Rezeki yang Bernama Kemudahan
Resti datang lebih dulu.
Ia duduk di kursi kayu dengan bantalan tipis berwarna cokelat tua. Restoran itu tidak terlalu ramai, tapi tidak juga sepi. Suara sendok beradu dengan piring, percakapan pelan antar pengunjung, dan aroma masakan yang hangat bercampur jadi satu.
Resti merapikan ujung kerudungnya. Bajunya sederhana, blus lengan panjang dengan motif bunga kecil, dipadukan dengan rok hitam yang sudah sering ia pakai ke mana-mana. Ia sempat menatap sekeliling, melihat orang-orang yang makan dengan santai, seolah tidak terburu-buru.
Di hadapannya, buku menu dengan sampul tebal sudah terbuka.
Matanya berhenti di beberapa nama makanan.
Nasi merah. Nasi putih. Bebek bakar. Cah kangkong belacan. Gurame sambal nanas. Capcay kuah nyemek.
Ia menelan ludah pelan.
Semua itu bukan makanan asing baginya. Ia pernah memasaknya. Berkali-kali. Hanya saja, tidak pernah seperti ini—disajikan rapi, hangat, tanpa harus ia siapkan sendiri.
“Resti!”
Ia menoleh. Dina datang dengan langkah cepat, mengenakan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana hitam. Di pundaknya tergantung tas besar, seperti tas kerja yang penuh isi. Wajahnya tampak segar, meski ada lelah tipis di matanya.
“Kamu sudah lama?” tanya Dina sambil duduk.
“Baru saja,” jawab Resti.
Mereka tersenyum. Tidak canggung, tapi juga tidak terlalu dekat seperti dulu. Waktu lima tahun memang tidak bisa dianggap sebentar.
Pelayan datang, menyerahkan menu tambahan.
“Kamu mau apa?” tanya Dina.
Resti sempat ragu. Ia menatap menu itu lagi, lebih lama.
“Aku… capcay kuah nyemek saja,” katanya akhirnya.
Dina mengangguk. “Aku pesan oseng kangkung. Sama bebek bakar, gurame juga ya.”
Resti langsung mengangkat wajah. “Banyak sekali, Din.”
“Jarang ketemu. Sekali-kali makan enak,” jawab Dina santai.
Resti hanya tersenyum tipis.
Daftar Isi
Cerita yang Dipilih untuk Didengar
“Sekarang kerja di mana?” tanya Resti.
Dina langsung bersandar sedikit, seperti bersiap untuk bercerita panjang.
“Aku masih di media yang dulu. Jadi wartawan. Tapi sekarang lebih sering pegang isu lingkungan,” katanya.
“Lingkungan?”
“Iya. Kayak kemarin itu aku liputan banjir di daerah pinggiran kota. Terus soal penggundulan lahan di lereng gunung. Kadang juga wawancara pejabat soal kebijakan lingkungan.”
Resti mengangguk pelan. Ia memperhatikan cara Dina bercerita—lancar, hidup, penuh semangat.
“Setiap hari ada berita?” tanya Resti.
“Selalu ada. Kalau tidak ada, kita yang cari sudutnya. Atau bikin tulisan sendiri. Aku juga sering nulis di websiteku.”
“Kamu punya website?”
“Iya. Isinya artikel-artikel lingkungan. Kadang ada yang minta kerja sama juga. Brand, media lain, atau review tempat. Lumayan, tapi tidak tentu.”
Resti diam sebentar.
“Berarti penghasilanmu banyak dong?” tanyanya hati-hati.
Dina tertawa kecil. “Tidak juga. Gaji tetap UMR saja. Sekitar dua jutaan lebih sedikit. Sisanya ya dari sampingan itu, tapi tidak pasti.”
Resti mengangguk.
Dua jutaan.
Angka itu terdengar kecil bagi sebagian orang. Tapi di kepalanya, angka itu justru terasa… jelas. Nyata. Ada bentuknya.
Berbeda dengan yang ia rasakan selama ini.
“Kalau kamu?” tanya Dina. “Gimana rasanya sudah menikah?”
Resti tersenyum.
“Biasa saja,” jawabnya ringan. “Kegiatannya ya begitu-begitu saja. Masak, ngurus rumah, ngurus anak.”
“Enak dong. Tidak capek kerja di luar.”
Resti hanya mengangguk.
Ia tidak menjawab.
Di dalam hatinya, ada kalimat yang ingin keluar, tapi ia tahan.
Hari ini ia memilih mendengarkan hal-hal penuh semangat dari Dina. Bukan memberi temannya cerita yang mungkin tidak layak didengar.
