Satu Tahun Menjadi Dosen: Bertumbuh, Belajar, dan Menemukan Ritme

Sekitar enam bulan yang lalu saya pernah menulis tentang pengalaman mengajar di semester pertama. Waktu itu saya masih sangat baru menjadi dosen. Rasanya hampir setiap minggu ada saja hal yang membuat saya berpikir, “Oh, ternyata menjadi dosen seperti ini, ya.”

Sekarang, tanpa terasa satu tahun sudah berlalu.

Kalau ada yang bertanya, “Apakah semester kedua lebih mudah?” Jawaban saya adalah iya, tetapi bukan karena semuanya menjadi mudah. Lebih tepatnya, saya mulai menemukan ritmenya.

Saya rasa, kata “ritme” memang paling cocok untuk menggambarkan semester ini.

Kalau semester pertama diisi dengan banyak rasa waspada, semester kedua justru lebih banyak diisi oleh proses menikmati peran sebagai dosen. Bukan berarti sudah tidak gugup, bukan berarti sudah merasa ahli, tetapi saya mulai tahu apa yang harus dipersiapkan, apa yang perlu dipikirkan, dan apa yang ternyata tidak perlu terlalu dipikirkan.

Mata Kuliah yang Lebih Saya Kuasai

Salah satu penyebabnya tentu karena mata kuliah yang saya ampu.

Semester ini saya mengajar dua mata kuliah untuk lima kelas. Literasi Media untuk dua kelas semester empat, lalu Dakwah Digital untuk tiga kelas semester dua.

Literasi Media sebenarnya sudah saya ajarkan pada semester sebelumnya. Jadi ketika semester genap dimulai, saya tidak lagi berada di posisi membuat semuanya dari nol. Materinya sudah ada. Presentasinya sudah ada. Tugas praktiknya pun sudah pernah saya coba. Saya tinggal membaca ulang, memperbaiki beberapa bagian yang kurang, lalu menyesuaikannya dengan kondisi kelas yang saya hadapi.

Rasanya jauh lebih ringan.

Saya baru sadar, ternyata pekerjaan yang paling melelahkan bukanlah mengajar di depan kelas. Yang melelahkan justru membangun fondasinya. Ketika fondasi itu sudah ada, semester berikutnya menjadi jauh lebih tenang.

Hal yang sama saya rasakan saat mengajar Dakwah Digital.

Kalau dipikir-pikir, saya memang bukan orang yang sehari-hari bekerja sebagai content creator media sosial. Namun, saya cukup lama berkecimpung di dunia digital marketing sebagai praktisi. Bekal itu ternyata sangat membantu ketika harus menjelaskan berbagai konsep kepada mahasiswa.

Saya juga pernah mengikuti beberapa pelatihan dan kursus yang berkaitan dengan bidang digital. Jadi, ketika harus menyusun materi, rasanya tidak terlalu asing.

Meski begitu, saya tetap belajar.

Mungkin ini salah satu hal yang saya sukai dari profesi dosen. Hampir setiap selesai mengajar, saya selalu menemukan sesuatu yang ingin diperbaiki. Kadang ada materi yang rasanya bisa dijelaskan dengan cara yang lebih sederhana. Kadang ada contoh yang ternyata kurang relevan. Kadang ada pertanyaan mahasiswa yang justru membuat saya berpikir lebih jauh.

Dari situlah saya merasa berkembang.

Kalau dibandingkan semester pertama, kondisinya memang sangat berbeda.

Waktu itu saya mengajar Filsafat Ilmu, Komunikasi Pemasaran Terpadu, dan Literasi Media.

Yang paling membuat saya bekerja keras tentu Filsafat Ilmu.

Bukan karena saya tidak menyukai filsafat. Justru saya menyukainya. Namun, latar belakang saya bukan berasal dari bidang filsafat. Mata kuliah itu memang pernah saya pelajari saat kuliah dulu, tetapi sudah bertahun-tahun tidak saya sentuh lagi.

Akibatnya, hampir setiap kali akan mengajar, saya seperti menjadi mahasiswa lagi.

Saya membaca buku lagi.

Mencatat lagi.

Membuka referensi lagi.

Bahkan sering kali saya sengaja menyediakan satu hari khusus hanya untuk belajar sebelum masuk kelas.

