Setengah Cerita
Angga tidak benar-benar sedang mencari sesuatu malam itu. Ia hanya menggulir layar, seperti kebiasaan banyak orang sebelum tidur.
Sampai satu postingan membuatnya berhenti.
“Sepenting itu melihat latar belakang keluarga calon istri. Jangan hanya termakan paras atau cinta, karena seumur hidup taruhannya.”
Kalimatnya tegas.
Komentarnya lebih tajam lagi.
Kebanyakan dari pengguna laki-laki.
“Gue ngerasain, bro. Salah pilih, hidup jadi berat.”
“Makanya jangan cuma lihat cinta. Lihat keluarganya juga.”
“Gue pernah nikah sama yang keluarganya bermasalah. Capek banget.”
Angga membaca satu per satu.
Lama.
Pelan-pelan, ia merasa seperti menemukan sesuatu yang selama ini tidak bisa ia jelaskan.
Sesuatu yang… cocok.
Ia mematikan layar, lalu menoleh ke samping.
Dina tidur di sana. Wajahnya lelah, seperti biasa. Rambutnya sedikit berantakan. Nafasnya pelan.
Lima tahun menikah.
Tapi malam itu, Angga melihat Dina dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai istri.
Melainkan sebagai bagian dari masalah.
Daftar Isi
Obrolan yang Berisi Perbandingan
Angga tidak langsung mengaitkannya malam itu juga. Tapi potongan-potongan itu terus tinggal di kepalanya.
Termasuk saat ia nongkrong keesokan harinya.
Seperti biasa, di warung kopi langganan. Tempat yang sama, teman ngobrol yang sama.
Beni sudah duduk duluan.
“Gimana bisnis lo, Ga?” tanya Beni sambil menyeruput kopi.
“Ya gitu,” jawab Angga singkat.
Arif datang belakangan. Bajunya masih sedikit basah di ujung, mungkin habis dari kolam pemancingannya.
“Capek juga ya, tapi ya lumayan,” katanya santai.
Percakapan mereka seperti biasa: usaha, uang, rencana, atau bahkan tentang anak istri.
Dan tanpa disadari, perbandingan.
Karena mereka sudah bersahabat sangat lama, seringkali pembicaraan dan candaan sudah tidak ada filter lagi.
“Gue sih enak,” kata Beni bergurau dengan nuansa meninggikan diri. “Istri di rumah. Fokus ngurus anak. Gue tinggal fokus ngurus bengkel.”
“Nggak kaya temen kita satu ini, istrinya sibuk banget kerja. Haha” Lanjutnya diiringi tawa.
Angga ikut tertawa garing.
Arif ikut menimpali.
“Gue juga sama. Pemancingan rame. Pulang udah ada yang nyediain kopi anget.”
“Enak kan, hidup gue?”
Arif ikut menyombongkan diri.
Namun, itu memang gaya obrolan mereka. Seperti sudah disepakati dan saling memaklumi.
Tidak ada saling menyinggung secara personal.
Beni tertawa kecil. Lalu,
“Enak lah kalau orang tua juga bantu. Gue juga dulu bengkel modal awalnya dari bapak.”
Angga terdiam sebentar.
Biasanya Angga juga akan membanggakan hal-hal tertentu dalam hidupnya.
Misalnya punya istri yang kerja. Gak perlu nanggung finansial sendiri.
Gaya obrolan itu sebenarnya merupakan cara mereka untuk melihat hal-hal baik di hidup mereka.
Di usia itu, mungkin laki-laki memilih tidak banyak membicarakan hal-hal berat atau kemalangan.
Mereka hanya ingin obrolan santai di warung kopi berisi tawa.
Itu saja.
Namun, entah kenapa kali ini terasa berbeda untuk Angga.
Rumah dengan Rutinitas yang Sama
Pagi hari di rumah Angga, seperti biasa, Dina bangun pukul empat.
Ia memulai hari dengan mencuci piring, memasak, menyiapkan kebutuhan rumah. Semuanya seperti rutinitas yang sudah menyatu dengan tubuhnya.
Angga masih tidur.
Ketika dibangunkan, ia bangun dengan wajah berat.
“Mas, tolong jagain Raka ya.”
“Iya…”
Jawaban yang singkat.
Raka bangun. Minta ditemani, minta makan, minta dimandikan. Semua berjalan seperti biasa.
Dina masih di dapur.
Bau masakan memenuhi rumah.
Semua tampak normal.
Tapi tidak di kepala Angga.
Hari itu, setiap rutinitas terasa seperti beban.
Bukan karena baru terjadi.
Mungkin karena ia mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Tiga Puluh Menit yang Membuka Banyak Hal
Pagi itu, sebelum Dina berangkat kerja, Angga menahannya.
“Mah… bisa ngobrol sebentar?”
Dina sedikit terkejut.
“Serius banget, Mas. Ada apa?”
Mereka duduk di teras. Raka bermain di depan, masih dalam pengawasan.
Angga membuka pembicaraan dengan hati-hati, tapi arah pikirannya sudah jelas.
Tentang uang.
Tentang lima tahun.
Tentang Dina yang terus membantu orang tuanya.
Tentang bisnisnya yang tidak berkembang.
Tentang rasa tertinggal dari teman-temannya.
Dina mendengarkan.
Ia tidak langsung menjawab. Menarik napas panjang.
“Mas… ini kan sudah kita bicarakan dari awal menikah.”
Nada suaranya tetap tenang, meskipun lelah terlihat jelas.
“Aku cuma minta waktu. Enam bulan lagi, Gani lulus. Setelah itu bebannya berkurang.”
“Tapi Nisa?” potong Angga.
“Nanti Gani ikut bantu.”
Jawaban itu tidak membuat Angga puas.
