Harapan Terakhir yang Kandas
Minggu malam, Asti mengunggah sebuah foto ke story WhatsApp.
Foto itu memperlihatkan semangkuk ramen, tangan kecil Gina yang memegang sendok, lalu Gani yang tersenyum sambil menatap anaknya. Di sudut meja ada minuman hijau dingin dan sepiring takoyaki.
Lampu restoran Jepang itu hangat. Semuanya terlihat bahagia.
Padahal beberapa jam sebelumnya, Asti menangis di kamar mandi.
“Mas, aku capek…”
Kalimat itu sebenarnya sudah terlalu sering keluar dari mulutnya.
Di Balik Story yang Tampak Mewah
Rumah kontrakan mereka kecil. Benar-benar kecil. Letaknya persis di pinggir jalan raya. Dari pagi sampai malam, suara truk dan motor tidak pernah berhenti lewat. Debu jalan sering masuk sampai ke teras.
Gina yang baru berumur tiga tahun bahkan tidak punya halaman untuk bermain. Kalau pintu rumah dibuka terlalu lama, Asti takut anaknya langsung lari ke jalan.
Sementara Gani sibuk dengan usaha sablon kaosnya.
Di depan rumah kontrakan mereka tergantung banner kecil bertuliskan:
“Konveksi & Sablon Kaos.”
Tetapi usaha itu tidak benar-benar berkembang.
Kadang ramai. Kadang sepi.
Kadang ada pelanggan yang minta pesanan selesai dua hari. Kadang sehari dua hari tidak ada pesanan sama sekali.
Di sela kekosongan pesanan, Gani sering mencari inspirasi lewat online atau bertemu langsung dengan teman-temannya.
Mereka masih ngontrak.
Motor masih nyicil.
Tabungan hampir tidak ada.
Tetapi hampir setiap akhir pekan mereka pergi.
Kadang makan di restoran Jepang atau kedai bakso populer.
Kadang glamping murah di dataran tinggi.
Kadang hanya duduk di taman kota untuk mencari udara segar sambil mengasuh anak mereka.
Dan semua itu selalu terlihat mewah di mata orang lain.
Termasuk di mata Bu Warsiti.
Sore itu, Bu Warsiti sedang duduk di teras rumahnya di desa bersama Ratna, anak sulungnya.
Ratna sedang mengemas keripik pisang jualannya sambil membuka story WhatsApp.
“Nih, Bu,” katanya sambil menyodorkan ponsel. “Gani makan beginian lagi.”
Bu Warsiti menyipitkan mata.
“Restoran Jepang lagi?”
“Iya. Kayaknya mahal deh ini.”
“Berapa emangnya?”
“Bertiga bisa habis dua ratus ribuan.”
Bu Warsiti langsung beristighfar.
“Astagfirullah… rumah masih ngontrak kok hidupnya kayak orang kaya.”
Ratna ikut menghela napas.
“Minggu kemarin glamping ke puncak. Entah minggu kapan ke kawah gunung di luar kota. Sebelumnya lagi ke pantai.”
“Makanya hidupnya nggak maju-maju,” gumam Bu Warsiti. “Mentang-mentang tinggal di kota.”
Padahal mereka tidak tahu bahwa akhir pekan itu adalah satu-satunya waktu di mana Gani dan Asti bisa berbicara tanpa saling membentak.
Tiga Jam untuk Bernapas
Senin pagi, pertengkaran itu terjadi lagi.
Gina baru selesai mandi ketika Gani meminta bantuan Asti melipat kaos sablon.
“Ast, tolong packing yang ini dulu. Besok harus jadi.”
Asti yang sedang menyuapi Gina langsung menoleh.
“Aku belum nyuci piring, Mas.”
“Ya sebentar aja.”
“Aku dari pagi belum duduk.”
Gani mengusap wajahnya kasar.
“Aku juga capek.”
“Aku tahu kamu capek. Tapi aku juga capek.”
Rumah itu mendadak sunyi beberapa detik.
Suara truk lewat dari depan rumah terdengar keras sekali.
Asti menarik napas panjang.
“Mas… aku pengen kerja lagi.”
Gani langsung menatapnya.
“Kan udah dibahas.”
“Aku jenuh.”
“Nunggu Gina SD dulu.”
“Mas, itu masih empat tahun lagi.”
“Ya mau gimana?”
Asti tertawa kecil. Bukan tertawa senang.
“Kamu enak. Kamu masih bisa ketemu teman. Masih bisa ngopi. Masih bisa keluar rumah.”
“Aku kerja, Asti.”
“Aku juga kerja di rumah! Bedanya, aku gak pernah punya waktu bernafas!”
Nada suara Asti meninggi.
“Dari pagi aku masak, nyuci, mandiin anak, nyuapin anak, beberes rumah. Malem bantu packing sablon. Gitu terus tiap hari.”
Gani diam.
Asti melanjutkan dengan mata mulai merah.
“Aku bahkan nggak punya teman di sini.”
“Kamu kan boleh pergi.”
Asti langsung menatap tajam.
“Boleh?”
“Iya.”
“Baru satu jam kamu nelepon aku suruh pulang.”
“Itu karena Gina nyariin kamu.”
“Masalahnya selalu Gina.”
“Ya anak kita masih kecil.”
Asti memejamkan mata.
“Aku cuma minta satu hari sendiri, itu hanya tiga jam dalam seminggu, Mas.”
“Tiga jam itu lama.”
“Lama buat siapa?”
Gani tidak menjawab.
Asti tertawa hambar lagi.
“Aku ngurus anak dua puluh empat jam.”
______
Hari Kamis sore itu akhirnya Asti benar-benar pergi sendiri.
