Bu Darmi
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Bu Darmi sudah duduk manis di teras rumahnya.
Bukan untuk minum teh.
Tapi untuk mengamati.
Dan tentu saja… berkomentar.
“Rumah kok belum disapu? Daunnya numpuk begitu,” gumamnya, cukup keras untuk didengar orang yang dituju.
Itu rumah adiknya. Tepat di sebelah. Rumah yang hampir selalu terlihat “hidup”—ada sepatu berserakan, jemuran belum dilipat, dan halaman yang kadang kalah cepat dibersihkan dibanding kesibukan penghuninya.
Adiknya, Pak Joko, seorang guru SMP. Istrinya juga guru. Berangkat pagi, pulang sore. Rumah bagi mereka bukan tempat untuk terlihat sempurna—tapi tempat pulang.
Sayangnya, itu konsep yang tidak pernah dipahami Bu Darmi.
“Perempuan di rumah itu buat apa kalau bukan ngurus rumah?” lanjutnya, masih dari teras.
Pintu rumah sebelah terbuka. Rena, anak perempuan Pak Joko yang masih duduk di sekolah SMP, muncul sambil mengikat rambut.
“Aku sekolah, Bude…” jawabnya santai.
“Sekolah iya. Tapi jadi perempuan ya harus tahu diri. Masa nunggu jadi istri dulu baru belajar bersih-bersih?”
Rena hanya nyengir.
“Ya nanti belajar kalau udah jadi istri aja, Bude.”
Lalu masuk lagi.
Bu Darmi mendecak.
“Heran saya. Rumah isinya perempuan dua, tapi kayak nggak ada perempuannya…”
Kalimat itu seperti lagu wajib. Diulang hampir setiap hari, dengan nada yang sama, dari tempat yang sama.
Dan entah kenapa, selalu terasa lebih nyebelin setiap kali didengar.
Daftar Isi
Dapur Orang Lain Selalu Lebih Salah
Suatu pagi, Bu Darmi masuk ke rumah adiknya tanpa permisi panjang.
Langsung ke dapur.
Dan langsung mengernyit.
“Ini dapur apa gudang ya? Nggak ada bau masakan sama sekali.”
Iparnya, Bu Rini, yang sedang bersiap berangkat, hanya tersenyum tipis.
“Kami tadi sarapan telur, Mbak. Nanti makan siang di sekolah.”
Bu Darmi tertawa kecil. Bukan tertawa lucu—tapi yang bikin orang lain ingin cepat-cepat pergi.
“Telur lagi, telur lagi… Pantas aja, rumahnya juga dingin.”
Bu Rini diam.
“Perempuan itu kalau nggak masak, terus fungsinya di rumah apa?” lanjut Bu Darmi, seolah sedang memberi ceramah pagi.
Pak Joko yang sedang memakai sepatu ikut menimpali, santai saja.
“Yang penting anak-anak makan, Mbak. Nggak harus masak tiap waktu.”
“Lho, itu dia masalahnya. Standarnya diturunin terus.”
Bu Darmi lalu membuka magicom. Nasi dingin.
“Ini nanti anakmu makan apa?”
“Rena nanti beli di sekolah.”
“Beli lagi, beli lagi. Dari kecil dibiasakan begitu, nanti gede nggak bisa apa-apa.”
Rena muncul lagi, tas sudah di punggung.
“Aku bisa kok, Bude. Bisa makan.”
Lalu pergi sebelum Bu Darmi sempat membalas.
Bu Darmi menghela napas panjang, seperti orang yang paling sabar di dunia.
Padahal… dunia di sekitarnya yang sedang berusaha sabar menghadapi dia.
Perempuan yang Terlalu “Benar”
Kalau hanya adiknya, mungkin masih bisa dimaklumi.
Tapi Bu Darmi bukan tipe yang pilih-pilih.
Semua orang punya jatah komentarnya masing-masing.
Termasuk Bu Laksmi.
Tetangga yang rumahnya agak ke depan, di pinggir jalan. Rumahnya lebih besar, dengan toko sembako di bagian depan. Selalu ramai. Selalu hidup.
Dan selalu jadi bahan pembicaraan.
Suatu siang, Bu Darmi berhenti di depan rumah Bu Laksmi. Seorang perempuan sedang menyapu halaman.
“Wah… enak ya sekarang, tinggal nyuruh,” kata Bu Darmi sambil tersenyum tipis.
Bu Laksmi keluar dari toko.
“Biar cepat selesai, Bu.”
“Iya sih… tapi jadi gaya-gayaan kayak juragan,” jawab Bu Darmi, ringan tapi menusuk.
Bu Laksmi hanya tersenyum.
“Kalau saya sih ga suka gaya-gayaan,” lanjut Bu Darmi.
“Masa pekerjaan perempuan disuruh orang lain.”
Perempuan yang menyapu itu menunduk, pura-pura tidak mendengar.
Tak lama, seorang laki-laki keluar dari toko, mengangkat karung beras.
Bu Darmi menggeleng pelan.
“Sekarang perempuan malah nyuruh laki-laki kerja, ya…”
Padahal itu toko.
Padahal itu usaha.
Padahal… jelas sekali konteksnya.
