Penghakiman Atas Nama Agama

“Aku tahu ini sakit, Sarah. Tapi aku nggak akan pernah merendahkan diriku dengan kata-kata kotor. Seorang perempuan harus menjaga lisannya, apalagi sebagai muslimah.”

Suara Yasmin bergetar. Air matanya jatuh satu per satu, namun kalimatnya tetap tegak—seolah prinsip itu adalah sesuatu yang tidak boleh runtuh, bahkan ketika hatinya sendiri sedang retak.

Sarah diam.

Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, jemarinya menguat seperti sedang menahan sesuatu yang tidak ingin keluar. Ia mengangguk pelan, tapi dadanya terasa sesak.

Kalimat itu… bukan hal baru.

Ia pernah mendengarnya. Berkali-kali. Dari orang yang sama. Dalam waktu yang berbeda. Dengan bentuk yang berbeda, tapi makna yang serupa.

Dan setiap kali mendengarnya, rasanya tetap sama.

Menekan.

“Aku juga nggak mau larut dalam emosi,” lanjut Yasmin, masih sesenggukan, napasnya tersengal di sela tangis. “Aku akan tetap berpikir positif. Mungkin ini memang jalan terbaik dari Allah.”

Sarah kembali mengangguk.

Ia tidak tahu harus berkata apa. Atau mungkin, ia tahu… tapi memilih diam.

“Raihan mungkin memilih yang sekufu sama dia,” kata Yasmin, suaranya mulai lebih pelan, namun tetap menyisakan getir.

Sarah sedikit mengangkat kepala. “Maksud kamu?”

Yasmin tersenyum tipis. Senyum yang lebih dekat pada luka daripada ketenangan.

“Kamu tahu Wulan, kan? Yang dia nikahi itu.”

“Iya.”

“Ya… mungkin itu pilihannya. Wulan kan… ya, kamu tahu sendiri. Biasa saja. Dari dulu juga cara berpakaian, cara hidup…” Yasmin menggantung kalimatnya, seolah memberi ruang bagi penilaian yang tak perlu disebutkan.

“Mungkin Raihan merasa lebih cocok sama perempuan yang seperti itu.”

Sarah menunduk lagi.

Di dalam hatinya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar sedih. Bukan hanya prihatin.

Tapi juga… lelah.

Karena Yasmin tidak berubah.

Masih sama seperti dulu.

Petir di Siang Bolong

Sarah pernah mengalami hal serupa dengan Yasmin.

Ditinggal oleh laki-laki yang ia cintai. Dulu, sebelum menikah.

Atau bahkan lebih jauh lagi—di masa sekolah, di bangku kuliah—ketika rasa kehilangan terasa besar, tapi waktu masih begitu ringan untuk menghapusnya.

Ia pernah menangis.

Pernah merasa hancur.

Namun, seminggu kemudian… hidup tetap berjalan. Ia bisa kembali fokus pada hal lain. Pada dirinya sendiri.

Bukan karena ia lebih kuat.

Tapi karena saat itu, ia masih punya ruang untuk pergi.

Berbeda dengan sekarang.

Dan mungkin, itulah yang membuat Sarah lelah.

Bukan karena Yasmin bersedih.

Tapi karena cara Yasmin memahami kesedihan orang lain… tidak pernah benar-benar berubah.

Selalu dibungkus dengan narasi agama.

Tanpa ruang untuk empati.

Tanpa jeda untuk memahami.

_____

Yasmin, yang telah lama mengikat komitmen dengan Raihan, kini harus menelan pil pahit.

Lelaki itu—yang selama ini berjalan bersamanya dalam batas-batas yang mereka jaga—tiba-tiba menikah dengan Wulan. Teman satu kelas waktu kuliah.

Keputusan yang datang tanpa aba-aba.

Tanpa penjelasan.

Tanpa penutup yang layak.

Padahal, di mata banyak orang, Yasmin adalah pilihan yang “lebih meyakinkan”.

Latar belakang keluarganya dari pesantren. Cara berpakaian. Cara berbicara. Cara membawa diri.

Semua tampak seperti kriteria ideal.

Setidaknya… begitu yang dipercaya oleh lingkungan mereka. Lingkungan yang kental dengan nuansa agama.

