5 Penggalan Kisah Sehari-hari yang Mengajarkan untuk Lebih Banyak Take Action

Kali ini saya ingin bercerita tentang lima penggalan kisah sehari-hari yang mengajarkan saya dan mungkin kita untuk lebih banyak mengambil tindakan atau take action, alih-alih terus berkutat dalam pikiran dan perasaan.

Sebenarnya, tulisan ini bukan ajakan untuk mengesampingkan proses berpikir atau menyepelekan perasaan. Berpikir itu penting, begitu juga dengan merasakan sesuatu. Saya sendiri termasuk orang yang cenderung overthinking dan overfeeling. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertemu dengan banyak orang yang punya karakter berbeda-beda, saya belajar bahwa ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari pikiran dan perasaan yang berlarut-larut, lalu mulai melakukan sesuatu.

Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada apakah kita terlalu banyak berpikir atau terlalu dalam merasakan sesuatu. Yang perlu kita lihat adalah ke mana semua itu membawa kita. Apakah kita menjadi lebih paham dan menemukan solusi, atau justru semakin lelah sendiri? Kalau ternyata lebih banyak merugikan, mungkin sudah waktunya kita mencoba cara lain.

Saya tidak akan memberikan tips-tips khusus di sini. Saya hanya ingin berbagi lima kisah yang membuat saya belajar tentang hal tersebut. Siapa tahu, ada satu atau dua cerita yang relate dengan pengalaman teman-teman.

1. Tinggal Lakuin Aja

Saya pernah mengikuti pelatihan SEO bersama seorang mentor. Ia sudah berkeluarga, punya anak yang masih batita, dan menangani kebutuhan SEO untuk beberapa bisnis sekaligus. Kesibukannya tentu tidak sedikit.

Suatu ketika, saya melihat statusnya yang kurang lebih berbunyi, “Tinggal dilakuin aja.”

SW itu muncul setelah ia beberapa kali menghadapi peserta di grup WhatsApp yang terlalu banyak membicarakan kekhawatiran sebelum mulai mengerjakan sesuatu. Ada yang memikirkan pembagian waktu, urusan keluarga, kesibukan, dan berbagai kendala lainnya.

Semua keluhan, curhat, pertanyaan, berulang dan membuat grup terasa sangat ramai. Bahkan, ada yang tiba-tiba menjadi pendukung emosional satu sama lain. Namun, hal itu membuat fungsi grup yang ditujukan untuk pelatihan SEO menjadi terganggu.

Banyak brief, arahan, dan sebagainya tenggelam.

Saya tidak ingat persis bagaimana percakapan lengkapnya. Namun, kalimat di status WA coach itu cukup membekas buat saya.

Kadang, kita memang punya banyak alasan untuk mengeluhkan berbagai kendala. Mau mulai sesuatu, tetapi memikirkan kemungkinan gagal. Mau mencoba, tetapi sibuk membayangkan betapa repotnya proses yang akan dijalani. Akhirnya, yang bertambah justru daftar kekhawatiran, sementara pekerjaannya belum juga dimulai.

Saya memahami perasaan itu karena saya pun sering mengalaminya. Memikirkan banyak hal sebelum bertindak memang terasa seperti sedang mempersiapkan diri. Padahal, tidak semua hal bisa kita jawab hanya dengan berpikir.

Ada hal-hal yang baru akan jelas setelah kita mencobanya.

Tentu saja, bukan berarti semua persoalan bisa diselesaikan dengan asal bertindak. Kita tetap perlu mempertimbangkan risiko dan kemampuan diri. Namun, ketika yang kita lakukan hanya mengulang kekhawatiran yang sama, mungkin memang sudah waktunya “tinggal lakuin aja.”

Mengapa coach ini menjadi semacam role model bagi sayadalam bertindak? Karena di ranah pekerjaan praktis, mengambil langkah dan banyak take action itu membuat seseoang melangkah lebih cepat dibandingkan orang-orang yang banyak berkutat dalam wacana, atau bahkan dalam konflik yang tidak perlu.

