Aku Kira Dia Serius
“Pria yang serius tidak membutuhkan banyak alasan. Bahkan jika dia seorang CEO sekalipun, dia akan selalu punya cara untuk memprioritaskan wanita yang dia cintai.”
Nara berhenti membaca. Lalu, melanjutkan ke bab berikutnya.
Kutipan kuat lainnya menarik perhatiannya, “Pria adalah pemburu yang terburu-buru. Mereka tidak punya waktu menimbang-nimbang jika kamu adalah yang dia inginkan.”
Kalimat itu seperti menamparnya pelan—tepat di bagian yang selama ini ia hindari untuk ia pikirkan. Semacam ungkapan yang membandingkan kenyataan yang ia percayai selama ini.
Buku berjudul Menjadi Perempuan yang Dipilih itu sedang menjadi best seller. Tipis, tetapi hampir selalu muncul di beranda media sosial, dibahas oleh banyak kreator konten tentang relationship.
Penulisnya dikenal lugas, tidak bertele-tele, dan seolah memahami cara berpikir perempuan yang sering bertahan terlalu lama pada sesuatu yang seharusnya sudah dilepaskan. Mungkin juga sebenarnya untuk kaum laki-laki.
Nara menutup halaman itu perlahan.
Sore itu, ia duduk sendiri di teras rumah orang tuanya. Angin bergerak pelan, membawa sisa hangat matahari yang mulai turun. Sudah dua tahun ia lulus kuliah. Dua tahun pula ia masih menggenggam satu hubungan yang sejak awal ia yakini sebagai sesuatu yang pasti.
Ponselnya bergetar.
Nama Aldo muncul di layar.
Daftar Isi
Dunia yang Hanya Berdua
Dulu, dunia Nara memang hanya Aldo.
Selama empat tahun kuliah, hampir semua hal selalu kembali pada satu nama itu. Ia tidak mengikuti organisasi, meskipun sempat ingin. Aldo pernah mengatakan bahwa ia tidak nyaman jika Nara terlalu sering berinteraksi dengan banyak orang, apalagi laki-laki.
Nara mengalah.
Ia juga pernah ingin mengikuti kegiatan magang di perusahaan telekomunikasi. Aldo juga mencegahnya dengan alasan takut kalau Nara jadi sibuk dan sulit dihubungi.
Nara juga mengalah.
Awalnya terasa wajar. Ia berpikir, menjaga perasaan pasangan adalah bagian dari komitmen. Lagipula, ia memang tidak terlalu pandai bergaul. Setiap kali mencoba mengobrol dengan teman-temannya, atau orang lain yang belum kenal, selalu ada jeda yang canggung, ada perasaan tidak nyambung, atau justru kelelahan yang tidak bisa ia jelaskan.
Berbeda dengan Aldo.
Bersamanya, semua terasa mudah. Obrolan mengalir. Ia merasa dipahami. Bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak penting pun selalu ada tempat untuk diceritakan.
Kantin, kafe kecil, jalan pulang kampus—semuanya hampir selalu berdua.
Teman-teman lain ada, tetapi tidak pernah benar-benar dekat.
Dan tanpa sadar, hidup Nara menyempit. Perlahan, tetapi pasti.
Ia tidak merasa kehilangan apa pun saat itu. Karena baginya, Aldo sudah cukup.
Alasan yang Selalu Berubah
“Maaf, aku belum bisa datang ke rumahmu.”
Suara Aldo terdengar dari telepon, memecah sore yang mulai sepi.
Nara diam sejenak. “Kenapa?”
“Orang tuaku minta aku fokus dulu ke usaha keluarga. Aku pegang tambak sekarang.”
Nara menarik napas pelan. “Aku bisa ikut ke sana. Aku bisa bantu. Aku tidak masalah.”
“Aku tahu. Tapi kalau menikah sekarang, aku takut tidak fokus. Nanti malah terbagi.”
Jawaban itu tidak baru.
Sebelumnya, Aldo ingin bekerja dulu. Setelah bekerja, ia merasa belum cukup mapan. Lalu ada alasan keluarga, jarak, adik yang belum lulus sekolah, dan berbagai pertimbangan lain yang selalu terdengar masuk akal—setidaknya di awal.
Nara selalu mencoba memahami.
Selalu memberi waktu.
Selalu menunda keinginannya sendiri.
Dua tahun berlalu setelah lulus, tetapi satu hal tidak pernah berubah: Aldo tidak pernah benar-benar melangkah.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Nara merasa lelah menunggu sesuatu yang bentuknya bahkan tidak pernah jelas.
Terbongkar Terlambat
Perubahan Aldo terasa perlahan.
Telepon yang dulu panjang, kini semakin singkat. Pesan yang dulu cepat dibalas, kini sering tertunda berjam-jam.
Sampai suatu hari, adik Aldo mengirimkan pesan.
Bukan untuk menjatuhkan. Hanya untuk memberi tahu.
Dari situlah semuanya mulai terbuka.
Tentang kebiasaan Aldo yang sering berlama-lama di sebuah toko ikan. Tentang seseorang yang sering bersamanya. Tentang kedekatan yang tidak lagi bisa disebut sekadar kebetulan.
Nara mencoba bertanya langsung.
Aldo menjawab singkat, “Teman.”