Begitu juga dengan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Walaupun saya memiliki pengalaman di bidang digital marketing, ternyata ketika masuk ke ranah teori komunikasi pemasaran secara akademik, saya tetap harus banyak belajar ulang.

Pada semester kedua ini, saya tidak terlalu merasa terbebani.

Saya justru lebih banyak menikmati proses mengajar dan belajar hal  baru.

Relasi Sosial dengan Mahasiswa

Hal lain yang paling saya rasakan berubah adalah hubungan saya dengan mahasiswa.

Kalau mengingat semester pertama, ternyata dulu saya tegang sekali.

Saya terlalu banyak berpikir.

Saya takut salah menjelaskan materi.

Saya takut ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab.

Saya takut mahasiswa bosan.

Saya takut kelas menjadi tidak kondusif.

Pokoknya sensor waspada saya seperti selalu menyala setiap kali masuk kelas.

Bahkan ketika ada satu atau dua mahasiswa yang mengobrol saat saya mengajar, saya bisa memikirkannya sampai pulang.

Kalau ada yang tiba-tiba nyeletuk, saya langsung bertanya-tanya dalam hati, “Apa cara mengajar saya kurang menarik, ya?”

Sekarang saya mulai melihat semuanya dengan lebih santai.

Bukan karena mahasiswa berubah.

Justru saya yang berubah.

Saya mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang terjadi di kelas harus saya anggap sebagai kesalahan saya.

Setelah satu tahun mengajar, saya mulai melihat polanya.

Di setiap kelas yang jumlah mahasiswanya sekitar empat puluh orang, hampir selalu ada satu atau dua mahasiswa yang memang lebih sulit diatur. Ada yang senang mengobrol. Ada yang suka melempar komentar spontan. Ada juga yang terlihat kurang antusias mengikuti perkuliahan.

Dulu saya menganggap semuanya sebagai cerminan dari kualitas mengajar saya.

Sekarang saya tidak lagi berpikir seperti itu.

Saya mulai memahami bahwa setiap mahasiswa datang ke kelas dengan latar belakang, karakter, dan persoalan yang berbeda-beda.

Mungkin ada yang memang sedang tidak baik-baik saja.

Mungkin ada yang memang karakternya seperti itu.

Dan tentu saja, saya tetap perlu mengevaluasi diri. Namun, saya juga belajar membedakan mana yang memang perlu saya perbaiki sebagai dosen, dan mana yang memang merupakan dinamika kelas yang tidak bisa saya kendalikan sepenuhnya.

Ada satu prinsip yang belakangan ini sering saya pegang.

Saya tidak ingin kehilangan fokus kepada puluhan mahasiswa yang benar-benar ingin belajar hanya karena terlalu sibuk memikirkan satu atau dua orang yang membuat suasana kelas kurang nyaman.

Kalau memang gangguannya sudah berlebihan, tentu perlu ditegur.

Tetapi kalau masih dalam batas yang bisa ditoleransi, saya memilih untuk tetap mengarahkan perhatian kepada mahasiswa yang antusias mengikuti perkuliahan.

Ternyata cara berpikir seperti ini membuat saya jauh lebih tenang.

Dan mungkin, memang begitulah prosesnya.

Bukan kelasnya yang menjadi lebih mudah.

Melainkan saya yang perlahan mulai menemukan ritme sebagai seorang dosen.

Belajar Lebih Profesional

Kalau ada satu hal yang benar-benar tidak saya duga selama satu tahun ini, mungkin jawabannya adalah saya ternyata juga sedang belajar menjadi seorang dosen.

Maksud saya begini.

Selama ini saya mengira menjadi dosen itu ya mengajar. Menyiapkan materi, menjelaskan di depan kelas, memberikan tugas, lalu selesai.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Yang justru paling banyak berubah adalah diri saya sendiri.

Misalnya soal cara berinteraksi dengan mahasiswa.

Ini mungkin terdengar agak personal, tetapi saya rasa tidak apa-apa saya tuliskan. Barangkali ada pembaca yang pernah mengalami hal serupa.