Coach SEO ini menurut saya punya banyak peran sekaligus, lebih muda dari saya, tapi pekerjaan dan pencapaiannya jauh lebih besar. Sementara, dalam sikap sehari-hari tidak begitu banyak bicara, kecuali jika itu penting dan membutuhkan solusi.

2. Teman yang Rumit

Saya pernah tinggal sekamar kost dengan seorang teman perempuan yang, dari pengamatan saya, cukup rumit dalam menghadapi beberapa persoalan sehari-hari.

Ini bukan termasuk gibah ya, karena saya tidak menyebutkan identitas orangnya. Entah yang sekost, kontrakan, mondok, atau kerabat yang pernah tinggal bareng. Pokoknya anggap saja teman satu kost. Hehe.

Ada kalanya ia menginginkan sesuatu, tetapi tidak menyampaikannya secara langsung. Sebagai gantinya, muncul sindiran atau ucapan yang membuat orang lain (tidak hanya saya) harus menebak-nebak apa yang sebenarnya ia rasakan.

Misalnya saat saya pinjam laptopnya dan lupa tidak saya kembalikan langsung setelah dipakai, ia akan menyindir bahwa “ada orang yang minjem barang tapi gak peka ngembaliin.”

Kadang saya tak sengaja mendorong pintu kamar dan menabrak dia yang posisi sedang shalat. Dia hanya diam saja dengan wajah masam, meskipun saya sudah meminta maaf. Lalu beberapa jam kemudian menelepon pacarnya dan curhat di depan saya bahwa ia gak betah tinggal di kost dengan orang yang ceroboh.

Saya tentu tidak tahu seluruh isi pikirannya. Bisa jadi ada hal-hal yang membuatnya sulit berbicara secara langsung. Saya juga tidak bisa memastikan bagaimana ia memandang situasi yang kami hadapi sehari-hari.

Namun, pengalaman tinggal bersama tersebut membuat saya menyadari bahwa terkadang, persoalan sederhana bisa terasa semakin rumit ketika kita lebih banyak menebak, menilai, berpikir, merasa secara berlebihan, daripada bertanya langsung atau berbicara langsung. Karena apa? Karena saya juga ikut merasakan suasana berat secara emosional, alih-alih kita bisa melalui segalanya dengan ringan atau bahkan canda tawa.

Ketika merasa tidak nyaman dengan tindakan seseorang, kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk menilai orang lain, atau memilih berkutat memikirkan maksud di balik tindakannya. Kita menafsirkan perkataan, mengingat kejadian sebelumnya, lalu menyusun berbagai kemungkinan di kepala. Lalu, keluar dalam sikap dan perkataan yang kurang menyenangkan.

Padahal, ada hal yang sebenarnya bisa dibicarakan secara langsung.

Tentu, berbicara terus terang tidak selalu mudah. Ada situasi ketika kita perlu mempertimbangkan waktu, cara menyampaikan sesuatu, bahkan kemungkinan bahwa orang lain belum siap mendengarkan. Namun, jika komunikasi memang memungkinkan, menyampaikan kebutuhan atau perasaan dengan jelas bisa menjadi langkah yang lebih membantu daripada terus membiarkan asumsi berkembang. Lalu, semua prasangka dan penilaian itu menjadi beban secara emosional.

3. “Mintalah Sesuatu Padaku”

Kisah ketiga ini berasal dari cerita kerabat laki-laki saya yang sering mengeluhkan tentang persoalan rumah tangganya.

Dari cerita yang saya dengar, ia merasa hubungannya dengan istri kerap diwarnai konflik yang melibatkan emosional dan wacana yang memang belum terbukti nyata. Persoalan itu berulang dan, menurut pengakuannya, cukup banyak menguras waktu serta pikiran.

Misalnya, keluhan istri yang terus-menerus tentang sikap suami yang kadang ramah kepada perempuan lain, sikap keluarga suami, konflik dengan tetangga, dengan teman, dan sebagainya. Semua itu sering melibatkan suaminya dengan dalih teman cerita atau bahkan menjadi sasaran konflik itu sendiri.

