Tiga Kisah Ini Mengajarkan Tentang “Respect” dalam Hubungan

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku tentang kisah hidup dan inspirasi bisnis saham Warren Buffett. Buku itu tentu saja banyak bercerita tentang kesuksesannya sebagai investor, dunia saham, bisnis, cara berpikirnya tentang uang, sampai bagaimana seorang Warren Buffett bisa membangun kekayaan yang luar biasa besar.

Tapi anehnya, bagian yang paling membuat saya berhenti membaca justru bukan soal saham.

Saya malah tertarik pada kisah hubungan Warren Buffett dengan Susan Thompson Buffett, perempuan yang menjadi istrinya selama puluhan tahun.

Mungkin karena semakin lama saya memikirkan hubungan antarmanusia, saya justru semakin merasa bahwa cinta bukan satu-satunya hal yang membuat dua orang bisa bertahan bersama.

Ada sesuatu yang menurut saya jauh lebih fundamental, yaitu respect. Respect dalam definisi populer adalah rasa hormat, penghargaan terhadap diri sendiri, maupun orang lain. Kita memandang pasangan dan diri sendiri sebagai individu yang memiliki martabat sebagai manusia dan memperlakukannya dengan empati.

Dan dari tiga kisah yang saya temui, saya semakin memahami mengapa respect bisa menjadi sesuatu yang begitu penting dalam sebuah hubungan.

1. Warren Buffett dan Susan: Ketika Hubungan Berubah Bentuk

Warren Buffett dan Susan menikah pada 1952 dan memiliki tiga orang anak. Mereka kemudian hidup terpisah sejak akhir 1970-an, tetapi tidak pernah bercerai secara hukum. Hubungan mereka memang berubah, tetapi bukan berarti berubah menjadi permusuhan. Susan bahkan menjadi orang yang memperkenalkan Warren kepada Astrid Menks, perempuan yang kemudian menjadi pasangan Warren dan akhirnya dinikahinya pada 2006.

Bagi saya, bagian ini menarik sekali.

Sebab kalau kita melihat hubungan hanya dari kacamata romantis, mungkin kita akan bertanya, “Kok bisa?”

Bukankah kalau cinta sudah tidak ada, seharusnya selesai semuanya? Maksudnya, selain perceraian, hubungan seperti komunikasi dan kepedulian umumnya juga akan selesai.

Tetapi ternyata tidak selalu begitu.

Ada hubungan yang memang tidak lagi bisa dilanjutkan dalam bentuk pernikahan. Ada dua orang yang ternyata terlalu berbeda dalam menjalani kehidupan. Ada kebutuhan, karakter, kebiasaan, dan cara hidup yang tidak lagi bisa dipertemukan.

Dari yang saya baca, Warren memiliki kebiasaan yang terlalu berbeda dengan Susan. Mulai dari rutinitasnya membaca minimal 5 jam sehari, ketika diajak berbicara oleh anak dan istrinya seolah fikirannya melayang ke tempat berbada, dan kebiasaan lainnya.

Sememtara Susan adalah perempuan sosial yang senang beramal. Kesehariannya bertemu banyak orang dan menyukai komunikasi dan sosial.

Perbedaan itulah yang membuat pernikahan keduanya tidak bisa lagi dipertahankan. Pernikahan yang seringkali membutuhkan ikatan emosional yang kuat dan kebersamaan mulai retak dengan perbedaan yang sebesar itu.

Ketika keduanya berpisah, bukan berarti salah satu dari mereka adalah orang jahat.

Kadang memang dua orang tidak cocok.

Yang menarik adalah bagaimana Susan tetap memikirkan Warren sebagai manusia yang pernah sangat dekat dengannya. Ia bahkan memperkenalkan Astrid kepadanya dan percaya bahwa Astrid bisa membantu merawat Warren.

Jadi hubungan mereka berubah bentuk.

Dari pasangan menjadi sesuatu yang lebih dekat kepada keluarga, teman, dan dua manusia yang memiliki sejarah panjang bersama.

Cinta romantis boleh berubah. Tetapi rasa hormat kepada manusia yang pernah berjalan bersama kita tidak harus ikut mati.