Raihan dan Yasmin memang tidak pernah menjalani hubungan yang melanggar batas.

Tidak ada status pacaran yang diumbar.

Namun kedekatan itu nyata.

Sarah bahkan sering menemani mereka—di kafe, di kantin kampus, di teras kontrakan—sekadar duduk, berbincang, tertawa dalam batas yang mereka jaga bersama.

Komunikasi mereka pun terasa “aman”.

Telepon berjam-jam, tapi tetap dalam topik yang dianggap wajar.

Saling membantu saat ada kesulitan.

Saling hadir, tanpa harus mengikat.

Sejak lulus kuliah, Raihan mulai sibuk dengan pekerjaannya.

Ia beberapa kali menunda rencana melamar Yasmin.

Alasannya selalu sama: belum siap.

Dan Yasmin… memilih menunggu.

Sampai akhirnya, hari ini datang seperti petir di siang bolong.

Undangan pernikahan itu tersebar.

Nama Raihan tertulis jelas.

Namun di sampingnya—bukan Yasmin.

Melainkan perempuan lain.

Wulan.

Sarah benar-benar merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya.

Namun di saat yang sama, ada rasa getir yang sulit dihindari.

Karena di sela kesedihan itu… Yasmin masih sempat membandingkan.

Masih sempat menilai.

Nasihat yang Tidak Menyembuhkan

Setahun lalu.

Saat Sarah baru saja melahirkan.

Tubuhnya masih lemah. Langkahnya pelan. Matanya sering sembab, bahkan tanpa alasan yang jelas.

Malam-malamnya dipenuhi tangisan bayi, rasa lelah yang menumpuk, dan kesepian yang aneh—yang tidak bisa dijelaskan, bahkan kepada dirinya sendiri.

Dan di saat seperti itu…

Suaminya justru semakin dekat dengan perempuan lain.

Awalnya hanya perasaan.

Sesuatu yang samar, tapi mengganggu.

Lalu berubah menjadi kecurigaan.

Dan akhirnya… menjadi kenyataan yang tidak bisa lagi ditolak.

“Mereka cuma teman kerja.”

Kalimat itu diulang berkali-kali.

Seolah dengan mengulangnya, kebenaran bisa ikut berubah.

Bahkan saat Sarah pernah melihat mereka makan berdua di kafe—terlalu dekat untuk sekadar disebut rekan kerja—suaminya tetap menyangkal.

Dan Yasmin…

Ada di sana waktu itu.

Duduk di samping Sarah yang menangis.

Mendengarkan.

Namun juga… menghakimi.

“Kamu harus sabar, Sar.”

“Coba perbaiki sholatmu.”

“Mungkin kamu kurang istighfar.”

“Jangan sampai kamu jadi perempuan yang kehilangan harga diri cuma karena emosi.”

Kalimat-kalimat itu terdengar seperti nasihat.

Namun tidak pernah benar-benar menyembuhkan.

Justru sebaliknya.

Membuat dada Sarah semakin sesak.

Semakin panas.

Karena di saat itu… Sarah tidak butuh diingatkan untuk menjadi kuat.

Ia bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar berdiri.

Dokter pernah bilang, Sarah mengalami postpartum depression.

Depresi setelah melahirkan.

Tekanan batin itu sebenarnya sudah dimulai sejak masa kehamilan.

Dan menjadi semakin berat setelah ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan—

Suaminya tidak benar-benar ada untuknya.

Di titik paling lelah itu—

Sarah akhirnya meledak.

Ia berteriak.

Mengumpat.

Mengeluarkan kata-kata yang dulu bahkan ia benci.

Kata-kata kasar.

Kata-kata yang liar.

Bahkan ancaman.

Dan Yasmin melihat semuanya.

Dengan tatapan yang tidak pernah bisa dilupakan Sarah sampai sekarang.

Bukan tatapan iba.

Bukan juga kepedulian.

Tapi… penilaian.

Luka yang Tidak Sama

“Seandainya kamu tahu, Yasmin…”

Kalimat itu hanya berputar di dalam kepala Sarah.

Tidak pernah benar-benar keluar.

Yasmin masih menangis di depannya.

Dikhianati oleh laki-laki yang ia cintai selama tujuh tahun.

Sejak awal kuliah.

Sampai tiga tahun setelah lulus.

