Penonton di Saat Luka
Dina baru saja menutup story Instagram-nya ketika notifikasi viewers muncul satu per satu.
Ia tidak langsung membuka. Sudah terbiasa. Story tentang anaknya yang sedang dirawat di rumah sakit itu cukup menguras emosi. Ia hanya ingin menenangkan diri sejenak.
Namun, seperti ada dorongan aneh, ia tetap membuka daftar penonton.
Scroll.
Scroll.
Scroll.
Dan seperti biasa—nama itu ada.
Farah.
Dina terdiam.
Bukan karena kaget. Tapi karena… terlalu sering.
Farah tidak pernah muncul ketika Dina membagikan hal-hal biasa. Foto makan di kafe. Outfit of the day. Kolaborasi brand. Bahkan saat Dina umroh tahun lalu atau beberapa minggu lalu, tidak ada nama itu di daftar viewers.
Tapi begitu Dina mengunggah sesuatu yang… berat—entah itu saat anaknya sakit, saat ia bercerita soal ditipu brand, atau bahkan ketika ia pernah menangis karena rumah tangganya goyah—Farah selalu ada.
Selalu.
Seolah-olah… menunggu.
Dina mengernyit.
“Kenapa sih?” gumamnya pelan.
Ia menutup aplikasi, tapi rasa itu tidak ikut tertutup.
Rasa tidak nyaman.
Daftar Isi
Pola yang Terlalu Jelas
Ini bukan sekali dua kali.
Dina mulai mengingat.
Saat ia pernah kena COVID-19 dan mengunggah foto termometer dengan angka tinggi—Farah menonton.
Saat ia mengeluh soal pekerjaan yang melelahkan—Farah menonton.
Saat ia menangis diam-diam di mobil dan tanpa sadar mengunggah potongan video singkat—Farah juga menonton.
Tapi saat Dina tersenyum, tertawa, atau bersinar—Farah hilang.
Seolah tidak tertarik.
Seolah… itu bukan bagian dari hidup Dina yang ingin ia lihat.
Dina mencoba menepis pikiran itu.
“Mungkin kebetulan,” pikirnya.
Tapi hati kecilnya menolak.
Karena kebetulan tidak berulang sebanyak ini.
Nama yang Membawa Ingatan
Dina meletakkan ponselnya di samping bantal.
Matanya menatap langit-langit kamar.
Farah.
Nama itu bukan orang asing.
Mereka pernah hidup bersama.
Satu kamar.
Satu ruang sempit yang menyimpan terlalu banyak versi diri yang tidak ditunjukkan ke dunia luar.
Sepuluh tahun lalu.
_____
Farah bukan teman dekat Dina.
Tidak pernah.
Tapi juga tidak bisa disebut orang asing.
Mereka satu kamar di asrama saat kuliah. Hidup 24 jam bersama. Mau tidak mau, saling mengenal.
Dan Farah… adalah tipe orang yang berbeda.
Ia logis.
Terlalu logis.
Baginya, hidup harus rapi. Terarah. Tidak boleh ada yang sia-sia.
Termasuk… perasaan.
“Pacaran itu buang waktu,” katanya suatu malam, sambil menutup buku catatannya.
Dina hanya tertawa kecil.
Sebagian karena merasa itu tak perlu ditanggapi serius.
Namun, sebagian lagi karena tahu betul bahwa ia tidak pernah mendengar ada laki-laki yang naksir Farah.
Hal yang lebih membuat Dina merasa lucu karena di sisi lain, hidup Dina jauh dari kata logis.
Ia mudah jatuh cinta.
Mudah tertarik.
Dan… mudah berpindah.
Dalam dua tahun pertama kuliah, Dina sudah beberapa kali berganti pacar. Bukan karena main-main, tapi karena ia memang mengikuti apa yang ia rasakan.
Tepatnya menyambut hampir siapapun yang menyatakan cinta.
Aneh, mungkin.
Tapi itulah dia.
Yang lebih aneh—di tengah semua itu, Dina tetap berprestasi.
Nilainya tinggi.
Aktif organisasi.
Disukai dosen sebagai mahasiswa yang berprestasi.
Dan… disukai banyak orang.
Termasuk laki-laki.
Itu yang mungkin membuat Farah tidak pernah benar-benar tenang.
Hal-hal Kecil yang Mengganggu
Farah melihat sisi Dina yang tidak dilihat orang lain.
Dina yang egois.
Dina yang suka mengambil tempat tidur paling nyaman.
Dina yang sering menolak bantuan kecil dengan alasan sepele.
Dina yang keras kepala saat berdebat, bahkan untuk hal yang tidak penting.
Dan… Dina yang kadang berbohong.
Bukan kebohongan besar.
Tapi cukup untuk membuat Farah mencatatnya dalam diam.
Seperti saat Dina bilang tasnya penuh ketika temannya minta dibawakan barang, padahal tasnya masih kosong.
Atau saat ia mengaku sudah belajar padahal belum.
Hal-hal kecil.
Tapi menumpuk.
Menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.
Benci?
Iri?
Atau… sesuatu yang lebih rumit?
Kejadian yang Tidak Masuk Akal
Dina masih ingat satu kejadian.
Putra.
Teman laki-laki mereka.
Sore itu di kelas, Putra bercanda seperti biasa.
“Dina, nanti nikah sama aku aja ya,” katanya sambil tertawa.
“Kamu boleh pacaran sama siapa aja, tapi nikahnya sama aku.” Lanjut Putra.
Dina hanya menimpali santai. “Lihat nanti deh, kalau kamu udah jadi direktur Pertamina.”
Semua orang hanya tertawa dan mereka tahu itu hanya bercanda.
