Jika Sebagian Diri Kita Hilang Karena Terjebak di Satu Lingkungan
Tulisan ini sebenarnya berangkat dari sebuah asumsi pribadi. Bisa benar, bisa juga salah. Saya belum tahu apakah ada teori psikologi yang benar-benar menjelaskan pengalaman ini. Namun, belakangan saya mulai menyadari sesuatu: terkadang kita bisa melupakan sisi tertentu dari diri sendiri karena terlalu lama berada di lingkungan yang kurang cocok dengan salah satu atau beberapa bagian dari kepribadian kita.
Sebenarnya, dalam sosiologi ada yang namanya interaksi simbolik. Kebetulan saya mengajar Sosiologi Komunikasi di kampus, dan materi ini diajarkan di kelas seminggu lalu. Salah satu aspeknya yaitu kita membaca diri sendiri berdasarkan penilaian atau reaksi orang lain. Kita juga memutuskan untuk melakukan hal tertentu berdasarkan persetujuan lingkungan kita.
Misalnya, jika kita tinggal dengan orang yang terus menerus mengatakan bahwa kita pemalu, maka kita akan melabeli diri sendiri juga sebagai pemalu. Begitu juga saat kita bercanda, lalu berkali-kali orang lain merespon dengan ekpresi datar atau tidak suka, maka kita akan memilih sikap yang memang disetujui orang lain.
Nah, tulisan ini tidak sedang membahas tentang lingkungan buruk atau orang-orang toxic. Bisa saja mereka orang-orang baik, peduli, dan punya banyak pembawaan positif. Hanya saja, ada sisi tertentu dari diri kita yang ternyata tidak cocok dengan cara mereka berinteraksi.
Lalu, bagaimana kalau kita bertahun-tahun hidup di lingkungan yang sama? Apakah mungkin kita perlahan-lahan mengubah cara berperilaku, sampai akhirnya mengira bahwa sisi diri yang jarang kita tunjukkan memang bukan bagian dari diri kita?
Saya mulai memikirkan hal ini ketika menyadari bahwa saya ternyata punya karakter tententu yang hilang cukup lama, yaitu ceria, suka bercanda, senang bercerita, dan bisa tertawa lepas. Ini hanya salah satu karakter yang saya ingat saja dan hanyalah salah satu contoh, ya.
Perumpamaan Sepuluh Kepribadian
Coba bayangkan kita mempunyai sepuluh sisi kepribadian. Ini hanya perumpamaan, ya, bukan berarti manusia benar-benar mempunyai sepuluh kepribadian yang bisa dihitung seperti itu.
Anggap saja lima di antaranya merupakan sifat baik dan lima lainnya merupakan sifat buruk. Selama sepuluh tahun, misalnya, kita hidup di lingkungan yang hanya cocok dengan tiga sisi diri kita. Dua di antaranya sifat baik, sedangkan satu lainnya justru sifat yang buruk.
Boleh juga istilahnya mungkin “positif dan negatif”ya supaya tidak terlalu ekstrem, dan karena saya tidak punya latar belakang psikologi. Anggap saja istilahnya itu, untuk memudahkan.
Misalnya, lingkungan keluarga kita menyukai orang yang raji. Misalnya rajin membereskan rumah dan punya jiwa pengasuh yang tinggi. Ketika kita mengurus anak, orang-orang di sekitar merasa senang, tenang, dan terbantu. Begitu juga ketika kita rajin membersihkan rumah. Perilaku tersebut diapresiasi karena sesuai dengan harapan mereka.
Namun, ada satu sifat lain yang negatif, misalnya kita terbiasa terlalu bergantung pada bantuan orang lain. Anehnya, sifat ini justru bisa diterima karena orang-orang di sekitar kita senang membantu. Mereka bersedia menolong ketika dimintai bantuan, bahkan berkali-kali.
Artinya, sifat yang diterima lingkungan tidak selalu semuanya baik. Begitu pula sebaliknya, sifat yang tidak diterima bukan berarti semuanya buruk.
