Ternyata, Kita Belum Benar-Benar Mengenal Mereka

Ada satu kebiasaan yang cukup sering saya lakukan bersama adik perempuan saya, yaitu mengobrol sambil memasak di dapur. Dari obrolan ringan tentang berbagai hal, kadang muncul pembahasan yang cukup panjang dan menarik untuk direnungkan.

Salah satu obrolan yang masih saya ingat adalah tentang bagaimana kita memandang orang lain dalam lingkungan sosial. Mengapa ada orang yang begitu dikagumi, dikenal banyak orang, dan terlihat istimewa? Sementara itu, ada pula orang yang biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, bahkan mungkin keberadaannya jarang diperhatikan.

Apakah popularitas, kecantikan, ketampanan, prestasi, atau kemampuan bergaul membuat seseorang lebih berarti daripada orang lain? Apakah orang yang tidak menonjol berarti tidak memiliki sesuatu yang istimewa?

Percakapan itu kemudian membawa kami mengenang masa lalu. Kami membicarakan pengalaman ketika masih sekolah, mulai dari masa SD hingga SMA, lalu berlanjut ke kehidupan kampus dan lingkungan pergaulan lainnya. Beberapa di antaranya justru membuat saya menyadari bahwa manusia tidak sesederhana apa yang terlihat dalam satu pertemuan.

Lapisan-Lapisan Interaksi Sosial

Sejak mendapatkan tugas mengajar Sosiologi Komunikasi, ada banyak sekali topik yang ingin saya tulis di blog ini. Bahkan, termasuk pertanyaan mahasiswa di kelas pada mata kuliah lain. Mungkin karena ilmu sosiologi ini sangat dekat dengan keseharian dan pengalaman hidup kita.

Dalam mata kuliah Sosiologi Komunikasi, ada konsep dramaturgi yang diperkenalkan oleh Erving Goffman. Singkatnya, teori ini menjelaskan bahwa kehidupan sosial dapat dipahami seperti sebuah panggung. Kita menjalankan peran tertentu ketika berinteraksi dengan orang lain.

Ada front stage, yaitu ketika seseorang menampilkan dirinya di hadapan orang lain sesuai peran yang sedang dijalankan. Ada pula backstage, yaitu wilayah yang lebih privat ketika seseorang tidak sedang menjalankan tuntutan penampilan di hadapan panggung sosial.

Misalnya, seorang dosen mungkin terlihat serius dan formal ketika mengajar. Namun, ketika berkumpul bersama teman-teman dekatnya, ia bisa menjadi orang yang sangat santai dan banyak bercanda. Begitu pula seorang mahasiswa yang terlihat pendiam di kelas, tetapi ternyata cukup ramai ketika bersama teman sekamarnya.

Sepertinya konsep ini juga masih relate dengan tulisan saya sebelumnya: Jika Sebagian Diri Kita Hilang Karena Terjebak di Satu Lingkungan

Meskipun di tulisan itu saya tidak begitu mengaitkan dengan dramaturgi, tapi lebih menghubungkannya dengan teori interaksi simbolik.

Lanjut ya…

Perbedaan itu tidak selalu berarti seseorang sedang berpura-pura. Kita memang memiliki peran dan cara berinteraksi yang berbeda sesuai lingkungan dan situasi.

Dari sini saya kemudian memikirkan sekitar 4 lapisan interaksi sosial yang membuat kita mengenal seseorang hanya sebagian atau bahkan secara bertahap (jika kita bergaul dengan mereka semakin akrab). Semakin sering berinteraksi, semakin banyak sisi yang mungkin terlihat. Namun, bukan berarti kita akhirnya mengetahui seluruh dirinya.

1. Pertemuan sekilas

Kita tentu pernah bertemu orang asing di tempat umum, seperti di kereta, kafe, pusat perbelanjaan, atau fasilitas publik lainnya. Mungkin kita pernah melihat seseorang yang sangat ramah kepada petugas, lalu menganggapnya sebagai orang yang baik. Sebaliknya, ketika bertemu orang yang terlihat jutek atau tidak banyak tersenyum, kita mungkin langsung menilainya kurang menyenangkan.

