Pondok Ayah

Pagi itu matahari belum terlalu tinggi ketika Mia mendorong stroller bayi kecilnya menyusuri jalan pinggir sawah. Udara masih basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar suara burung dan bunyi motor sesekali lewat di jalan yang sempit.

Bayinya sibuk menggigit mainan kelinci sambil sesekali menatap pohon pisang di pinggir jalan seperti sedang menonton sesuatu yang sangat serius.

“Dedek, itu pohon pisang, bukan dinosaurus,” gumam Mia pelan.

Bayinya tetap menatapnya penuh curiga.

Kolam Koi dan Aroma Masa Lalu

Di tikungan dekat area persawahan, Mia melihat sebuah kedai baru. Tempatnya cantik sekali. Ada bangku kayu di bawah pohon rindang, meja-meja kecil menghadap kolam ikan koi, dan lampu gantung rotan yang masih menyala samar walau hari sudah pagi.

Tempatnya estetik. Jenis tempat yang biasanya dipenuhi anak muda yang memotret minuman lebih lama daripada meminumnya.

Mia berhenti sebentar.

“Wah, baru ya…”

Dari dalam kedai, seorang perempuan paruh baya keluar sambil tersenyum.

“Mbak, mau pesan apa?”

Mia mengangkat tangan kecil.

“Lihat-lihat dulu, Bu.”

“Ih, dedek bayinya lucu banget. Mau jajan apa?”

“Belum bisa jajan, Bu. Masih spesialis minum ASI.”

Perempuan itu tertawa kecil.

Mia memandang wajahnya beberapa detik.

Entah kenapa terasa familiar.

Beliau juga mulai menyipitkan mata menatap Mia.

“Mbak ini… kayak enggak asing ya.”

“Iya, Bu. Saya juga ngerasa begitu.”

Beliau mendekat sedikit sambil berpikir keras.

“Hayo… di mana ya…”

Mia ikut berpikir.

Lalu tiba-tiba kepalanya seperti ditampar aroma masa lalu.

“Pondok Ayah?”

Mata perempuan itu langsung membesar.

“Nah! Ya ampun! Iya! Mbak yang dulu mukanya penuh tepung itu kan?!”

Mia spontan tertawa.

Lima belas tahun berlalu, dan ternyata yang diingat orang dari dirinya bukan perjuangannya, bukan IPK-nya, bukan blog-nya.

Melainkan wajahnya yang bau telur.

“Ibu masih ingat?”

“Ya jelas ingat! Kamu waktu itu diarak sama teman-temanmu. Mukanya putih semua kayak bakso gagal.”

Mia menutup wajah sambil tertawa malu.

“Ya Allah, Bu…”

“Terus habis itu kamu nyuci muka sambil ngomel-ngomel soal bau amis.”

Mia tertawa semakin keras.

Ternyata penghinaan terbesar dalam hidup memang abadi di ingatan manusia.

“Duduk dulu sini, Mbak,” kata beliau sambil menunjuk bangku kayu dekat kolam koi.

Mia duduk sambil memarkir stroller di samping kursi.

“Ibu sekarang di sini?”

“Iya. Pindah rumah dekat sini. Jadi buka beginian kecil-kecilan.”

Mia memandang kedai itu lagi.

Cantik. Sederhana. Hangat.

Lalu tanpa sadar, kenangannya berjalan mundur jauh sekali.

Kembali ke sebuah ruangan sempit berdinding triplek.

Kembali ke aroma lilin ulang tahun.

Dan kembali ke Pondok Ayah.

Ulang Tahun Paling Gagal Disembunyikan

Waktu itu Mia masih mahasiswa semester awal.

Ia menjadi pengurus laboratorium jurnalistik online kampus. Kedengarannya keren, padahal kerjaannya lebih sering bingung memilih font judul berita.

Siang itu ia sedang duduk bersama teman-temannya di ruangan laboratorium yang disekat triplek. Ruangan itu sebenarnya lebih cocok disebut gudang kreatif daripada laboratorium.

Di situ ada kabel berserakan, kamera tua, tripod miring, dan kipas angin yang bunyinya kadang seperti meringis terpaksa berputar.

Tiba-tiba Ferdi memukul meja.

“Mia, tulisanmu ini jelek banget!”

Mia berkedip.

Lala ikut menyahut, “Iya! Enggak menarik!”

Lulu mengangguk sok serius.

Mia menatap mereka satu per satu.

Lalu dalam hati berpikir:

Oh, jadi hari ini kalian pilih jalur teater.

Padahal sejak awal Mia sudah tahu mereka sedang mengerjainya karena hari itu adalah ulang tahunnya.

Pertama, Ferdi tidak mungkin marah serius. Orang itu kalau marah asli biasanya malah diam.

Kedua…

Mia sudah mencium aroma lilin ulang tahun dari ruangan sebelah.

Ruangan mereka disekat triplek. Jadi suara korek api saja terdengar jelas.