Nah, bagaimana dengan tujuh sisi lainnya? Anggap saja empat sisi yang negatif dan tiga sisi yang positif tidak mendapatkan ruang yang sama. Bukan karena semuanya buruk, melainkan karena tidak cocok dengan lingkungan tersebut. Jadi, yang positifnya kita pendam dan yang negatif juga kita pendam, atau bahkan kita perbaiki.
Mungkin kalau yang negative mendapat penolakan, bisa saja itu adalah proses kita memperbaiki diri. Misalnya, satu di antara yang negative itu karakter pemarah. Nah, orang sekitar kita tak bisa menoleransi itu. Mereka mengucilkan kita jika kita marah berlebihan atau menolak kehadiran kita. Perlahan sifat itu kita perbaiki.
Makanya, ini bukan soal lingkungan toksik ya, ini tentang ketidak cocokan tempat kita berinteraksi.
Lalu bagaimana dengan sisi karakter kita yang positif/baik? Salah satu dari tiga sisi positif yang terpendam itu, misalnya adalah sifat ceria dan humoris.
Bagaimana Jika Sebagian Karakter Positif Kita Ditolak Terus-Menerus oleh Lingkungan?
Contohnya saja dari pengalaman saya sendiri yang merasa kehilangan salah satu keceriaan dan selera humor dalam waktu yang lama.
Saat SD, saya ingat pernah mempunyai teman sebangku sekaligus teman bermain yang membuat saya merasa bebas menjadi diri sendiri. Kami bisa tertawa terbahak-bahak, bercanda, dan menikmati hal-hal sederhana tanpa terlalu memikirkan apakah perilaku kami terlihat aneh bagi orang lain.
Saat SMP, saya juga bertemu dengan teman-teman yang menerima saya dengan sangat nyaman. Kami bisa menertawakan kejadian konyol, berbagi cerita, dan bercanda. Bahkan, salah satu teman dari masa itu masih dekat dengan saya sampai sekarang. Kami sama-sama menjadi dosen.
Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa bertemu dengan orang yang cocok secara kepribadian itu menyenangkan. Bahkan, ketika kita melakukan kesalahan, mereka bisa menegur dengan cara yang membuat kita tetap merasa dihargai.
Namun, pengalaman itu tidak selalu saya temukan dalam lingkungan berikutnya.
Ada satu kejadian yang masih saya ingat. Waktu itu, saya sedang berada di tengah-tengah orang terdekat saya. Entah bagaimana awalnya, saya tiba-tiba berkomentar tentang makanan.
“Eh, tahu nggak, makanan ini enak lho kalau ditambah beberapa tetes madu.”
Bagi saya, itu hanya komentar spontan. Saya tidak sedang berusaha melucu atau mengatakan sesuatu yang luar biasa. Saya hanya ingin berbagi pendapat tentang makanan yang menurut saya enak.
Namun, respons yang saya terima justru membuat saya bingung. Lawan bicara saya saling pandang tanpa memberikan respons apa pun.
Saya pun bertanya-tanya dalam hati, memangnya saya salah bicara? Bukankah tadi saya hanya berkomentar tentang makanan?
Kejadian serupa bukan hanya sekali saya alami. Mungkin jika hanya satu kali, itu tak akan begitu membuat saya mempertanyakan diri sendiri.
Ada pula momen ketika saya bercerita secara spontan tentang sapu yang baru saya beli dari toko oranye.
“Eh, saya baru beli sapu yang bagus banget loh, lengkap sama pengkinya. Estetik juga bentuknya.”
Bagi saya, itu cerita biasa. Saya sedang membicarakan sesuatu yang baru saja saya miliki. Jelas bukan pamer, bukan menggurui, hanya cerita, karena relate dengan situasi saat itu.
Namun, saat itu ada tiga orang di sekitar saya. Dua orang tidak merespons dan menghentikan obrolan mereka, sedangkan satu orang tertawa (entah tawa jenis apa) sambil masuk ke dalam rumah.
Saya tidak tahu persis apa yang mereka pikirkan saat itu. Mungkin mereka tidak tertarik dengan topik pembicaraan saya. Mungkin juga ada hal lain yang tidak saya pahami.