Saya mulai mengajar di usia 35 tahun. Sebelum itu, kehidupan saya sebenarnya cukup “tenang”. Saya lebih banyak bekerja dari rumah, mengurus keluarga, mengembangkan blog, sesekali mengikuti pelatihan atau bertemu teman-teman lama. Interaksi sosial saya tidak terlalu luas.

Akibatnya, ketika kembali ke lingkungan kampus, saya seperti membawa lagi kebiasaan saya saat masih menjadi mahasiswa.

Dulu, saya memang terbiasa berteman dengan siapa saja. Baik perempuan maupun laki-laki. Saya tidak pernah merasa ada batas yang terlalu kaku. Kalau sedang berdiskusi ya berdiskusi, kalau bercanda ya bercanda. Semuanya terasa biasa saja.

Nah, ternyata ketika posisi saya berubah menjadi dosen, kebiasaan itu tidak bisa dibawa begitu saja.

Saya baru menyadarinya beberapa waktu kemudian.

Bukan karena ada sesuatu yang salah dengan bersikap ramah. Justru saya ingin tetap menjadi dosen yang mudah diajak berdiskusi. Namun saya mulai memahami bahwa ada batas profesional yang perlu dijaga.

Saya tidak lagi sedang berbicara dengan teman sekelas.

Saya sedang berinteraksi dengan mahasiswa.

Perannya sudah berbeda.

Dan ketika perannya berubah, cara berkomunikasinya pun perlu ikut berubah.

Lucunya, saya benar-benar lupa akan hal itu di awal-awal mengajar.

Baru setelah beberapa bulan saya mulai berpikir, “Oh iya ya… sekarang saya bukan mahasiswa lagi.”

Pelajaran itu ternyata membawa perubahan yang cukup besar.

Saya mulai belajar menjaga jarak yang sehat. Tetap ramah, tetap bisa bercanda seperlunya, tetapi tidak lagi terlalu kasual.

Menariknya, justru setelah itu suasana kelas menjadi lebih nyaman.

Mahasiswa tetap bisa berdiskusi dengan santai, tetapi profesionalisme sebagai dosen juga tetap terjaga.

Saya rasa, menjadi profesional bukan berarti menjadi kaku. Justru kita sedang belajar menempatkan diri sesuai dengan peran yang sedang dijalani.

Kesempatan Terus Belajar yang Saya Syukuri

Kalau ditanya, apa hadiah terbesar yang saya dapatkan selama mengajar?

Jawaban saya bukan gaji.

Bukan juga hanya pengalaman mengajar.

Tetapi kesempatan untuk terus belajar.

Saya benar-benar baru merasakan bahwa mengajar itu membuat ilmu kita bertambah.

Semakin sering menjelaskan sesuatu, semakin terasa banyak bagian yang ternyata belum kita pahami sedalam yang kita kira.

Literasi Media membuat saya terus mengikuti perkembangan media digital.

Filsafat Ilmu membuat saya kembali membuka buku-buku yang sudah lama tersimpan di rak.

Sementara Dakwah Digital membawa saya masuk ke dunia yang sama sekali tidak saya sangka.

Awalnya saya hanya ingin menyiapkan materi kuliah.

Lama-kelamaan algoritma media sosial saya berubah.

Beranda saya dipenuhi konten tentang dakwah, strategi konten, AI, storytelling, sampai berbagai gaya komunikasi di media sosial.

Saya jadi ikut belajar.

Dan saya menikmati proses itu.

Yang paling menyenangkan adalah ketika mahasiswa mulai mengerjakan proyek akhir.

Saya sengaja memberi mereka kebebasan memilih bentuk dakwah digital yang sesuai dengan karakter masing-masing.

Kalau ada yang percaya diri berbicara di depan kamera, silakan.

Kalau lebih nyaman menjadi kreator faceless, juga silakan.

Kalau ingin membuat carousel, boleh.

Kalau ingin membuat video dengan footage dan voice over, juga tidak masalah.

Bahkan kalau ingin memanfaatkan AI untuk membantu proses produksinya, saya justru mendukung selama digunakan secara bijak.

Saya ingin mereka memahami satu hal.

Dakwah digital itu tidak harus seragam.

Setiap orang bisa menemukan caranya sendiri.

Dan ternyata…

Ucapan itu justru kembali kepada diri saya sendiri.