Dan tiba-tiba… semuanya berakhir begitu saja.

Sakit?

Tentu.

Sarah tahu itu.

Ia pernah ada di posisi itu.

Diselingkuhi.

Ditinggalkan.

Diganti dengan perempuan lain.

Sakitnya nyata.

Menyayat.

Namun… selesai.

Seperti dipukul sekali, lalu kamu masih bisa lari.

Masih bisa membalas.

Atau memilih membuka hidup baru.

Tapi pernikahan?

Itu berbeda.

Sangat berbeda.

Disakiti dalam pernikahan itu seperti diikat.

Tangan dan kaki terikat.

Lalu kamu dipukul berkali-kali.

Tanpa jeda.

Tanpa ruang untuk pergi.

Tanpa kesempatan untuk membalas.

Dan yang paling menyakitkan—

Kamu bahkan tidak bisa benar-benar keluar.

Karena ada anak.

Ada keluarga.

Ada norma.

Ada ikatan yang tidak terlihat, tapi terasa begitu kuat.

Dan Yasmin…

Tidak pernah merasakan itu.

Namun dulu—

Ia berani menghakimi.

Dan sekarang…

Ia masih melakukan hal yang sama.

Balasan yang Lebih Bijak untuk Dipilih

“Aku cuma ingin tetap jadi perempuan yang baik,” kata Yasmin pelan. “Aku nggak mau jadi seperti… orang-orang yang kehilangan kontrol.”

Sarah terdiam.

Kalimat itu terdengar lembut.

Hampir seperti doa.

Namun cukup untuk membuka luka lama yang sudah ia susun rapi.

Ia ingat dirinya yang dulu.

Yang berteriak.

Yang mengumpat.

Yang dianggap tidak mampu menjaga diri.

Yang dinilai… gagal.

Sarah menarik napas pelan.

Ia sudah sembuh.

Bukan karena ia menjadi lebih sabar.

Bukan karena ia berhasil menjaga lisannya setiap saat.

Tapi karena waktu.

Karena bantuan psikiater yang perlahan menata ulang pikirannya yang sempat berantakan.

Karena ia akhirnya berani mengakui bahwa dirinya terluka—

dan bahwa ia membutuhkan bantuan.

Dan satu hal yang paling sulit—

Ia memilih melepaskan.

Bukan sekadar memaafkan.

Bukan sekadar mengikhlaskan.

Tapi benar-benar keluar…

dari lingkaran yang selama ini menyakitinya.

______

Namun kali ini, Sarah tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.

Ia tidak ingin membalas dengan kalimat-kalimat yang dulu pernah melukai dirinya.

Tidak ingin menggurui.

Tidak ingin menghakimi.

Ia hanya menatap Yasmin—lebih lama dari sebelumnya.

Melihat sahabatnya itu… bukan sebagai perempuan yang selama ini selalu merasa benar, tapi sebagai seseorang yang akhirnya sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya, Sarah memilih sesuatu yang dulu tidak ia dapatkan.

Empati.

Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat.

Tangannya terangkat ragu sejenak, lalu akhirnya menyentuh punggung tangan Yasmin dengan lembut.

Tidak banyak kata.

Tidak ada nasihat.

Tidak ada ayat yang dipakai untuk menjelaskan luka.

Hanya kehadiran.

“Aku di sini, Yas,” ucap Sarah pelan.

Sederhana.

Tapi cukup.

Yasmin terdiam.

Tangisnya masih ada, tapi kali ini tidak terasa sendirian.

Dan di dalam hati Sarah, ada sesuatu yang akhirnya terasa utuh—

bukan karena semua luka telah hilang, tapi karena ia memilih untuk tidak lagi mewariskan luka yang sama… kepada orang lain.

_______

Cerita ini hanya fiksi belaka. Tidak mengangkat kisah siapapun. Namun, inspirasinya datang dari keresahan atas penghakiman yang membawa narasi agama. Saya sering mendengar orang menyuruh bersikap bijak kepada orang yang mengalami depresi. Melabeli seseorang tidak punya iman saat hilang arah. Ada juga yang langsung men-judge orang lain sebagai ahli maksiat tepat setelah ia keluar dari majelis ilmu. Dan masih banyak lagi.

You May Also Like

Leave a Reply