Tentang Hal-Hal yang Sulit Kita Percayai Sebelum Mengalaminya
Ada hal-hal yang terasa sulit kita percayai bukan karena mustahil terjadi, melainkan karena kita belum pernah mengalaminya sendiri. Atau mungkin, selama ini kita terlalu sering melihat hal-hal yang berbeda dari pengalaman tersebut.
Misalnya tentang pernikahan. Ketika berulang kali melihat cerita perselingkuhan, pasangan yang saling menyakiti, atau hubungan yang akhirnya kehilangan cinta, kita bisa mulai berpikir bahwa pernikahan memang seperti itu. Awalnya mungkin kita hanya melihat beberapa kasus. Lama-kelamaan, tanpa sadar, kita menganggapnya sebagai gambaran umum kehidupan.
Saya pun pernah memiliki pandangan seperti itu. Namun, beberapa pengalaman dan cerita yang saya temui membuat saya berpikir ulang. Bukan berarti saya kemudian percaya bahwa semua pernikahan akan berakhir bahagia. Saya hanya mulai menyadari bahwa mungkin ada banyak hal yang selama ini tidak masuk dalam gambaran dunia yang saya kenal.
Ketika Apa yang Sering Kita Lihat Terasa seperti Kenyataan
Dalam mata kuliah Komunikasi Massa dan Literasi Media, saya mengenal teori kultivasi atau Cultivation Theory yang dikembangkan George Gerbner dan rekan-rekannya.
Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa paparan media yang berulang dalam jangka panjang dapat memengaruhi cara seseorang memandang realitas sosial. Salah satu contoh yang sering dibahas adalah Mean World Syndrome, yaitu kecenderungan memandang dunia sebagai tempat yang lebih berbahaya daripada kenyataannya karena terlalu sering terpapar gambaran kekerasan di media.
Kalau dipikir-pikir, gagasan ini menarik untuk melihat kehidupan sehari-hari. Orang yang terus-menerus menyaksikan berita kriminal mungkin merasa bahwa bahaya ada di mana-mana. Orang yang setiap hari melihat konten humor bisa merasa kehidupan selalu penuh kelucuan. Sementara itu, seseorang yang sering melihat cerita perselingkuhan mungkin mulai menganggap bahwa kesetiaan dalam pernikahan adalah sesuatu yang langka.
Tentu saja, media bukan satu-satunya hal yang membentuk pandangan kita. Pengalaman pribadi, lingkungan pergaulan, dan cerita orang-orang terdekat juga berpengaruh. Namun, media sosial membuat kita bisa berulang kali bertemu dengan jenis cerita yang sama, bahkan ketika kita tidak sengaja mencarinya.
Algoritma platform digital dapat ikut berperan dalam proses tersebut. Konten yang kita tonton, sukai, atau tanggapi bisa memengaruhi rekomendasi konten berikutnya. Akibatnya, kita mungkin semakin sering melihat topik yang serupa. Meski begitu, tidak semua orang akan mendapatkan pola rekomendasi yang sama, dan tidak semua pandangan kita terbentuk hanya karena algoritma.
Ada juga kecenderungan manusia untuk lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Ketika sebuah cerita mendukung pandangan kita, kita mungkin merasa cerita itu masuk akal. Sebaliknya, ketika cerita tersebut bertentangan dengan keyakinan kita, kita bisa langsung meragukannya.
Saya mulai memikirkan hal ini ketika melihat betapa seringnya konten tentang perselingkuhan, hubungan tidak sehat, dan memudarnya cinta dalam pernikahan muncul di media sosial. Ada pula anggapan bahwa cinta hanya bertahan pada masa awal hubungan. Setelah itu, pasangan sekadar bertahan karena kebiasaan, kebutuhan ekonomi, anak, atau alasan praktis lainnya.
Saya tidak mengatakan bahwa cerita-cerita tersebut tidak nyata. Banyak orang memang mengalami persoalan semacam itu. Namun, apakah pengalaman-pengalaman tersebut cukup untuk menyimpulkan bahwa semua hubungan pada akhirnya akan menjadi seperti itu?
