Puisi yang Dikirim Tuhan

“Di dalamnya ada keindahan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”

Alina membaca kalimat itu perlahan.

Ia sedang duduk di dalam Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan besar yang menghadap laut, dengan cahaya sore yang jatuh lembut dari kaca-kaca tinggi. Buku tebal tentang surga itu masih terbuka di tangannya, sementara pikirannya… justru berjalan ke arah lain.

Beberapa meter darinya, seorang laki-laki duduk tenang, menekuni buku catatan dan referensi yang bertumpuk di depannya.

Suaminya.

Aryan.

Seorang peneliti sastra di lembaga riset, sekaligus penulis dengan nama pena yang karya-karyanya telah menjadi best seller—meski tak banyak orang tahu wajahnya.

Mereka datang ke tempat itu bukan hanya untuk perjalanan berdua, tetapi juga untuk mencari bahan penelitian magister mereka.

Sudah satu tahun sejak pertama kali mereka bertemu.

Sudah satu bulan sejak mereka menikah.

Dan baru sekarang, di tempat ini, Alina merasa… mengerti sesuatu.

Ia menutup bukunya perlahan.

“Jadi… memang ada ya,” bisiknya dalam hati, “sesuatu yang sejak awal tidak bisa aku bayangkan… tapi justru itu yang paling indah.”

Dan dari sana, ingatannya mundur.

Jauh ke belakang.

Kriteria yang Disusun Manusia

“Alina, kapan nikah?”

Seperti biasa, pertanyaan itu muncul saat Idul Fitri.

Di rumah Pak Rahmat, ruang tamu dipenuhi suara tawa keluarga. Maryam, kakaknya yang paling tua, duduk sambil tersenyum tipis. Naila, kakak kedua, sesekali menahan tawa.

Alina menarik napas kecil.

“Belum nemu.”

“Belum nemu atau terlalu milih?” sahut salah satu saudara.

Pak Rahmat tersenyum santai. “Kriteria dia berat.”

“Emang maunya kayak gimana sih?”

Alina duduk sedikit tegak.

“Enggak berat kok,” katanya. “Cuma tiga.”

“Pertama, dia harus solih. Kedua, sudah punya pekerjaan tetap. Dan ketiga…”

Ia berhenti sebentar.

“Harus tampan.”

Tawa langsung pecah.

“Tampan kayak gimana?”

Dan Alina menyebutkannya satu per satu, seperti daftar yang sudah lama ia hafal.

Kulit agak gelap.

Tubuh tinggi dan atletis.

Rambut rapi.

Bibir tipis.

Alis tebal.

Hidung mancung.

Mata yang indah.

“Pokoknya… sesuai selera aku.”

Seseorang menyela, “Hati-hati loh, nanti kamu jatuh cinta sama yang kebalikannya.”

Alina langsung menggeleng.

“Enggak mungkin.”

Saat itu, ia benar-benar yakin.

Sosok yang Tak Direncanakan

Alina bekerja di sebuah penerbit ternama di ibu kota.

Ia merupakan penerjemah literatur berbahasa Arab.

Menjadi penerjemah sebenarnya bukan passion utamanya. Namun seperti kebanyakan lulusan perguruan tinggi, ia memilih pekerjaan apa pun selama ada kesempatan. Lagi pula, pekerjaan itu masih berhubungan dengan bidang studinya.

Keinginan sebenarnya adalah menjadi penulis novel bernuansa dakwah Islam.

Ia ingin memberi dampak lewat tulisan dan cerita yang mengalir. Menanamkan nilai lewat keindahan kisah.

Lama-kelamaan, Alina mulai merasa referensinya kurang luas.

Ia percaya, kuliah magister sastra Arab akan memberikan dampak lebih besar bagi keterampilannya. Ia senang mencari inspirasi dari literatur Timur Tengah. Baginya, kuliah adalah jalan yang akan “memaksa” dirinya untuk lebih kuat dalam memperkaya bacaan dan pemahaman.

Sampai akhirnya, ia memutuskan mendaftar S2 di salah satu kampus Islam ternama di Jakarta.

______

Hari pertama kuliah magister berjalan seperti biasa.

Alina duduk di barisan depan sambil membuka catatan.

Pintu kelas terbuka.

Seorang laki-laki masuk dengan langkah tenang, lalu berhenti tepat di depan bangku Alina.

“Maaf,” katanya sambil tersenyum, “ini kelas sastra Arab magister, ya?”

Alina menoleh.