Namun, ketika pengalaman seperti itu terjadi berulang kali, saya mulai mempertanyakan diri sendiri.
Apakah saya aneh? Apakah saya terlalu banyak bicara? Apakah sebaiknya saya tidak usah bercerita kalau tidak ada yang tertarik mendengarkan?
Pengalaman lainnya terjadi ketika saya mencoba membuat lelucon. Menurut saya, cerita atau kalimat yang saya sampaikan cukup lucu. Namun, orang sekitar saya justru merespons dengan ekspresi datar, atau bahkan mengabaikan.
Sekali mungkin tidak masalah. Namun, kalau berkali-kali, mengalami hal serupa, saya mulai menyimpulkan bahwa selera humor saya memang buruk. Akhirnya, saya memilih untuk tidak banyak bercanda.
Perlahan-lahan, saya lebih banyak diam dan menyendiri. Padahal, lingkungan tersebut merupakan salah satu lingkaran sosial utama yang saya miliki saat itu.
Tanpa sadar, saya membentuk kesimpulan sendiri bahwa menjadi pendiam adalah pilihan yang lebih baik.
Selera humor, topik pembicaraan, sikap spontan, ekspresi diri, itu tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat. Jika orang terdekat kita tidak memberi respon yang cocok, maka kita memilih rasa aman. Di antaranya dengan menjadi pendiam atau bahkan mengasingkan diri.
Saat Menemukan Sisi Diri yang Terpendam
Setelah melangkah ke lingkungan baru, ternyata saya membutuhkan waktu untuk kembali merasa nyaman berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, kira-kira selama satu tahun, saya masih cukup waspada.
Saya seperti terus mengamati lingkungan baru. Kalau saya berbicara begini, apakah orang lain akan menghakimi? Kalau saya bercanda seperti ini, apakah mereka akan menganggap saya aneh?
Tentu saja, saya juga bukan orang yang selalu benar. Dalam pekerjaan maupun pergaulan, saya pasti pernah melakukan kesalahan. Saya juga masih harus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun, seiring waktu, saya mulai bertemu dengan lebih banyak orang melalui pekerjaan sebagai dosen, komunitas pekerja remote, diskusi ilmiah, dan berbagai lingkungan sosial lainnya.
Tidak semuanya cocok dengan saya. Ada lingkungan yang lebih sesuai untuk berdiskusi serius. Ada yang cocok untuk urusan pekerjaan. Ada pula yang interaksinya lebih terbatas karena kesibukan atau memang tidak banyak kesamaan.
Namun, di antara beberapa lingkungan tersebut, saya menemukan orang-orang yang ternyata cocok dengan sisi diri saya yang selama ini jarang saya tunjukkan.
Saya bisa bercerita secara spontan. Saya bisa bercanda. Saya bisa tertawa dan membicarakan hal-hal sederhana tanpa terus-menerus memikirkan apakah ucapan saya terdengar aneh.
Ternyata, ada orang yang merespons cerita saya dengan antusias. Ada yang menyambut humor saya. Ada pula yang membalas candaan dengan gaya yang ternyata cocok dengan selera humor saya.
Di situ saya mulai berpikir, ternyata saya masih orang yang sama.
Saya bukan tiba-tiba berubah menjadi orang yang ceria setelah bertemu lingkungan baru. Sisi itu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Saya pernah mengalaminya saat SD dan SMP. Hanya saja, dalam lingkungan tertentu, sisi tersebut lebih sering saya pendam.
Jedanya sangat lama. Memang sih, selama SMA – sekarang juga beberapa momen saya menunjukkan sisi pribadi yang sedang saya bahas ini. Hanya saja, sesekali dan hanya dengan segelintir orang yang kebetulan cocok saja. Bukan dengan circle yang terus menerus barsama-sama dalam hitungan tahun.
Misalnya waktu SMA, hanya satu tahun dengan satu atau dua orang teman karib yang kebetulan satu kamar. Kadang pindah kamar dan rolling dengan teman lain.
