Bukan Sekadar Dakwah: Cerita Personal di Balik Akun Cerita Peradaban Islam

Salah satu hal yang paling menyenangkan bagi saya ketika libur semester seperti sekarang adalah menemukan kembali ruang untuk bernapas. Salah satunya tentu saja dengan menulis di blog.

Saya bisa menulis apa saja yang saya mau. Tidak harus tentang SEO, digital marketing, pekerjaan, atau sesuatu yang harus menghasilkan uang. Bahkan hal yang mungkin bagi sebagian orang terasa sepele pun bisa saya tuliskan. Salah satunya adalah cerita di balik pembuatan sebuah akun dakwah digital yang beberapa waktu terakhir cukup menyita perhatian saya: Cerita Peradaban Islam.

Instagram @ceritaperadabanislam

Akun ini adalah akun dakwah berbasis AI yang saya buat dalam bentuk video clay animation. Sejujurnya, saya sendiri tidak menyangka perkembangannya akan seperti sekarang. Dalam waktu sekitar satu bulan lebih, jumlah pengikutnya bisa mencapai sekitar 25 ribu, dengan engagement yang juga cukup besar.

Tentu saja saya senang.

Ada rasa puas ketika sesuatu yang kita kerjakan ternyata disukai banyak orang. Walaupun saya tahu ada banyak akun lain yang jauh lebih besar, saya juga melihat bahwa dari sisi engagement dan cara penyampaian, akun ini ternyata mampu bersaing dengan cukup baik.

Tapi tulisan ini sebenarnya bukan tentang angka followers, views, atau bagaimana cara membuat konten seperti itu.

Saya justru ingin bercerita tentang sesuatu yang jauh lebih personal: apa sebenarnya yang ada di balik keputusan saya membuat akun ini?

Kalau boleh jujur, niat saya ternyata tidak sesederhana “ingin berdakwah”.

Bahkan ada beberapa hal yang sempat menjadi peperangan batin bagi saya.

Ada Peperangan Batin Ketika Membuat Akun yang Sangat Agamis

Sebelum bercerita tentang niat-niat saya, saya justru ingin mengakui satu hal yang cukup mengganggu pikiran saya sejak awal.

Konten Cerita Peradaban Islam itu sangat agamis. Sangat ideal. Banyak membicarakan ketakwaan, akhlak, perjuangan para sahabat, kehidupan Nabi, salafus saleh, dan berbagai teladan dari masa lalu.

Masalahnya, saya merasa diri saya sendiri belum menjadi orang sebaik pesan-pesan yang saya sampaikan.

Ini bukan soal perasaan buruk atau kapasitas ilmu. Tetapi ketika saya membuat materi tentang menjaga diri ketika tidak ada yang melihat, misalnya, saya juga bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sudah seperti itu?

Ketika membuat konten tentang ketakwaan, saya juga melihat diri sendiri dan menyadari bahwa saya masih banyak belajar. Dalam hal ibadah, akhlak, pemahaman agama, maupun usaha memperbaiki diri, saya masih jauh dari kata sempurna.

Ada semacam rasa tidak nyaman ketika menyampaikan sesuatu yang begitu ideal, sementara kehidupan pribadi saya sendiri belum tentu seideal itu.

Tetapi di sisi lain, ada satu hal yang justru membuat saya merasa lebih tenang.

Saya tidak perlu menunjukkan siapa diri saya.

Orang-orang bisa mendapatkan pesan dari konten tersebut tanpa harus tahu siapa saya, seperti apa kehidupan saya, dan apakah saya sudah melakukan semua yang saya sampaikan atau belum.

Ada prinsip yang sering kita dengar dalam kehidupan beragama: jangan hanya melihat siapa yang menyampaikan, tetapi lihat apa yang disampaikan.

Dalam konteks konten berbasis AI, saya merasa prinsip tersebut semakin relevan. Pesannya bisa berdiri sendiri. Saya tidak perlu membangun citra sebagai seseorang yang sangat religius hanya karena membuat konten agama.

Dan mungkin justru di situlah salah satu kenyamanan terbesar saya.

Saya bisa menyampaikan sesuatu yang baik sambil tetap mengakui kepada diri sendiri bahwa saya juga sedang belajar.

Niat Pertama: Tuntutan Profesi

Kalau ditanya apa alasan pertama saya membuat akun ini, jawabannya justru tuntutan profesi.

Pada semester genap kemarin, saya mendapat amanah mengajar mata kuliah Dakwah Digital, bahkan untuk tiga kelas.

Secara teori, saya sebenarnya tidak benar-benar asing dengan dunia digital. Saya sudah cukup lama berkecimpung di website, digital marketing, SEO, content placement, dan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan media digital.