Nara memutuskan untuk menelepon Aldo langsung. Aldo baru membalas chat, pasti tidak akan punya alasan menolak panggilan.
“Teman sampai kamu nggak angkat telepon aku?” Nara bertanya langsung tanpa basa basi lagi.
“Aku capek, Na. Kamu tiap hari nanya hal yang sama.”
Nara terdiam sebentar.
“Jadi buat kamu, aku ini apa?”
Aldo tidak langsung jawab.
“Aku belum siap nikah,” katanya akhirnya.
Nara menahan napas.
“Terus selama ini hubungan kita apa?”
“Ya… kita jalanin aja.”
______
Beberapa minggu setelah itu, Nara memutuskan sesuatu.
“Kalau kamu serius, datang ke rumah aku bulan ini,” katanya.
Kalau tidak—cukup sampai sini.
Aldo sempat diam.
Lalu bilang, “Ya udah. Aku datang.”
Lamaran itu akhirnya terjadi.
Sederhana. Tidak terlalu hangat, tapi cukup untuk membuat Nara percaya lagi.
Atau mungkin… memaksa diri untuk percaya.
______
Namun tidak berhenti di situ.
Ada pesan dari seseorang bernama Keira.
Awalnya hanya ucapan selamat atas lamaran yang sempat diposting Nara. Lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.
Tentang masa lalu yang tidak pernah Nara ketahui.
Tentang pendekatan yang dilakukan Aldo kepada perempuan lain saat mereka masih bersama.
Tentang pengakuan yang sama—bahwa ia tidak memiliki pacar.
Dan bukan hanya satu orang.
Ada Sasa.
Ada bukti percakapan. Tahun 2023. Saat itu Nara masih kuliah semester ke 5. Aldo masih bersamanya.
Ada potongan cerita yang saling melengkapi, hingga akhirnya membentuk satu kenyataan yang utuh.
Nara tidak langsung menangis saat itu.
Ia hanya diam.
Seolah-olah pikirannya menolak untuk menerima sesuatu yang terlalu jauh dari apa yang selama ini ia yakini.
Namun perlahan, semuanya terasa masuk akal.
Semua alasan.
Semua penundaan.
Semua jarak yang tiba-tiba tercipta.
Nara mulai mempertanyakan kemampuan dirinya dalam menilai seseorang.
Sejak awal hingga akhir.
Tersisa Penyesalan
Sore itu, Nara duduk di tepi pantai.
Langit berwarna jingga. Ombak datang dan pergi tanpa suara yang benar-benar ia dengar.
Ia menangis.
Bukan hanya karena Aldo.
Tetapi karena dirinya sendiri.
Karena enam tahun yang ia habiskan untuk satu orang.
Karena semua keputusan yang ia ambil tanpa pernah benar-benar melihat ke luar.
Karena ia pernah merasa cukup hanya dengan satu dunia kecil yang ia bangun sendiri.
Jika waktu bisa diputar kembali—enam tahun lalu, saat pertama kali ia masuk kuliah—Nara tahu apa yang akan ia ubah.
Ia akan tetap mencoba berbaur, meskipun sulit.
Ia akan belajar berbicara, belajar mendengarkan, belajar memahami orang lain, bukan hanya satu orang.
Ia tidak akan menjadikan satu hubungan sebagai seluruh hidupnya.
Ia akan membangun hal-hal penting yang mendukung karirnya setelah lulus kuliah.
Dan yang paling menyakitkan—
Ia tidak akan memilih Aldo.
Tidak akan membuka pintu itu.
Tidak akan membiarkan dirinya terikat sedalam itu, sampai kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa kembali.
Kesempatan berkembang dalam organisasi, memiliki banyak teman, mengikuti banyak kegiatan positif, dan hal-hal lain yang seringkali dianggap pelarian oleh mahasiswa yang tidak punya pasangan.
____
Angin sore menyapu wajahnya.
Di kejauhan, ada perahu nelayan yang pelan-pelan bergerak.
Hidup tetap berjalan.
Seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja hancur di dalam diri seseorang.
_____
Nara menunduk, memeluk dirinya sendiri.
Tangisnya pecah lagi, lebih dalam, lebih sunyi.
Tidak ada keputusan.
Tidak ada penutup.
Hanya penyesalan yang tinggal, mengendap pelan bersama suara ombak yang terus berulang.
Dan untuk pertama kalinya, Nara benar-benar mengerti—
kalimat sederhana di buku itu tidak pernah salah.
Cerita ini berasal dari kisah nyata. Seorang adik kelas yang memilih menghabiskan waktunya bersama seorang laki-laki sepanjang kuliah di kampus. Namun, ternyata setelah lulus, laki-laki yang ia percayai seolah tidak ingin memilihnya. Bahkan, benar-benar tidak memilihnya.

Kita Jalanin Aja
Adalah kata-kata kampret, cuih!
Pernah di posisi Nara, yang kaya kudu fokus sama cowok saja. Ngalah. Pada akhirnya, dia juga dekat sama yang lain. Kan kampret itu namanya. Tapi ya untungnya cuma sebentar, gak sampai tahunan juga hubungannya
Ya ampun kak, relate banget ya. Ini pengalaman nyata temen saya loh. Mirisnya dia menjalin hubungan itu sampai 6 tahun. Nggak ke mana-mana, ngikutin maunya si cowok juga. Sampai lupa menyiapkan hidupnya sendiri.