Pertanyaan itulah yang membuat saya mulai memperhatikan cerita-cerita lain yang mungkin selama ini luput dari perhatian saya.
Dua Coach SEO yang Membuat Saya Berpikir Ulang tentang Kesetiaan
Sekitar tahun 2020, saya mengenal seorang coach SEO melalui komunitas blogger. Ia masih relatif muda, pernah bekerja di perusahaan nasional, dan menjadi mentor bagi para blogger. Dari cerita yang saya dengar, penghasilannya juga sangat besar.
Oh ya dari beliau juga saya belajar etos kerja, yang salah satunya mengutamakan tindakan nyata, alih-alih banyak mengeluhkan kesulitan. Di antara penggalan ceritanya ada di tulisan sebelumnya tentang lima kisah sehari-hari yang mengajarkan tentang memilih take action.
Istrinya seorang ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan anak usia dini. Dari sudut pandang saya saat itu, pasangan ini memiliki kondisi yang cukup menarik. Sang suami sukses secara profesional dan berpenghasilan tinggi, sementara istrinya lebih banyak berfokus pada keluarga.
Terus terang, sebelum mengenalnya lebih jauh, saya punya prasangka tertentu terhadap laki-laki dengan kondisi seperti itu. Saya membayangkan bahwa laki-laki yang sukses, punya banyak uang, dan berada di lingkungan yang memungkinkan dirinya bertemu banyak perempuan mungkin akan mudah bosan dengan istrinya.
Prasangka tersebut tidak muncul begitu saja. Ada banyak cerita dan pandangan di lingkungan sekitar yang membuat saya berpikir demikian.
Suatu kali, dalam percakapan di grup, seseorang bertanya apa yang ia lakukan dengan penghasilannya yang besar. Ia menjawab dengan santai bahwa uangnya diberikan kepada istrinya. Awalnya, saya justru menganggap jawaban itu mungkin hanya cara untuk membangun citra baik.
Namun, semakin lama saya memperhatikan perilakunya, semakin sulit bagi saya untuk mempertahankan asumsi awal tersebut. Ia sering membagikan kebersamaannya dengan istri dan kedua anaknya. Cara ia berinteraksi dengan perempuan lain di komunitas pun biasa saja, dengan batas-batas yang terlihat jelas.
Ketika seseorang bertanya mengapa istrinya tidak ikut menjadi blogger, ia menjelaskan bahwa istrinya memiliki latar belakang pendidikan anak dan memilih menerapkan pengetahuannya untuk mendampingi anak-anak mereka.
Saya tidak mengetahui seluruh kehidupan pribadi mereka. Namun, dari hal-hal yang saya lihat, saya mulai menyadari bahwa laki-laki yang memiliki banyak kesempatan untuk menjalin hubungan dengan perempuan lain tidak otomatis akan memanfaatkannya.
Beberapa tahun kemudian, saya mengenal coach SEO lain. Ia tampan menurut penilaian saya, humoris, mudah bergaul, dan memiliki pengalaman profesional yang mengesankan. Ia juga bekerja dengan perusahaan-perusahaan besar dan memiliki kemampuan mengajar yang baik.
Saya kembali memiliki prasangka serupa. Dengan penampilan, karier, dan kemampuan seperti itu, saya membayangkan tentu banyak perempuan yang tertarik kepadanya. Saya bahkan sempat mengira bahwa laki-laki dengan kondisi seperti itu mungkin akan mudah tergoda untuk tidak setia.
Namun, selama mengikuti pelatihannya, ia cukup sering menyebut istrinya. Kadang-kadang ia bercerita tentang kegiatan mereka bersama, kadang pula ia menggunakan blog istrinya sebagai contoh dalam pembelajaran.
Awalnya saya menganggapnya biasa saja. Akan tetapi, ketika melihat media sosialnya, saya menemukan banyak unggahan yang menunjukkan bagaimana ia memandang istri dan keluarganya.
Ada satu tulisan yang membekas dalam ingatan saya. Ketika ayah mertuanya meninggal, ia menyampaikan niat untuk menjaga dan merawat putri dari almarhum, yaitu istrinya, sebagai sebuah amanah. Dalam kesempatan lain, ketika diminta menuliskan siapa orang terpenting dalam hidupnya, ia menyebut istrinya dan menceritakan dukungan serta pengorbanan sang istri selama perjalanan karier mereka.