Saya ikut bertanya, “Kalau saya sendiri harus berdakwah melalui media digital, bentuk yang paling cocok itu seperti apa?”

Saya mencoba beberapa kemungkinan.

Talking head?

Sepertinya bukan saya.

Voice over?

Masih terasa kurang nyaman.

Membuat video dengan footage?

Saya juga belum terlalu menikmatinya.

Sampai akhirnya saya menemukan satu bentuk yang rasanya paling sesuai dengan diri saya.

Menggabungkan AI, visual, dan storytelling.

Dari situlah perlahan lahir proyek kecil yang sekarang sedang saya kerjakan, yaitu konten bertema Cerita Peradaban Islam.

Awalnya saya mengajar mata kuliah Dakwah Digital agar mahasiswa belajar membuat konten.

Ternyata, yang akhirnya menemukan bentuk dakwah digitalnya justru saya sendiri.

Mungkin memang begitu ya.

Kadang ketika kita mengajarkan ilmu kepada orang lain, justru ilmu itu memberikan hadiahnya untuk kita sendiri.

Merelakan Dinamika Sosial

Pelajaran lain yang saya syukuri datang dari lingkungan kampus.

Saya memang bukan tipe orang yang pandai membangun relasi. Namun, bukan berarti tidak suka berteman.

Hanya saja saya bukan orang yang dengan mudah datang ke sana-sini untuk berkenalan.

Saya lebih menikmati hubungan yang tumbuh secara alami.

Kalau sering bertemu, sering mengobrol, lalu akhirnya akrab, saya justru lebih nyaman seperti itu.

Semester pertama, saya masih sering berharap bisa kembali dekat dengan teman-teman lama.

Teman kuliah, teman sekolah, atau orang-orang yang sudah saya kenal bertahun-tahun yang sama-sama mengabdi di kampus yang sama.

Namun perlahan saya sadar bahwa semua orang sekarang sudah berada di fase kehidupan yang berbeda.

Ada yang sibuk mengurus keluarga.

Ada yang sedang melanjutkan studi.

Ada yang memiliki tanggung jawab pekerjaan yang jauh lebih besar.

Dan itu wajar.

Saya tidak perlu memaksakan semuanya kembali seperti dulu.

Justru di semester kedua ini saya bertemu beberapa rekan dosen baru yang ternyata sangat menyenangkan diajak mengobrol ataupun diskusi seputar akademik.  

Ada yang obrolannya nyambung sekali sampai kami tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam.

Dari situ saya belajar satu hal.

Kadang kita terlalu sibuk melihat ke belakang, sampai lupa bahwa kehidupan masih terus mempertemukan kita dengan orang-orang baru yang juga membawa kebaikan.

Dan mungkin, memang setiap fase kehidupan sudah memiliki teman seperjalanannya masing-masing.

Masa Transisi Karir yang Cukup Berat

Kalau boleh jujur, semester kedua ini juga menjadi semester yang cukup menguras pikiran saya. Bukan karena mengajarnya, tetapi karena saya sedang berada di masa transisi.

Pekerjaan di Bidang Digital

Selama kurang lebih enam tahun terakhir, saya bekerja di dunia website dan pekerjaan content placement. Dunia itulah yang menghidupi saya. Dari sanalah saya belajar menulis, belajar SEO, belajar digital marketing, sampai akhirnya bisa bekerja dari rumah.

Namun seperti dunia digital pada umumnya, perubahan datang sangat cepat.

Beberapa jenis pekerjaan yang dulu menjadi sumber penghasilan utama perlahan mulai berkurang. Saya rasa banyak orang yang bergerak di bidang digital juga merasakan perubahan ini.

Fokus ke Karir Akademik di Luar Jam Mengajar

Di saat yang sama, saya justru sedang semakin serius menekuni dunia akademik.

Kalau dilihat dari jam mengajar, sebenarnya mengajar tidak terlalu banyak menyita waktu saya.

Saya hanya datang ke kampus sesuai jadwal, mengajar, lalu pulang. Hanya 2 hari seminggu, dengan jadwal dipadatkan.

Kalau dihitung-hitung, mungkin memang tidak sebanyak pekerjaan penuh waktu.

Tetapi ternyata perhatian dan fokus yang dibutuhkan jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan.

