Ngafe yang Bernilai: Tentang Ilmu, Pertemanan, dan Waktu untuk Diri Sendiri

Apa sih tujuan ngafe? Tak sedikit orang yang menganggapnya sebagai gaya hidup hedon. Pemborosan.

Bahkan, di kalangan dewasa muda di media sosial, kegiatan satu ini sering dianggap salah satu sebab orang sulit mencapai goals keuangan. Misalnya, beli rumah impian, kendaraan, dan yang lainnya.

Memang sih, kalau tujuannya hanya membeli segelas kopi yang harganya berkali-kali lipat dibanding bikin sendiri di rumah, mungkin anggapan itu ada benarnya.

Tapi belakangan ini, saya justru menyadari bahwa ada jenis ngafe yang menurut saya sangat layak diperjuangkan. Bahkan di saat kondisi keuangan sedang tidak baik-baik saja, saya tetap menyisihkan anggaran untuk pergi ke kafe.

Bukan karena kopinya, bukan juga karena estetikanya. Saya sedang membeli sesuatu yang jauh lebih berharga daripada itu.

Kalau dipikir-pikir, selama ini ada tiga jenis kegiatan yang membuat saya merasa uang yang saya keluarkan di kafe benar-benar bernilai.

1. Ngafe untuk Bertemu Orang-Orang yang Menginspirasi

Ngafe untuk bertemu komunitas freelancer di Purwokerto
Ngafe untuk bertemu komunitas freelancer di Purwokerto (Dokumentasi Pribadi)

Salah satu kegiatan di café yang saya sukai adalah bertemu komunitas Semeja Kerja. Komunitas freelancer di Purwokerto, yang bisa kamu cek juga di IG @semejakerja

Konsepnya, yaitu work with strangers. Kami berkumpul di sebuah kafe, membawa pekerjaan masing-masing, lalu bekerja bersama. Ada yang fokus di depan laptop, ada yang mengobrol, ada yang saling berkenalan, bahkan kadang di akhir acara bermain game bersama.

Komunitas ini diprakarsai oleh Mbak Sifa IG @aksyifa dan menurut saya menjadi salah satu ruang yang sangat menyenangkan untuk para pekerja freelance maupun pekerja digital.

Saya sendiri sudah sekitar enam tahun bekerja sebagai blogger dan content placement freelancer. Selain itu, sekarang saya juga mengajar sebagai dosen luar biasa yang kegiatannya murni mengajar saja.

Sebagian besar pekerjaan saya dilakukan dari rumah. Mungkin karena itulah saya merasa sesekali perlu keluar dari rutinitas agar tidak terus berada di lingkungan yang sama.

Yang saya dapatkan dari Semeja Kerja ternyata jauh lebih banyak daripada sekadar suasana baru.

Saya bertemu remote worker yang bekerja untuk perusahaan di Singapura, virtual assistant perusahaan luar negeri, web developer, content creator, tutor bahasa asing, afiliator TikTok, mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, hingga orang-orang dengan profesi yang bahkan sebelumnya belum pernah saya dengar.

Setiap minggu hampir selalu ada wajah baru dan cerita baru. Rasanya seperti membuka jendela ke dunia yang lebih luas.

Yang menarik, setelah saling bertukar media sosial, algoritma saya pun ikut berubah. Tiba-tiba beranda dipenuhi informasi tentang coding, virtual assistant, pengembangan website, peluang kerja remote, hingga berbagai keterampilan digital lainnya.

Ternyata memperluas lingkungan pertemanan juga ikut memperluas apa yang kita lihat setiap hari di media sosial.

Kalau dihitung-hitung, uang yang saya keluarkan untuk secangkir kopi terasa sangat kecil dibanding wawasan yang saya bawa pulang.

2. Ngafe untuk Kembali Bersentuhan dengan Dunia Akademik

Ngafe dengan komunitas Kenal Jurnal
Komunitas Kenal Jurnal (Dokumentasi Pribadi)

Alasan kedua mungkin terdengar agak berbeda.

Saya mengikuti komunitas Kenal Jurnal IG @kenaljurnal sebuah komunitas diskusi jurnal ilmiah yang diprakarsai oleh Mbak Kinas @kinaskid lulusan Ilmu Gizi dan Mbak Shinta IG @shintabaca lulusan Psikologi, alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Di komunitas ini kami mendiskusikan jurnal ilmiah dari berbagai bidang. Mulai dari ilmu gizi, psikologi, hukum, pendidikan, sosiologi, gender, hingga berbagai penelitian luar negeri. Saya sendiri biasanya membawa topik yang berkaitan dengan filsafat.