Padahal, kita tidak tahu apa yang sedang dialami orang tersebut. Bisa jadi ia sedang lelah, terburu-buru, atau sedang memikirkan sesuatu. Begitu pula orang yang terlihat ramah belum tentu selalu memiliki karakter yang sama dalam situasi lain.

Kita hanya melihat satu potongan kecil dari kehidupannya. Bahkan, mungkin hanya beberapa detik.

2. Pertemuan jarang dan terbatas

Lapisan berikutnya adalah orang-orang yang kita temui sesekali, tetapi dalam konteks tertentu. Contohnya guru, dosen, mahasiswa, pembicara seminar, atau orang yang kita kenal melalui kegiatan organisasi.

Saya masih ingat seorang guru matematika sekaligus pembina Pramuka ketika sekolah. Di dalam kelas, beliau dikenal tegas, agak galak, dan sangat serius ketika mengajar. Namun, orang-orang yang berinteraksi dengannya di luar kelas mengenal sisi yang berbeda. Beliau ternyata ramah dan bisa bercanda dengan orang-orang di sekitarnya.

Mungkin saya dan teman-teman hanya mengenal beliau sebagai guru matematika. Sementara itu, orang lain mengenalnya sebagai rekan kerja, teman, atau tetangga.

Hal yang sama juga berlaku bagi seorang dosen. Mahasiswa mungkin mengenalnya sebagai sosok yang berwibawa, banyak berbicara tentang teori, dan serius dalam memberikan penilaian. Padahal, bisa saja di rumah ia merupakan orang yang santai, suka melakukan hal-hal konyol, atau justru sangat pendiam.

Kita tidak bisa menganggap bahwa peran yang terlihat di satu tempat sudah menggambarkan keseluruhan dirinya.

3. Pertemuan rutin

Pertemuan yang berlangsung rutin, misalnya dengan teman sekolah, teman satu kelas di kampus, atau teman organisasi, biasanya membuat kita merasa sudah cukup mengenal seseorang. Kita bertemu hampir setiap hari, mengikuti kegiatan yang sama, bahkan mungkin menghabiskan waktu bersama selama bertahun-tahun.

Namun, kedekatan dalam satu lingkungan belum tentu membuat kita mengetahui semua sisi seseorang.

Saya pernah memiliki teman laki-laki ketika kuliah yang dalam pergaulan umum terlihat keras, blak-blakan, dan terkadang kurang menyenangkan. Bahkan banyak yang tidak menyukai karakternya. Ia bisa menegur orang secara langsung jika merasa ada sesuatu yang tidak beres. Misalnya, menegur teman yang memakai barang miliknya tanpa izin atau mengkritik perilaku orang yang menurutnya tidak pantas.

Akan tetapi, ketika mengenalnya lebih dekat, saya melihat sisi lain. Ia ternyata suka memasak, menjaga kebersihan tempat tinggal, rajin beribadah, dan menyukai anak-anak. Anak-anak tetangga kontrakannya bahkan senang bermain dengannya.

Sifat keras dan sisi penyayang ternyata bisa berada dalam diri orang yang sama.

Saya juga pernah mengenal seorang perempuan melalui kegiatan organisasi. Di lingkungan tersebut, ia terlihat komunikatif, pandai mengayomi, dan sering menjadi tempat teman-temannya bercerita. Namun, ketika berada dalam lingkungan tempat tinggal yang lebih dekat, saya melihat bahwa ia tidak selalu menjadi pendengar yang baik. Ada kalanya ia sibuk dengan urusannya sendiri dan memiliki kebiasaan sehari-hari yang kurang memperhatikan kenyamanan orang lain.

Saya tidak lantas menganggap salah satu sisi tersebut sebagai dirinya yang asli. Bisa jadi ketika berada di organisasi, ia memang sedang menjalankan peran sebagai orang yang mengayomi. Sementara itu, ketika berada di tempat tinggal, ia ingin beristirahat dan tidak selalu harus memperhatikan orang lain.

Dari pengalaman seperti ini, saya merasa bahwa pertemuan rutin pun belum tentu cukup untuk mengenal seseorang secara utuh.

4. Interaksi hampir 24 jam

Lapisan berikutnya adalah orang-orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, bahkan hampir sepanjang waktu. Misalnya keluarga serumah, saudara, teman sekamar di asrama atau pesantren, atau teman satu kontrakan.