Di luar jam mengajar, pikiran saya tetap berada di dunia akademik.

Saya mulai memperbarui pemahaman tentang Filsafat Ilmu agar kalau suatu hari kembali mendapat amanah mengajar mata kuliah itu, saya tidak perlu mengulang semuanya dari awal.

Saya mulai mengikuti komunitas ilmiah yang rutin berdiskusi dua minggu sekali. Artinya, saya juga harus menyediakan waktu untuk membaca lebih banyak lagi untuk menyiapkan diskusi itu.

Saya mulai membangun portofolio baru di bidang Dakwah Digital.

Saya mulai menata kembali arah pengembangan diri sebagai seorang akademisi.

Kalau dipikir-pikir, ternyata menjadi dosen bukan hanya soal berdiri di depan kelas.

Ada proses panjang yang berjalan di belakang layar.

Saya menikmati proses itu.

Masalahnya, perhatian saya banyak tercurah ke sana, sementara kehidupan tetap berjalan.

Peran dalam Keluarga

Saya tetap seorang ibu dan istri yang punya tanggungjawab.

Saya tetap mengurus rumah, memperhatikan pendidikan anak-anak, dan memastikan setiap harinya kebutuhan dasar tercukupi.

Memasak, berbelanja ke pasar, mencuci, bersih-bersih, dan sebagainya.

Di sisi lain, saya juga perlu memikirkan keberlanjutan karier saya di luar dunia akademik.

Di sinilah saya merasa sedang berada di sebuah persimpangan.

Sebagai dosen luar biasa (LB), saya belum memiliki kepastian karier jangka panjang.

Saya juga menyadari bahwa dunia pendidikan, setidaknya dari pengalaman saya sejauh ini, belum memberikan penghargaan finansial yang sebanding dengan energi dan tanggung jawab yang dicurahkan.

Saya sengaja tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang itu.

Bukan karena tidak penting, tetapi karena saya lebih tertarik melihatnya sebagai bagian dari realitas yang memang sedang saya jalani.

Saya percaya masih banyak dosen lain yang memiliki cerita serupa.

Yang justru lebih sering saya pikirkan adalah bagaimana tetap bisa menjalani profesi yang saya cintai, tanpa mengabaikan tanggung jawab saya kepada keluarga.

Memang benar, dalam keluarga, nafkah adalah tanggung jawab suami.

Namun ketika saya memilih untuk membangun karier, menginvestasikan waktu, tenaga, dan pikiran ke dalamnya, saya juga ingin karier itu menjadi salah satu bentuk kontribusi saya bagi keluarga.

Rasanya tidak adil, jika waktu, tenaga, dan segalanya saya bagi di luar rumah, tapi hasilnya untuk diri sendiri.

Bagi saya, itu adalah bentuk tanggung jawab.

Kelelahan Memulai dari Bawah Lagi

Bagi saya, aktualisasi diri dan mandiri secara finansial adalah harga mati. Ada pengalaman panjang yang membuat saya tidak mempan dengan berbagai statement “tugas istri adalah di rumah”, “perempuan tidak wajib mencari nafkah”.

Jika berhenti, itu seperti berhenti mengayuh sepeda. Saya akan jatuh.

Karena itulah, di tengah kesibukan mengajar, saya juga terus belajar keterampilan baru.

Saya membaca lagi.

Belajar lagi.

Mencoba lagi.

Kadang rasanya melelahkan.

Jujur saja, ada momen ketika saya berpikir, “Kenapa harus mulai dari bawah lagi?”

Beberapa tahun lalu saya merasa sudah cukup mapan di dunia blog dan website.

Sekarang saya kembali belajar banyak hal yang baru.

Namun setelah dipikir-pikir lagi, bukankah memang seperti itu cara dunia bekerja sekarang?

Hampir tidak ada bidang yang bisa membuat kita berhenti belajar.

Begitu kita merasa cukup, perubahan datang.

Begitu kita merasa sudah nyaman, teknologi terus bergerak tanpa kita sadari.

Kalau kita berhenti mengikuti perkembangannya, kita sendiri yang akan tertinggal.

Saya jadi teringat sebuah perumpamaan sederhana.

Mengayuh sepeda memang melelahkan.

Tetapi berhenti mengayuh justru membuat kita kehilangan keseimbangan.

