Perempuan di Depan Laptop
Hana baru dua bulan bekerja sebagai editor konten di sebuah perusahaan media kreatif di kota itu. Kantornya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman.
Di lantai tiga ada sebuah ruang transit kecil yang biasa dipakai karyawan freelance dan hybrid untuk menunggu jadwal rapat, mengisi baterai laptop, atau sekadar duduk sambil minum kopi.
Ruangan itu sederhana. Ada dispenser, sofa abu-abu, meja kecil, dan lima kursi kerja yang letaknya saling berdekatan. Tidak ada kursi khusus. Siapa cepat, dia dapat tempat.
Wajah Asing di Ruang Transit
Hari itu Hana datang lebih awal karena ada revisi artikel dari klien. Saat membuka pintu ruang transit, ia melihat seorang perempuan duduk di dekat jendela sambil mengetik di laptop.
Perempuan itu memakai blazer krem dan hijab hitam sederhana. Wajahnya tenang, cantik, dan terlihat sangat fokus.
Hana sempat ragu ingin menyapa atau tidak. Namun karena suasananya hening dan mereka hanya berdua di sana, akhirnya ia mencoba ramah seperti biasa.
“Halo, Mbak,” katanya sambil tersenyum kecil.
Perempuan itu menoleh sebentar.
“Halo.”
Hana duduk dua kursi dari tempat perempuan itu.
“Mbak siapa ya? Aku Hana.”
“Amira.”
Setelah itu hening.
Hana menunggu beberapa detik. Biasanya orang akan bertanya balik atau sekadar tersenyum lagi.
Begitu budaya di tempat kerjanya.
Tapi perempuan itu kembali menatap laptopnya.
Hana mencoba mengabaikan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
“Mbak kerja di divisi apa?”
“Creative campaign.”
“Oh…” Hana mengangguk. “Sering di lantai tiga juga ya?”
“Iya.”
Pendek. Sangat pendek.
Hana mulai merasa seperti sedang mengganggu orang yang sebenarnya tidak ingin diajak bicara.
Padahal nada bicara Amira tidak kasar. Tidak ada kalimat menyakitkan. Tidak ada tatapan sinis. Tapi entah kenapa suasananya terasa dingin.
Hana akhirnya membuka laptopnya sendiri.
Ruangan kembali sunyi.
Yang terdengar hanya suara ketikan keyboard dan dengung AC.
Aneh, pikir Hana. Baru kali ini ia merasa tidak nyaman hanya karena keberadaan seseorang.
Jawaban Pendek
Selama bekerja di kantor itu, Hana cukup mudah akrab dengan orang lain. Bahkan dengan karyawan yang pendiam sekalipun, biasanya tetap ada percakapan kecil yang terasa hangat.
Minimal saling bertanya balik.
Minimal tersenyum.
Minimal ada rasa bahwa keberadaan orang lain dianggap ada.
Tapi bersama Amira, Hana merasa seperti berbicara sendiri.
Beberapa menit kemudian, seorang staf laki-laki masuk ke ruangan.
“Eh, Kak Amira!” sapanya antusias. “Kontennya udah naik, Kak. Keren banget.”
Amira langsung menoleh dan tersenyum.
“Oh ya? Syukurlah.”
“Serius, engagement-nya tinggi banget.”
“Kliennya juga cocok diajak kerja sama.”
Percakapan mereka mengalir begitu saja. Santai. Hangat. Bahkan Amira tertawa kecil beberapa kali.
Hana diam di depan laptopnya.
Entah kenapa dadanya terasa sedikit tidak nyaman.
Bukan iri.
Bukan juga marah.
Tapi seperti ada pertanyaan kecil yang mengganggu pikirannya.
Kenapa tadi suasananya berbeda sekali saat berbicara dengannya?
Hana mencoba fokus bekerja, tapi perasaannya telanjur berubah.
Ia jadi sadar bahwa sejak awal dirinya yang terus membuka percakapan. Dirinya juga yang mencoba mencairkan suasana.
Sedangkan Amira seperti tidak tertarik.
Setelah beberapa saat, Hana akhirnya pamit keluar ruangan lebih dulu.
“Duluan ya, Mbak.”
Amira menoleh sebentar.
“Oh iya.”
Hanya itu.
Di lorong kantor, Hana menghela napas panjang.
“Aneh banget,” gumamnya pelan.
Padahal itu cuma percakapan singkat. Tapi kenapa suasana hatinya jadi ikut buruk?
Media Sosial
Dua minggu berlalu.
