Alasan Kita Harus Terus Melanjutkan Hidup, Apa Pun yang Terjadi

Ada satu momen yang membuat saya bahagia hari ini.

Alasannya karena tadi malam saya pergi ke bioskop sendirian untuk menonton Spider-Man: Brand New Day. Durasi filmnya kurang lebih sekitar dua jam, tetapi rasanya seperti hadiah kecil untuk diri sendiri.

Saya memang penggemar film-film Marvel. Hampir semua filmnya saya tonton tanpa pernah terlewat, kecuali Black Panther yang entah mengapa belum juga berhasil membuat saya penasaran.

Yang menarik justru bukan hanya semata filmnya.

Melainkan cara saya menikmatinya.

Saya menonton sendirian.

Saya memang menikmati waktu-waktu seperti itu. Setelah setiap hari berinteraksi dengan keluarga, pekerjaan, dan berbagai aktivitas sosial, saya menyadari bahwa waktu bersama diri sendiri adalah salah satu cara terbaik untuk mengisi ulang energi.

Kalau pun ada satu orang yang selalu berhasil membuat saya menikmati perjalanan bersama, mungkin hanya adik perempuan saya atau salah satu teman dekat perempuan saya. Sayangnya, sekarang kami tinggal berjauhan sehingga momen seperti itu tidak lagi mudah dilakukan.

Akhirnya saya kembali menikmati kebiasaan lama: berjalan sendiri, membeli tiket sendiri, duduk sendiri, lalu membiarkan diri tenggelam dalam cerita di layar lebar.

Saya menyukai film-film Marvel bukan hanya karena visualnya yang megah, teknologi CGI yang memukau, atau adegan aksinya yang spektakuler. Film-film itu selalu berhasil menyuntikkan semangat. Ada sensasi seolah-olah kita ikut berjuang bersama tokoh utamanya. Meskipun semuanya hanyalah fiksi, selalu ada energi yang tertinggal ketika lampu bioskop kembali menyala.

Di perjalanan pulang, saya menyadari sesuatu.

Mungkin yang membuat saya bahagia bukan semata-mata karena filmnya bagus.

Tetapi karena saya kembali mengingat satu pelajaran yang diajarkan kehidupan kepada saya selama bertahun-tahun.

Apa pun yang terjadi, hidup harus terus berjalan.

Bukan karena kita mengabaikan masalah.

Bukan pula karena kita tidak peduli.

Melainkan karena hidup selalu bergerak lebih cepat daripada luka yang sedang kita rasakan.

Dan inilah beberapa alasan mengapa saya memilih terus melanjutkan hidup walau apapun yang saya rasakan dan masalah yang ada.

1. Dunia Tidak Berhenti Karena Masalah Kita

Ketika sedang mengalami masalah, kita sering merasa seluruh dunia sedang memperhatikan kita.

Mungkin memang ada orang yang memperhatikan. Ada yang bertanya-tanya. Ada pula yang memiliki pendapat tentang kita.

Namun kenyataannya, kita hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Besok pagi mereka kembali bekerja.

Mereka kembali memikirkan keluarga, tagihan, pekerjaan, kesehatan, dan persoalan hidup mereka sendiri.

Kalaupun kita sempat menjadi bahan obrolan, sering kali itu hanya berlangsung sebentar. Setelah secangkir kopi habis diminum, pembicaraan pun berganti.

Menyadari hal ini membuat saya berhenti merasa bahwa hidup saya harus berhenti hanya karena satu masalah.

Kalau dunia terus berjalan, mengapa saya tidak?

2. Hidup Tetap Berjalan, Bahkan Saat Hati Sedang Hancur

Pelajaran terbesar tentang ketahanan justru saya dapatkan setelah berumah tangga.

Saya belajar bahwa hati boleh saja hancur, tetapi anak tetap meminta makan.

Cucian tetap menumpuk.

Rumah tetap perlu dirapikan.

Ada anak yang ingin ditemani.

Ada orang-orang yang harus kita temui denga senyuman, walau bagaimanapun keadaan hati kita.

Ada pekerjaan yang tetap menunggu.

Hidup tidak pernah memberi jeda hanya karena hati kita sedang terluka.

Waktu di bangku sekolah, saya pernah melihat seorang guru perempuan membawa masalah pribadinya ke ruang kelas. Niatnya mungkin hanya ingin melampiaskan rasa sesak. Namun yang terjadi justru orang-orang mulai menilai, berkomentar, bahkan membentuk opini mereka sendiri.

Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa dunia memang memiliki empati, tetapi empati setiap orang memiliki batas.

Suatu hari, kejadian lebih pedih terjadi pada seorang perempuan usia 25. Suaminya menjalin hubungan asmara dengan sahabatnya sendiri.

Itu adalah kisah yang memilukan. Namun, dengan situasi seperti itu, orang lain mungkin ada yang mendengarkan. Ada yang kasihan, tapi tidak benar-benar ikut merasakan.

Ada yang memberi nasihat, meski belum tentu orang yang terkena musibah membutuhkannya.

