Rangga dan Cinta Tak Sampai
“Aku nggak bisa lanjut, Sa.”
Kalimat itu akhirnya keluar juga.
Rangga menatap meja, tidak berani melihat mata Raisa. Sore itu, suasana kafe kampus lebih sunyi dari biasanya.
Raisa tidak langsung menjawab.
“Aku tahu,” katanya pelan.
Rangga mengangkat wajahnya, sedikit terkejut.
“Aku sudah tahu dari awal,” lanjut Raisa. “Kamu itu seperti… hanya mencoba. Bukan benar-benar ada di sini.”
Sunyi.
Rangga menelan ludah. Rasa bersalah terasa begitu nyata.
“Aku pikir aku bisa belajar mencintai kamu,” katanya jujur. “Aku pikir… kalau aku cukup lama sama kamu, semuanya akan datang sendiri.”
Raisa tersenyum kecil. Ada sedih di sana, tapi tidak menyalahkan.
“Dan sekarang?”
Rangga menggeleng.
“Aku salah.”
Raisa menarik napas pelan.
“Terima kasih ya, Rangga. Sudah jujur.”
Rangga terdiam.
“Lebih baik seperti ini,” lanjut Raisa. “Daripada kamu tetap di sini… tapi hatimu di tempat lain.”
Kalimat itu menusuk tepat sasaran.
Rangga menunduk.
“Maaf…”
Raisa menggeleng. “Nggak apa-apa. Aku justru bersyukur.”
Rangga menatapnya, bingung.
“Karena kamu cukup berani buat berhenti. Nggak semua orang bisa.”
Hening sebentar.
Di satu sisi, Raisa juga ingat betul bahwa dialah yang sejak awal memulai hubungan ini.
Ibunya sering menasehatinya untuk tidak memulai suatu hubungan dengan seorang laki-laki.
Itu tidak baik. Begitu ucap ibunya berulang kali.
“Semoga kamu ketemu perempuan yang kamu cintai itu,” kata Raisa pelan.
Rangga tersenyum pahit.
“Dan kamu juga,” jawabnya, “semoga kamu ketemu laki-laki yang benar-benar melihat kamu. Bukan cuma… membiarkan kamu mengharapkannya.”
Raisa tertawa kecil, meski matanya basah.
“Aku tahu kamu mencintai orang lain,” katanya tiba-tiba.
Rangga tidak menjawab.
Dalam hatinya, dia hanya berkata—
Iya. Tapi orang itu tidak akan pernah bisa aku miliki.
______
Dan tanpa bisa dicegah, ingatannya kembali ke satu tahun lalu.
Daftar Isi
Bibi Kai
Saat itu, Rangga baru berusia dua puluh tahun.
Dia tidak pernah menyangka, perjalanan sederhana itu akan mengubah segalanya.
______
Kaira dikenalkan sebagai sepupu jauh oleh ibunya. Mereka bertemu di sebuah rumah keluarga di pinggiran kota, tempat acara pernikahan akan berlangsung selama beberapa hari.
“Ini Rangga,” kata seorang kerabat seusia ibunya.
“Ini Kaira.”
Perempuan itu tersenyum.
“Panggil aja Kai,” katanya santai.
Rangga mengangguk canggung.
_______
Hari kedua, mereka mulai sering berbicara.
Kaira ternyata ceria. Tidak seperti bayangan Rangga tentang perempuan yang terpaut lima tahun, lebih dewasa darinya.
“Rangga, kamu bisa masak nggak?” tanyanya suatu siang.
“Bisa… mie instan,” jawab Rangga jujur.
Kaira tertawa.
“Ya sudah, hari ini aku masak. Kamu bantu.”
Mereka memasak dengan bahan seadanya.
Dapur kecil itu jadi ramai oleh tawa.
“Ini enak loh,” kata Rangga saat mencicipi.
“Iya dong,” jawab Kaira bangga. “Aku kan perempuan serba bisa.”
Rangga tersenyum. “Kayak… bibi Isah”
Kaira langsung menoleh. “Bibi Isah?”
Rangga tertawa canggung. “Iya… bibi aku yang tinggal bareng nenek di kampung.”
Kaira menyipitkan mata, pura-pura kesal.
“Ya sudah, mulai sekarang panggil aku Bibi Kai saja.”
Rangga terdiam sebentar.
Lalu tertawa.
“Siap, Bibi Kai.”
Dan entah kenapa—
panggilan itu melekat begitu saja.
_________
Seharusnya perjalanan itu hanya beberapa hari.
Tapi hujan deras membuat akses jalan keluar terputus. Beberapa keluarga memilih tetap tinggal sementara, termasuk mereka.
