Uang 50 Ribu
“Suami zaman sekarang itu ngasihnya enggak seberapa, tapi seolah sudah memberi dunia dan seisinya.”
Laras berhenti menggulir layar ponselnya.
Sebuah tulisan di reels Instagram konten kreator itu terasa seperti familiar. Laras sebenarnya tidak ingin terlalu banyak mengonsumsi konten negatif, tapi entah kenapa selalu lewat begitu saja di berandanya.
Ia lanjutkan membaca komentar-komentarnya. Beberapa laki-laki menulis panjang, bahkan ada yang membela diri, atau menghujat dengan nada tinggi.
“Perempuan sekarang kebanyakan nuntut. Nggak bersyukur.”
“Sudah jadi istri ya harus taat. Belajar agama yang bener, mbak. Biar nggak masuk neraka.”
“Laki-laki itu imam, mau gimana pun tetap dihormati.”
Laras tidak ikut-ikutan membalas.
Ia hanya membaca.
Layar ponselnya redup, retak di sudut. Ponsel lama yang masih ia pakai sejak sebelum menikah.
Di tangannya, selembar uang lima puluh ribu terlipat rapi.
Baru pagi tadi Arif memberikannya.
“Ini buat kamu.”
Singkat. Tanpa penjelasan.
Laras menerimanya, tapi tidak langsung menyimpannya. Ia hanya memegangnya lama. Seolah ada sesuatu yang belum selesai dari uang itu.
Karena ini tidak biasa.
Bahkan, hampir tidak pernah.
Selama menikah, Laras tidak pernah benar-benar punya uang untuk dirinya sendiri. Yang ia terima hanya uang belanja mingguan.
Tiga ratus ribu.
“Ini nafkah buat kamu.”
Begitu kata Arif setiap kali memberikan uang belanja. Padahal itu bukan untuknya.
Tiga ratus ribu itu sesunggunya untuk beras, sayur, lauk. Untuk dirinya, Arif, dan Sheila.
Uang yang harus cukup.
Uang yang harus diatur sampai ke ujung.
Uang yang tidak pernah benar-benar tersisa.
Sementara uang seperti yang ada di tangannya sekarang—yang murni diberikan untuk dirinya—Laras bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia menerimanya.
Tidak setiap bulan.
Tidak juga setiap beberapa bulan.
Seingatnya… hampir tidak pernah.
Daftar Isi
Nafkah yang Harus Cukup
Tiga ratus ribu seminggu.
Dengan itu, Laras pergi ke pasar sambil menggendong Sheila. Memilih sayur paling murah. Menimbang lauk dengan hati-hati.
“Kalau masak itu yang enak. Yang lengkap. Ada sayur, ada lauk. Yang bergizi.”
Permintaan Arif selalu terdengar mudah.
Padahal yang pulang bersamanya sering hanya tempe, tahu, dan sayur sederhana.
Daging jarang sekali masuk kantong belanja.
Tapi komentar tetap ada.
“Masaknya itu-itu aja.”
Padahal siang hari, Arif kadang makan di luar.
“Bosan.”
Laras tidak pernah menjawab.
Ia hanya kembali ke dapur.
_______
Pagi tadi terasa berbeda.
Setelah memberikan uang lima puluh ribu itu, Arif meminta dibuatkan kopi.
Sheila masih rewel di gendongan.
“Cepatlah.”
Laras membuat kopi dengan satu tangan.
Belum selesai, Arif berkata lagi,
“Sekalian bikinin gorengan.”
Laras mengangguk.
Minyak panas. Tepung. Sayur. Semua dikerjakan sambil menahan tubuh kecil yang terus bergerak.
Ia tidak berpikir apa-apa saat itu.
Sampai siang datang.
Hari ini terasa berbeda sejak Arif memberinya uang 50 ribu itu.
Sehari yang Terasa Lebih Panjang
Pukul dua siang, Laras baru sempat duduk.
Nasi di piringnya sudah dingin.
Ia menyuap pelan.
Sheila menangis.
“Laras! Itu anakmu nangis!”
Ia berdiri lagi.
Menggendong. Menenangkan. Menyuapi.
Setelah itu, ia kembali ke piringnya.
Duduk lagi.
Mengangkat sendok.
“Kok malah makan sih?”
Tangannya berhenti.
“Itu anakmu nggak disuapin?”
“Sudah, Mas. Tadi baru saja.”
“Ya ditemenin dong.”
Laras menarik napas pelan.
“Maaf, Mas. Saya harus makan dulu.”