Kadang sang istri berlarut-larut membahas sikap adik iparnya yang tidak menyenangkan. Padahal sikap itu bisa saja hanya salah paham atau sudah wataknya adik ipar yang memang sebenarnya masih bisa dimaklumi.

Ada satu kalimat yang menarik perhatian saya. Kurang lebih, ia mengatakan kepada istrinya, “Mintalah sesuatu padaku. Tak apa jika harus smartphone mahal, misalnya iPhone atau tas mahal gitu. Lebih baik dimintai sesuatu yang mendorongku daripada menyita emosi dan pikiran untuk hal yang sama dan terus berulang.”

Bagi saya, ucapan itu itu menarik karena seolah menunjukkan bahwa sang suami lebih memilih dituntut untuk tidakan nyata yang menantang alih-alih terlibat konflik emosional yang berat.

Fyi, saya hanya mendengar cerita dari satu pihak. Saya tidak mengetahui keseluruhan persoalan mereka, apa yang dirasakan istrinya, atau apakah ada pengalaman sebelumnya yang membuat konflik emosional dan berupa wacana selalu muncul. Karena itu, saya tidak ingin menyimpulkan siapa yang benar atau salah.

Yang saya pikirkan justru soal bagaimana sebuah persoalan bisa terus menghabiskan energi ketika tidak kunjung menemukan jalan keluar. Meskipun itu tampak seperti konflik sehari-hari yang lumrah.

Dalam hubungan apa pun, perasaan perlu didengarkan. Rasa cemburu, kecewa, khawatir, atau tidak aman tidak serta-merta hilang hanya karena seseorang diminta berhenti merasakannya. Akan tetapi, setelah perasaan itu dikenali, bukankah kita juga perlu mencari tahu apa yang bisa dilakukan?

Apakah ada batasan yang perlu disepakati? Apakah ada kebiasaan yang perlu diperbaiki? Apakah ada komunikasi yang selama ini belum berjalan dengan baik?

Pertanyaan semacam itu mungkin lebih membantu daripada terus berkutat pada persoalan emosional yang sama dan berulang.

4. Tinggal Daftar Aja

Cerita keempat ini datang dari pengalaman saya sendiri ketika bergabung dengan beberapa komunitas blogger. Anggotanya beragam sekali. Ada yang bekerja di dunia offline dan menjadikan blog sebagai pekerjaan sampingan. Ada yang benar-benar menjadi full-time blogger seperti saya waktu itu. Ada pula yang sudah melanglang buana, menerbitkan banyak buku, menjadi dosen, menangani berbagai proyek SEO, sampai mengisi acara sebagai pemateri, baik secara online maupun offline.

Sementara itu, saya sendiri bukan blogger dengan pencapaian yang terlalu istimewa. Blog saya berjalan seperti biasa, dengan berbagai keterbatasannya. Namun, dari interaksi di komunitas, saya menyadari bahwa setiap orang memang punya perjalanan yang berbeda. Ada yang sudah jauh melangkah, ada juga yang masih merintis dan mencari pijakan.

Nah, yang menarik perhatian saya justru obrolan di grup WhatsApp dengan beberapa teman blogger yang saat itu masih merintis. Saya tidak tahu persis bagaimana kesibukan mereka di luar dunia blogging. Saya hanya melihat apa yang mereka ceritakan di grup, termasuk ketika mereka merasa belum punya banyak pengalaman, belum punya relasi, atau menganggap diri sendiri masih anak bawang.

Sampai suatu ketika, saya memutuskan untuk mengikuti acara SEO Conference atau SEOCON secara offline di Jakarta. Kalau tidak salah ingat, biaya yang saya keluarkan saat itu sekitar dua juta rupiah. Saya berangkat bersama seorang rekan blogger.

