Tidak Tahu Itu Bukan Dosa
Nadia sebenarnya bukan tipe perempuan yang suka datang ke tempat baru.
Sehari-harinya ia lebih banyak berada di rumah. Menulis artikel, menjadi ghostwriter, mengerjakan copywriting untuk klien, lalu mengurus anaknya yang masih kecil. Tetangga-tetangganya mengenalnya hanya sebagai ibu rumah tangga biasa.
Padahal setiap hari Nadia bekerja di depan laptop.
Hanya saja pekerjaannya memang tidak terlihat.
Namanya pun tidak pernah muncul di tulisan-tulisan yang ia buat.
Daftar Isi
Ruang Zumba di Lantai Dua
Beberapa bulan terakhir pinggang Nadia sering sakit. Tubuhnya juga mulai terasa berat karena terlalu lama duduk. Akhirnya ia memberanikan diri mencari kelas zumba dekat rumah.
Minggu pagi itu, untuk pertama kalinya Nadia datang ke sebuah sanggar senam. Khusus untuk Zumba di lantai dua.
Ruangan zumbanya cukup besar. Dindingnya dipenuhi cermin tinggi. Lantainya bermotif kayu terang. Kipas exhaust berputar pelan di atas. Musik belum dinyalakan, tapi lampu-lampu ruangan sudah menyala terang.
Dan di sana sudah ada seorang perempuan.
Perempuan itu berdiri dekat cermin sambil memegang tumbler olahraga. Pakaiannya langsung mencuri perhatian Nadia.
Celana zumbanya hitam ketat dengan detail jaring transparan dari paha sampai bawah. Ia memakai sport bra yang dilapisi tank top longgar dengan bagian punggung terbuka. Rambutnya dikuncir tinggi dengan ikat rambut warna pink.
Wajahnya cantik.
Bukan cantik muda, tapi cantik perempuan yang sangat terawat.
Ada sisa maskara di matanya, sedikit bekas lipstik merah muda di bibirnya, dan kulit yang terlihat mulus meski usianya pasti sudah lewat empat puluh.
Nadia langsung merasa kagum.
Karena gugup, ia mencoba menyapa duluan.
“Hai, Mbak.”
Perempuan itu menoleh sekilas.
“Hm?”
“Mbak siapa ya?”
“Bella.”
Jawabannya pendek sekali.
Nadia berusaha tetap tersenyum.
“Oh… aku Nadia. Baru pertama ke sini.”
Bella hanya mengangguk kecil lalu kembali menatap bayangannya di cermin.
Nadia mulai merasa canggung.
Ia teringat perkataan dosennya dulu saat kuliah ilmu komunikasi.
“Kalau ingin menanyakan peran orang asing di tempat baru, bisa gunakan posisi tertinggi di tempat itu untuk basa basi.”
Dan karena tempat itu adalah tempat zumba, Nadia langsung berpikir bahwa posisi paling penting tentu saja instruktur.
Akhirnya ia mencoba bercanda kecil.
“Mbak instruktur ya? Soalnya keren banget.”
Bella menatap Nadia dari atas sampai bawah.
Tatapannya datar.
Dingin.
Dan yang membuat Nadia semakin salah tingkah, Bella tidak menjawab sama sekali.
Hanya diam.
Nadia langsung merasa wajahnya panas.
“Aduh… aku salah ngomong ya?” pikirnya.
Orang-Orang di Sekitar Bella
Tidak lama kemudian dua perempuan lain datang.
Mereka langsung menghampiri Bella dengan wajah cerah.
“Haiii, Mbak Bellaaa!”
“Ya ampun, body goals banget sih!”
Mereka cipika-cipiki dengan akrab.
Salah satu dari mereka akhirnya menoleh ke Nadia.
“Mbak baru ya?”
“Iya,” jawab Nadia kecil.
“Oh…”
Hanya itu.
Setelahnya mereka kembali fokus mengobrol dengan Bella.
Tentang skincare.
Tentang hotel baru.
Tentang acara makan malam.
Tentang baju olahraga impor.
Nadia duduk sendiri sambil memegang botol minumnya.
Ia mulai merasa seperti orang asing.