Putra juga sering mengatakan hal serupa ke perempuan lain.
Tidak ada yang menganggap serius.
Termasuk Dina.
Ia bahkan sudah lupa beberapa jam kemudian.
Tapi malamnya, di kamar asrama, Farah tiba-tiba bicara.
“Dina, kamu tahu kan Putra itu cuma bercanda?”
Dina mengernyit.
“Yang mana?”
“Yang tadi di kelas.”
Dina saling pandang dengan teman lain.
“Oh… yang itu?”
Farah mengangguk, wajahnya serius.
“Jangan terlalu dipikirin.”
Dina hampir tertawa.
“Aku juga nggak mikirin, Farah.”
Tapi Farah tidak terlihat lega.
Justru… seperti masih memikirkan sesuatu.
Sejak saat itu, Dina mulai merasa aneh.
Kenapa Farah lebih sibuk dengan hal yang bahkan tidak ia anggap penting?
Di Depan Banyak Orang
Setelah lulus, mereka masuk ke dunia masing-masing.
Sibuk dengan hidup baru.
Namun, satu hal yang masih tersisa—grup alumni kelas.
Di sana, semua orang saling berbagi kabar.
“Teman-teman, sekarang aku udah buka butik. Do’anya ya. Jangan lupa dilarisin.” Tulisa Intan.
“Alhamdulillah keterima PNS.” Putra bahkan bicara cukup serius kali ini.
“Aku masih cari kerja nih, doain ya.”
Entah siapa lagi selanjutnya yang membagikan pencapaiannya.
Kebanyakan bukan saling pamer atau membandingkan.
Justru saling mendukung.
Saling menguatkan.
Bahkan, mungkin saling mencari peluang.
Hingga giliran Dina.
“Guys, aku baru tembus 100 ribu followers.”
Responnya ramai.
“Wah keren!”
“Hebat, Din!”
“Semangat terus!” Putra juga hadir, tanpa candaan aneh seperti dulu.
Dina tersenyum membaca itu.
Sampai satu pesan muncul.
Dari Farah.
“Jadi konten kreator itu harus jujur ya, Din. Jangan sampe bohong. Dan jaga penampilan juga… sekarang kan sudah punya pasangan.”
Sunyi.
Sejenak, grup itu seperti kehilangan suara.
Dina membaca ulang kalimat itu.
Dadanya terasa hangat.
Bukan karena senang.
Tapi karena… tepat.
Dan menyakitkan.
Ia tahu, Farah tidak sepenuhnya salah.
Tapi cara itu—
Di depan semua orang.
Tanpa jeda.
Tanpa empati.
Dina tidak membalas.
Sejak saat itu, ia mulai menjauh.
Kembali ke Sekarang
Dina membuka lagi daftar viewers story.
Nama itu masih di sana.
Farah.
Tiba-tiba, semuanya terasa jelas.
Seperti potongan puzzle yang akhirnya menyatu.
Farah bukan sekadar menonton.
Ia… memilih.
Memilih kapan harus hadir.
Memilih apa yang ingin dilihat.
Dan yang ia pilih—
Selalu luka.
_______
Dina duduk diam.
Tangannya menggenggam ponsel lebih erat.
Ia mengingat Farah di masa lalu.
Cara ia mengamati.
Cara ia mengkritik.
Cara ia tidak pernah benar-benar hadir sebagai teman… tapi selalu ada untuk menilai.
Dan sekarang—
Cara ia menonton.
Bukan karena peduli.
Bukan karena ingin membantu.
Tapi karena… ada sesuatu yang ia dapatkan dari sana.
Perasaan lega?
Perbandingan?
Atau… pembenaran?
Bahwa hidup Dina tidak seindah yang terlihat.
Bahwa pilihan Dina tidak selalu benar.
Bahwa akhirnya… Dina juga jatuh.
Dina menelan ludah.
Ada rasa kesal yang perlahan naik.
Tapi juga… ada sesuatu yang lain.
Kesadaran.
Bukan Lagi untuk Semua Orang
Malam itu, Dina membuka arsip story.
Satu per satu.
Ia melihat dirinya sendiri—versi yang terlalu mudah terbuka.
Terlalu mudah membagikan luka.
Tanpa sadar… memberikan ruang bagi orang-orang seperti Farah untuk menonton.
Menilai.
Mungkin… menikmati.
Dina menarik napas panjang.
Lalu mulai menghapus.
Satu per satu.
Bukan karena ia ingin menyembunyikan hidupnya.
Tapi karena… tidak semua orang pantas melihat bagian rapuhnya.
Termasuk Farah.
___________
Keesokan harinya, Dina tetap membuat story.
Seperti biasa.
Tentang pekerjaan.
Tentang brand.
Tentang hal-hal ringan.
Hari itu, tidak ada cerita tentang luka.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada kesedihan.
Dan benar saja —
Nama Farah tidak muncul.
Dina tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum … mengerti.
____________
Dina tidak pernah tahu pasti apa yang ada di dalam diri Farah.
Iri.
Benci.
Atau sekadar… membandingkan hidupnya sendiri.
Tapi satu hal yang pasti—
Farah mungkin bukan satu-satunya.
Bahwa di balik setiap layar, selalu ada penonton.
Tidak semua datang untuk mendukung.
Sebagian hanya menunggu.
Menunggu kamu jatuh.
Agar mereka bisa merasa… lebih baik.
Dina mematikan ponselnya.
Kini, ia merasa sedikit lebih tenang.
Bukan karena hidupnya sempurna.
Tapi karena ia memilih…
tidak lagi menjadikan lukanya sebagai tontonan.