Tapi Bu Darmi tidak pernah benar-benar peduli konteks.
Yang penting… dia punya komentar.
___________
Belum cukup.
Di belakang rumahnya, ada rumah lain. Lebih sederhana. Kadang kosong.
Di sana tinggal Rian, anak SMA, yang sering sendiri karena ibunya harus merawat neneknya yang sakit.
Ayahnya sudah dua tahun jadi buruh sawit di Kalimantan.
Suatu sore, Bu Darmi lewat.
“Rumah kok ditinggal kayak gini… kayak nggak ada ibunya.”
Rian keluar.
“Ibu di rumah nenek, soalnya lagi sakit.”
“Iya, tapi ini rumah sendiri. Perempuan itu ya tetap harus tanggung jawab.”
Rian mengangguk kecil.
“Nanti saya bersihin, Bu.”
“Masak anak laki-laki dibiarin urus rumah sendiri…”
Rian tidak menjawab lagi.
Karena percuma.
Dengan Bu Darmi, percakapan bukan untuk saling memahami.
Tapi untuk memastikan… dia tetap jadi orang terakhir yang bicara.
Saat Kata-Kata Pulang ke Rumahnya Sendiri
Waktu berjalan.
Anak pertama Bu Darmi, Sinta, lulus kuliah.
Dan menikah.
Dengan laki-laki yang—kalau menurut standar Bu Darmi dulu—“tidak cukup”.
Ganteng, iya.
Baik, iya.
Tapi pekerjaan belum tetap. Masih guru honorer di desa itu.
Akhirnya, mereka tinggal di rumah Bu Darmi.
“Hanya sementara,” kata Sinta waktu itu.
Bu Darmi mengangguk. Mau tidak mau.
Awalnya masih terasa biasa.
Sampai Sinta hamil.
Lalu melahirkan.
Dan rumah yang dulu selalu rapi itu… mulai berubah.
Popok di mana-mana.
Baju bayi menumpuk.
Tangisan kecil yang tidak kenal waktu.
Bu Darmi yang dulu bangga mengerjakan semuanya sendiri… mulai kelelahan.
Suaminya sering keluar kota, mengisi ceramah.
Anak bungsunya kuliah di luar kota.
Tinggallah dia… dengan satu keluarga baru yang membutuhkan banyak hal.
Termasuk tenaga.
Suatu pagi, Bu Darmi duduk di teras. Tapi kali ini bukan untuk mengamati.
Wajahnya lelah.
Seorang perempuan datang ke rumahnya.
Membantu menyapu.
Mencuci.
Membereskan rumah.
Bu Darmi… mempekerjakan orang.
Diam-diam.
Awalnya.
Sampai suatu hari, Rena lewat.
Sudah SMA sekarang.
Melihat halaman Bu Darmi sedang disapu orang lain.
Rena tersenyum.
“Bude sekarang pakai bantuan juga ya?”
Tidak ada nada mengejek.
Tidak juga sinis.
Justru… terlalu polos.
Dan itu yang membuatnya terasa lebih menusuk.
Bu Darmi tidak langsung menjawab.
Hanya tersenyum kaku.
Di dalam rumah, Sinta memanggil.
“Bu, tolong ambilkan air hangat…”
Bayi menangis.
Menantunya belum pulang.
Dan untuk pertama kalinya…
Bu Darmi benar-benar kehabisan komentar.
_________
Hari-hari setelah itu terasa berbeda.
Bukan karena rumahnya lebih rapi.
Tapi karena… terasnya lebih sepi.
Bu Darmi masih duduk di sana.
Masih melihat.
Tapi ketika melihat halaman orang lain belum disapu…
Atau dapur yang tidak berbau masakan…
Atau seseorang yang memilih cara hidup berbeda…
Kata-kata itu tetap datang.
Sampai di ujung lidah.
Lalu… berhenti.
Ditelan pelan-pelan.
Seperti sesuatu yang dulu sering ia keluarkan dengan mudah…
Dan sekarang terasa terlalu pahit untuk diucapkan.
_________
Beberapa tahun kemudian, anak bungsunya lulus.
Menikah.
Dengan laki-laki mapan.
Tinggal di kota.
Rumah besar.
Dan… dua orang ART.
Sinta yang pulang dari berkunjung hanya tertawa kecil saat bercerita.
“Iya, Bu. Di sana malah semuanya dibantu orang.”
Bu Darmi mengangguk pelan.
Tidak ada komentar.
Tidak ada nasihat.
Tidak ada kalimat “perempuan itu harusnya…”
Hanya diam.
Dan senyum kecil yang kali ini… terasa lebih manusiawi.
Di teras rumahnya, sore itu, Bu Darmi masih duduk seperti biasa.
Angin berhembus pelan.
Daun-daun jatuh di halaman.
Ia melihatnya.
Lama.
Lalu berdiri.
Mengambil sapu.
Dan tanpa berkata apa-apa… mulai menyapu sendiri.
Tanpa perlu menjelaskan ke siapa pun.
Tanpa perlu membandingkan dengan siapa pun.
Kali ini…..
Bu Darmi tidak sedang menjadi “yang paling tahu”.
Ia hanya… menjadi dirinya sendiri.