Sepulang dari acara itu, tentu saja yang saya dapatkan bukan cuma ilmu. Ada pengalaman bertemu langsung dengan orang-orang yang sebelumnya mungkin hanya saya kenal lewat internet, kesempatan memperluas relasi, dan berbagai hal menarik lainnya. Bahkan, saya ingat ada bingkisan berupa donat gratis dari pemilik bisnis donat yang terlibat dalam acara tersebut. Ada pula beberapa kesempatan yang muncul setelahnya, entah berupa pekerjaan maupun peluang lain yang detailnya sekarang sudah tidak terlalu saya ingat.

Pengalaman itu kemudian saya ceritakan di grup blogger. Mentor kami, yang saat itu tidak ikut menghadiri acara, juga sempat bertanya tentang pengalaman saya di sana. Saya pun bercerita tentang apa yang saya dapatkan, siapa saja yang ditemui, dan berbagai hal menarik selama mengikuti acara tersebut.

Dari obrolan itulah saya melihat respons yang cukup beragam. Ada yang berkomentar, “Wah, hebat banget, Mbak Iim. Kok bisa ikut acara itu?”

Ada juga yang kurang lebih mengatakan bahwa mereka tidak tahu informasi tentang acara seperti itu karena masih anak bawang. Sebagian lainnya merasa masih cupu, belum punya cukup pengalaman, atau belum mengenal banyak orang di dunia blogging.

Saya tidak mengingat setiap kalimatnya secara persis. Namun, kesan yang saya tangkap waktu itu adalah adanya teman-teman yang merasa tertinggal dibandingkan blogger lain.

Padahal, seingat saya, informasi tentang SEOCON cukup mudah ditemukan. Pengumumannya beredar melalui email, termasuk email pemasaran dari layanan yang berkaitan dengan dunia website dan hosting. Informasinya juga muncul di media sosial. Jadi, kesempatan untuk mengetahui acara tersebut sebenarnya tidak hanya dimiliki oleh segelintir blogger.

Tentu, mengetahui informasi dan bisa menghadiri acara adalah dua hal berbeda. Ada yang terkendala biaya, waktu, pekerjaan, keluarga, atau berbagai pertimbangan lainnya. Saya memahami itu karena keputusan mengikuti acara di luar kota juga bukan keputusan kecil. Dua juta rupiah tetaplah uang yang perlu dipertimbangkan baik-baik.

Namun, di luar kendala-kendala tersebut, saya juga melihat bahwa terkadang kita terlalu cepat memberi label pada diri sendiri. Merasa masih anak bawang, merasa cupu, merasa belum punya relasi, lalu menganggap kesempatan seperti itu belum pantas untuk kita ambil.

Waktu itu, saya tidak punya jawaban panjang untuk teman-teman yang menyampaikan perasaan seperti itu. Saya juga tidak mungkin menularkan pengalaman saya begitu saja kepada mereka. Pengalaman setiap orang tentu berbeda, dan saya pun bukan blogger dengan pencapaian yang luar biasa.

Yang bisa saya katakan kurang lebih sederhana, kalau tahun depan ada acara serupa, silakan daftar saja. Kalau ada informasi acara lain, nanti bisa saya bagikan juga.

Jawaban itu terdengar sederhana, ya? Namun, dalam praktiknya, saya menyadari bahwa membagikan informasi saja belum tentu membuat orang mengambil kesempatan tersebut. Ketika ada acara lain, ada yang antusias mencari tahu lebih lanjut, ada yang masih mempertimbangkan banyak hal, dan ada pula yang akhirnya tidak mendaftar.

Sekali lagi, saya tidak ingin menyalahkan mereka. Setiap orang punya keadaan, prioritas, dan kemampuan yang berbeda. Saya juga tidak menganggap bahwa semua orang harus mengikuti konferensi atau mengeluarkan uang untuk mendapatkan pengalaman. Ada banyak cara lain untuk belajar dan berkembang.

Hanya saja, pengalaman ini membuat saya berpikir tentang betapa berharganya sebuah tindakan.