Tetapi untuk media sosial, saya merasa belum memiliki proyek nyata yang bisa saya tunjukkan kepada mahasiswa.

Dan itu membuat saya minder.

Ada rasa malu juga ketika harus mengajarkan sesuatu kepada mahasiswa tetapi saya sendiri belum benar-benar mempraktikkannya.

Saya paling takut jika sebagai dosen saya hanya memberikan teori. Khusus untuk kuliah praktik atau semi praktis tentunya. Saya tidak ingin sekadar masuk kelas, menyampaikan materi, memberikan tugas dan nilai, lalu semester selesai.

Bagi saya, profesi dosen adalah amanah. Dan amanah itu bukan hanya tentang menjalankan kewajiban formal, tetapi juga tentang dampak.

Apa yang didapat mahasiswa dari mata kuliah tersebut?

Apa yang bisa mereka lakukan setelah mengikuti perkuliahan?

Itulah yang paling penting bagi saya.

Apalagi Dakwah Digital bukan mata kuliah yang cukup dipahami melalui teori. Ada bagian praktik yang sangat penting.

Saya sudah tahu secara teori bagaimana membuat akun, bagaimana membuat konten menarik, bagaimana meningkatkan engagement, bagaimana memahami audiens, bahkan bagaimana membuat konten yang berpotensi viral.

Tetapi pertanyaannya sederhana: praktiknya mana?

Karena itu, setelah semester selesai dan memasuki masa liburan, saya akhirnya mencoba mempraktikkan sendiri ilmu yang selama ini saya miliki.

Lahirlah proyek Cerita Peradaban Islam.

Niat Kedua: Menjemput Hidayah untuk Diri Sendiri

Ini mungkin bagian yang paling personal bagi saya.

Saya awalnya mengira membuat konten agama berarti saya sedang menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Ternyata tidak.

Dalam proses membuatnya, saya justru merasa sedang belajar untuk diri sendiri.

Saya harus mencari bahan. Membaca sejarah. Mempelajari kisah para sahabat. Membaca tentang Khulafaur Rasyidin, salafus saleh, dan berbagai keteladanan dari orang-orang yang hidup jauh sebelum kita.

Kemudian saya menyusun skrip. Membaca kembali materinya. Membuat narasi. Menyaksikan kembali hasil videonya. Mengevaluasi apakah pesan yang disampaikan sudah tepat.

Semua proses itu membuat saya berkali-kali diingatkan oleh materi yang saya sendiri buat.

Banyak konten saya berbicara tentang bagaimana seseorang menjaga dirinya ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Dan ternyata pesan itu juga sedang saya tujukan kepada diri sendiri.

Bagaimana menjaga niat ketika tidak ada yang melihat?

Bagaimana tetap berbuat baik ketika tidak ada yang memberikan pujian?

Bagaimana menjaga ketakwaan bukan hanya ketika berada di depan orang lain, tetapi juga ketika sendirian?

Jadi, mungkin sebenarnya saya bukan hanya sedang membuat konten untuk orang lain.

Saya sedang menjemput hidayah untuk diri sendiri.

Niat Ketiga: Menyebarkan Kebaikan

Barangkali ini yang biasanya dianggap sebagai niat pertama ketika seseorang berdakwah.

Tetapi bagi saya, justru ini menjadi niat yang ketiga.

Setelah memenuhi tanggung jawab profesi dan mendapatkan manfaat untuk diri sendiri, saya tentu ingin apa yang saya kerjakan juga memberikan manfaat kepada orang lain.

Karena ternyata membuat konten seperti ini tidak sesederhana yang saya bayangkan.

Saya kira awalnya tinggal membuat skrip, membuat video, lalu upload.

Ternyata satu konten membutuhkan proses yang lumayan panjang. Mulai dari mempelajari materi, membuat skrip, mengubah narasi menjadi audio dengan AI, membuat adegan visual, mengubahnya menjadi animasi, melakukan editing, menyambungkan semuanya, sampai akhirnya mengunggahnya ke Instagram.

Kurang lebih bisa menghabiskan waktu sekitar tiga jam sehari.

Karena itu, saya ingin waktu yang saya habiskan tidak hanya menghasilkan angka.

Tidak hanya followers.

Tidak hanya views.

Tidak hanya watch time atau engagement.

Saya ingin ada sesuatu yang lebih panjang umurnya dari sekadar angka-angka tersebut.

Kalau bisa, saya ingin konten-konten itu menjadi semacam sedekah jariah dalam bentuk ilmu dan kebaikan.

Entah berapa orang yang kemudian terinspirasi, belajar sesuatu, mengingat kembali kisah yang pernah mereka dengar, atau bahkan memperbaiki dirinya setelah menonton satu video.

Saya mungkin tidak akan pernah tahu.

Dan tidak apa-apa.

