Aku Pernah Hidup Hanya untuk Makan
“Jangan hidup untuk makan. Makanlah agar kamu bisa hidup.”
Adisti membaca sebuah kutipan di media sosial itu dua kali.
Layar ponselnya memantulkan wajahnya sendiri yang tampak letih. Di sekelilingnya, dapur masih berantakan. Panci belum dicuci. Sisa potongan buah masih di meja. Anaknya baru saja tertidur setelah rewel hampir satu jam.
Ia menelan ludah.
“Kalau begitu…” gumamnya pelan, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri, “kenapa aku sebaliknya?”
Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi pikirannya sudah melayang jauh. Jauh ke hari-hari yang tidak seperti ini.
Daftar Isi
Dunia yang Pernah Luas
Dulu, hidup Adisti tidak sesempit ini.
Ia bekerja di sebuah penerbitan di Jakarta. Editor naskah. Bukan pekerjaan yang mewah, tapi cukup untuk membuatnya merasa lebih bermakna. Setiap hari ia membaca cerita orang lain, memperbaiki kalimat, berdiskusi dengan penulis. Malam hari, ia menulis ceritanya sendiri—meski belum pernah benar-benar selesai.
Ia ingat bagaimana ia pernah lupa makan siang karena terlalu larut dalam naskah.
Saat itu, makan hanyalah jeda. Bukan tujuan.
Lalu ia bertemu Damar.
Rekan kerja. Sama-sama editor. Percakapan mereka mudah mengalir—tentang buku, ide cerita, bahkan hal-hal kecil yang terasa penting. Mereka jatuh cinta tanpa drama. Semuanya terasa tepat.
Ketika Damar mengatakan, dengan nada hati-hati,
“Setelah menikah… aku ingin kamu lebih fokus di rumah. Aku yang bekerja,”
Adisti tidak langsung menolak.
Ia percaya.
Ia juga merasa… mungkin itu tidak masalah.
“Kalau aku tetap menulis di rumah?” tanya Adisti waktu itu.
Damar tersenyum.
“Tentu. Aku dukung.”
Dan saat itu, semuanya terasa seperti keputusan yang matang.
Rumah yang Pelan-Pelan Menyempit
Awalnya memang menyenangkan.
Bangun pagi, menyiapkan sarapan, membuat kopi untuk Damar. Ada kebahagiaan sederhana saat melihat seseorang yang dicintai menikmati apa yang ia siapkan.
Ketika anak pertama mereka lahir, kebahagiaan itu terasa lengkap.
Tapi waktu berjalan.
Dan tanpa ia sadari, hidupnya mulai berputar di lingkaran yang sama.
Memasak.
Membersihkan rumah.
Mengurus anak.
Mengulang semuanya keesokan hari.
Awalnya ia masih mencoba menulis. Membuka laptop di sela-sela waktu. Tapi setiap kali duduk, tubuhnya sudah terlalu lelah.
Akhirnya, yang tersisa hanyalah hal-hal ringan.
Menonton drama.
Scrolling media sosial.
Mencari resep baru.
Dan tanpa ia sadari, kebahagiaannya berpindah.
Ke makanan.
Ke hiburan-hiburan ringan itu.
__________
Suatu siang, ia membuat salad buah.
Dipilihnya buah yang segar. Dipotong rapi. Disusun dengan cantik. Ia bahkan menambahkan topping favoritnya—keju parut dan saus manis yang ia racik sendiri.
Hari itu, beberapa rekan kerja Damar yang juga teman lama Adisti datang berkunjung.
“Cobain, aku bikin sendiri,” katanya sambil tersenyum.
“Wah, nanti ya. Lagi kenyang,” jawab salah satu temannya.
Yang lain hanya mencicipi sedikit. Ada yang tidak menyentuh sama sekali.
Bahkan ada yang terus terang bilang lebih suka salad buah di café yang sedang populer.
Senyum Adisti tetap ada. Tapi dadanya terasa kosong.
Aneh, pikirnya. Kenapa hal sekecil ini terasa begitu mengganggu?
_______
Hal kecil lainnya datang tanpa diundang.
Suatu hari, kurir datang terburu-buru. Sepatunya menginjak lantai teras yang baru saja dipel.
Adisti berdiri diam, menatap jejak kaki itu.
Kesal.
Bukan kesal biasa. Tapi seperti ada sesuatu yang diremas di dalam dadanya.
Padahal ia tahu, kurir itu mungkin kepanasan. Mungkin dikejar waktu.
Tapi tetap saja.
Kenapa ini terasa begitu besar?
________
Di dapur, ia memasak lebih sering dari yang ia butuhkan.
Suatu pagi, ia membuat rolade ayam. Damar menyukainya.
Ia memasak dengan teliti. Mengukur bumbu. Menata makanan di meja.
Tapi ketika Damar keluar dari kamar, ponselnya berdering.
“Aku harus cepat ke kantor,” katanya.
Ia hanya mengambil sedikit nasi. Satu potong rolade.
“Maaf ya,” ucapnya sambil buru-buru.
Pintu tertutup.
Adisti berdiri di depan meja makan.
Makanan masih hangat.
Tapi rasanya seperti tidak ada yang tersisa.
_________
Bekal makan siang pun sering kembali utuh.
“Diajak makan bareng atasan,” kata Damar suatu malam.
Adisti mengangguk.
Ia mengerti.
Tapi tetap saja… ada yang terasa hilang.
Jarak yang Tidak Terlihat
Damar semakin sibuk.
Kariernya naik. Lingkungannya semakin luas. Ia bertemu banyak orang—penulis, kolega, atasan.