Mungkin hidup juga seperti itu.

Bukan berarti kita harus berlari terus tanpa istirahat.

Namun kita perlu tetap bergerak.

Walaupun pelan.

Walaupun kadang masih bingung arahnya.

Yang penting tidak berhenti belajar.

Mensykuri Profesi yang Saya Cita-citakan

Dari catatan selama satu tahun ini, ada beberapa hal yang saya dapat.

Pertama, saya ternyata benar-benar menyukai karir mengajar.

Kalau ditanya apakah mengajar adalah passion saya, jawabannya iya.

Ada kepuasan batin yang sulit dijelaskan ketika berada di dalam kelas. Meskipun, ya tahulah, penghargaan terhadap tenaga pengajar saat ini sedang kurang.

Tentu saja, saya berharap suatu hari nanti profesi pendidik mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan yang semakin baik.

Bukankah akan lebih membahagiakan jika seseorang bisa menjalankan pekerjaan yang dicintainya sekaligus memperoleh penghargaan yang layak?

Namun, kalau hari itu belum datang, saya memilih untuk tetap bersyukur.

Karena tidak semua orang memiliki kesempatan berdiri di depan kelas.

Tidak semua orang diberi jalan untuk menjalani cita-cita yang pernah diimpikan sejak kecil.

Saya masih ingat, sejak duduk di bangku sekolah dasar saya sudah memiliki keinginan menjadi “guru besar”. Itu saya sebutkan hanya untuk melukiskan pekerjaan pengajar di atas guru.

Waktu itu saya belum tahu bahwa istilah untuk profesi itu adalah “dosen” dan seperti apa kehidupan seorang dosen.

Saya hanya tahu bahwa saya senang belajar dan senang menjelaskan sesuatu kepada orang lain.

Bertahun-tahun kemudian, ternyata saya benar-benar berada di posisi itu.

Kalau mengingat perjalanan tersebut, rasanya saya sedang melihat doa masa kecil yang perlahan menemukan jalannya sendiri.

Semoga saya tidak pernah kehilangan rasa syukur itu.

Semoga saya tetap diberi kesempatan untuk terus belajar, menjaga profesionalisme, dan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Saya datang ke kampus dengan niat mengajar.

Tetapi setiap kali pulang, saya selalu merasa menjadi pribadi yang sedikit lebih bertumbuh daripada ketika saya datang.

Dan mungkin, itulah hadiah berharga dari profesi ini.

You May Also Like

2 Comments

  1. Fanny Nila Agustus 3, 2026 at 5:29 pm

    Waaah aku jadi tahu ada istilah Dosen luar biasa, apa ini maksudnya dosen tidak tetap mba?
    Selalu salut dengan teman2 yg berprofesi sebagai dosen. Karena buatku mereka pintar banget ☺️. Apalagi kebanyakan Dosen lulusan S3 kan. Beberapa temenku yang dosen , sambil mengajar mereka juga lanjut S3. Minimal pendidikan nya S2 lah. Jadi buatku yg cuma S1, kadang ada rasa segan untuk mengobrol 😅😅. Merasa jauuuh level knowledge nya. Tp untung temen2ku yg dosen, pada baik, dan kalau ngobrol pas reuni, at least masih nyambung 😅.

    Bener ya mba, jadi dosen itu, kita cuma mengajar mahasiswa, tapi juga belajar lagi. Menguasai materinya. Sama aja kita ikut belajar ❤️. Semoga dimudahkan urusan pengajaran dan pembelajaran nya. Kalau masalah penghargaan finansial, aku makluuum banget, negara ini belum bisa memberi lebih.
    Tapi tanpa jasa dari guru dan dosen, siapa lagi yang akan mencerdaskan anak2 di negara ini.
    Semoga setidaknya, menjadi amal jariyah untuk para guru dan dosen ❤️❤️. Berharap suatu hari nanti Indonesia mendapat pemimpin yg mau fokus pada pendidikan termasuk kesejahteraan para pengajar nya

    1. Iim Rohimah Agustus 4, 2026 at 4:12 pm

      Amiin ya Allah. Memang harapannya, bisa mengajar dengan fokus sekaligus dapat reward yang layak ya mbak.

Leave a Reply