Yang Harus Dilalui Sebelum Makan
Makanan datang satu per satu.
Capcay kuah nyemek diletakkan tepat di depan Resti. Kuahnya kental, sedikit berkilau. Potongan wortel, brokoli, kubis, jamur, dan irisan ayam terlihat segar. Uapnya masih naik perlahan.
Di sampingnya, oseng kangkung tersaji di piring putih lonjong berbahan melamin. Warnanya hijau cerah, dengan potongan tomat merah dan aroma terasi yang samar tapi menggoda.
Bebek bakar datang berikutnya, lengkap dengan sambal cabai hijau. Lalu gurame dengan siraman kecap dan potongan nanas halus di atasnya.
Nasi putih hangat menyusul.
Resti menatap semuanya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Ia tidak langsung mengambil sendok.
Di kepalanya, muncul gambaran yang lain.
Pagi hari di rumah.
Perut kosong.
Tangan yang harus mulai bekerja sebelum ia bisa makan.
Mengambil beras. Mencuci. Menanak.
Memotong bahan. Menumis.
Menyajikan.
Dan setelah itu, mencuci lagi.
Bukan hanya untuk dirinya.
Untuk suaminya. Untuk anaknya.
Uang satu juta yang diberikan setiap bulan, bukan untuknya sendiri. Itu harus cukup untuk semuanya. Dan sering kali, tidak cukup.
Ia pernah ingin membeli sesuatu hanya untuk dirinya. Tapi selalu urung. Selalu ada yang lebih penting.
Resti bukan tidak pernah meminta kepada suaminya. Hanya saja, jawaban yang ia dapat seringkali membuatnya memilih diam.
Bukan juga karena ia tidak bersyukur.
Selama ini ia bertahan karena memang suaminya punya banyak kebaikan. Ia sering mendengar masalah rumah tangga orang lain yang jauh lebih menyakitkan ketimbang masalah uang belanja.
Ada yang mendapatkan kekerasan fisik, kekerasan psikis seperti perselingkuhan, terpaksa hidup satu atap dengan mertua, direcoki oleh ipar yang julid, dan lain-lain.
“Resti?”
Suara Dina membuyarkan lamunannya.
“Iya?”
“Makan, nanti dingin.”
Resti mengangguk cepat. Ia mengambil sendok, menyendok capcay, lalu menyuapkannya.
Hangat.
Dan anehnya, terasa… ringan.
Ia tidak merasa lelah sebelum memakannya.
Tidak ada proses panjang yang menguras tenaga.
Ia hanya… makan.
Rezeki Bernama Kemudahan
Setelah makan, mereka berdiri menuju tempat cuci tangan.
Letaknya di dekat dapur. Terbuka sedikit, cukup untuk melihat ke dalam.
Resti membilas tangannya perlahan.
Saat itulah ia melihat.
Di dalam dapur, beberapa orang sedang memasak. Ada yang masih muda, ada yang sudah berumur. Mereka bergerak cepat, terlatih.
Dan hampir semuanya… laki-laki.
Api kompor menyala. Wajan diangkat, dituang, diaduk dengan cekatan. Tidak terlihat beban di wajah mereka. Yang ada hanya fokus.
Resti memperhatikan beberapa detik.
Lalu ia menunduk, mengeringkan tangannya.
Di kepalanya, muncul satu kalimat yang sederhana, tapi terasa jelas.
Bagi sebagian orang, memasak adalah keterampilan. Bahkan profesi.
Tapi bagi sebagian yang lain, memasak adalah kewajiban.
Ia melirik ke arah meja mereka tadi. Piring-piring kosong yang tadi berisi makanan hangat.
Hari ini, ia makan tanpa harus memasak.
Tanpa harus menahan lapar lebih dulu.
Tanpa harus melalui semua proses yang biasanya ia jalani.
Di momen ini, ia menyadari sesuatu.
Bahwa rezeki tidak selalu berupa uang.
Kadang, rezeki itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.
Kemudahan.
Ia menatap Dina yang sedang menunggunya.
Lalu tersenyum.
Bukan karena semuanya sudah baik-baik saja.
Tapi karena ia mulai mengerti, bahwa hidupnya mungkin belum mudah sekarang—
namun suatu hari nanti, ia ingin sampai pada titik itu.
Titik di mana ia bisa makan tanpa harus berjuang lebih dulu untuk setiap suapan.
Dan hari itu, tanpa ia sadari, telah memberinya satu hal kecil:
Harapan.
