Pernah Mengalami Musibah Perasaan? Saya Baru Sadar Ternyata Ini Juga Musibah
Kalau mendengar kata musibah, apa yang pertama kali terlintas di pikiran?
Mungkin kehilangan barang, kecelakaan, sakit, rumah kebanjiran, atau hal-hal yang memang terlihat jelas bentuknya.
Padahal, setelah saya mengalaminya sendiri, saya baru sadar bahwa ada satu jenis musibah yang sering luput kita sadari. Saya menyebutnya musibah perasaan.
Musibah ini tidak meninggalkan luka di tubuh. Tidak membuat kita harus pergi ke rumah sakit. Tidak ada barang yang hilang.
Tetapi ia bisa membuat kita sulit tidur, kehilangan selera makan, tidak bisa fokus bekerja, bahkan tubuh ikut terasa lemas karena pikiran terus bekerja tanpa henti.
Saya tidak tahu apakah istilah ini memiliki definisi yang baku. Namun, bagi saya, musibah perasaan adalah keadaan ketika hati dan pikiran terluka karena suatu peristiwa, baik akibat kesalahan orang lain maupun karena keteledoran diri sendiri.
Yang membuat saya menulis ini adalah karena saya merasa musibah seperti ini sering kali kita anggap sepele. Kita mengira nanti juga hilang sendiri, nanti juga lupa sendiri.
Padahal belum tentu.
Musibah yang Datang karena Kecerobohan Sendiri
Saya ingin berbagi pengalaman yang baru saja saya alami.
Hari Minggu, 2 Agustus, sebenarnya berjalan sangat menyenangkan.
Pagi hari saya menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari belanja ke pasar, memasak, hingga mencuci pakaian. Menjelang siang saya tidur sekitar dua jam karena malam sebelumnya begadang menyelesaikan proyek kecil sebuah e-book baru.
Setelah Zuhur, saya menghabiskan waktu bersama anak. Kami jalan-jalan naik bus, menikmati suasana terminal, bermain, dan jajan bersama. Hari itu terasa menyenangkan.
Sepulangnya ke rumah, badan saya benar-benar lelah. Setelah mandi dan salat, saya sempat membuka Instagram sambil rebahan. Jujur saja, saat itu saya sedang sangat mengantuk. Bahkan sekarang pun saya sudah tidak ingat apakah saya membuka Instagram sebelum Magrib atau sesudahnya.
Yang saya ingat hanyalah saya sedang benar-benar ingin tidur.
Di Instagram, saya membuka kolom pencarian dan di situ banyak rekomendasi konten. Di situlah saya melihat beberapa video aktris perempuan, cuplikan film, dan ada Aishwarya Rai, salah satu artis yang memang saya kagumi. Dia adalah seorang aktris India yang dijuluki sebagai “The Most Beautiful Woman in The World” pada masa-masa kesuksesannya di panggung hiburan.
Ada sebuah cuplikan wawancara Aish yang menarik perhatian saya. Itu tentang Aish yang menolak tawaran main film Hollywood berjudul Troy. Sayangnya, di bagian akhir video tersebut terdapat adegan film yang menurut saya tidak pantas untuk dibagikan.
Yang tidak saya sadari adalah, entah bagaimana, video itu ternyata ikut saya repost.
Saya sama sekali tidak menyadarinya.
Setelah itu saya mengecas ponsel, tidur hingga jam 9, lalu menjalani malam seperti biasa. Memenuhi anak yang minta cemilan, menidurkan anak bungsu, lalu membuka berbagai postingan terkait di akun project Dakwah Digital. Melihat konten orang lain, memberikan engagement, dan sebagainya.
Kaget Tengah Malam
Sekitar pukul dua belas malam, saya iseng membuka akun Instagram utama.
Di situlah saya benar-benar terkejut.
Video yang tadi sore saya lihat ternyata muncul di kolom repost akun saya.
Saya langsung panik.
Saya mencoba mengingat berkali-kali, “Kapan saya menekan tombol repost?”
Sampai sekarang saya masih mengingat-ingat. Dugaan saya hanya satu: yaitu sore hari saat saya terlalu mengantuk sehingga tidak sadar telah menyentuh tombol tersebut.
Masalahnya bukan sekadar salah pencet.
Yang membuat saya terguncang adalah isi video itu sama sekali bukan sesuatu yang ingin saya bagikan kepada siapa pun.
Saya tahu itu tidak pantas.
Saya tahu itu bukan sesuatu yang mencerminkan diri saya.
Bahkan isi algoritma saya pun isinya artis-artis wanita dengan adegan yang masih nyaman ditonton siapapun, cuplikan film Marvel, konten tentang perempuan, pernikahan, kucing, Bollywood, atau konten AI.


Yang langsung memenuhi pikiran saya justru pertanyaan-pertanyaan seperti ini.
