Terlambat Mengerti
Andre tidak sengaja melihatnya.
Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar ponsel Maya yang sedang di-charge di dekat meja makan. Nama pengirimnya tidak asing.
Diana.
Yang membuat Andre berhenti bukan nama itu, tapi potongan kalimat yang ikut muncul di layar:
“Maya, kamu gak deg-degan kan tadi satu lift sama Gilang?”
Tangannya yang baru saja mengangkat cangkir kopi langsung terhenti.
Kopi itu ia seduh sendiri—seperti beberapa bulan terakhir.
Andre menatap layar itu lebih lama.
Di luar, Maya sedang bermain bersama Caca. Tawa anaknya terdengar dari taman.
Jarinya bergerak sebelum sempat berpikir.
Chat itu terbuka.
Andre mulai menggulir ke bawah. Banyak sekali percakapan. Tidak utuh, tapi cukup membuat dadanya terasa sesak.
Nama Gilang muncul berulang-ulang.
“Yang paling ngena buat aku tuh pas dia ngambilin kopi, Di…”
“Waktu aku kedinginan pas outbound itu loh.”
Andre berhenti.
Ia membaca ulang.
Lalu lanjut.
“Terus kemarin di pantry juga… dia inget aku belum minum.”
Dadanya mengencang.
Diana membalas:
“Cie yang mulai deg-degan… hati-hati ya. Dia kan udah punya istri.”
Maya menjawab cepat.
“Iya lah aku juga tahu diri. Enggak mungkin juga.”
“Lagian itu emang karakternya Gilang, dia perhatian ke semua orang.”
“Cuma… ya gitu.”
Andre diam lama di bagian itu.
“Cuma… ya gitu.”
Kalimat yang tidak selesai, tapi justru terasa paling jelas.
Andre mengamati chat tersebut, di kisaran pukul 16.30.
Sepertinya mereka chatting saat perjalanan pulang kantor.
Ia menutup WhatsApp itu cepat-cepat saat mendengar pintu terbuka.
Maya masuk sambil menggandeng Caca.
“Mas, belum mandi?”
Andre menggeleng. “Belum.”
“Ya udah mandi sana. Aku lanjut main bentar sama Caca.”
Biasa saja.
Terlalu biasa.
Daftar Isi
Hal-Hal yang Tidak Lagi Sama
Beberapa hari kemudian, Andre ketemuan dengan Fandi sepulang kerja. Sahabat karibnya sejak kuliah.
Kopi di meja hampir dingin.
“Baru setahun kerja,” kata Andre, pelan tapi penuh tekanan. “Udah aneh-aneh.”
Fandi mengangkat alis. “Maksud lo?”
Andre tertawa kecil, hambar.
“Kayaknya dia suka sama temen kantornya. Belum apa-apa sih… tapi udah kelihatan.”
Fandi menyandarkan tubuhnya.
“Ya udah. Balas aja. Lo juga bisa kan?”
Andre menggeleng. “Gampang sih. Tapi gue masih mikir keluarga.”
Ia berhenti, lalu menambahkan,
“Padahal gue udah kasih semuanya. Rumah atas nama dia. Biaya hidup, sekolah anak. Bahkan gue yang pindah ke sini, jauh dari orang tua gue.”
Fandi mengangguk, lalu bertanya,
“Cowoknya siapa?”
“Gilang.”
“Ngapain dia sampe bikin istri lo kepincut?”
Andre menghela napas.
“Katanya perhatian. Peka.”
Fandi terkekeh. “Perhatian apaan sih?”
Andre mengingat isi chat itu.
“Cuma… ngambilin kopi.”
Fandi diam. Menatap Andre cukup lama.
“Lo sendiri pernah ngelakuin itu ke istri lo?”
Andre refleks ingin menjawab.
Tapi sebelum ia sempat bicara, Fandi mendahului.
“Ah, buat apa juga,” katanya santai. “Itu kan tugas istri. Kita udah capek kerja, masa harus ngelayanin juga?”
Andre tidak langsung menjawab.
Kalimat itu terasa… terlalu familiar.
Ia menunduk sedikit.
Ia tidak punya bantahan.
Perempuan yang Pernah Menunggu
Malam itu Andre pulang lebih larut.
Rumah sudah sepi.
Lampu kamar menyala redup.
Maya sudah tidur.
Andre berdiri sejenak di ambang pintu, menatap sosok itu.