Ia naik motor tanpa tujuan jelas.
Hanya ingin melihat kota.
Melihat manusia lain.
Mendengar suara selain mesin sablon dan tangisan anak.
Tetapi baru setengah jam pergi, telepon dari Gani masuk.
“Ast, Gina mau pup.”
Asti menutup matanya.
“Temenin aja, Mas.”
“Nggak mau sama aku.”
“Ya dibujuk!”
“Ast, pulang dulu deh.”
Dan saat itulah sesuatu di dalam diri Asti seperti patah.
Orang-Orang yang Tidak Pernah Mengerti
Malam itu, Bu Warsiti menelepon.
Awalnya hanya ingin bicara dengan Gina.
“Cucu oma lagi ngapain?”
“Habis pup…”
“Oh ya? Sama siapa?”
“Sama mama. Tapi aku tahan lama banget, soalnya mama pergi.”
Bu Warsiti langsung terdiam.
“Pergi ke mana mamamu?”
“Jalan-jalan.”
Gani cepat-cepat menyela.
“Bukan jalan-jalan, Bu. Tadi cuma keluar bentar.”
Tetapi Bu Warsiti sudah terlanjur bicara.
“Ibunya kok jalan-jalan terus sih? Anak masih kecil.”
Asti yang sedang membereskan mainan langsung berhenti bergerak.
Ratna terdengar ikut bicara dari seberang telepon.
“Lha Mbak Ratna aja nggak pernah ninggalin anak.”
“Perempuan itu ya harus bisa ngurus rumah,” lanjut Bu Warsiti. “Bantu suami juga.”
Asti memejamkan mata.
Dadanya sesak.
Ia teringat semua ucapan itu selama bertahun-tahun.
“Jangan boros.”
“Perempuan harus bantu suami.”
“Rumah masih ngontrak.”
“Jangan kebanyakan jalan-jalan.”
Padahal mereka tidak pernah tahu.
Ratna bisa mandi dengan tenang karena ada ibunya di sebelah rumah.
Ratna bisa jualan cemilan itu sambil anaknya main dengan anak-anak tetangga.
Ratna masih punya tetangga dan saudara untuk diajak bicara.
Sedangkan Asti?
Ia bahkan harus membawa anaknya ke kamar mandi setiap hari sendirian.
Telepon ditutup.
Asti berdiri lama di ruang tengah.
Lalu akhirnya berkata pelan,
“Mas… aku udah nggak kuat.”
Gani mengusap wajahnya.
“Jangan mulai lagi.”
“Aku serius.”
“Kita cari solusi.”
“Apa?”
Gani terdiam.
Dan Asti sadar:
selama ini memang tidak pernah ada solusi.
Yang ada hanya bertahan.
Dan satu-satunya hal yang membuat mereka masih bisa bertahan justru selalu dihancurkan oleh komentar orang lain.
Yang hanya menilai dari luar.
Harapan Terakhir yang Kandas
Malam itu juga Asti membereskan pakaian.
Tidak banyak.
Hanya beberapa baju miliknya dan pakaian Gina.
Uang di dompetnya tinggal tiga ratus ribu rupiah.
Ia memesan ojek online diam-diam.
Gina tertidur di pundaknya saat mereka naik kereta malam.
Selama perjalanan tiga jam itu, Asti hanya diam memandang jendela.
Ia tidak menangis.
Justru itu yang membuat semuanya terasa selesai.
Di kepalanya hanya ada satu pikiran:
“Aku nggak sanggup hidup begini empat tahun lagi.”
“Itupun kalau Gina masih satu-satunya anak mereka.”
Sesampainya di rumah orang tuanya, ibunya langsung kaget.
“Nak… kok malam-malam pulang?”
Asti tersenyum kecil.
“Ma… aku boleh tinggal sini dulu?”
“Ada apa?”
Asti menunduk lama sekali sebelum akhirnya berkata pelan,
“Aku cuma pengen bernapas.”
Dan beberapa bulan kemudian, pengadilan memutuskan pernikahan mereka berakhir.
Alasannya sederhana:
pertengkaran terus-menerus dan tidak ditemukan keharmonisan.
Tidak ada perselingkuhan.
Tidak ada kekerasan besar.
Tidak ada teriakan dramatis.
Hanya kelelahan yang menumpuk terlalu lama.
Orang-orang sering mengira rumah tangga hancur karena satu kejadian besar.
Padahal kadang, rumah tangga hancur karena seseorang terus-menerus menghakimi hal kecil yang sebenarnya menjadi harapan terakhir pasangan lain untuk bertahan.
Mereka mengira itu pemborosan.
Padahal itu satu-satunya cara agar pernikahan itu tidak runtuh lebih cepat.
Dan sering kali, orang yang paling banyak ikut campur dalam rumah tangga orang lain tidak pernah sadar bahwa sebagian masalah itu justru lahir dari cara mereka sendiri mendidik, berbicara, dan menghakimi.
Sampai semuanya terlambat.

Mba, bagus banget cerpennya. Aku yakin pasti banyak juga yang ngalamin kejadian seperti keluarga kecil Asti. Kelelahan yang menumpuk, bukan cuma lelah badan tapi juga lelah hati… Asti masih butuh aktualisasi diri. Sebenarnya mungkin masih bisa dicari solusi tapi baik suami dan istri harus bisa kompromi tanpa menghakimi…
Ini kisah familiar bagi banyak orang yg sudah menikah ya mbak. Di kehidupan nyata, banyak orang tetap bertahan meskipun sangat berat. Bahkan stress akut. Namun, ada juga yang berani bertindak nyata seperti tokoh Asti. Itu catatan, kalau punya tempat pulang ya 😄