Saya ikut komunitas ini untuk “memanaskan kembali” diri saya setelah cukup lama meninggalkan dunia penelitian sejak menyelesaikan studi S2.

Sebagai dosen, walaupun status saya masih dosen luar biasa yang kebanyakan mengajar di bidang praktisi, saya merasa tetap perlu menjaga kedekatan dengan dunia akademik, khususnya penelitian.

Saya ingin kembali akrab dengan jurnal, metodologi penelitian, dan cara berpikir ilmiah yang dulu sempat menjadi bagian dari kehidupan saya.

Belajar dari Bidang yang Tidak Saya Kuasai

Salah satu hal yang paling saya nikmati adalah mendengarkan teman-teman dari disiplin ilmu lain.

Saya melihat bagaimana penelitian gizi dilakukan, bagaimana jurnal psikologi menyusun metodologi, bagaimana penelitian dari luar negeri mengumpulkan ratusan bahkan ribuan responden, dan bagaimana proses ilmiah dilakukan dengan begitu serius.

Sebagian besar waktu saya memang masih lebih banyak mendengarkan. Sesekali saya ikut berbagi materi bertema filsafat agar tetap bisa berkontribusi dalam diskusi.

Bacaan di bidang filsafat ini sebenarnya lebih karena di semester sebelumnya diamanahi mata kuliah filsafat ilmu supaya saya “dipaksa” memperbanyak bacaan di bidang ini. Ini semacam mempersiapkan kembali jika kembali mengajar mata kuliah ini di semester selanjutnya.

Vibes Cafe yang Unik

Hal yang tak kalah menarik buat saya adalah nuansa cafe yang unik. Komunitas ini rutin berkumpul di Coffee at Home IG @coffeeathome16, sebuah kafe yang menurut saya sangat nyaman.

Suasananya seperti rumah dan memiliki koleksi buku yang sangat banyak. Rasanya cocok sekali untuk sebuah komunitas yang senang berdiskusi.

Tempat ini juga cocok untuk orang yang senang membaca. Datang ke café untuk sekedar mencari referensi buku baru. Bisa membacanya di lokasi atau meminjamnya dan dibawa pulang.

3. Ngafe untuk Bertemu dengan Diri Sendiri

Ngafe untuk Bertemu dengan Diri Sendiri
Ngafe di Duanja Coffee IG @duanjacoffee (Dokumentasi Pribadi)

Kalau dua alasan sebelumnya melibatkan orang lain, alasan yang satu ini justru kebalikannya.

Saya sangat menikmati pergi ke kafe sendirian.

Bahkan, saya cenderung memilih kafe yang kecil kemungkinan bertemu orang yang saya kenal.

Saya memang bukan tipe orang yang memiliki energi sosial besar. Saya lebih menikmati percakapan yang mendalam dengan satu orang dibanding berkumpul dalam keramaian.

Karena itulah, ketika sedang sendiri di kafe, saya benar-benar ingin menikmati kesendirian itu.

Biasanya saya datang untuk mengerjakan pekerjaan kampus, menulis artikel blog, mengoreksi tugas mahasiswa, atau menyelesaikan proyek yang sedang mengejar deadline.

Saya sebenarnya juga bisa bekerja di rumah. Namun ada saat-saat ketika rasa kantuk datang, konsentrasi buyar, atau saya hanya membutuhkan suasana yang berbeda agar pikiran kembali segar.

Pada saat seperti itulah saya memilih pergi ke kafe selama dua sampai empat jam.

Belakangan ini saya lebih sering datang ke café Duanja. Alasannya, di sana tidak ada music sehingga nyaman untuk fokus membaca, musholanya dekat tempat duduk favorit saya dan nyaman, serta saya hampir tidak pernah bertemu orang yang saya kenal.

Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh.

Namun bagi saya, justru itulah kemewahannya.

Beberapa jam sendirian di kafe mengingatkan saya bahwa saya adalah seorang manusia yang perlu memberi makan pikiran sendiri.

Saya merasa utuh ketika bisa membaca buku, berdialog dengan AI terkait topik yang cukup berat, atau butuh insight baru.

Bagi saya, itulah rezeki yang tidak bisa dihitung dengan uang.

Saya memang membeli kopi.

Tetapi yang sebenarnya saya bawa pulang adalah ilmu, pertemanan, inspirasi, ruang untuk berpikir, dan waktu untuk menjadi diri sendiri.

Bagi saya, semua itu jauh lebih bernilai daripada harga secangkir kopi atau makanan fisik di cafe.

So, kamu juga merasakan hal yang sama?

You May Also Like

1 Comment

  1. duniamasak Juli 8, 2026 at 9:32 am

    WFC bersama strangers juga asik, jadi bisa nambah koneksi juga 😀

Leave a Reply