Niat Keempat: Tetap Bisa Berbisnis

Ada satu hal lain yang juga tidak ingin saya tutupi: saya tetap ingin mendapatkan penghasilan dari aktivitas ini.

Mungkin bagi sebagian orang, ketika mendengar kata “dakwah”, bisnis dan uang terasa seperti sesuatu yang harus dipisahkan.

Tetapi bagi saya, kehidupan tidak sesederhana itu.

Meskipun akun ini memiliki unsur dakwah, saya juga berharap suatu saat bisa menjadi bagian dari bisnis saya.

Jadi kalau suatu hari ada kelas berbayar, e-book, atau produk digital yang saya tawarkan melalui akun tersebut, rasanya tidak perlu dianggap aneh.

Tentu, yang paling harus saya pastikan adalah apa yang saya jual memang memiliki manfaat.

Bagi saya, berbagi ilmu dan mendapatkan bayaran dari ilmu tersebut bukan sesuatu yang harus selalu dipertentangkan.

Bahkan, dosen senior di bidang filsafat dakwah pernah menyebutkan bahwa dakwah bisa disebut juga sebagai profesi. Mengapa demikian? Karena seseorang yang berdakwah benar-benar mengalokasikan waktu dan tenaganya untuk menyampaikan risalah islam.

Artinya, bukan berarti ini saklek mengatakan bahwa “Anda harus membayar saat diberikan ilmu agama.” Tepatnya, “Jika ada orang yang mengambil upah dari proses berdakwah adalah hal yang diperbolehkan.”

Niat Kelima: Saya Tidak Ingin Ketinggalan Media Baru

Niat terakhir ini sebenarnya sangat erat kaitannya dengan pekerjaan saya.

Saya sudah melihat sendiri betapa cepatnya media berubah.

Lima belas tahun lalu, seseorang bisa dianggap sukses di dunia media ketika bekerja sebagai wartawan atau memiliki bisnis yang berkaitan dengan media konvensional.

Kemudian zaman bergeser.

Ketika saya kuliah, blogger yang sukses adalah mereka yang bisa menghasilkan uang melalui blog dan AdSense.

Setelah itu YouTube menjadi sangat besar.

Orang-orang mulai membuat video, membangun channel, dan mendapatkan penghasilan dari sana.

Saya sendiri kemudian masuk ke dunia blog, tetapi lebih banyak di content placement, review produk, promosi, hingga link building dan backlink.

Saya pernah membuat artikel di blog yang kemudian memberikan backlink kepada website bisnis lain. Pekerjaan itu sempat menjadi bagian penting dari penghasilan saya.

Tetapi dunia kembali berubah.

Media sosial berkembang sangat cepat. Instagram, kemudian TikTok, dan berbagai platform lainnya membuat pola konsumsi informasi berubah.

Kemudian datang lagi gelombang baru: AI.

Dalam beberapa tahun terakhir, AI mulai mengubah cara orang mencari informasi dan membuat konten. Bahkan dunia blog yang selama ini saya geluti ikut terkena dampaknya.

Pekerjaan yang dulu terasa aman ternyata bisa berubah hanya dalam beberapa tahun.

Dari pengalaman itu saya belajar satu hal: saya tidak boleh merasa sudah selesai belajar.

Karena itu, saya merasa harus terjun langsung ke media baru.

Apalagi pekerjaan utama saya memang berada di dunia digital.

Di sisi lain, saya juga seorang dosen yang mengajar Dakwah Digital.

Maka proyek ini seperti menjadi titik temu dua dunia saya: pekerjaan di bidang digital dan profesi saya sebagai pengajar.

Saya belajar media baru sekaligus memiliki bahan praktik untuk mahasiswa.

Bagi saya, ini semacam win-win solution.

__________________

Saya menulis semua ini di blog bukan karena merasa cerita saya penting untuk diketahui banyak orang.

Mungkin tidak ada yang membaca. Atau juga ada, bahkan ada yang merasa relate.

Saya memang suka menulis.

Kadang menulis adalah cara saya merapikan isi kepala, melepaskan beban pikiran, sekaligus bercermin kepada diri sendiri.

Kalau ternyata tulisan ini dibaca orang lain dan ada yang merasa, “Oh, ternyata saya juga pernah merasakan hal yang sama,” tentu saya akan senang.

Kalau tidak pun, setidaknya tulisan ini sudah menjadi catatan perjalanan saya sendiri.

Karena ternyata, di balik sebuah akun yang terlihat seperti akun dakwah, ada banyak sekali cerita humanis di belakangnya.

Dan bagi saya, Cerita Peradaban Islam memang bukan sekadar dakwah. Ia juga menjadi cerita tentang bagaimana saya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.

You May Also Like

Leave a Reply