Sekali lagi, saya tidak tahu seluruh isi rumah tangga kedua coach tersebut. Saya juga tidak bisa memastikan bahwa mereka tidak pernah menghadapi masalah. Namun, pengalaman mengenal mereka membuat saya mempertanyakan prasangka sendiri.
Ternyata, kesempatan untuk tidak setia tidak sama dengan keinginan untuk melakukannya. Penampilan, kekayaan, dan keberhasilan karier juga tidak otomatis menentukan bagaimana seseorang memperlakukan pasangannya.
Mungkin selama ini saya terlalu mudah menghubungkan kesuksesan seorang laki-laki dengan kemungkinan bahwa ia akan bosan terhadap istrinya. Padahal, ada hal lain yang juga menentukan pilihan seseorang, termasuk nilai yang dipegangnya, cara ia memandang komitmen, dan bagaimana ia membangun hubungan.
Dosen Senior yang Memercayai Suaminya Seribu Persen
Saya pernah mengenal seorang dosen senior perempuan di kampus. Usianya sekitar lima puluh tahun lebih. Dalam sebuah percakapan, ia mengatakan bahwa dirinya memercayai suaminya seribu persen.
Bagi sebagian orang, ungkapan seperti itu mungkin terdengar terlalu naif. Apalagi jika kita terbiasa mendengar bahwa laki-laki, sebaik dan secantik apa pun istrinya, pada akhirnya akan tertarik kepada perempuan lain.
Saya juga pernah mendengar seorang dosen laki-laki mengemukakan pandangan yang kurang lebih demikian. Menurutnya, laki-laki akan tetap tertarik kepada perempuan lain, bahkan ketika istrinya cantik dan seksi.
Dosen perempuan yang senior tadi memiliki pandangan berbeda. Ia menjelaskan bahwa pernikahan seharusnya dijalani sebagai ibadah. Jika seseorang hanya mengejar kesenangan, ia akan selalu menemukan sesuatu yang dianggap lebih menarik. Akan selalu ada orang yang lebih cantik, lebih tampan, lebih kaya, atau memiliki kelebihan lain.
Namun, jika pernikahan dipandang sebagai ibadah yang dijalani bersama, seseorang memiliki alasan yang lebih dalam untuk mempertahankan komitmennya. Pasangan bukan lagi sekadar orang yang harus memenuhi semua keinginan, melainkan seseorang yang diajak menjalani kehidupan dengan tujuan bersama.
Saya melihat dosen senior itu sebagai orang yang menjalankan agamanya dengan baik. Bisa jadi, nilai-nilai yang ia pegang ikut memengaruhi cara pandangnya terhadap pernikahan. Namun, saya tentu tidak mengetahui seluruh alasan di balik kepercayaannya kepada sang suami.
Mungkin kepercayaan itu tumbuh dari pengalaman panjang bersama, dari kejujuran yang ia lihat selama bertahun-tahun, atau dari kecocokan karakter yang membuatnya merasa aman. Mungkin pula ada banyak hal dalam hubungan mereka yang tidak diketahui orang lain.
Saya tidak tahu jawabannya.
Yang membuat saya berpikir adalah kemungkinan bahwa ada orang yang benar-benar merasa aman dalam hubungan pernikahannya. Ia tidak terus-menerus khawatir bahwa pasangannya akan berpaling ketika bertemu perempuan lain atau ketika berada jauh darinya.
Kita mungkin terbiasa menganggap bahwa kebosanan dan ketertarikan kepada orang lain merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam pernikahan. Namun, pengalaman dosen senior itu mengingatkan saya bahwa ada orang yang menjalani hubungan dengan keyakinan berbeda.
Kepercayaan seperti itu mungkin sulit dipahami oleh orang yang belum pernah merasakannya. Akan tetapi, sulit dipahami tidak selalu berarti mustahil terjadi.