“Emang yakin, Gani bisa lansung dapat kerjaan?”
“Aku sudah membicarakannya dengan Gani, mas.” Dina menjawab setengah yakin.
Angga mendengus pelan.
Yang sebenarnya ingin ia katakan, bukan sekadar soal uang.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
“Aku cuma ngerasa… kita nggak maju-maju, Din.”
Akhirnya keluar juga.
Dina menatapnya.
Lama.
“Mas, aku juga berperan di rumah ini.”
Suara Dina mulai berubah. Bukan marah, tapi tegas.
“Aku bangun jam empat. Masak, nyuci, bersih-bersih. Aku kerja sampai sore. Pulang, aku yang urus Raka lagi.”
Angga diam.
“Aku bahkan sengaja nggak banyak minta bantuan kamu. Supaya kamu bisa fokus ke bisnis kamu.”
Dina melanjutkan.
“Kamu tahu nggak kenapa aku berangkat jam setengah tujuh? Padahal kantor cuma sepuluh menit?”
Angga menggeleng pelan.
“Aku istirahat dulu di mushola kantor, Mas.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi seperti mengetuk sesuatu di kepala Angga.
“Aku capek.”
Hening.
“Dan selama ini… kamu nggak pernah lihat itu.”
Angga menunduk.
Namun, tetap saja ada yang mengganjal.
Lelahnya Dina bukan murni untuk keluarga kecil mereka. Namun, terbagi untuk keluarganya.
________
“Apa Mas nyesel?”
Pertanyaan itu datang tanpa aba-aba.
Angga terdiam.
Dan diamnya… cukup menjawab.
Dina mengangguk pelan.
“Kalau soal menyesal, aku juga bisa, Mas.”
Angga menoleh cepat.
“Aku juga bisa bandingin hidup kita sama orang lain. Sama teman-teman aku.”
Suara Dina tetap tenang.
“Tapi aku nggak pernah.”
Hening.
“Mas lihat Beni sama Arif, ya?”
Angga tidak menjawab.
“Mas tahu semua ceritanya?”
Angga mengingat kembali.
Modal bengkel dari orang tua.
Tanah yang dibeli setelah bertahun-tahun menabung.
Istri yang tidak sibuk bekerja. Namun, suami mereka menanggung semuanya.
“Aku yakin mas cuma lihat setengah cerita.”
Kalimat itu pelan.
Dina melanjutkan, kali ini lebih dalam.
“Dan Mas juga lihat aku dari setengah cerita.”
Angga menelan ludah.
“Aku memang bantu orang tuaku. Tapi aku juga nggak pernah minta dari Mas.”
“Aku kerja, aku urus rumah, aku urus Raka sejak sore. Siangnya sama Bi Marni.”
“Tapi Mas hanya lihat satu bagian itu.”
“Mas nggak ingat punya waktu leluasa buat bangun usaha.”
Bukan Hanya Soal Uang
Dina menatap Angga lebih lama.
“Mas, nggak semua itu tentang harta.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi seperti membuka sesuatu.
“Orang tuaku mungkin miskin. Tapi mereka nggak pernah merendahkan kamu.”
Angga teringat.
Teras rumah sederhana itu.
Kopi hangat.
Obrolan santai dengan ayah Dina.
Ibu Dina yang selalu sigap menyiapkan makanan atau menawari Angga tidur di kamar utama saat menginap.
Angga mengakui, selalu merasa dihargai saat berada di keluarga Dina.
“Sekarang lihat keluargamu, Mas.”
Angga menunduk.
Ia tahu.
Ia sangat tahu.
“Ibumu pernah nyambut aku dengan hangat?”
Tidak.
“Diajak ngobrol saja jarang.”
Benar.
“Kalau Raka sakit, siapa yang disalahkan?”
Angga menutup mata sejenak.
“Ibunya kerja sih…”
Suara itu terngiang.
Bukan suara Dina.
Tapi ibunya sendiri.
Dan ia… selama ini diam.
Cerita yang Belum Utuh
Raka berlari kecil di depan rumah.
Tertawa.
Sehat.
Ceria.
Angga memperhatikannya.
Lama.
Anaknya.
Beruntung sekali selalu sehat.
Selalu aktif.
Tampak tumbuh dengan bahagia.
Wajah Dina yang rupawan menurun kepada Raka.
Dan tiba-tiba, sesuatu muncul.
Potongan lain.
Anak kakaknya.
Yang sering keluar masuk rumah sakit.
Demam tinggi.
Sesak.
Kejang.
Padahal kakaknya selalu bangga menjadi ibu rumah tangga.
“Fokus ngurus anak.”
Kalimat itu dulu terdengar seperti keunggulan.
Bahkan diungkapkan terang-terangan di depan istrinya, Dina.
Untuk membandingkan.
Sekarang… tidak sesederhana itu.
Angga menghela napas panjang.
Ia mulai melihat sesuatu.
Bahwa hidup tidak bisa dibandingkan begitu saja.
Bahwa hasil tidak selalu datang dari satu sebab.
Bahwa ada terlalu banyak hal di luar kendali.
Dan selama ini…
Ia hanya memilih satu hal untuk disalahkan.
_____
“Mas…”
Suara Dina memanggilnya kembali.
“Aku cuma minta waktu.”
Pelan.
“Enam bulan.”
Angga tidak langsung menjawab.
Ia melihat Raka lagi.
Lalu Dina.
Lalu rumah kecil mereka.
Lalu potongan-potongan yang selama ini ia kumpulkan.
Postingan.
Omongan teman.
Perbandingan.
Semua terasa seperti puzzle.
Dan ia baru sadar—
Ia menyusunnya dari potongan yang ia pilih sendiri. Yang ternyata hanyalah setengah cerita.