Bahkan aroma lilinnya sudah bocor duluan.

Mia hampir ingin bilang:

“Lilin vanila rasa kejutan kalian kecium sampai sini.”

Tapi ia memilih pura-pura murung demi menghargai usaha mereka yang sangat payah.

“Yaudah… maaf…” katanya sambil menunduk dramatis.

Padahal dalam hati ia sedang menahan tawa.

Tak lama kemudian, Lulu dan Lala masuk sambil membawa kue.

“Surprise!”

Mia pura-pura terkejut.

“Hah?! Ya ampun! Buat aku?!”

Dalam hati:
Tentu saja buat dia. Masa buat Pak Satpam.

Mereka semua tertawa puas.

“Kaget kan?!”

“Banget…” jawab Mia penuh penghayatan.

Ferdi menepuk pundaknya.

“Maafin ya tadi kita marah-marah. Itu cuma akting.”

Mia mengangguk haru palsu.

“Iya… aku sempat percaya…”

Padahal tidak.

Sama sekali tidak.

Mia meniup lilin sambil menahan senyum.

Dalam doa kecilnya waktu itu, ia hanya berharap satu hal sederhana:

Semoga mereka tetap sedekat itu walaupun nanti hidup membawa mereka ke jalan masing-masing.

Karena Mia pernah mendengar orang dewasa berkata:
setelah lulus kuliah, teman dekat bisa berubah jadi nama di daftar kontak yang lupa dihubungi.

Dan entah kenapa, ia takut itu terjadi.

Setelah acara selesai, tiba-tiba Ferdi berteriak:

“Eh! Kuenya jangan dimakan di sini!”

“Lah kenapa?”

“Ayo keluar!”

Begitu Mia keluar ruangan…

Byur!

Tepung.

Plak!

Telur pertama.

Plok!

Telur kedua.

Dan entah kenapa masih ada telur ketiga.

Mukanya langsung putih total.

Kerudungnya bau amis.

Ia berdiri membeku seperti ayam tepung setengah matang.

Teman-temannya tertawa sampai jongkok.

Ferdi menunjuknya sambil megap-megap.

“Ya Allah, Mia kayak martabak gagal!”

Pondok Ayah dan Mahasiswa yang Bertahan Hidup

Setelah puas menghancurkan harga diri Mia, mereka menyeretnya berjalan menuju Pondok Ayah.

“Itu ulang tahunmu, jadi kamu yang traktir!” kata Ferdi.

“Kalian tujuh orang loh!”

“Makanya. Kami pengangguran butuh makan.”

Pondok Ayah adalah tempat favorit mahasiswa di sekitar kampus.

Warung makan sederhana dengan lantai tanah, lesehan panjang, kursi kayu, dan dua sofa kulit tua yang entah bagaimana masih bertahan hidup lebih lama daripada sebagian hubungan percintaan mahasiswa.

Di sana semua jenis mahasiswa berkumpul.

Mahasiswa kaya.

Mahasiswa kere.

Mahasiswa rajin organisasi.

Mahasiswa tukang tidur.

Mahasiswa yang uang sakunya tebal.

Mahasiswa yang kalau bayar makan harus menghitung receh sambil berkeringat.

Semuanya makan di situ.

Menu favoritnya sederhana:
mendoan, telur balado, oseng kangkung, mie goreng, Indomie rebus, teh hangat, dan es jeruk.

Murah sekali.

Bahkan mentraktir tujuh orang waktu itu cuma menghabiskan tiga puluh lima ribu rupiah.

Itu memang gaji dua hari Mia.

Tapi anehnya, ia tidak merasa diporotin.

Karena di usia itu, kebahagiaan memang murah.

Dan Pondok Ayah menjadi saksi hampir seluruh perjalanan hidup Mia sebagai mahasiswa.

Di sebelahnya ada Warnet 56.

Tarifnya dua ribu lima ratus rupiah per jam.

Di situlah hidup Mia pelan-pelan berubah.

Awalnya ia cuma datang untuk mengetik tugas kuliah.

Membawa flashdisk.

Membawa buku perpustakaan.

Membuka Google sambil takut waktu billing habis duluan.

Lalu ia mengenal blog.

Waktu itu sekitar tahun 2009. Masa kejayaan blog dan AdSense.

Mia membaca kisah para blogger sukses seperti Yosa Aranda dan beberapa nama lain yang membuatnya berpikir:

“Kalau mereka bisa menghasilkan uang dari internet… mungkin aku juga bisa.”

Ia mulai belajar sendiri.

Membeli buku tutorial.

Belajar keyword.

Belajar menulis.

Belajar SEO meski bahkan ia belum tahu SEO dibaca “es-e-o” atau “seo”.

Setiap hari hidupnya berulang:
kuliah,
warnet,
Pondok Ayah,
lalu kerja di warung makan sampai malam.

Teman-temannya sibuk dengan dunia masing-masing.

Ada yang aktif organisasi.

Ada yang jadi wartawan kampus.