Ketika Cerita yang Berbeda Langsung Dianggap Naif
Saya juga menemukan banyak cerita di media sosial yang membuat saya berpikir tentang cara kita menilai hubungan orang lain.
Suatu kali, seorang perempuan bercerita bahwa suaminya jatuh sakit setelah ia pergi ke kampung halaman selama sekitar satu minggu. Ia merasa suaminya sakit karena terlalu merindukannya.
Sebagian orang menanggapi cerita itu dengan mengatakan bahwa sang istri terlalu percaya diri. Menurut mereka, mungkin suaminya sakit karena tidak ada yang memasak, menyiapkan sarapan, atau mengurus pekerjaan rumah.
Penjelasan tersebut tentu saja mungkin. Kita tidak bisa memastikan bahwa penyebab sakitnya adalah kerinduan kepada istri. Namun, kita juga tidak mengetahui seluruh keadaan mereka hanya dari sebuah unggahan.
Yang menarik bagi saya bukanlah membuktikan apakah sang suami benar-benar sakit karena rindu. Saya justru memikirkan mengapa penjelasan emosional seperti itu begitu mudah ditertawakan oleh sebagian orang.
Jangan-jangan, bagi mereka, hubungan yang isinya saling membutuhkan secara praktis terasa lebih masuk akal daripada hubungan yang melibatkan ikatan emosional mendalam.
Saya juga pernah melihat perdebatan tentang perempuan yang tidak bekerja dan mengandalkan penghasilan suaminya. Ada pandangan bahwa perempuan harus memiliki penghasilan sendiri agar dihormati dan tidak mudah ditinggalkan. Bahkan, ada anggapan bahwa jika seorang istri tidak mandiri secara finansial, suaminya akan lebih mudah berpaling kepada perempuan lain.
Di sisi lain, ada perempuan yang bercerita bahwa dirinya memilih berfokus pada keluarga karena merasa aman dan percaya kepada suaminya yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Pilihan seperti ini tentu tidak bisa digeneralisasi. Kemandirian finansial tetap penting untuk dipertimbangkan, dan setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Namun, saya juga tidak ingin buru-buru menganggap perempuan yang memilih mempercayai suaminya sebagai orang yang tidak realistis. Bisa jadi, ia memiliki pengalaman dan dasar kepercayaan yang tidak kita ketahui.
Cerita lain yang pernah saya temui adalah seorang kreator yang mengatakan bahwa suaminya terkadang menangis karena takut mengecewakan atau membuatnya tidak bahagia. Ada pula seorang laki-laki yang membela istrinya ketika orang-orang di media sosial menyarankan agar ia mencari perempuan lain karena istrinya dianggap tidak lagi menarik secara fisik.
Laki-laki itu menjelaskan bahwa ia mencintai istrinya, termasuk ketika tubuh sang istri berubah dan usianya bertambah. Bagi dirinya, kecantikan perempuan lain tidak serta-merta bisa menggantikan ikatan yang telah dibangun bersama istrinya.
Saya juga pernah melihat seorang kurir laki-laki yang membagikan doa agar hatinya dijaga setelah bertemu perempuan yang menarik perhatiannya saat mengantarkan paket. Ia ingin tetap menjaga kesetiaannya kepada istri dan anak-anaknya.
Cerita seperti ini mengingatkan saya bahwa tertarik secara fisik tidak selalu berarti seseorang ingin meninggalkan pasangannya. Ada perbedaan antara menyadari daya tarik seseorang, merasakan suatu ketertarikan, dan memutuskan untuk bertindak atas perasaan tersebut.
Pada akhirnya, seseorang tetap memiliki pilihan dan tanggung jawab terhadap tindakannya.
Saya tidak bisa memastikan apakah semua cerita yang beredar di media sosial sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Namun, saya juga merasa tidak adil jika setiap cerita yang bertentangan dengan pandangan kita langsung dianggap sebagai kebohongan, kepolosan, atau upaya membangun citra.
Kita boleh bersikap kritis terhadap konten media sosial tanpa harus menutup kemungkinan bahwa pengalaman orang lain memang berbeda dari pengalaman kita.
