Hari Terakhir Grey
Ini adalah kali pertama saya menangisi kepergian seekor kucing.
Padahal Grey bukan kucing yang saya pelihara sejak kecil. Ia bahkan bukan kucing yang sengaja saya adopsi. Kalau dihitung-hitung, mungkin ia baru beberapa minggu tinggal di rumah saya. Datangnya pun tanpa diundang. Suatu hari ia muncul begitu saja di depan rumah, lalu masuk ruang tamu seperti kucing yang sedang mencari makan atau mungkin mencari tempat untuk singgah.
Saya tidak pernah benar-benar tahu asal-usulnya.
Apakah ia tersesat? Apakah ia dibuang pemiliknya? Atau memang sudah lama hidup berpindah-pindah? Saya tidak tahu.
Yang saya tahu, saat pertama kali melihatnya, bulunya yang abu-abu sudah tampak kusut. Di bagian tengkuknya ada bagian yang mulai botak. Tubuhnya juga tidak sebersih kucing rumahan pada umumnya. Namun, meski kondisinya seperti itu, Grey tetap terlihat sangat lucu.
Bulunya lebat berwarna abu-abu, matanya kuning dengan sedikit semburat jingga, dan wajahnya benar-benar seperti boneka. Ia bukan tipe kucing kampung yang sejak kecil terbiasa hidup liar. Dari perilakunya saja saya bisa menebak, Grey pasti pernah hidup cukup lama bersama seorang pemilik yang memanjakannya.
Lalu ia mulai sering datang ke rumah.
Saya memberinya makan. Kadang mengelus kepalanya. Lama-kelamaan ia juga mulai tidur di dapur atau di teras rumah. Bukan karena saya berniat memeliharanya, tetapi karena rumah saya memang sering menjadi tempat singgah kucing-kucing yang datang entah dari mana.
Selama ini memang begitu.
Saya terbiasa memberi makan kucing yang mampir, tetapi tidak pernah sampai benar-benar memeliharanya.
Grey Terluka
Sore hari, Selasa, 7 Juli 2026 semuanya berubah.
Sekitar pukul tiga sore saya sedang duduk di depan laptop, menginput nilai mahasiswa. Anak bungsu saya beberapa kali berkata bahwa ada warna merah di depan rumah.
Saya tidak terlalu menghiraukannya.
Saya mengira itu hanya cat atau pilox.
Baru setelah anak saya berkali-kali mengatakan hal yang sama, saya keluar rumah.
Yang saya lihat bukan cat.
Darah.
Darah itu sudah menggenang di depan rumah. Bahkan ada sebagian yang mulai membeku. Bekasnya memanjang hingga ke teras.
Saat mengikuti jejak darah itu, saya menemukan Grey bersembunyi di bawah bangku kayu.
Luka di paha kirinya sangat besar. Darah masih terus keluar. Bau amisnya memenuhi udara. Saya bahkan melihat ia sudah mengeluarkan kotoran, mungkin karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
Saat itu saya benar-benar tidak menyangka lukanya separah itu.
Saya memindahkannya ke dalam kardus agar tidak pergi ke mana-mana. Saya membersihkan darah di teras terlebih dahulu, lalu membersihkan tubuh dan lukanya dengan air hangat. Setelah itu saya menyelimutinya dengan handuk dan memberinya minum.
Ia masih mau minum.
Tetapi ia sudah tidak mau makan.
Kalau dipikir-pikir sekarang, bagian inilah yang terus berputar di kepala saya.
Seandainya saya langsung membawanya ke dokter hewan tanpa berpikir macam-macam.
Seandainya saya tidak membersihkan teras lebih dulu.
Seandainya saya tidak mengira lukanya hanya sobekan biasa.
Saya tahu penyesalan memang selalu datang belakangan. Tetapi tetap saja, pikiran itu terus muncul.
Ketika Dokter Mengatakan Kondisinya Kritis
Setelah salat Asar, saya akhirnya membawa Grey ke dokter hewan bersama anak sulung saya.
Kami membawanya dengan kardus dan karung karena memang saya tidak memiliki carrier khusus kucing. Saya memang bukan orang yang terbiasa memelihara kucing secara serius.
Di ruang pemeriksaan, saya baru tahu bahwa kondisi Grey jauh lebih parah daripada yang saya bayangkan.
Dokter mengatakan luka itu sangat dalam. Ototnya sudah putus. Kaki kirinya sudah tidak bereaksi. Ekornya juga tidak bergerak. Suhu tubuhnya sudah turun menjadi 36,1 derajat Celsius, di bawah suhu normal kucing. Lidahnya pun sudah pucat.
“Kalau bisa bertahan sampai besok saja, itu sudah hebat,” kata dokter.
Saya langsung terdiam.
Barulah saya mengerti bahwa ini bukan sekadar luka sobek.
