Lelaki yang Datang dari Mimpi
Kira lahir dari keluarga yang sederhana, tetapi kuat dalam nilai. Ayah dan ibunya adalah guru agama—siang hari mengajar di madrasah, malam hari mengajar kitab kuning di pesantren yang berdiri tepat di samping rumah mereka.
Namanya, Kira, diberikan secara tidak sengaja.
Konon, saat ia baru lahir, kedua orang tuanya masih bingung mencari nama. Hingga suatu malam, televisi di kamar ibunya menyajikan sebuah film Jepang. Tokoh di film itu bernama Kira. Wajahnya lembut, cerah, matanya sedikit sipit, dan terlihat tenang.
Ibunya tersenyum saat melihat bayi di pangkuannya.
“Mirip,” katanya pelan.
Lalu sang ibu mencari arti dari nama itu. Ternyata Kira memiliki arti yang begitu indah. Kira berarti cahaya dan membawa harapan besar bagi orang tua.
Nama lengkapnya Kira Khairunnisa. Meskipun dari bahasa Jepang, orang tua Kira tetap memadukannya dengan nama dari serapan bahasa Arab untuk memperkuat identitas keagamaan. Mereka berharap anaknya tumbuh memegang teguh nilai-nilai agama.
Sejak saat itu, nama itu melekat.
Dan entah kebetulan atau tidak, Kira tumbuh dengan rupa yang benar-benar menyerupai bayangan itu. Kulitnya putih bersih, matanya sedikit sipit, hidungnya kecil, dan wajahnya memiliki kesan lembut sekaligus teduh. Tingginya terlihat serasi, tidak berlebihan dan tidak juga terlalu pendek, tubuhnya ramping, dan pembawaannya tenang.
Cantik—tapi bukan tipe yang mencolok. Lebih ke arah yang membuat orang diam-diam memperhatikan.
Sejak kecil, Kira selalu menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena wajahnya, tapi juga karena kecerdasannya. Ia hampir selalu juara satu. Cara berpikirnya runtut, logis, dan matang bahkan sejak usia belia.
Namun yang paling menonjol dari Kira bukan itu.
Melainkan caranya menjaga diri.
Ia tidak pernah pacaran. Tidak pernah memberi ruang untuk hubungan yang menurutnya melampaui batas. Ia memahami betul nasihat orang tuanya—bahwa menjaga diri bukan hanya tentang tindakan, tetapi juga tentang niat dan arah hati.
Dan Kira memegang itu dengan serius.
Daftar Isi
Mimpi yang Menyisakan Rasa
Sejak remaja, Kira memiliki satu keanehan: mimpinya sering menjadi nyata.
Ia pernah bermimpi tentang seorang kerabat jauh ayahnya yang hidup dalam kesulitan. Dalam mimpi itu, semua detail terasa jelas: wajah, tempat tinggal, bahkan tragedi yang menimpa keluarganya. Ketika ia menceritakannya, kenyataan membuktikan bahwa semua itu benar.
Sejak saat itu, Kira tidak pernah lagi berani menganggap mimpinya sekadar bunga tidur.
Namun, mimpi kali ini berbeda.
Seminggu sebelum masuk kuliah, Kira bermimpi tentang seorang laki-laki.
Ia melihat punggungnya di sebuah lorong kampus yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Lelaki itu berdiri santai dengan tas selempang merah satu sisi, mengenakan kemeja cokelat muda dan celana hitam. Rambutnya sedikit kecokelatan, wajahnya cerah, dan ketika ia menoleh…
Senyumnya.
Senyum itu sederhana, tapi entah kenapa terasa hangat. Terlalu hangat untuk sekadar mimpi.
Kira terbangun dengan jantung berdebar.
“Siapa dia…” gumamnya pelan.
Dan sejak hari itu, wajah itu tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Sosok yang Benar-Benar Ada
Hari pertama ospek, Kira mencoba menepis semua itu. Ia sibuk beradaptasi, mengenal lingkungan baru, dan menjaga fokusnya sebagai mahasiswa penerima beasiswa.
Sampai hari kedua.
Dari kejauhan, ia melihat sosok itu.
Lelaki yang sama. Postur yang sama. Cara berjalan yang sama.
Kira terpaku.
“Itu… dia?”
Namun setiap kali ia mencoba mendekat, sosok itu selalu menghilang di antara keramaian. Seolah hanya ingin terlihat, tapi tidak ingin ditemukan.
Selama satu minggu ospek, Kira hanya melihatnya dua kali.
Itu pun dari jauh.
Dan setelah itu, ia benar-benar menghilang.
Satu semester berlalu. Kira kembali pada rutinitasnya: belajar, membaca, dan menjaga dirinya dari hal-hal yang menurutnya tidak perlu.
Ia hampir berhasil melupakan mimpi itu.
Hampir.
Pertemuan yang Tidak Terduga
Semester dua, Kira mulai aktif dalam diskusi keilmuan. Ia bergabung dalam kelompok kecil bernama Renaisans—sebuah forum diskusi filsafat yang seringkali membahas topik-topik mendalam.
Suatu hari, diskusi mereka dipindahkan ke sebuah kontrakan milik teman dari ketua kelompok.
Kira mendapat giliran presentasi hari itu.
Ia berdiri di depan, menarik napas, lalu membuka pembicaraan.
“Assalamu’alaikum, hari ini saya akan membahas pemikiran Al-Kindi—”
“Eh, bentar… boleh gabung nggak?”
Suara itu.
Kira menoleh.
Dan waktu seolah berhenti.
Lelaki itu berdiri di ambang pintu salah satu kamar di kontrakan itu.
