Aku Hidup dari Cintamu
Sejak kecil, Bintang tidak pernah benar-benar terlihat sehat.
Kulitnya pucat seperti kurang tidur bertahun-tahun. Tubuhnya ringan, bukan karena lincah, tapi karena tidak pernah berisi. Ia sering sakit tanpa pola yang jelas. Hari ini demam, minggu depan tipes, lalu tiba-tiba lemas berhari-hari tanpa diagnosis pasti.
Orang tuanya bukan orang yang kekurangan. Ayahnya manager di perusahaan pembangkit listrik, ibunya guru di sekolah disabilitas yang tergolong elit. Mereka tinggal di perumahan yang lumayan mewah di pinggir kota—nyaman, cukup untuk hidup tanpa kekurangan.
Semua yang bisa dilakukan, sudah dilakukan.
Rumah sakit, dokter spesialis, vitamin mahal, terapi, bahkan saran-saran yang terdengar aneh dari orang sekitar.
“Coba ganti nama saja, Bu. Kadang anak itu nggak cocok sama namanya.”
Sudah.
Bintang bukan nama pertamanya.
Ia pernah dipanggil Nara. Pernah juga Lintang. Tiga kali nama diganti, tiga kali pula harapan orang tuanya diulang dari awal.
Tidak ada yang berubah.
Ibunya juga pernah disalahkan.
“Waktu hamil dulu kan ngajar di sekolah anak berkebutuhan khusus… mungkin kebawa energinya.”
Ibunya hanya tersenyum tipis setiap mendengar itu. Tidak membantah, tapi juga tidak percaya.
Bintang tumbuh dalam tubuh yang selalu terasa setengah. Seolah hidupnya berjalan, tapi tidak pernah benar-benar sampai.
Daftar Isi
“Zombie” di Baris Ketiga
Di kampus, keadaan tidak jauh berbeda.
Bintang tidak punya energi untuk membenci orang-orang yang mengejeknya. Bahkan untuk merasa tersinggung pun kadang terlalu melelahkan.
“Bu, giliran si zombie ya yang presentasi.”
Tawa kecil terdengar. Tidak keras, tapi cukup jelas.
Bintang berdiri pelan. Tangannya dingin. Pandangannya agak buram, seperti biasa kalau tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
Ia membuka slide presentasi.
Dua menit.
Tiga menit.
Suara di kepalanya mulai menjauh. Huruf-huruf di layar seperti berantakan.
Kakinya goyah.
Seseorang di belakang masih sempat berbisik, “Eh, beneran mau tumbang nggak tuh?”
Lalu semuanya gelap.
Seseorang yang Terlalu Hidup
Bintang tidak langsung sadar. Tapi ia tahu satu hal: ada sesuatu yang berbeda.
Napasnya terasa lebih rapi.
Tidak berat. Tidak terengah.
Ketika matanya terbuka, ia melihat tangan seseorang masih menggenggam pergelangan tangannya.
Hangat.
“Udah? Bisa duduk?” suara laki-laki itu santai, tidak panik.
Bintang mengangguk pelan.
Laki-laki itu melepas tangannya, lalu berdiri tegak. Tinggi, kaus hitam kusut, rambut agak berantakan. Wajahnya biasa saja kalau dilihat sekilas, tapi matanya hidup—terlalu hidup.
Azril.
Nama itu beredar cukup sering di kampus.
Entah kebetulan atau apa, dia masuk saat Bintang pingsan.
Banyak yang suka. Banyak yang mencoba mendekat. Tidak ada yang benar-benar berhasil.
Dia dikenal urakan, tapi dingin, apalagi ke perempuan. Kadang jutek, kadang tidak peduli. Tapi hari itu, tangannya sempat bertahan sedikit lebih lama dari yang perlu.
Dan entah kenapa, Bintang tidak merasa asing.
Seperti mengenali sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Perubahan yang Tidak Masuk Akal
Setelah hari itu, perubahan Bintang tidak bisa disebut kebetulan lagi.
Awalnya kecil.
Ia tidak lagi mudah pusing. Nafasnya lebih panjang. Ia bisa berjalan lebih jauh tanpa harus berhenti.
Lalu pelan-pelan, perubahan itu terlihat jelas.
Wajahnya yang dulu pucat mulai merona. Bukan karena make up—warnanya muncul alami, hangat di pipi dan bibirnya.
Tubuhnya mulai berisi.
Bukan gemuk, tapi penuh. Seimbang. Seperti tubuh yang akhirnya tahu bagaimana cara berdiri dengan benar.
Rambutnya terlihat lebih sehat. Kulitnya lebih cerah.
Ibunya sampai memegang pipinya suatu pagi.
“Kamu… kok beda ya?”
Ayahnya bahkan sempat tertawa kecil, sesuatu yang jarang ia lakukan di rumah.
“Ini anak kita kan?”
Mereka bahagia.
Tapi juga bingung.
Karena tidak ada yang berubah—kecuali satu hal yang tidak mereka lihat.
Azril.
Hanya Terjadi Saat Dia Ada
Bintang mulai menyadarinya.
Tidak langsung. Tapi cukup jelas untuk membuatnya diam-diam memperhatikan.