Lalu masuk, mandi, dan berbaring di sampingnya.
Matanya terbuka menatap langit-langit.
Hatinya begitu perih mengingat chat istrinya dengan Diana kemarin.
Begitu mudahnya seorang wanita tergoda hanya dengan perhatian kecil.
Kalimat Fandi kembali terngiang.
“Lo pernah ngelakuin itu ke istri lo?”
Andre menghela napas panjang.
Ngambilin kopi?
Tiba-tiba saja ada sebongkah keraguan untuk benar-benar membenci istrinya.
Ia ingat bahwa sebenarnya dia tidak pernah melakukan itu.
Jangankan itu.
Selama bertahun-tahun, justru Maya yang selalu melakukannya untuknya.
Tanpa diminta.
Tanpa pernah ia anggap penting.
Ia teringat sesuatu yang lain.
Saat Maya sakit.
Demam, masuk angin, tubuhnya lemah.
“Mas, pijetin dong…”
Dan ia menjawab singkat,
“Aku capek. Kan kamu udah minum obat.”
Selesai.
Sementara saat ia sakit…
Maya selalu ada.
Air hangat di samping tempat tidur.
Kompres di kening.
Tangan yang memijat pelan sampai ia tertidur.
Andre menutup mata.
Ingatan lain muncul.
Tentang makan malam di luar.
Maya selalu menaruh ponselnya di tas begitu duduk.
Menatapnya penuh perhatian.
Bercerita panjang tentang hal-hal kecil.
Tentang rumah. Tentang anak.
Dan dirinya?
Selalu sibuk.
“Bentar ya, aku balas chat dulu.”
“Atau angkat telepon dulu.”
Padahal tidak pernah benar-benar penting.
Ia hanya… tidak tertarik mendengar.
Andre menelan ludah.
Lima tahun.
Bukan waktu yang sebentar.
Lima tahun Maya hidup seperti itu.
Menunggu.
Memberi.
Tanpa benar-benar didengar.
Dan ia sendiri…
Pernah mencari yang lain.
Siska.
Ranti.
Nama-nama yang dulu begitu memikat hatinya.
Tidak sampai melakukan hal yang jauh.
“Cuma makan malam.”
“Cuma chat.”
Ia bahkan pernah merasa… bahagia.
Merasa diperhatikan.
Sementara di rumah, Maya sedang kelelahan mengurus Caca saat masih bayi.
Saat Maya tahu soal Siska dan menangis, ia tidak merasa bersalah.
Ia justru berkata dengan tenang,
“Kamu yang berlebihan. Aku cuma makan malam biasa.”
“Aku masih lebih baik. Teman-teman kantorku malah banyak yang sampai nginep bareng di hotel.”
Seolah-olah itu cukup untuk membenarkan semuanya.
Yang Tersisa Sekarang
Pagi itu berjalan seperti biasa.
Maya menyiapkan sarapan.
Memandikan Caca dan menyiapkan keperluannya sepanjang siang.
Lalu berangkat kerja.
Andre duduk sendirian di meja makan.
Ia memilih berangkat lebih siang ke tempat kerjanya, sambil menunggu pengasuh Caca datang.
Cangkir kopi di depannya perlahan mendingin.
Ia teringat lagi chat itu.
Tentang Gilang.
Tentang kopi yang diambilkan.
Tentang perhatian kecil yang membuat Maya merasa… ada.
Perasaan yang ia anggap sebagai pengkhianatan, perlahan berubah bentuk.
Ia mengenalnya sekarang.
Bukan sebagai sesuatu yang tiba-tiba.
Tapi sebagai sesuatu yang tumbuh dari kekosongan yang lama.
Ia pernah menjadi sumbernya.
Ia yang tidak mendengar.
Ia yang tidak hadir.
Ia yang menganggap semua itu… sudah sewajarnya.
Dan Maya…
ternyata tahu lebih banyak dari yang ia kira.
Tentang Ranti.
Tentang Siska.
Tentang hal-hal yang tidak pernah ia akui.
Hanya saja, Maya memilih diam.
Bukan karena tidak tahu.
Tapi mungkin… karena lelah.
Andre mengangkat cangkirnya.
Kopi itu sudah dingin.
Ia tidak meminumnya.
Ia hanya duduk di sana, lama.
Dan kini, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai seseorang yang disakiti.