Mungkin Ada Ikatan yang Sulit Dijelaskan
Dari berbagai cerita tersebut, saya kemudian tertarik pada satu gagasan yang lebih sulit dijelaskan, yaitu tentang belahan jiwa.
Saya sesekali menemukan konten spiritual yang membahas gagasan ini. Bukan dari satu kreator tertentu, melainkan dari berbagai cerita pengalaman pribadi dan pembahasan yang menghubungkan spiritualitas dengan filsafat, psikologi, maupun perspektif lainnya.
Saya tidak sedang menganggap semua teori spiritual sebagai kebenaran. Saya juga tidak memiliki dasar untuk memastikan bahwa setiap hubungan memiliki pasangan yang telah ditentukan sebagai belahan jiwanya.
Namun, secara pribadi, saya percaya bahwa mungkin ada dua orang yang memiliki ikatan batin sangat kuat, yang dalam bahasa sederhana sering disebut belahan jiwa.
Bagi saya, gagasan ini bisa membantu menjelaskan mengapa pernikahan tidak selalu identik dengan kedekatan batin. Ada orang yang menikah karena saling tertarik, merasa sudah waktunya menikah, dijodohkan, atau memiliki tujuan tertentu. Setelah hidup bersama, mereka mungkin menemukan kecocokan, tetapi mungkin juga merasa asing satu sama lain.
Ada yang bertahan karena anak, tanggung jawab, kebutuhan ekonomi, atau pertimbangan lainnya. Ada pula yang akhirnya berpisah karena konflik, kekerasan, perselingkuhan, dan berbagai persoalan lain.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pernikahan yang bermasalah pasti bukan jodoh, apalagi bahwa perceraian merupakan bukti seseorang gagal menemukan belahan jiwanya. Kehidupan rumah tangga terlalu kompleks untuk dinilai dengan rumus sesederhana itu.
Saya hanya sedang membayangkan kemungkinan bahwa pernikahan dan ikatan batin yang mendalam bukanlah dua hal yang otomatis selalu hadir bersamaan.
Sebaliknya, ada pula kisah tentang dua orang yang merasa sangat cocok dan memiliki ikatan emosional kuat, tetapi tidak bisa menjalani kehidupan bersama. Mungkin salah satunya sudah menikah. Mungkin mereka menghadapi perbedaan agama, usia, tujuan hidup, jarak, atau keadaan lain yang membuat hubungan itu tidak mungkin diwujudkan.
Dalam kepercayaan yang saya pahami, mereka mungkin merasa memiliki kecocokan yang istimewa, tetapi tidak berjodoh dalam arti akhirnya menjalani kehidupan sebagai pasangan.
Tentu saja, perasaan yang kuat tidak otomatis membuktikan bahwa dua orang ditakdirkan bersama. Kecocokan emosional pun tidak selalu berarti hubungan tersebut dapat atau seharusnya diwujudkan. Ada batas, tanggung jawab, dan keadaan nyata yang tetap perlu dihormati.
Namun, cerita-cerita semacam itu membuat saya berpikir bahwa hubungan manusia tidak selalu bisa dijelaskan hanya dari apakah dua orang akhirnya menikah atau tidak.
Lalu, bagaimana dengan pasangan yang menikah dan ternyata memiliki ikatan batin yang sangat kuat?
Mungkin saja ada orang yang beruntung karena menemukan pasangan yang benar-benar cocok dengannya. Seseorang yang tidak mudah tergantikan, bukan karena ia paling tampan, paling cantik, paling kaya, atau paling sukses, melainkan karena hubungan yang mereka bangun memiliki makna yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh kelebihan orang lain.
Bayangkan seorang perempuan yang memiliki suami biasa saja, tidak kaya, dan tidak terlalu menonjol secara fisik. Kemudian datang laki-laki lain yang lebih tampan, lebih mapan, dan menawarkan kehidupan yang tampak lebih menjanjikan.
Kita mungkin mengira perempuan itu akan tergoda. Namun, bagaimana jika ia justru tidak tertarik untuk berpaling karena merasa telah menemukan sesuatu yang berharga dalam hubungannya sekarang?