Ada yang dekat dengan dosen.

Ada yang ikut diskusi ilmiah.

Sedangkan Mia?

Ia hanya mahasiswa yang bolak-balik warnet sambil berharap blognya suatu hari menghasilkan sesuatu.

Tapi bertahun-tahun… hanya begitu saja.

Pernah sekali dua kali, lalu tiga kali dalam setahun dapat seratus dollar.

Namun, itu seperti bukan hasil yang bisa ia anggap pencapaian.

Kadang ia duduk sendirian di Pondok Ayah sambil makan oseng kangkung dan berpikir:

“Jangan-jangan hidupku memang mentok segini aja.”

Jalan Setapak yang Tidak Besar

Setelah lulus, Mia sempat bertemu lagi dengan Ferdi dan Lala di Pondok Ayah.

Lala sudah menjadi wartawan.

Ceritanya seru sekali.

Wawancara tokoh penting.
Kejar deadline.
Turun lapangan.

Ferdi lebih gila lagi.

Sudah jadi asisten dosen sambil kuliah S2.

Mia mendengarkan mereka sambil tersenyum.

Dan diam-diam merasa tertinggal.

“Blogmu gimana, Mia?” tanya Ferdi.

Mia tertawa kecil.

“Belum begitu menghasilkan.”

“Tenang,” kata Lala. “Mungkin belum waktunya aja.”

Ferdi ikut menyemangati.

“Jangan-jangan nanti kamu malah punya media sendiri.”

Mia langsung tertawa.

“Itu mah ketinggian.”

Tapi hidup memang lucu.

Jalan yang terlihat lambat belum tentu berhenti.

Bertahun-tahun kemudian, Mia justru menemukan jalannya sendiri.

Bukan dari AdSense seperti mimpinya dulu.

Melainkan dari komunitas blogger.

Dari SEO.

Dari content placement.

Dari digital marketing.

Ternyata semua waktu yang dihabiskannya di warnet kecil itu tidak sia-sia.

Ilmu yang dikiranya gagal… diam-diam sedang menyiapkan jalan.

Sekarang Mia memang bukan orang terkenal.

Ia bukan pemilik perusahaan besar.

Bukan influencer dengan jutaan pengikut.

Bukan tokoh hebat.

Tapi ia berhasil mencapai tujuannya.

Ia bisa membantu keluarga.
Bisa membantu adik-adiknya melihat jalan.
Bisa membuktikan bahwa anak kampung yang kuliah sambil kerja juga bisa bertahan.

Mungkin perjuangannya hanya seperti seseorang yang masuk ke hutan lebih dulu.

Membuat jalan setapak kecil.

Bukan jalan raya.

Bukan jalan tol.

Tapi cukup untuk dilewati orang-orang setelahnya.

Bu Wati menyimak cerita Mia sambil sesekali melihat kolam koi.

Lalu beliau tersenyum.

“Menarik ya hidup kita, Mbak.”

Mia ikut tersenyum.

“Iya, Bu.”

“Dulu saya juga kerja di Pondok Ayah buat bertahan hidup.”

Beliau memandang kedainya yang kecil namun ramai.

“Sekarang saya buka beginian. Enggak besar memang. Tapi saya bersyukur.”

Mia mengangguk pelan.

Di usia mereka sekarang, ternyata definisi sukses berubah bentuk.

Tidak lagi harus hebat di mata semua orang.

Kadang sukses hanya berarti:
bertahan,
tidak menyerah,
dan akhirnya sampai juga.

Angin pagi bergerak pelan di atas kolam koi.

Bayi Mia mulai tertidur di stroller.

Dan entah kenapa, di tempat kecil itu, Mia kembali seperti mencium sesuatu yang sangat akrab dari masa lalu.

Bukan aroma lilin ulang tahun.

Bukan bau telur di kerudung. Melainkan aroma perjuangan kecil yang dulu pernah tumbuh diam-diam di Pondok Ayah.

Catatan Penulis:
Cerita ini terinspirasi dari sebuah diskusi ilmiah bersama beberapa rekan yang membahas topik psikologi tentang nostalgia. Dari diskusi itulah muncul gagasan bahwa manusia kadang bukan hanya merindukan seseorang, tetapi juga merindukan sebuah tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dalam cerita ini, tempat itu adalah Pondok Ayah.
Pondok Ayah bukanlah tempat yang mewah atau luar biasa. Ia hanyalah tempat sederhana yang berada di tengah-tengah: di antara kos, kampus, warnet tempat memulai karir, dan tempat bekerja untuk bertahan hidup. Tempat yang sangat sering dilewati, disinggahi, bahkan kadang hanya dipandang sekilas di hari-hari yang sibuk.
Namun justru di tempat-tempat seperti itulah, sering kali tersimpan banyak hal: tawa, perjuangan, keputusasaan, optimisme, pertemanan, dan hari-hari biasa yang diam-diam tumbuh menjadi kenangan.

You May Also Like

Leave a Reply