Rumah itu jadi lebih sepi seiring waktu.
Tinggal beberapa orang.
Dan tanpa direncanakan—
Rangga dan Kaira menghabiskan hari-hari bersama.
________
Hari-hari itu… sederhana.
Bangun pagi.
Masak bersama.
Membereskan rumah.
Duduk di teras sambil bercerita.
Tapi di situlah semuanya berubah.
_______
Suatu pagi, Rangga melihat Kaira tanpa riasan sama sekali.
Rambutnya hanya diikat seadanya. Wajahnya polos.
Dan anehnya… justru itu yang membuatnya sulit berpaling.
_______
Suatu siang, Kaira kelelahan.
Tangannya sedikit terluka saat membantu di dapur.
“Aku nggak apa-apa,” katanya cepat.
Selalu begitu.
Tidak pernah ingin merepotkan orang lain.
_______
Suatu malam, Rangga melihatnya diam di sudut ruangan.
Tidak menangis keras.
Hanya diam.
Dan itu… jauh lebih menyakitkan.
_______
Ada juga momen yang tidak bisa Rangga jelaskan.
Saat Kaira berjalan melewatinya dengan gaun rumah yang sederhana.
Tidak terbuka. Tidak berlebihan.
Tapi cukup untuk membuat Rangga sadar—
bahwa perempuan ini… bukan sekadar “Bibi”.
Ada sesuatu dalam dirinya yang bergetar.
Dan Rangga membencinya.
Karena dia tahu, perasaan itu tidak seharusnya ada.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Hubungan yang Tak Pernah Dimulai
“Rangga.”
Mereka duduk di teras sore itu.
“Iya, Bi?”
“Aku mau cerita.”
Rangga menoleh.
“Aku… nikah dua bulan lagi.”
Dunia terasa berhenti sesaat.
“Oh ya?” katanya, berusaha biasa.
Kaira mengangguk. Tersenyum kecil.
“Mungkin bakal tinggal bareng suami di Jakarta.”
Rangga ikut tersenyum.
“Wah, selamat, Bibi Kai.”
Dan di situlah—
semuanya selesai.
Bahkan sebelum dimulai.
______
Mereka tidak pernah membicarakan perasaan.
Tidak pernah ada pengakuan.
Hanya jarak yang perlahan kembali terbentuk.
Tinggal Paling Dalam
Beberapa tahun berlalu.
Rangga bekerja sebagai UI/UX designer di sebuah startup aplikasi. Hidupnya berjalan baik. Stabil.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Perasaannya.
_____
Ibunya sudah tahu.
“Rangga,” kata ibunya suatu malam, “Kaira itu sudah punya hidupnya sendiri.”
Rangga diam.
“Ibu juga tahu kenapa kamu mencintai dia,” lanjutnya lembut. “Perempuan seperti itu… memang mudah dicintai.”
Rangga tersenyum kecil.
“Tapi kamu juga harus hidup, Nak.”
______
Dan suatu hari, Tante Irma datang.
Mengenalkan anak perempuannya. Seumuran dengan Rangga.
Kania.
_______
Kania baik.
Cantik. Lembut. Menyenangkan.
Dan Rangga… mencoba lagi.
Tapi seperti sebelumnya—
selalu ada yang berbeda.
Cara dia tersenyum.
Cara dia diam.
Cara dia memperhatikan.
Semua terasa… tidak bisa sampai ke lubuk hatinya.
Karena di dalam dirinya—
sudah ada seseorang yang memenuhi hampir seluruh ruang.
______
Dan akhirnya, dia kembali duduk di hadapan Kania.
untuk mengakhiri sesuatu.
Seperti yang dulu ia lakukan kepada Raisa.
______
Beberapa bulan setelah itu, Rangga melihat Kania di media sosial.
Tersenyum bersama seseorang.
Bahagia.
Dan jujur saja, Rangga merasa lega.
______
Malam itu, dia membuka galeri lamanya.
Satu foto muncul.
Bibi Kai.
Dengan senyum yang terasa begitu dekat bagi Rangga.
Hangat. Tenang.
Seperti rumah.
Rangga menatap lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Aku nggak akan nunggu kamu,” bisiknya pelan.
“Tapi aku juga nggak tahu… bagaimana cara berhenti.”
________
Di dunia ini, ada banyak cara untuk mencintai.
Ada yang dimulai dengan kebetulan.
Ada yang tumbuh karena waktu.
Ada yang bertahan karena dipertahankan.
________
Dan ada juga—
yang tidak pernah dimiliki,
tapi tetap tinggal… paling dalam.