Hana hampir melupakan kejadian itu sampai suatu sore ia membuka media sosial kantor.
Ada postingan baru tentang seminar kreatif nasional.
Di slide kedua, Hana terdiam.
Itu Amira.
Ternyata perempuan itu cukup terkenal. Pengikut media sosialnya puluhan ribu. Ia sering menjadi pembicara seminar, konsultan brand, dan penulis konten digital.
Kolom komentarnya penuh pujian.
“Keren banget Kak Amira!”
“Inspiratif.”
“Role model banget.”
Hana membuka profilnya perlahan.
Foto-fotonya rapi dan profesional. Cara bicaranya di video juga tenang dan percaya diri. Banyak orang terlihat mengaguminya.
Dan anehnya, justru setelah mengetahui itu semua, Hana malah merasa semakin sedih.
Ingatan tentang ruang transit itu kembali muncul dengan jelas.
Tentang jawaban-jawaban pendek.
Tentang suasana dingin.
Tentang dirinya yang merasa seperti tidak diinginkan berada di sana.
Hana mematikan layar ponselnya lalu bersandar di kursi.
Ia tahu Amira tidak melakukan kesalahan besar.
Tidak menghina.
Tidak merendahkan.
Tidak berkata kasar.
Tapi tetap saja, ada rasa tidak nyaman yang tertinggal.
Kadang manusia memang seperti itu. Bukan kata-kata yang paling membekas, melainkan perasaan kecil saat sedang berhadapan dengan seseorang.
Hana teringat pada seorang teman lamanya yang dulu cukup terkenal di kampus. Orang itu ramah sekali pada siapa pun. Bahkan dari jauh sudah tersenyum lebih dulu.
Dan Hana sadar, mungkin itulah bedanya.
Ada orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa diterima.
Ada juga yang membuat ruangan terasa lebih asing.
Perempuan di Depan Laptop
Beberapa hari kemudian, Hana kembali masuk ke ruang transit.
Dan lagi-lagi Amira ada di sana.
Masih dengan laptopnya.
Masih duduk dekat jendela.
Untuk sesaat Hana ingin berbalik keluar saja. Tapi itu terasa kekanak-kanakan.
Akhirnya ia tetap masuk dan duduk seperti biasa.
Kali ini Hana tidak membuka percakapan lebih dulu.
Ia langsung menyalakan laptop dan mulai bekerja.
Beberapa menit berlalu tanpa suara.
Lalu tiba-tiba Amira berbicara pelan.
“Hana ya?”
Hana menoleh agak kaget.
“Iya.”
“Kamu editor konten kan?”
“Iya.”
“Aku baca artikel kamu minggu lalu. Yang tentang komunitas literasi itu.”
“Oh…” Hana sedikit bingung. “Iya.”
“Bagus.”
Hening lagi.
Tetapi kali ini tidak sedingin sebelumnya.
Amira menutup laptopnya sebentar lalu berkata pelan, “Maaf ya kalau waktu itu aku kelihatan jutek.”
Hana terdiam.
“Aku lagi banyak pikiran waktu itu,” lanjut Amira. “Deadline numpuk. Jadi kadang suka enggak fokus sama sekitar.”
Hana mengangguk kecil.
“Oh… enggak apa-apa kok.”
Dan anehnya, setelah mendengar penjelasan sederhana itu, dadanya terasa jauh lebih ringan.
Bukan karena semua langsung berubah akrab.
Bukan juga karena mereka tiba-tiba menjadi teman dekat.
Tapi karena akhirnya Hana sadar satu hal.
Kadang manusia memang bisa saling salah menangkap suasana.
Kadang seseorang terlihat dingin bukan karena merasa lebih tinggi.
Kadang orang hanya sedang lelah dengan dirinya sendiri.
Amira kembali membuka laptopnya.
Dan kali ini, suara ketikan keyboard di ruangan itu tidak lagi terasa asing bagi Hana.
Cerita ini masih satu nada dengan cerpen sebelumnya, yaitu Tidak Tahu Itu Bukan Dosa. Lingkungan sosial menyimpan banyak tantangan dan kompeksitasnya. Ramah kadang tidak memiliki tempat bagi sebagian orang. Diam juga seringkali menimbulkan kesalahpahaman.
Ini mengingatkan kita untuk tidak mudah menilai sikap orang. Bisa jadi, kehidupan sosial membuat kita merasa aman justru dengan tidak mengatakan atau menanyakan apapun. Sebaliknya, ramah bukan sedang bermain topeng, tapi sedang berusaha menjaga sebanyak mungkin perasaan orang lain.
