanpa mengorbankan kebahagiaan pasangan
Betul kak, ini seringkali lahir dari mindset yang menganggap perempuan sebagai gender ke-2. Perannya melayani dan untuk patuh. Padahal naluri manusia, tanpa kenal jenis kelaminnya, pasti butuh aktualisasi diri.
Serasa nonton film yang lagi tayang serialnya juga di Netflix ini, theatre of mindnya dapat banget.
Btw, saya juga melihatnya begitu sih, kalo perempuan aktivitasnya di rumah saja bisa jadi ada perasaan tidak berharga.
Iya kak, POV perempuan yang terkurung di rumah lama-kelamaan ada jenuh dan merasa hidupnya berhenti.
Baru baca judulnya aja udah kerasa ‘deep’ banget, pas masuk ke dalem eh beneran bikin berkaca-kaca. Penulisannya rapi banget tapi tetep kena ke hati. Makasih ya Kak udah berbagi perspektif yang luar biasa ini tentang kasih sayang dan pengorbanan.
Biasanya ini mindset laki-laki yang under 5 tahun pernikahan kak. Mereka oknum yang kurang menghargai mimpi perempuan, disertai pemahaman agama keliru yang menganggap tugas istri di rumah dan hanya patuh pada suami.
tapi memang kenyataannya ko kak, perempuan di rumah tidak dihagai, aneh yah? meskipun dia kerja freelancer kayak aku semisalnya. Tetap saja karena nggak keliatan kerja kantoran jadinya diremehin
ini cerita yang sunyi tapi menghantam. Tidak berisik, tidak melodramatis, tapi justru karena itu terasa jujur. Yang tersisa setelah membaca bukan hanya simpati pada Mika, tapi juga rasa tidak nyaman—karena situasi seperti ini sangat mungkin terjadi di sekitar kita, bahkan tanpa disadari oleh pelakunya sendiri.
Tulisan ini enak dibaca, sederhana, dan punya pesan yang cukup kena buat rumah tangga. Semoga makin banyak postingan inspiratif seperti ini ya.
Koq saya kesel yaa sama Aris,,,,mbok yaa kalau istrinya harus di rumah gak kerja ,,,ya penuhi donk hak-haknya ,,,bantu donk keluarganya yang juga keluarganya dia juga kan. Bapak mertua ya bapaknya juga kan. Ih gemes bangeet deh….Kek nya kesepakatan tentang boleh tidaknya bekerja dan bagaimana kalau istri tidak bekerja harus ada dalam pembicaraan sebelum menikah kali yaa,,,
Nah, betul mbak. Penting juga, terutama buat perempuan. Karena biasanya mereka yang jadi korban dari kesepakatan yang tidak jelas atau sepihak.
Pengen puk puk Mika.. Banyak yang bakal merasa terkoneksi dengan kisahnya.
Saya sempat berharap endingnya agak lebih membahagiakan, misalnya Mika berdaya dari rumah tanpa perlu kerja di luar tapi ini juga bagus sekali.
Endingnya sengaja dibuat miris mbak, karena gak semua perempuan mampu bangkit. Setidaknya secepat itu. Ada yang butuh bertahuntahun dan harus melewati malam yang seperti Mika alami. Baru setelah kebal, dia akan bangkit.
Aku mengenal sangat dekat dengan sosok seperti Mika ini.
Mika Mika yang lain di luar sana memang banyak.. dan semoga ada jalan keluarnya yang terbaik selain komunikasi yang selalu berujung tidak memuaskan. Setidaknya, ketika Mika gak dibolehin kerja, ada kompensasi untuk itu. Misalnya, diijinkan menuntut ilmu lagi atau aktivitas lain yang menjadikan Mika menjadi dirinya sendiri, bukan seorang Ibu atau istri.
Pelakuknya seringkali merasa punya hak penuh untuk menentukan hidup wanita yang dia ambil dari orang tuanya. Padahal ada yang namanya HAM.
mbak aku jadi penasaran itu aris gajinya 5 juta trus dikasih ke keluarganya 2 juta memang cukup 3 juta buat keluarganya sendiri? Pasti yang mikirin pengaturan uanganya istrinya kan dan dia merasa cukup? heu. Ah jadi kesal aku bacanya kupikir gaji aris 20 juta
5 juta ajah mbak, wkwk. Biar emosi.
Lagian, biasanya orang yang bertingkah dan SDM agak kurang itu seringkali bukan yang uangnya banyak, tapi yang minim.