Tentu, tidak semua orang harus menyukai cara saya bercanda. Saya juga tidak bisa menganggap selera humor saya pasti bagus hanya karena ada orang yang menyukainya. Begitu pula dengan orang-orang yang dulu tidak merespons cerita saya. Belum tentu mereka bermaksud merendahkan saya.
Bisa jadi memang ada perbedaan gaya komunikasi, minat, dan kepribadian.
Namun, pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa ketika lingkungan sosial kita terlalu terbatas, kita mungkin hanya mengenal sebagian kecil dari diri sendiri.
Jangan Membiarkan Satu Lingkungan Menentukan Seluruh Diri Kita
Sekarang saya membayangkan bahwa setiap lingkungan sosial mempunyai ruang yang berbeda bagi kepribadian kita.
Dalam Sosiologi Komunikasi, ada yang namanya teori dramaturgi, di mana manusia secara alamiah memiliki kemampuan adaptasi sosial.
Di keluarga, mungkin kita dikenal sebagai orang yang rajin dan suka mengurus anak. Di kampus, kita lebih banyak menunjukkan sisi profesional sebagai dosen. Di lingkungan diskusi ilmiah, kita menampilkan sisi yang suka belajar dan bertukar gagasan. Sementara itu, bersama teman tertentu, kita bisa lebih santai, banyak bercanda, dan tertawa lepas.
Tidak semua sisi diri kita harus muncul di setiap lingkungan. Ada batasan profesional, ada konteks, dan ada perilaku yang memang perlu kita evaluasi. Kita juga tetap perlu belajar menerima kritik yang masuk akal.
Namun, jangan sampai kita menyimpulkan bahwa sisi diri yang tidak mendapat respons dari satu lingkungan berarti sisi tersebut tidak layak ada.
Kalau selama bertahun-tahun kita berada dalam lingkungan yang sama, kita bisa saja menganggap penilaian orang-orang di dalamnya sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai diri sendiri. Padahal, dunia sosial jauh lebih luas daripada itu.
Karena itulah, menurut saya, kita tidak perlu ragu memperluas pergaulan.
Temukan lingkungan yang beragam, kenali orang-orang dengan pengalaman dan kepribadian berbeda, serta berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berinteraksi di luar lingkaran yang selama ini kita kenal.
Bukan berarti kita harus meninggalkan keluarga, memutus hubungan dengan orang-orang yang berbeda dari kita, atau terus mencari orang yang selalu membenarkan perilaku kita.
Maksudnya, jangan membatasi seluruh kehidupan sosial hanya pada satu lingkungan, apalagi jika kita masih memiliki kesempatan untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Hal ini juga berlaku dalam sebuah hubungan komitmen. Entah itu pernikahan atau (mungkin) pacaran.
Menurut saya, kita perlu berhati-hati ketika seseorang mulai melarang kita bergaul dengan orang lain, menjauhkan kita dari teman, keluarga besar, atau membatasi pekerjaan, hobi, serta kegiatan yang membantu kita berkembang.
Itu bukan sekadar persoalan cocok atau tidak cocok. Perilaku mengisolasi dan mengendalikan pasangan merupakan tanda hubungan yang tidak sehat. Kita tetap perlu mempunyai ruang untuk berkembang sebagai individu, tentu dengan mempertimbangkan tanggung jawab dan kesepakatan bersama.
Saya tidak bisa langsung mengatakan bahwa satu lingkungan lebih baik daripada lingkungan lainnya. Saya hanya mulai memahami bahwa setiap lingkungan mungkin mengenal sisi diri kita yang berbeda.
Ada sisi yang tumbuh di rumah, ada yang muncul ketika bekerja, dan ada pula yang baru terasa hidup ketika bertemu teman yang cocok.
…………….
Ya, itu saja. Apakah pembaca juga mengalami hal yang sama, atau malah tidak setuju? Memang sih, ini hanya dilihat dari teori interaksi simbolik. Mungkin saja banyak faktor lain yang membuat kita memendam kepribadian tertentu. Entah karena situasi karir, kesehatan, beban ekonomi, kesibukan, dan sebagainya.