Susan sendiri meninggal pada 2004 setelah sebelumnya didiagnosis kanker mulut dan menjalani perawatan. Penyebab kematiannya adalah stroke. Warren tetap datang menjenguk Susan ketika ia sakit, dan hubungan kemanusiaan di antara mereka tetap ada sampai akhir hidup Susan. Bahkan diceritakan Warren merasa kehilangan dan sedih.

Hubungan seperti ini tidak berakhir karena berubah bentuk. Kasih sayang tetap ada meskipun tidak saling memiliki.

2. Habibie dan Ainun: Ketika Respect Membuat Dua Orang Tetap Terhubung

Saya kemudian teringat pada kisah Habibie dan Ainun yang pernah saya baca dalam buku Mr. Crack.

Kita tentu sering mendengar kisah mereka sebagai pasangan yang romantis. Bahkan filmya juga populer pada masanya di layar lebar. Tetapi kalau kita melihatnya lebih jauh, saya justru tertarik pada: bagaimana dua orang yang sangat sibuk tetap bisa terhubung karena mereka saling memahami dan menghormati.

Habibie memiliki dunia yang sangat besar. Dunia ilmu pengetahuan, teknologi, pekerjaan, negara, dan berbagai tanggung jawab yang membuat waktunya tidak selalu tersedia untuk keluarga.

Ainun juga bukan perempuan tanpa kehidupan dan kemampuan. Ia memiliki latar belakang pendidikan kedokteran. Namun dalam perjalanan hidup mereka, Ainun memilih mendampingi suaminya dan menjalankan peran yang menurutnya paling tepat bagi keluarganya.

Bagi saya, ini bukan soal apakah semua perempuan harus melakukan hal yang sama.

Tidak.

Setiap pasangan memiliki pilihan dan keadaan yang berbeda.

Yang saya tangkap justru adalah bagaimana mereka menemukan bentuk kehidupan yang mereka sepakati sendiri.

Ada rasa percaya.

Ada rasa aman.

Bahkan Ainun menceritakan tentang kapan harus berbicara kepada suaminya, kapan harus memberi ruang, kapan memberikan nasihat, dan kapan cukup hadir tanpa banyak kata.

Ada hal yang mungkin sering kita lupakan.

Komunikasi itu penting, tetapi komunikasi tanpa respect bisa kehilangan makna.

Pernah ada juga yang menyebutkan bahwa: “Kunci langgengnya pernikahan bukan komunikasi, tapi respect.”

Bayangkan seseorang memberikan nasihat kepada pasangannya, tetapi di dalam hati sudah tidak ada penghargaan sama sekali. Nasihat itu mungkin benar, tetapi sulit diterima.

Sebaliknya, ketika seseorang masih menghormati pasangannya, bahkan kalimat sederhana bisa terasa sangat berarti.

Karena yang didengar bukan hanya kata-katanya.

Tetapi juga karakter orang yang mengucapkannya.

Itulah mengapa menurut saya respect memiliki hubungan yang sangat dekat dengan rasa aman.

Respect itu memang dibentuk dalam jangka panjang. Dari sikap yang baik, menjaga ucapan saat marah, terus memperbaiki diri.

Memang tidak ada hubungan yang berjalan mulus. Pasti ada bentrok, perbedaan, salah paham, dan masalah yang sangat berat. Namun, selama kita merasa aman dalam berbagai kondisi, hubungan itu akan bertahan lama, bahkan sampai ajal memisahkan.

Kita tidak takut direndahkan saat memiliki kekurangan, tidak takut dihina saat melakukan kesalahan, tidak khawatir dengan kesetiaannya bahkan saat jarak memisahkan.

Mungkin inilah salah satu makna sakinah yang sering dibicarakan dalam pernikahan: bukan sekadar selalu merasa romantis, tetapi merasa aman menjadi manusia di hadapan manusia lain.

3. Kisah Serial Kinan dan Aris: Respect yang Hancur Sehingga yang Tersisa Adalah Harga Diri

Kemudian saya teringat pada Layangan Putus.