Saya bisa saja terus merasa belum cukup hebat untuk menghadiri konferensi, merasa tidak punya relasi, atau berpikir bahwa acara semacam itu hanya cocok untuk blogger yang sudah terkenal. Namun, jika saya terus memelihara pikiran seperti itu tanpa mencoba mencari tahu atau mendaftar, mungkin saya tidak akan mendapatkan pengalaman yang sama.

Sebaliknya, saya juga tidak menganggap semua pencapaian saya berasal dari keputusan-keputusan besar. Ada banyak hal yang saya dapatkan justru karena mencoba mengambil kesempatan yang kebetulan tersedia di depan mata. Dan tentu saja, ada pula kesempatan lain yang mungkin terlewatkan karena saya tidak mengambilnya.

Dari situ, saya belajar bahwa kita tidak harus menunggu sampai merasa cukup hebat untuk mulai mencoba. Kita boleh mengakui bahwa pengalaman kita masih sedikit, kemampuan kita masih terbatas, atau relasi kita belum luas. Namun, pengakuan itu tidak harus menjadi alasan untuk terus menunda langkah.

5. Konflik dalam Cerita Paman Arif

Ada satu pengalaman lain yang membuat saya cukup lama memikirkan hubungan antara ingatan, ucapan, dan perasaan.

Saya memiliki seorang kerabat berusia sekitar 60-an tahun. Dalam tulisan ini, saya menyebutnya Paman Arif, tentu bukan nama sebenarnya.

Dari interaksi saya dengannya, saya sering mendengar cerita tentang berbagai persoalan yang ia alami dengan anggota keluarga lain. Ada cerita tentang saudara kandung, ipar, mertua, bahkan ayahnya sendiri.

Namun, sebagian besar konflik itu saya ketahui dari ceritanya. Saya tidak menyaksikannya secara langsung. Ketika berkunjung ke rumah saudara yang lain, saya justru sering melihat mereka saling menyapa, bercanda, membantu, dan berbicara dengan akrab.

Saya tentu tidak bisa menyimpulkan bahwa tidak pernah ada masalah di antara mereka. Orang bisa saja terlihat ramah ketika bertemu, tetapi masih menyimpan perasaan tertentu. Saya juga tidak mengetahui bagaimana masing-masing pihak memahami kejadian yang sama.

Hanya saja, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Beberapa persoalan yang diceritakan Paman Arif tampaknya terus hidup dalam percakapannya, bahkan setelah kejadian itu berlalu cukup lama.

Salah satu contohnya berkaitan dengan Bibi Ani, nama samaran untuk kerabat lainnya.

Suatu ketika, Bibi Ani bercerita dengan bangga bahwa anaknya berhasil menjadi bagian dari regu yang meraih juara bulu tangkis di sekolah. Paman Arif kemudian mempertanyakan apakah prestasi itu benar-benar prestasi anaknya sendiri atau prestasi satu regu. Ia juga mengatakan bahwa yang lebih patut dibanggakan adalah kemampuan mengaji, bukan olahraga.

Kebetulan, anak Paman Arif juga memiliki prestasi, misalnya dalam lomba cerdas cermat ilmu agama di tingkat kecamatan. Paman Arif merasa prestasi yang berkaitan dengan ilmu agama lebih penting karena berhubungan dengan kehidupan akhirat.

Bibi Ani menanggapi bahwa prestasi apa pun patut dibanggakan karena anak-anak sudah berusaha dan bekerja keras.

Dari cerita yang saya dengar, percakapan itu tampaknya tidak berlanjut menjadi pertengkaran besar. Bibi Ani cenderung berbicara secara blak-blakan dan tidak terlalu suka berdebat panjang. Saya menangkap bahwa ia mungkin hanya ingin mengakhiri perdebatan tersebut, bukan sedang meremehkan ilmu agama atau menyamakan semua hal tanpa pertimbangan.

Tentu itu hanya penafsiran saya. Saya tidak tahu persis apa yang ada dalam pikiran Bibi Ani ketika itu.

Yang saya ketahui, beberapa waktu kemudian, ketika Paman Arif sakit, Bibi Ani tetap datang menjenguk dan membawa bingkisan. Ketika bertemu, hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Mereka bisa berinteraksi dengan ramah.