Ada yang hanya menjadikannya sebatas topik obrolan di tongkrongan. Bahkan cerita pilu orang lain menjadi obrolan seru yang mengiringi secangkir kopi atau teh hangat mereka.

Ada pula yang menganggap luka orang lain sebagai bahan bercanda.

Mereka bisa bereaksi tidak sesuai yang kita ekspektasikan.

Sejak saat itu saya belajar satu hal.

Saya boleh merasa hancur.

Tetapi saya tidak ingin berhenti menjalani hidup hanya karena sedang hancur.

3. Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan Hari Ini

Saya pernah menyimak sebuah potongan podcast Panji Prakoso yang intinya mengatakan bahwa tidak semua masalah harus kita paksa selesaikan sekarang juga.

Sebagian masalah justru akan terurai sendiri, seperti alam yang perlahan mengurai daun-daun yang gugur.

Kalimat itu sangat membekas bagi saya.

Karena memang begitulah hidup bekerja.

Hari ini mungkin kita masih menangis.

Besok mungkin masih terasa sesak.

Namun perlahan-lahan rasa itu berubah.

Bukan karena kita melupakannya.

Melainkan karena waktu ikut bekerja bersama kita.

Itulah sebabnya saya tidak selalu mencari jawaban atas setiap persoalan.

Kadang saya memilih banyak diam dan melakukan hal lain.

Menonton film.

Menulis.

Berjalan.

Belajar sesuatu yang baru.

Bukan untuk lari dari masalah, melainkan memberi waktu agar hati ikut bernapas.

4. Penolong Terdekat Adalah Diri Kita Sendiri

Kita patut bersyukur jika memiliki orang-orang yang peduli.

Namun sebaik apa pun mereka, mereka tetap memiliki keterbatasan.

Mereka tidak bisa hidup menggantikan kita.

Yang benar-benar bertanggung jawab membawa diri kita kembali bangkit tetaplah diri kita sendiri.

Saya pernah mengalami titik paling rendah dalam hidup. Ada teman perempuan yang berempati, tapi tetap saja dia punya penilaian.

Meski begitu, ada satu responnya yang memang belum membantu saat itu, tapi bermanfaat hingga hari ini.

Saya sedang kehilangan semangat hidup, kehilangan arah, tapi tak ada waktu bernafas. Kebetulan anak saya masih sangat bayi dan di masa seperti itu, seorang perempuan tidak ada waktu bahkan untuk mengurus dirinya sendiri.

Teman saya malah bertanya, “Aku nggak bisa bantu, tapi mungkin Cuma membantu kamu bertanya ke dirimu: Aktivitas apa yang paling kamu sukai? Membaca buku? Nonton film? Pergi ke mana?”

Jujur saja, pertanyaannya malah membuat saya semakin terpuruk, karena hal seperti itu ditanyakan kepada perempuan yang bayinya saja masih hitungan bulan.

Namun, yang saya syukuri adalah kehadiran teman itu di samping saya. Itu sudah cukup. Dia selalu ada untuk saya ajak bicara.

Itu juga cukup.

Saran darinya mungkin tidak bermanfaat hari itu. Namun, karena terus terngiang, ternyata malah bermanfaat di saat-saat sekarang. Dan di momen-momen berat lainnya. Berkat nasihatnya yang belum bermanfaat waktu itu, kini saya terbiasa memilih mengalihkan segala luka dan sedih kepada hal-hal yang saya sukai.

Teman saya tidak membantu saat itu, tapi pesannya itu mengingatkan bahwa “Satu-satunya penolong adalah dirimu sendiri.”

5. Melanjutkan Hidup Adalah Bentuk Kasih Sayang kepada Diri Sendiri

Semakin bertambah usia, saya justru semakin sadar bahwa saya bukan manusia yang tanpa batas.

Energi saya terbatas.

Emosi saya terbatas.

Kemampuan saya juga terbatas.

Karena itulah saya tidak ingin menghabiskan seluruh tenaga hanya untuk berdiri di satu titik yang sama.

Saya membayangkan hidup seperti perjalanan panjang.

Bahan bakar kita tidak pernah tak terbatas.

Kalau seluruh energi kita habis hanya untuk memandangi satu masalah, mungkin kita tidak akan pernah sampai ke tempat berikutnya.

Padahal bisa jadi, beberapa kilometer di depan sana ada pemandangan yang indah.

Ada orang-orang baru.

Ada pengalaman baru.

Ada sumber semangat yang baru.

Melanjutkan hidup bukan berarti menganggap masalah itu kecil.

Justru sebaliknya.

Melanjutkan hidup adalah pengakuan bahwa kita memiliki keterbatasan sebagai manusia.

Karena itulah kita memilih menjaga tenaga, menjaga hati, dan menjaga harapan agar tetap cukup untuk melangkah ke hari esok.

_____________________

Tidak semua luka harus sembuh hari ini.

Tidak semua pertanyaan harus terjawab hari ini.

Tetapi hidup tetap layak dijalani hari ini.

Dan sering kali, saat kita terus melangkah, tanpa kita sadari kehidupan perlahan mengurai apa yang dulu terasa mustahil untuk dilepaskan.

You May Also Like

Leave a Reply