Dan sesuatu… berubah.

Senyum itu—

tidak memenuhi kriteria yang pernah ia susun.

Namun entah kenapa—

sungguh indah.

Seperti musim semi yang disentuh cahaya kekuningan matahari pagi.

“Iya,” jawab Alina pelan.

“Terima kasih.”

Laki-laki itu kemudian berjalan masuk dan duduk tidak jauh darinya.

Kelas dimulai.

Seorang profesor mulai memanggil nama satu per satu.

Sampai akhirnya—

“Zakaria Aryan.”

Alina tidak tahu kenapa.

Dari dua puluh lima orang di ruangan itu, hanya nama itu yang tinggal di kepalanya.

Hari-hari berlalu.

Awalnya ia menepis semuanya.

Ah, hanya kagum.

Lagi pula, Aryan tidak sesuai kriterianya.

Tapi anehnya—

wajah itu terus muncul di kepalanya.

Tatapan itu terus tinggal.

Dan semakin hari, ia mulai sadar—

ini bukan sekadar kagum.

______

Minggu berganti bulan.

Mereka mulai berbicara.

Tentang buku.

Tentang bahasa.

Tentang hal-hal yang tidak semua orang peduli.

Dan entah bagaimana—

mereka selalu nyambung.

_____

Suatu hari di kelas, diskusi berubah menjadi debat panas.

Semua orang saling menyanggah.

Alina ikut terlibat.

Namun hari itu, ia sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh.

Orang lain tidak tahu.

Mereka terus berbicara, bahkan semakin keras.

Kecuali satu orang.

Aryan.

Ia hanya diam.

Lalu berkata pelan, “Sepertinya… hari ini aku tidak ingin berdebat.”

Sederhana.

Tapi Alina tahu.

Itu bukan tentang debat.

Itu tentang dirinya.

Kriteria yang Tak Lagi Menawan

Alina tetap bekerja di penerbit yang sama sambil kuliah.

Tak disangka, di tempat kerja muncul sosok lain.

Farel.

Editor senior.

Baik. Kariernya jelas. Dan tampannya… persis seperti kriteria Alina.

Kulit agak gelap.

Tubuh tinggi dan atletis.

Rambut rapi.

Alis tebal.

Bibir tipis.

Hidung mancung.

Mata yang indah.

Banyak yang diam-diam mengaguminya.

“Ganteng banget…”

Bisikan-bisikan itu terdengar jelas.

Dan Alina?

Anehnya, ia tidak merasakan apa-apa.

Tidak ada rasa penasaran.

Tidak ada getaran.

Hatinya… sudah penuh.

Aryan memang tidak seperti lukisan fisik yang selama ini ia dambakan.

Namun ia terasa seperti jenis keindahan lain yang Tuhan ciptakan. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan Alina.

Aryan memiliki barisan gigi yang rapi namun sedikit tegas.

Rahangnya lebih besar.

Ada lesung pipi samar di wajahnya.

Kulitnya lebih terang dari kriteria Alina.

Bahkan tampak beberapa noda hitam di wajahnya.

Rambutnya sedikit kasar dan ikal.

Tubuhnya tinggi dan kurus.

Namun bahunya sangat indah.

Matanya tidak indah.

Tapi tatapannya—

sangat indah.

Semua itu tidak sempurna.

Namun anehnya, justru jauh lebih memenuhi estetika daripada ketampanan universal yang dulu Alina bayangkan.

Mungkin benar sebuah kutipan yang mengatakan bahwa jika bibir, mata, alis, hidung, dan bagian-bagian paling indah dari berbagai wajah rupawan diambil satu per satu lalu disatukan menjadi satu manusia, hasilnya justru akan terasa aneh.

Entahlah.

Yang jelas, Farel memang tampan. Alina tahu itu.

Tetapi sekarang, ketampanan seperti itu tidak lagi menarik baginya.

Mungkin benar manusia lebih dipengaruhi jiwa dibanding fisiknya.

Dan Aryan adalah manusia yang memiliki keserasian jiwa itu.

Seperti orang yang dikatakan baik secara universal—suka menolong, rendah hati, dan peduli kepada banyak orang.

Namun seseorang yang baik dan jiwanya mengenalimu seperti cermin… itu adalah keindahan lain yang tidak pernah terbayangkan.

Apakah itu yang disebut jodoh?

Entahlah.

Bahkan banyak orang berkata, dua manusia yang menikah pun belum tentu benar-benar berjodoh jika jiwanya tidak serasi.