Namun, setelah Bibi Ani pulang, Paman Arif kembali membicarakan percakapan sebelumnya. Ia masih mempertanyakan mengapa Bibi Ani mengatakan bahwa prestasi olahraga dan prestasi agama sama-sama patut dibanggakan.

Bahkan, cerita tentang kejadian yang sudah berlalu satu hingga tiga tahun sebelumnya masih bisa muncul lagi dalam percakapan sehari-hari Paman Arif. Bukan hanya tentang Bibi Ani, tetapi juga tentang kerabat lain.

Istri Paman Arif pernah menegurnya karena terus membahas hal-hal yang sudah berlalu. Ia mengingatkan bahwa orang lain mungkin sudah menjalani kesibukannya masing-masing dan tidak lagi memikirkan kejadian tersebut.

Paman Arif kemudian menjelaskan bahwa ia hanya bercerita, hanya menumpahkan unek-unek, bukan berarti dendam atau tidak memaafkan.

Saya bisa memahami bahwa bercerita memang menjadi salah satu cara manusia mengolah pengalaman. Ada kalanya kita perlu menceritakan kembali sesuatu agar perasaan lebih lega atau agar bisa melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Namun, saya mulai memikirkan satu hal. Meskipun kita menyebutnya hanya bercerita, bukankah sesuatu yang terus-menerus kita bicarakan akan kembali mengisi pikiran kita?

Ketika Paman Arif menceritakan kembali kejadian yang membuatnya kesal, ia seolah-olah sedang membuka kembali ingatan tentang kejadian tersebut. Ia kembali membicarakan ucapan orang lain, menafsirkan maksudnya, lalu menghubungkannya dengan persoalan lain.

Setelah percakapan itu, saya kadang melihat suasana hatinya masih kurang baik. Bahkan, ketika kemudian diminta membantu memperbaiki lampu, ia masih terlihat marah-marah.

Saya tidak tahu apakah seluruh perubahan suasana hatinya disebabkan oleh percakapan tersebut. Ada banyak hal yang mungkin memengaruhi seseorang, terlebih ketika kondisi fisiknya juga sedang tidak baik.

Akan tetapi, pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa apa yang kita ucapkan tidak selalu berhenti sebagai ucapan. Hal yang terus kita ceritakan dapat memengaruhi apa yang kita pikirkan, bagaimana kita merasa, dan bagaimana kita memandang orang yang sedang kita bicarakan.

Kita mungkin merasa sedang mengingat masa lalu. Namun, setiap kali cerita itu diulang, kita juga memberi ruang lagi bagi perasaan dan penafsiran yang menyertainya.

Saya kemudian membayangkan bagaimana jika dua jam yang digunakan untuk membicarakan konflik lama dialihkan untuk membicarakan hal lain. Misalnya, peluang usaha, pengalaman baru, atau sesuatu yang menambah pengetahuan.

Apakah hasilnya akan sama? Tentu belum tentu.

Membicarakan persoalan lama mungkin memberi rasa lega untuk sementara. Namun, jika percakapan itu terus berulang tanpa menghasilkan pemahaman baru atau langkah yang bisa dilakukan, kita perlu bertanya lagi, apa manfaatnya bagi diri kita?

Apakah kita menjadi lebih tenang? Apakah hubungan menjadi lebih baik? Apakah ada persoalan yang akhirnya terselesaikan?

Jika jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya kita mencoba mengalihkan perhatian.

Bukan berarti kita harus memaksa diri melupakan semua pengalaman buruk. Bukan pula berarti kita tidak boleh mengeluh atau menceritakan sesuatu yang menyakitkan. Saya hanya merasa bahwa pikiran dan tenaga kita terlalu berharga jika terus digunakan untuk memutar ulang kejadian yang tidak lagi bisa kita ubah.

Terlebih, orang yang kita bicarakan mungkin sedang menjalani kehidupannya sendiri. Ia mungkin tidak sedang memikirkan kejadian yang sama, atau mungkin memiliki penafsiran yang berbeda tentang apa yang terjadi.