Sama persis seperti dalam mimpinya.
Baju cokelat muda. Celana hitam. Wajah cerah. Senyum yang sama.
Kira membeku.
“Boleh?” ulang lelaki itu, kali ini sedikit canggung.
“I-iya… silakan…” jawab Kira, berusaha terdengar normal.
Dalam hati, ia tidak.
Sepanjang presentasi, Kira berjuang keras menjaga fokus. Ia tahu betul isi materinya, tapi hari itu terasa berbeda.
Karena untuk pertama kalinya, mimpi itu duduk di hadapannya—nyata.
Namanya Azril.
Cinta yang Dipilih untuk Diam
Sejak hari itu, Kira tahu satu hal: ia menyukai Azril.
Bukan sekadar tertarik. Tapi benar-benar jatuh.
Dan justru karena itulah, ia memilih menjauh.
Bagi Kira, menjaga diri lebih penting daripada mengikuti perasaan. Ia tahu batasan yang diajarkan orang tuanya. Ia tahu ke mana arah hubungan yang tidak dijaga.
Jadi ia memilih satu hal: diam.
Tidak menyapa. Tidak mendekat. Tidak memberi harapan.
Tapi… tetap mencari tahu.
Diam-diam, Kira mengetahui banyak tentang Azril. Dari jurusannya, latar belakangnya sebagai santri, hingga kebiasaan kecilnya yang ia lihat dari media sosial.
Ia tidak pernah follow.
Tidak pernah like.
Hanya melihat.
Seperti seseorang yang mencintai dari kejauhan—tanpa ingin terlihat.
Sampai suatu malam, Nayla, teman sekamar memergokinya.
“Ini siapa?”
Kira terdiam.
“Jangan bilang… kamu suka sama dia?”
Kira menutup wajahnya.
“Aku… cuma ingin tahu aja.”
“Serius?” Nayla menaikkan alis. “Ini level ‘cuma tahu aja’ apa ‘udah jatuh cinta tapi denial’?”
Kira menghela napas.
Dan akhirnya, ia bercerita.
Tentang mimpi itu. Tentang pertemuan mereka. Tentang perasaan yang ia simpan sendiri.
Nayla terdiam cukup lama.
Lalu berkata pelan,
“Kalau dia baik, semoga dia jadi jodoh kamu.”
Kira tersenyum kecil.
“Aku juga cuma bisa berharap lewat doa.”
Namun, Nayla punya rencana lain.
Misi Rahasia
Nayla tidak setenang Kira.
Baginya, cerita ini terlalu sayang kalau hanya berhenti sebagai doa diam-diam.
Ia mulai mendekati Rizal—teman dekat Azril.
“Gue mau nanya, tapi lo jangan bocorin ya.”
“Kenapa sih semua cewek kalau serius pasti mulai dari kalimat itu?”
“Udah, jawab aja.”
Rizal tertawa.
“Apaan?”
“Azril itu orangnya gimana?”
Rizal langsung menyipitkan mata.
“Lo suka?”
“Bukan gue!”
“Terus siapa?”
“Rahasia.”
Rizal mengangkat bahu.
“Yaudah. Kalau menurut gue, Azril itu 90 dari 100.”
“Kurang 10-nya?”
“Cocok-cocokan. Orang baik belum tentu cocok.”
Nayla mengangguk.
Jawaban itu cukup.
Sejak saat itu, Nayla dan Rizal diam-diam menyusun rencana. Memberi “kode” halus kepada Azril tentang adanya seseorang yang mengaguminya—tanpa pernah menyebut siapa.
Tanpa paksaan.
Tanpa drama.
Hanya… menyiapkan kemungkinan.
Hari yang Sama
Satu tahun setelah kelulusan.
Lima orang alumni berdiri di pinggir jalan, menatap dua undangan di tangan mereka.
“Ini serius ya… dua-duanya hari ini?”
“Iya, dan beda arah lagi.”
“Fix kita sewa mobil. Gue nggak mau bolak-balik pakai motor.”
Akhirnya mereka masuk ke mobil.
Sepanjang jalan, keluhan terus terdengar.
“Capek banget sih ini. Satu hari dua kondangan.”
“Untung temennya deket semua, kalau nggak gue udah nolak.”
“Eh tapi enak juga sih… dua kali makan.”
Lalu, mereka tertawa.
Salah satu dari mereka membuka undangan.
“Oke, kita tentuin dulu yang paling dekat ya.”
“Cek map dong.”
“Bentar… gue buka yang ini dulu.”
“Yang mana?”
“Yang ini… undangan dari Kira & Azril”
Undangan kedua dibuka.
“Nayla & Rizal”
“Lah, bentar. Mereka kan sahabatan, kok nikahnya bareng?”
“Mana gue tau. Udah diatur kali.”
“Entar aja kita tanyain mereka. Sekarang gass aja! Udah laper nih!”
“Yee, pikirannya makan mulu kamu.”
Sopir sampai hampir salah belok karena ketawa.
“Eh tapi tunggu,” salah satu dari mereka berkata sambil menahan tawa,
“kita ke mana dulu?”
“Yang paling dekat lah!”
“Berarti ke Kira dulu.”
“Abis itu lanjut ke Nayla?”
“Iya. Sekalian full day. Pulang malam nggak apa-apa.”
“Pulang besok juga gapapa sih.”
“Yang penting makan dua kali!”
Tawa kembali pecah.
Di luar sana, mungkin semua terlihat seperti kebetulan.
Tapi tidak bagi seseorang yang tahu—
bahwa semua ini dimulai dari sebuah mimpi…
dan seorang sahabat yang diam-diam menjalankan misinya.