Dan Aryan, sejak pertama kali bertemu, terasa seperti seseorang yang langsung mengambil tempat di hati Alina.

Jiwanya memahami tanpa kata.

Alina menemukan nilai fisik pada Farel.

Namun Tuhan menawarkan keindahan dalam bentuk lain lewat Aryan.

Lebih dari itu, Farel tidak pernah terasa dekat. Mereka bertemu setiap hari, tetapi jiwanya tidak pernah benar-benar Alina kenali.

Bahkan ketika Farel mulai mendekatinya.

Lelaki itu berusia dua puluh tujuh tahun. Sisi lainnya jelas sesuai dengan kriteria Alina.

Ia selalu punya alasan untuk duduk dekat Alina di kafe kantor, berbicara setelah meeting, bahkan menawarkan untuk mengantarnya pulang saat hujan.

Hingga suatu hari, secara terang-terangan ia menanyakan kemungkinan hubungan yang lebih serius.

Namun Alina tidak memiliki hati untuknya.

Ia menolak dengan sopan.

Sedangkan Aryan…

terasa seperti jiwa yang tercipta untuk menjadi cermin, atau puzzle yang menyatu dengannya.

Mungkin, itulah keindahan itu.

Fisik bisa berubah, tetapi manusia terbuat dari jiwa dan ruh.

Mungkin itulah yang membuat beberapa kisah cinta di dunia terasa abadi.

Bukan fisik sempurna.

Bukan hati yang terlalu baik.

Namun jiwa yang serasi.

Jodoh yang Tak Sesuai Kriteria

Aryan tidak banyak melakukan pendekatan.

Ia hanya memahami.

Hingga suatu hari, seolah sedang mengumpulkan keberanian, ia berkata setelah pelajaran selesai.

“Alina, apakah kamu sudah punya calon?”

Alina kaget sekaligus berdebar.

“Belum.”

Hanya itu yang bisa ia jawab.

“Kalau begitu… boleh nggak saya datang ke rumah orang tua kamu?”

_____

Ketika Aryan datang ke rumahnya, Pak Rahmat menyambut dengan hangat.

Namun setelah itu, beliau bertanya pelan sambil tersenyum mengejek,

“Mana kriteria kamu, Lin?”

Alina tersenyum.

Tersipu.

“Kriteriaku… sekarang ada di dia, Yah.”

Keindahan yang Diciptakan

Alina membuka matanya kembali.

Halaman buku itu masih terbuka di depannya, di ruang Bibliotheca Alexandrina.

Dan Aryan… masih di sana.

Tenang.

Membaca.

Seperti biasa.

Alina memandangnya lama.

Ia baru sadar—

keindahan ternyata bukan hanya tentang apa yang bisa dilihat.

Tetapi tentang apa yang terasa.

Tentang seseorang yang memahami bahkan sebelum kamu bicara.

Tentang seseorang yang hadir tepat saat kamu butuh—tanpa diminta.

Tentang seseorang yang, entah bagaimana, selalu tahu di mana harus berdiri dalam hidupmu.

Dan Aryan—

adalah itu semua.

Perlahan, Alina berjalan mendekat.

Duduk di sampingnya.

Aryan menoleh lalu tersenyum.

Senyum yang sama.

Senyum yang dulu terasa indah dipandang—kini terasa seperti rumah.

“Sudah selesai?” tanyanya lembut.

Alina mengangguk.

Dan di dalam hatinya, Alina akhirnya paham.

Bahwa seperti surga—

yang tidak pernah dilihat mata—

keindahan sejati memang tidak selalu bisa dibayangkan sejak awal.

Ada yang datang…

diam-diam…

lalu menetap.

Bukan untuk dikagumi semua orang.

Tetapi untuk satu hati saja.

Dan Aryan—

adalah puisi yang dikirim Tuhan. Untuknya.

Cerita ini terinspirasi dari berbagai konsep tentang “belahan jiwa”, seperti twin flames dan gagasan tentang keserasian ruh dalam berbagai pemikiran spiritual. Dalam beberapa pandangan, ada keyakinan bahwa manusia bisa merasa sangat terhubung dengan seseorang bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin, seolah jiwanya saling mengenali.
Meski demikian, kisah ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan hubungan yang sempurna tanpa konflik. Dalam kehidupan nyata, setiap hubungan tetap memiliki ujian, perbedaan, dan proses yang tidak selalu mudah.

You May Also Like

Leave a Reply