Padahal ia datang ke tempat itu hanya untuk olahraga.
Tak lama kemudian instruktur datang dan kelas dimulai.
Bella berdiri paling depan, tepat di belakang instruktur.
Dan selama hampir satu jam, semua mata seperti tertuju padanya.
Gerakannya paling luwes.
Tubuhnya paling ideal.
Instruktur beberapa kali bahkan tertawa dan berbicara langsung padanya di tengah sesi.
“Mbak Bella semangat banget hari ini!”
Bella tersenyum tipis sambil tetap bergerak mengikuti musik.
Nadia yang berada di barisan belakang hanya diam.
Semakin lama, ia semakin merasa kecil.
Malam yang Panjang
Malam harinya Nadia membuka grup WhatsApp zumba yang baru saja dimasukinya.
Siang tadi, instruktur menawarinya masuk grup WA dan ia menyetujuinya.
Foto profil Bella langsung menarik perhatian.
Bella memakai kebaya modern warna nude dengan riasan elegan. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki berseragam dinas.
Nadia mengernyit.
Ia membuka profil media sosial Bella.
Dan dadanya langsung terasa bergejolak.
Ternyata Bella adalah istri seorang pejabat daerah yang cukup terkenal di kota itu.
Pengikut media sosialnya puluhan ribu.
Isi akunnya penuh foto kehidupan mewah dan rapi.
Makan malam di hotel.
Acara bersama istri pejabat lain.
Liburan keluarga.
Tas mahal.
Olahraga.
Foto-foto estetik dengan caption tentang perempuan elegan, menjaga penampilan, dan kehidupan berkualitas.
Nadia menatap layar ponselnya lama sekali.
Lalu perlahan rasa malu mulai muncul.
“Ya ampun…”
Ia menutup wajahnya sendiri dengan bantal.
“Pantes aja…”
Sekarang ia baru sadar betapa bodohnya dirinya tadi pagi.
Ia bertanya nama Bella seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
Bahkan dengan polosnya mengira Bella hanya instruktur zumba.
Padahal perempuan itu adalah istri pejabat.
Seseorang yang jelas-jelas dikenal banyak orang di kota itu.
Nadia mulai overthinking.
Ia membandingkan dirinya sendiri.
Bella cantik.
Terawat.
Kaya.
Punya status sosial.
Dikenal banyak orang.
Sedangkan dirinya?
Hanya ibu rumah tangga yang bekerja diam-diam di depan laptop.
Menulis untuk nama orang lain.
Tidak terkenal.
Tidak punya lingkungan sosial luas.
Tidak punya pencapaian yang terlihat.
Bahkan tetangganya sendiri tidak tahu pekerjaannya.
Nadia menggigit bibirnya pelan.
Untuk pertama kalinya ia merasa sangat kuper.
Sangat tertinggal.
Ia kembali mengingat tatapan Bella pagi tadi.
Tatapan dingin itu sekarang terasa lebih masuk akal baginya.
Mungkin Bella heran.
Mungkin Bella merasa aneh ada orang yang tidak mengenalnya.
Dan Nadia semakin malu ketika mengingat pertanyaannya.
“Mbak instruktur ya?”
Kalimat itu terus terulang di kepalanya.
Jauh sekali, pikir Nadia.
Jauh sekali antara instruktur senam dengan istri pejabat.
Ia memejamkan mata.
Tiba-tiba ia merasa teori-teori komunikasi yang dulu dipelajarinya di kampus terasa sangat kecil.
Dunia nyata ternyata lebih rumit.
Ada orang-orang yang cukup hanya berdiri untuk membuat orang lain merasa rendah.
Dan ada orang-orang seperti dirinya yang terlalu lama hidup di dunia kecilnya sendiri sampai tidak sadar siapa yang sedang berdiri di depannya.
Nadia mematikan layar ponselnya perlahan.
Ruangan kamarnya kembali gelap.
Tapi pikirannya tetap ramai.
Malam itu Nadia sadar satu hal yang diam-diam menyakitkan:
Tidak tahu memang bukan dosa. Namun di dunia tertentu, ketidaktahuan bisa membuat seseorang merasa sangat kecil.