“Bagaimana kalau ada mahasiswa saya yang melihat?”
“Bagaimana kalau anak saya yang juga punya akun Instagram melihat?”
“Bagaimana kalau saudara kandung, keluarga, atau teman-teman saya melihat?”
Padahal saya sendiri tidak tahu apakah benar-benar ada yang melihat atau tidak.
Tetapi pikiran itu terus berputar.
Malam itu saya hampir tidak bisa tidur.
Sampai pagi saya masih memikirkannya.
Selera makan hilang.
Badan terasa sakit.
Aktivitas yang sudah saya rencanakan hari ini pun banyak yang saya batalkan karena benar-benar sulit berkonsentrasi.
Ketika Musibah Tidak Terlihat
Di situlah saya baru ingat satu hal.
Ini juga musibah.
Bukan kehilangan barang.
Bukan sakit demam.
Bukan kecelakaan.
Tetapi musibah yang menyerang pikiran dan perasaan.
Kalau kita kehilangan dompet, kita langsung berusaha mencarinya.
Kalau sakit kepala, kita segera mencari obat.
Kalau motor rusak, kita membawanya ke bengkel.
Lalu bagaimana kalau yang terluka adalah perasaan?
Sering kali kita tidak tahu harus berbuat apa.
Kita hanya memendamnya.
Kita berharap besok akan hilang sendiri.
Padahal belum tentu.
Dalam kasus saya, musibah itu bahkan terjadi karena keteledoran saya sendiri.
Saya tidak sedang menyalahkan siapa pun. Jika ada orang yang tidak suka itu wajar saat mereka tidak tahu yang sebenarnya terjadi, ada yang membenci, juga wajar.
Saya juga tidak sedang mencari pembenaran.
Saya hanya menyadari bahwa sebuah kecerobohan kecil ternyata bisa menimbulkan beban pikiran yang sangat besar.
Ini Adalah Ikhtiar Saya
Saya sempat berpikir cukup lama.
Perlu tidak ya saya menjelaskan ini?
Kalau saya menjelaskan, orang yang sebelumnya tidak tahu bisa saja menjadi tahu.
Tetapi kalau saya diam, saya sendiri tidak bisa tenang.
Akhirnya saya memilih menulis.
Bukan karena ingin membela diri.
Bukan pula karena merasa semua orang memperhatikan saya.
Melainkan karena inilah ikhtiar yang menurut saya bisa sedikit mengurangi beban di hati.
Kalau orang demam, ia minum obat.
Kalau kehilangan barang, ia meminta bantuan untuk mencarinya.
Kalau saya sedang mengalami musibah perasaan seperti ini, mungkin salah satu ikhtiar yang bisa saya lakukan adalah menuliskannya.
Saya juga percaya bahwa setiap musibah, sekecil apa pun bentuknya, seharusnya bisa kita temukan jalan terbaiknya. Mengingatkan kita agar lebih berhati-hati dan tidak menganggap remeh hal-hal yang terlihat kecil.
Barangkali setelah membaca tulisan ini, Anda pernah mengalami hal yang serupa.
Mungkin bukan karena salah menekan tombol repost.
Mungkin karena salah paham.
Mungkin karena tuduhan.
Mungkin karena ucapan seseorang.
Apa pun bentuknya, semoga kita sama-sama menyadari bahwa musibah perasaan juga layak untuk diikhtiarkan penyelesaiannya.
Sebab yang terluka bukan hanya tubuh.
Kadang, yang jauh lebih sulit dipulihkan adalah hati.
Saya juga minta maaf kepada siapapun, entah ada atau tidak, yang melihat konten itu, karena tontonan yang tidak layak dilihat, atau mungkin menimbulkan perasaan apapun yang sifatnya tidak nyaman.

Paham kok rasanya mba. Apalagi jika sesuatu yg di repost itu bukan postingan yg baik kan. Seolah kita ikut andil utk menyebarkan. Tp aku yakin Allah tahu juga isi hati dan niat seseorang.
Hanya saja menjelaskan pada orang lain, itu yg sulit. Ada yg mungkin ngerti itu ga sengaja, tp pasti ada yg julid. Udh bener mba jelasin via tulisan begini ☺️🤗. Toh blog ini tempat kita menyalurkan apapun yg dirasa. 👍.
Aku juga pernah salah repost. Ga sadar. Apalagi tombolnya terlalu riskan memang. Mungkin niatnya mau scroll down/up . Tp kok ketekan 😅😅
Wah makasih atas respon positifnya mbak. Makasih banyak. Itu pengalaman yang memalukan sih, entah ada yang nonton atau tidak, tapi emang senggak enak itu sepanjang malam. Akhirnya, pagi hari aku putuskan untuk membuat penjelasannya di blog ini.