Ia tidak menatap Arif.
Hanya nasi yang semakin dingin di piringnya.
______
Sore hari, perintah tidak berhenti.
“Jemurannya diangkatin.”
“Iya.”
“Terasnya kotor. Nanti disapu.”
“Iya.”
“Mangkok bekas mie tadi diambil sekalian.”
Mangkok itu masih di meja.
“Iya, Mas.”
Laras mengangkatnya.
Tangannya terasa lelah, tapi tidak ada yang benar-benar selesai.
Ia belum mandi.
Belum salat.
“Mas, saya mandi sebentar ya. Sekalian mau salat. Tolong lihat Sheila.”
“Jangan lama-lama.”
Air menyentuh kulitnya. Sebentar saja.
Ia berdiri, memakai mukena.
“Allahu akbar—”
“Laras!”
“Cepetan! Ini Sheila rewel!”
Gerakannya berubah cepat.
Salat yang seharusnya tenang terasa seperti sesuatu yang harus segera selesai.
Ini bukan sekali dua kali. Ibadah fardhu sering kalah dengan ibadah pernikahan.
_____
Malam datang.
Sheila dimandikan. Diberi makan.
Arif sudah selesai makan. Rebahan.
“Pijetin.”
Laras duduk di sampingnya.
Tangannya menekan pelan.
“Capek banget hari ini,” kata Arif.
Laras diam.
Diam karena memang sulit menyalahkan suaminya yang bekerja seharian.
Arif punya bengkel kecil yang ia kelola sendiri. Kadang ada satu atau dua anak PPL yang ikut membantu.
“Seneng nggak dikasih uang tadi?”
Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Laras.
Laras tidak menjawab.
Ia hanya melanjutkan pijatan sampai Arif tertidur.
____
Sheila belum tidur.
Laras masih menemaninya.
Perutnya perih.
Ia baru sadar, makan siangnya tidak pernah benar-benar selesai.
Saat Sheila tertidur, ia ke dapur.
Mengambil nasi.
Duduk sendiri.
Makan tanpa suara.
Untuk pertama kalinya hari itu, tidak ada yang menyuruh.
Sebuah Harga
Laras kembali ke kamar.
Duduk di pinggir kasur.
Ponselnya menyala lagi.
Komentar siang tadi masih ada.
Ia membaca sebentar.
Lalu berhenti.
Pikirannya melayang.
Ke beberapa hari yang lalu.
Saat ia ikut Arif ke rumah orang tuanya.
Banyak kerabat Arif datang. Obrolan mengalir ke mana-mana.
Tentang pekerjaan. Tentang rumah tangga.
Ada yang bercerita tentang tetangga mereka.
“Istrinya itu enak banget. Suaminya kerja di pelayaran. Uangnya dikirim terus. Belanja mulu. Tiap hari ada paket datang.”
Yang lain menimpali.
“Istri itu kan emang harus dimanjakan. Biar tetap cantik.”
Suara itu milik sepupu Arif.
Laras hanya diam waktu itu.
Ia melihat Arif. Tidak jelas apakah Arif benar-benar mendengarkan atau tidak.
Tapi pagi ini, tiba-tiba ada uang lima puluh ribu di tangannya.
Tanpa alasan.
Tanpa kebiasaan sebelumnya.
Laras tidak tahu pasti.
Tapi ia sempat berpikir.
Apakah itu karena percakapan itu?
Apakah karena Arif merasa perlu menunjukkan sesuatu?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, uang seperti ini tidak pernah benar-benar ada sebelumnya.
Tidak setiap bulan.
Tidak juga setiap beberapa bulan.
Hanya hari ini.
Dan entah kapan lagi.
_______
Laras menunduk.
Tangannya meraih uang lima puluh ribu itu.
Masih rapi.
Masih utuh.
Seharian ini, ia tidak membelanjakannya.
Tidak ingin.
Hari itu terasa kembali.
Pagi. Siang. Sore. Malam.
Suara-suara itu.
Perintah-perintah itu.
Makan yang tertunda.
Salat yang tergesa.
Ia menggenggam uang itu pelan.
Lalu meletakkannya di samping ponselnya.
Tulisan di layar masih sama.
“Suami zaman sekarang itu ngasihnya enggak seberapa, tapi seolah sudah memberi dunia dan seisinya.”
Kali ini, Laras tidak hanya membaca.
Ia mengerti.
Dan di tangannya, uang itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang diberikan.
Lima puluh ribu itu ternyata bukan pemberian.
Itu harga.