Atau seorang laki-laki yang jauh lebih muda daripada istrinya. Orang lain mungkin menganggap bahwa suatu saat ia pasti bosan dan mencari perempuan yang lebih muda. Kemungkinan seperti itu memang ada. Namun, bukan berarti semua hubungan dengan perbedaan usia akan berakhir demikian.
Kita tidak bisa mengetahui kedalaman ikatan dua orang hanya dengan melihat penampilan, usia, status sosial, atau kondisi ekonomi mereka.
Begitu pula ketika ada pasangan yang tetap saling mencintai setelah puluhan tahun, atau ketika seseorang begitu terpukul setelah kehilangan pasangan hidupnya. Kita tidak perlu buru-buru memberikan penjelasan yang menyederhanakan pengalaman mereka. Kita memang tidak bisa memastikan apa yang terjadi dalam batin seseorang, tetapi kita juga tidak harus menganggap kedalaman perasaan manusia sebagai sesuatu yang mustahil.
Bagi saya, belahan jiwa adalah cara pribadi untuk memahami kemungkinan adanya ikatan yang terasa sangat dalam dan sulit digantikan. Saya menyadari bahwa ini merupakan kepercayaan subjektif, bukan sesuatu yang bisa saya buktikan secara ilmiah.
Namun, justru di situlah saya belajar untuk memberi ruang bagi kemungkinan yang belum sepenuhnya saya pahami.
Kita Tidak Harus Mengalami Semuanya untuk Mau Memahami
Cerita-cerita di atas tidak serta-merta membuat saya mengetahui bagaimana semua pernikahan berjalan. Saya juga tidak kemudian percaya bahwa semua orang setia, semua hubungan memiliki ikatan batin yang istimewa, atau setiap kisah romantis yang beredar di media sosial pasti benar.
Saya tetap tahu bahwa perselingkuhan terjadi. Ada orang yang menyakiti pasangannya, ada hubungan yang hanya bertahan karena kebutuhan, dan ada pula orang yang harus keluar dari pernikahan demi keselamatan dirinya.
Namun, saya mulai memahami bahwa kenyataan tidak hanya terdiri atas pengalaman yang paling sering saya lihat.
Mungkin ada pasangan yang bertahan karena tanggung jawab. Ada yang menikah kemudian merasa aman tapi tidak pernah menemukan kecocokan yang mendalam. Ada pula yang menjalani kehidupan bersama selama puluhan tahun dan tetap merasa bahwa pasangannya tidak tergantikan. Bahkan, ada yang saling mencintai tetapi tidak bisa bersama.
Kita mungkin tidak mengetahui berapa banyak orang yang mengalami setiap jenis hubungan tersebut. Cerita di media sosial juga tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan seberapa umum suatu pengalaman. Akan tetapi, keberadaan cerita yang berbeda dapat mengingatkan kita bahwa kesimpulan yang kita ambil dari lingkungan terbatas belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan.
Saya teringat kembali pada teori kultivasi yang saya pelajari. Ketika suatu gambaran terus-menerus muncul di hadapan kita, gambaran itu bisa terasa seperti realitas yang berlaku umum. Padahal, mungkin kita hanya sedang melihat satu bagian dari kehidupan yang jauh lebih luas.
Karena itu, saya ingin belajar untuk tidak langsung menolak cerita yang terasa asing bagi saya. Bukan berarti harus mempercayai semuanya, melainkan memberi kesempatan untuk memahami sebelum menyimpulkan.
Barangkali ada hal-hal yang memang sulit kita percayai karena belum pernah kita alami. Barangkali ada pengalaman yang hanya bisa dipahami dengan lebih baik setelah kita mendengar cerita orang lain, melihat konteksnya, dan menyadari bahwa kehidupan mereka tidak selalu sama dengan kehidupan kita.
Saya tidak harus mengalami sendiri semua bentuk cinta, kesetiaan, kehilangan, atau ikatan batin untuk mengakui bahwa pengalaman tersebut mungkin benar-benar bermakna bagi orang lain.
Dan mungkin, sesekali, kita perlu berhenti sejenak sebelum menyimpulkan bahwa sesuatu itu mustahil, terlalu naif, atau tidak masuk akal.