Dokter menjelaskan kemungkinan tindakan yang harus dilakukan. Grey harus distabilkan terlebih dahulu, masuk ICU, diinfus, mungkin dirontgen, bahkan kemungkinan besar kakinya harus diamputasi.
Saya meminta waktu sebentar untuk melakukan tindakan lanjutan itu. Sambil dokter memeriksa dan membersihkan lukanya.
Tetapi sejak sore itu saya belajar satu hal.
Saya ingin menjadi orang yang mampu.
Bukan karena ingin hidup mewah, tetapi agar suatu hari nanti, ketika dihadapkan pada keadaan seperti ini lagi, saya tidak perlu berhenti untuk menghitung apakah saya sanggup atau tidak.
Bahkan saya tak perlu banyak berpikir saat hewan yang saya sayangi terluka sedikit saja. Kondisi luka dengan darah cukup banyak itu, sebenarnya sudah tidak perlu banyak menunggu. Bahkan hanya satu atau dua menit.
Beberapa Menit yang Tidak Akan Saya Lupakan
Setelah kembali masuk ke ruang pemeriksaan, dokter mulai membersihkan luka Grey.
Bulunya dicukur di sekitar luka. Mereka bersiap memasang infus.
Tiba-tiba Grey kejang.
Tubuhnya seperti ingin bangun, lalu jatuh lagi. Mulutnya terbuka. Napasnya tersengal-sengal. Saya hanya bisa berdiri sambil menangis.
Dokter segera memeriksa detak jantungnya.
Masih ada.
Tetapi napasnya semakin lemah.
Dokter mengusap-usap sambil sesekali menekan-nekan bagian jantungnya.
Sesekali mengusap kepalanya sambil berkata lirih beberapa kali, “Sakit ya Nak, ya.”
Beberapa saat kemudian, detak jantung itu benar-benar berhenti.
Dokter menatap saya pelan dan mengatakan bahwa Grey sudah tidak ada.
Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan saat itu.
Saya sedih.
Tetapi di saat yang sama juga lega.
Setidaknya Grey tidak lagi merasakan sakit.
Yang justru paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa saya menjadi orang yang menyaksikan hari terakhir hidupnya.
Tentang Penyesalan yang Masih Tinggal
Sepulang dari dokter hewan, kami menguburkan Grey di belakang rumah.
Anak sulung saya bergantian menggali tanah bersama saya. Anak bungsu saya ikut berdiri di samping liang kubur sambil menahan sedih.
Sebelum menutupnya dengan tanah, kami bertiga berdoa.
Saya tahu setiap orang mungkin memiliki keyakinan yang berbeda tentang hewan setelah mati. Tetapi sore itu saya hanya berharap, kalau memang ada kehidupan setelah rasa sakit ini, semoga Grey tidak lagi merasakan lapar, tidak lagi merasakan dingin, dan tidak lagi hidup sendirian.
Malam harinya saya membuka galeri ponsel.
Foto-foto Grey bermunculan.
Saya baru sadar, hampir di semua foto itu wajahnya tampak lelah. Bulunya kusut. Ia sering tidur begitu saja di lantai semen depan rumah, di dapur, atau di teras.
Saat tidur di atas semen, saya selalu ingat, hampir tidak bisa melihatnya karena warnanya sama dengan semen abu-abu.
Yang membuat hati saya perih bukan karena kucing tidur di lantai atau di halaman yang penuh debu.
Saya terbiasa melihat kucing kampung tidur di tanah, di bawah motor, atau di pinggir kolam. Itu memang kehidupan mereka.
Tetapi Grey terasa berbeda.
Dari caranya meminta makan, dari caranya menyerobot piring kami ketika lapar, dari caranya melompat ke keranjang cucian lalu rebahan di sana, saya merasa ia pernah hidup sebagai kucing yang dimanja.
Mungkin saya salah.
Saya memang tidak pernah tahu masa lalunya.
Namun saya merasa Grey pernah mengenal kehidupan yang lebih baik daripada yang bisa saya berikan.
Dan di situlah penyesalan saya bermula.
Saya tidak pernah bisa memberinya rumah yang benar-benar layak.
Saya tidak pernah membawanya vaksin.
Saya jarang memandikannya. Hanya dua kali sejak dia tinggal di rumah.
Saya tidak pernah mencukur bulunya.
Saya bahkan sering berkata dalam hati, “Maaf ya, hari ini cuma ada makanan ini.”
Padahal mungkin ia sedang lapar.
Saya sering menyuruhnya pergi ke rumah tetangga untuk mencari makan jika masih lapar.
Porsi makan kucing seberat 4,6 kg yang lucu itu tidak dapat saya berikan.
Mungkin idealnya, 2 potong paha atas ayam sekali makan.
Namun, saya tidak mampu memberikan makan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Grey hanya singgah beberapa minggu di rumah kami.
Namun, kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang jauh lebih besar daripada waktu kebersamaan kami.
Sepertinya kasih sayang tidak selalu diukur dari lamanya kebersamaan.