Setiap kali Azril dekat—
ia kuat.
Bukan sekadar merasa lebih baik.
Benar-benar kuat.
Ia bisa berjalan tanpa lelah. Bisa tertawa tanpa kehilangan napas. Bahkan bisa beraktivitas seharian tanpa merasa tubuhnya akan runtuh.
Dan ketika Azril tidak ada—
semuanya kembali pelan-pelan.
Napasnya lebih pendek. Tubuhnya lebih berat. Warna di wajahnya memudar.
Ia tidak pernah mengatakan ini pada siapa pun.
Tapi ia tahu.
Ada sesuatu yang bergantung.
Dan itu bukan obat.
Laki-Laki yang Tidak Pernah Memilih Siapa Pun
Azril tetap sama.
Masih banyak yang menyukainya. Mahasiswi-mahasiswi yang mencoba mendekat, mencari alasan untuk bicara, bahkan ada yang sengaja berteman dengan Bintang.
Motifnya jelas.
Tapi tidak pernah berhasil.
Azril tetap dingin pada mereka.
Jawabannya pendek. Tatapannya datar.
Seolah tidak ada ruang untuk siapa pun.
Kecuali saat ia bersama Bintang.
Ia tidak berubah drastis. Tetap santai, tetap sedikit berantakan.
Tapi hangatnya hanya muncul di sana.
Dan itu cukup untuk terlihat.
Rumah yang Tidak Pernah Tenang
Tidak ada yang tahu kenapa Azril tiba-tiba menjauh.
Sampai akhirnya, sedikit demi sedikit, cerita itu terdengar.
Orang tuanya bercerai sejak lama.
Ia tinggal dengan ayahnya—yang jarang pulang, sibuk, dan tidak pernah benar-benar hadir.
Ibunya masih ada, tapi seperti orang asing.
Dingin. Jauh. Tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang.
Kalau mereka bertemu, yang ada hanya pertengkaran.
Tidak ada yang benar-benar peduli bagaimana Azril tumbuh.
Ia punya semua secara materi.
Tapi tidak punya rumah.
Dan itu cukup untuk membuatnya ragu… tentang mencintai seseorang.
Jarak yang Membuat Tubuhnya Runtuh
Azril menjauh.
Tidak hilang. Tapi cukup jauh untuk terasa.
Dan kali ini, Bintang tidak hanya merasa kehilangan.
Tubuhnya ikut runtuh.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Dalam hitungan hari, wajahnya kembali pucat. Tubuhnya kembali ringan, seperti tidak terisi. Nafasnya kembali pendek.
Sampai akhirnya—
rumah sakit.
Infus.
Monitor yang berbunyi pelan.
Ibunya menangis diam-diam di sudut ruangan.
Semua seperti kembali ke awal.
Pengakuan yang Menghidupkan
Azril datang malam itu.
Ia tidak langsung bicara. Hanya berdiri lama di dekat pintu, seolah memastikan sesuatu yang tidak terlihat.
Lalu ia mendekat.
Bintang membuka mata perlahan.
Dan tubuhnya langsung bereaksi.
Napasnya berubah.
Lebih tenang.
Azril duduk. Ragu sejenak, lalu menggenggam tangannya.
Hangat.
Dalam beberapa detik, monitor di samping tempat tidur berubah ritmenya. Lebih stabil.
Wajah Bintang perlahan kembali punya warna.
Azril menatapnya, lama.
“Aku… nggak baik-baik aja beberapa waktu ini,” katanya pelan. “Rumahku… berantakan. Dari dulu juga.”
Ia menarik napas.
“Aku kira… kalau aku deket sama kamu, aku bakal ngerusak semuanya.”
Jeda.
“Tapi ternyata… malah kamu yang rusak kalau aku pergi.”
Suara itu nyaris bergetar.
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Bintang.
“Aku nggak bisa bohong lagi.”
Tangannya masih menggenggam erat.
“Aku sayang sama kamu.”
Tidak ada kata yang berlebihan.
Dan di saat itu juga—
sesuatu di dalam tubuh Bintang seperti kembali menyala.
Hangatnya menyebar. Dadanya terasa penuh. Nafasnya dalam. Tubuhnya tidak lagi terasa kosong.
Ia tidak hanya sadar.
Ia hidup.
______________
Tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang terjadi setelah itu.
Dokter menyebutnya pemulihan.
Orang tua Bintang menyebutnya keajaiban.
Bintang tidak menyebut apa-apa.
Tapi ia tahu satu hal—
bahkan saat Azril tidak berada di dekatnya, selama perasaan itu tetap ada, ia tidak lagi kembali seperti dulu.
Seolah ada sesuatu yang tinggal.
Bukan sentuhan.
Bukan kehadiran.
Tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Penutup
Tidak semua orang hidup karena jantungnya berdetak.
Ada yang hidup… karena seseorang, memilih untuk mencintainya.
NB: Cerita ini adalah cerpen surealis pertama, terinspirasi dari drama Korea “Legend of The Blue Sea”. Legenda putri duyung yang detak jantungnya bergantung kepada seorang manusia yang dia cintai.