Kita tidak pernah benar-benar tahu.

Karena itu, saya merasa perlu membedakan antara mengingat untuk memahami dan mengingat untuk terus mempertahankan persoalan itu dalam pikiran.

Ada cerita yang memang perlu dibicarakan berulang kali karena kita sedang berusaha memahami pengalaman yang rumit. Ada pula persoalan yang membutuhkan bantuan, dukungan, atau penyelesaian yang tidak bisa dilakukan sendirian.

Namun, ada juga saatnya kita perlu mengakui bahwa membicarakan sesuatu berkali-kali tidak selalu membuat kita semakin dekat dengan penyelesaian.

Jangan sampai kita terlalu lama tinggal di dalam wacana tentang sesuatu, sementara kehidupan yang sedang berlangsung justru terlewatkan.

Kapan kita perlu berhenti berpikir dan mulai bertindak?

Dari lima kisah di atas, saya tidak sedang menyimpulkan bahwa terlalu banyak berpikir itu buruk atau orang yang perasaannya kuat akan sulit menyelesaikan masalah.

Kita mengenal banyak pemikir besar seperti Plato dan Aristoteles yang menghabiskan waktu untuk merenungkan berbagai persoalan. Penulis, penyair, seniman, dan banyak orang lain juga menggunakan pikiran serta perasaan mereka untuk menghasilkan karya yang bermakna.

Berpikir dan merasa adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Kita membutuhkannya untuk memahami diri sendiri, mengambil keputusan, menciptakan sesuatu, dan mempertimbangkan dampak tindakan kita terhadap orang lain.

Namun, kehidupan sehari-hari tidak selalu membutuhkan perenungan panjang. Ada persoalan yang justru lebih mudah dipahami setelah kita mencoba menghadapinya secara langsung.

Buat saya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar apakah kita terlalu banyak berpikir atau terlalu dalam merasakan sesuatu, melainkan apakah proses itu masih membawa manfaat atau justru mulai merugikan diri sendiri?

Kalau setelah berpikir kita menjadi lebih paham, silakan lanjutkan. Kalau setelah merasakan sesuatu kita bisa mengenali kebutuhan dan memperbaiki hubungan, itu juga baik. Tetapi, jika kita terus mengulang kekhawatiran yang sama tanpa menemukan pemahaman baru, atau terus membawa konflik lama tanpa tahu apa yang ingin diselesaikan, mungkin sudah waktunya mengambil jeda.

Bukan untuk memaksa diri berhenti merasa. Bukan pula untuk mengabaikan persoalan yang memang membutuhkan waktu dan bantuan. Kita hanya perlu mempertimbangkan apakah ada tindakan yang lebih bermanfaat untuk dilakukan saat ini.

Mungkin tindakannya sederhana. Mulai mengerjakan sesuatu yang selama ini ditunda, berbicara secara terbuka, meminta bantuan, mencari informasi, mendaftar kesempatan yang tersedia, atau memutuskan untuk tidak terus mengulang persoalan yang sama.

Bagi saya, mengambil tindakan juga bisa menjadi salah satu bentuk menyayangi diri sendiri. Kita tidak harus terus-menerus menghabiskan energi untuk memikirkan hal yang sama jika ada langkah yang bisa membantu kita bergerak maju.

Tentu, setiap orang punya kondisi dan batas kemampuan yang berbeda. Tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan keberanian untuk bertindak. Ada kalanya kita perlu beristirahat, meminta dukungan, atau memberi waktu kepada diri sendiri.

Namun, ketika kita sudah cukup mempertimbangkan sesuatu dan menyadari bahwa pikiran serta perasaan kita justru membuat kita semakin lelah, tidak ada salahnya mencoba melangkah.

Sebab, tidak semua hal harus selesai di dalam pikiran. Ada hal-hal yang baru akan menemukan jawabannya ketika kita mulai melakukan sesuatu.

You May Also Like

Leave a Reply