Tentang Luka Grey
Saya tidak tahu persis apa yang terjadi padanya.
Namun, memang saat melihat lukanya, saya merasakan ada hal yang sedikit janggal.
Saat melihatnya di bawah kursi kayu sambil kesakitan, saya menduga mungkin berkelahi dengan kucing jantan lain, digigit hewan yang lebih besar, atau tertabrak kendaraan.
Namun, pertanyaan terus muncul di pikiran saya. “Grey terluka karena apa?”
Saat di ruangan periksa, dokter pun mengatakan hal yang membuat saya kepikiran sepanjang malam.
“Lukanya ini kok rapi banget. Seperti ada yang usil.”
“Namun, bisa jadi, karena dia kucing rumahan, mungkin tidak bisa menghindari kenadaraan yang lewat. Tapi…. tetap saja luka sedalam ini kenapa terlihat sangat rapi.”
Dokter tidak mengatakan lebih lanjut, tapi dalam hati saya meneruskan. “Seperti luka sayatan benda tajam.”
Tapi, di saat itu, tidak bisa mengatakannya. Saya tidak sanggup melihat kondisinya yang sedang menghembuskan nafas terakhir.
Luka yang Meninggalkan Luka
Satu asumsi.
Lukanya yang seperti dilakukan dengan sengaja. Ini mungkin hanya dugaan. Namun, jika benar, ini sangat membuat saya lebih sedih lagi.
Saya ingat bagaimana Grey meminta makan. Seberapa porsi yang dia butuhkan sekali makan di pagi hari, siang, dan malam hari.
Saya tidak bisa memenuhi kebutuhannya itu karena keterbatasan saya.
Seringkali saya bercanda mengelus kepalanya, “Grey, doakan aku jadi orang kaya dong. Pendapatan 1 Milyar sebulan. Aku janji bakal beliin kamu ikan salmon warna oranye, daging sapi, daging ayam, ikan tuna, sebanyak-banyaknya buat kamu. Bahkan, kalau perlu aku ajak ke dokter hewan biar kamu disuntik terus. (vaksin maksudnya)” Lalu, anak bungsu saya yang mendengarnya tertawa.
Ya, kebutuhannya dan keterbatasan sayalah yang menyakitkan itu.
Seandainya dia tidak perlu mencari makan ke rumah lain.
Seadainya dia tidak perlu bertemu orang-orang yang melihatnya dengan cara berbeda.
Tidak semua orang menyukai kucing. Apalagi jika kucing itu meminta makan dengan sangat agresif karena lapar.
Orang lain bisa melihatnya seperti pencuri atau hewan pengganggu yang membuat mereka kesal.
Jika semuanya saya cukupi di rumah, mungkin tidak akan ada yang tega melukainnya separah itu.
Penyesalan itu begitu dalam.
Saya minta maaf karena tidak bisa memberikan fasilitas terbaik. Keterbatasan saya jugalah yang membuat saya tidak bisa menyelamatkannya tepat waktu.
……………
Kepergian Grey membuat saya merasakan banyak hal.
Bahwa menyayangi itu butuh tindakan nyata. Bukan hanya rasa. Bukan sekedar memberi naungan, makan, atau sekedar elusan di kepala.
Menyayangi hewan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhannya. Grey sepertinya adalah jenis British Longhair yang kebutuhannya cukup kompleks.
Mulai dari makan, minum, perawatan bulu, kebersihan, permainan, pemeriksaan kesehatan, dan menjaga berat bada idealnya.
Saya sering kali merasa sangat miris, meraba di balik bulunya yang lebat itu, tubuhnya terasa kurus. Ada banyak kutu, bagian tengkuknya botak, cara berjalannya terlihat gontai, dan wajahnya tampak tidak bahagia.
Lebih menyayat hati ketika saya habis jalan kaki di pagi hari, dia sedang berjalan memasuki pagar rumah tetangga. Entah mencari makan karena lapar atau memang masih lapar karena kurang mendapatkannya di rumah saya.
Saat melihat saya, dia langsung mengeong dan mengikuti saya di belakang.
Saya merasa sangat buruk. Menjadi jahat itu bukan hanya menghardik dan mengusir hewan. Justru dengan orang lain mengusir, mungkin membuat hewan itu menemukan manusia yang tepat.
Sedangkan saya, memberinya sedikit elusan di kepala dan tubuhnya, memberinya makan seadanya, dan membiarkannya tidur di lantai.
Lalu, dia datang dengan perasaan seperti dicintai oleh orang yang baik untuknya.
Entahlah, rasanya sangat sedih mengenang Grey. Kucing jantan yang lucu seperti boneka. Hal yang sama juga dirasakan anak-anak saya tentangnya.
Mungkin, pelajarannya buat saya adalah supaya lebih banyak lagi meningkatkan kualitas diri. Entah itu tentang pekerjaan, kepekaan, keterampilan merawat dan menjaga, supaya menyayangi bukan sekedar rasa yang meninggalkan penyesalan.