Adisti tetap di rumah.
Topik pembicaraan mereka mulai berbeda.
Adisti bercerita tentang anak, tentang rumah, tentang hal-hal kecil yang ia alami sepanjang hari.
Damar mendengarkan. Tapi tidak lama.
“Maaf, aku angkat telepon dulu ya.”
Atau tangannya beralih ke ponsel.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena tidak lagi nyambung.
________
Suatu malam, mereka mencoba makan di luar.
Anak mereka dititipkan sebentar ke orang tua Adisti.
Restoran itu tenang. Lampunya hangat.
Kesempatan untuk dekat lagi.
“Aku tadi…” Adisti memulai cerita.
Ponsel Damar bergetar.
“Sebentar ya,” katanya.
Ia mengangkat telepon. Suaranya berubah—lebih hidup, lebih bersemangat.
Adisti diam.
Ia menatap gelas di depannya.
Ia merasa… sendirian di depan suaminya sendiri.
_________
Ada satu hal lagi yang ia tidak pernah akui dengan lantang.
Kecurigaan.
Bukan karena bukti.
Tapi karena jarak.
Ia pernah bertanya dengan nada yang tidak ia kenali dari dirinya sendiri.
Saat makan malam berikutnya.
“Kamu dekat sama siapa di kantor?”
Damar menatapnya lama.
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya jujur.
“Kalau gitu, ada siapa-siapa?” Adisti semakin menaruh curiga.
Damar terdiam.
Lalu memasang wajah tidak nyaman.
Istrinya menanyakan hal seperti ini di tempat umum. Rencana makan malam mereka terasa berantakan.
Namun, sesungguhnya Adisti bukan tanpa alasan.
Ia pernah mendengar candaan teman-teman Damar yang begitu mengganggu.
“Awas loh, sekarang penulis banyak yang muda. Cantik lagi.” Brian yang terkenal suka ceplas-ceplos mengatakan itu dengan ringan sambil tertawa.
Candaan semacam itu terasa sangat menusuk bagi Adisti yang semakin berbeda dunia dengan Damar.
Sejak jarak itu semakin terasa, ada beragam kecemasan hinggap tanpa permisi.
Titik yang Tidak Bisa Diabaikan
Hari-hari berjalan seperti itu.
Lalu Adisti hamil lagi.
Kabar yang seharusnya membahagiakan itu justru membuatnya diam begitu lama.
Ia tahu artinya.
Lebih sibuk.
Lebih lelah.
Lebih jauh dari dirinya sendiri.
Ia mulai murung.
Lebih sering diam. Lebih sering merasa kosong tanpa alasan yang jelas.
Damar memperhatikan.
“Kamu kenapa?” tanyanya suatu malam.
Adisti menggeleng.
Tapi air matanya jatuh.
“Aku capek,” katanya pelan. “Tapi bukan capek yang bisa hilang dengan tidur.”
Mereka duduk lama malam itu.
Tanpa defensif. Tanpa menyalahkan.
“Aku takut,” kata Damar akhirnya. “Takut anak kita diasuh orang lain.”
“Aku juga,” jawab Adisti.
“Tapi aku lebih takut kehilangan kamu seperti ini.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Kembali Menemukan Diri
Setelah banyak pertimbangan, mereka mengambil keputusan yang dulu terasa tidak mungkin.
Mereka mempekerjakan pengasuh.
Dengan hati-hati. Dengan pengawasan. Dengan segala upaya untuk tetap menjaga anak mereka.
Adisti kembali bekerja.
Bukan di tempat lama, tapi di penerbit lain. Gajinya tidak besar. Tapi lumayan.
Hari pertama, ia duduk di depan naskah.
Dan ada sesuatu yang kembali menyala.
_______
Waktu tetap terasa padat.
Ia tetap lelah.
Tapi berbeda.
Lelah yang ini… punya arah.
________
Suatu siang, ia membuka bekalnya.
Potongan buah. Nasi. Lauk sederhana.
Ia menatapnya sejenak.
Rasanya tetap enak.
Tapi kali ini, bukan itu yang ia cari.
Ia makan secukupnya.
Lalu kembali ke pekerjaannya.
_______
Di rumah, anaknya berlari menyambutnya.
Ia mengangkat tubuh kecil itu, tertawa meski tubuhnya lelah.
Malam hari, ia duduk di samping tempat tidur anaknya.
“Mau cerita?” tanyanya.
Anaknya mengangguk.
Adisti mendengarkan. Lalu membalas dengan dongeng sederhana.
Dulu, hal seperti ini terasa berat.
Ia bahkan sudah lelah hanya untuk menidurkan anaknya.
Sekarang, ia menikmatinya.
______
Damar juga berubah.
Tanpa diminta, ia membantu hal-hal kecil.
Mereka mulai berbicara lagi.
Tentang pekerjaan. Tentang buku. Tentang hal-hal yang dulu pernah mereka bagi.
Suatu malam, mereka makan di luar lagi.
Tanpa ponsel di tangan.
Tanpa jeda yang canggung.
“Capek?” tanya Damar.
“Iya,” jawab Adisti jujur.
“Tapi…”
Adisti tersenyum.
“Sekarang capeknya terasa hidup.”
_____
Malam itu, sebelum tidur, Adisti membuka ponselnya lagi.
Ia melihat kalimat yang sama.
“Jangan hidup untuk makan. Makanlah agar kamu bisa hidup.”
Kali ini, ia tidak bertanya lagi.
Ia sudah tahu jawabannya.