Kalau dua kisah sebelumnya membuat saya melihat bagaimana respect bisa menjaga hubungan tetap manusiawi, kisah Kinan dan Aris justru memperlihatkan apa yang terjadi ketika respect itu dihancurkan.

Kisah ini memang diambil dari sebuah serial drama. Namun, kisahnya konon diambil dari kisah nyata.

Kinan pada awalnya masih memperjuangkan keluarganya.

Ia masih memberikan kesempatan.

Bahkan ketika perselingkuhan Aris terbongkar, persoalannya tidak langsung selesai. Ada luka, kebohongan, manipulasi, dan berbagai konflik yang membuat hubungan mereka semakin rusak.

Sampai pada suatu titik, Kinan tidak lagi memperjuangkan cinta.

Dan bagi saya, ini adalah bagian paling penting dari kisah tersebut.

Ketika Lydia bertanya mengapa Kinan masih memperpanjang persoalan, Kinan pada akhirnya menegaskan bahwa yang ia perjuangkan bukan lagi cinta.

Yang ia perjuangkan adalah harga diri.

Kalimat itu terasa sangat kuat.

Karena memang ada titik ketika seseorang tidak lagi sedang memperebutkan pasangan.

Ia sedang mempertahankan dirinya sendiri.

Harga diri di sini bukan gengsi.

Bukan soal menang dari perempuan lain.

Bukan pula tentang membuat mantan pasangan menyesal.

Harga diri adalah kesadaran bahwa kita juga manusia yang layak diperlakukan dengan baik.

Dan saya kira, di sinilah respect dan harga diri bertemu.

Ketika seseorang terus berbohong, memanipulasi, mengkhianati kepercayaan, merendahkan, atau bahkan melakukan kekerasan kepada pasangannya, yang rusak bukan cuma rasa cinta.

Rasa aman ikut hilang.

Trust ikut hilang.

Respect ikut hilang.

Dan ketika semua itu sudah hilang, cinta saja sering kali tidak cukup untuk menyelamatkan sebuah hubungan.

Cinta Bisa Berubah, Tetapi Respect Seharusnya Tidak Mudah Hilang

Saya tidak sedang mengatakan bahwa cinta tidak penting.

Justru cinta adalah sesuatu yang indah.

Tetapi cinta itu urusan hati. Ia bisa tumbuh, berkurang, berubah, bahkan pada suatu masa terasa seperti tidak ada.

Dan respect pun bukan jaminan bahwa cinta akan kembali.

Tidak ada yang bisa menjamin itu.

Tetapi selama respect masih ada, setidaknya masih terdapat ruang untuk hubungan tetap sehat. Masih ada kemungkinan untuk saling memahami lagi. Masih ada kemungkinan kasih sayang tumbuh dalam bentuk yang berbeda.

Kalaupun akhirnya harus berpisah, respect bisa membuat perpisahan tidak berubah menjadi perang.

Kita mungkin tidak lagi menjadi pasangan.

Tetapi kita masih bisa menjadi dua manusia yang tidak saling menghancurkan.

Sebaliknya, ketika respect sudah benar-benar hilang, hubungan bisa menjadi tempat yang sangat melelahkan.

Manipulasi membuat kita meragukan kenyataan.

Kekerasan membuat kita kehilangan rasa aman.

Kebohongan dan pengkhianatan membuat kita tidak lagi percaya.

Dan ketika kepercayaan hilang, hati pun sulit merasa tenang.

Mungkin itu sebabnya saya sekarang melihat hubungan sedikit berbeda.

Dulu kita sering bertanya, “Masih cinta atau tidak?”

Sekarang saya justru merasa ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

“Apakah kita masih saling menghormati?”

Karena kalau jawabannya masih iya, mungkin masih ada sesuatu yang bisa dijaga.

Dan kalau suatu hari cinta berubah, setidaknya kita tidak meninggalkan luka yang membuat dua manusia yang pernah saling mencintai harus berubah menjadi musuh.

Cinta bisa berubah bentuk. Hubungan bisa berubah arah. Tetapi rasa hormat kepada manusia lain seharusnya tidak ikut hilang.

You May Also Like

Leave a Reply