Kita mungkin berpikir bahwa orang yang tinggal bersama kita pasti sudah diketahui seluruh sifat dan kebiasaannya. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.

Saya pernah memiliki teman ketika MTs. Saat itu, ia dikenal sebagai anak yang pendiam, sopan, rapi, dan cukup rajin belajar. Ia bukan termasuk orang yang menonjol dalam pergaulan. Kami tidak berada dalam kelompok pertemanan yang sama, meskipun sesekali ia bergabung dengan kelompok kami.

Ketika melanjutkan sekolah ke SMA yang sekaligus menjadi lingkungan pesantren, kami kembali bertemu. Bahkan, kami pernah berada dalam kamar yang sama. Dari situ saya mulai mengenal sisi-sisi yang sebelumnya tidak terlihat.

Beberapa sifatnya memang konsisten. Ia tetap rapi, teratur, disiplin, dan cukup pandai mengelola uang. Namun, saya juga baru mengetahui bahwa cara berpikirnya jauh lebih dewasa. Ia memiliki pandangan yang menarik tentang masa depan, pacaran, dan persoalan kehidupan. Dalam beberapa hal, ia justru lebih nyaman berbincang dengan orang-orang yang lebih dewasa daripada teman sebaya. Teman ia bergaul justru seringkali adalah ibu-ibu menantu pengasuh pondok pesantren.

Hal-hal seperti itu tidak terlihat ketika kami hanya bertemu di sekolah.

Namun, kedekatan juga memperlihatkan sisi yang tidak selalu menyenangkan. Ia terkadang memberikan kritik yang sangat tajam. Padahal saat MTs dia adalah orang yang selalu ramah kepada saya. Ada beberapa komentarnya yang membuat saya merasa seperti sedang dibedah, meskipun mungkin baginya itu hanya percakapan biasa. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa seseorang bisa memiliki banyak kualitas yang mengagumkan sekaligus sisi yang membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Tentang Orang-Orang yang Populer

Obrolan saya dengan adik juga sempat membahas orang-orang yang populer. Mengapa kami sering juga membahas ini? Adik saya seringkali merasa bahwa ada orang-orang yang begitu istimewa sedangkan yang lain, misal seperti adik saya mengakui diri sebagai pribadi yang tidak terlihat di lingkungan sosialnya.

Popularitas tidak selalu berkaitan dengan selebritas. Di lingkungan sekolah atau kampus, misalnya, ada ketua OSIS, pengurus BEM, siswi yang dianggap paling cantik, siswa berprestasi, atau seseorang yang dikenal dan dikagumi oleh banyak orang.

POV Menilai Orang Populer

Saya pernah melihat perempuan yang sangat cantik dan dikagumi banyak orang ketika masih sekolah. Namun, dari cerita teman-teman yang tinggal bersamanya, ternyata ada sisi perilakunya yang tidak selalu menyenangkan. Ada pula perempuan yang sangat populer di kampus karena penampilan dan pembawaannya. Ia disukai banyak orang, tetapi hal itu tidak serta-merta membuat kehidupan pribadinya berjalan tanpa persoalan.

Sebaliknya, saya juga mengenal orang-orang yang dahulu tidak terlalu menonjol. Mereka tidak populer, tidak menjadi pusat perhatian, dan hanya memiliki lingkaran pertemanan kecil. Namun, ketika dewasa, kehidupan mereka terlihat lebih menyenangkan. Ada yang memiliki keluarga harmonis, pekerjaan yang baik, dan hubungan sosial yang nyaman.

Dari situ saya merasa bahwa popularitas tidak bisa dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kualitas kehidupan seseorang.

POV Pengalaman Menjadi Populer

Saya sendiri pernah mengalami fase menjadi orang yang populer ketika SMA. Hal ini saya ceritakan karena pengalaman ini memberikan pelajaran berharga betapa keunggulan di mata banyak orang tidak menjamin kebahagian dan kualitas kita secara keseluruhan.

Saat kelas satu, sekitar tiga bulan setelah masuk sekolah, saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler paskibra. Ketika pertama kali mengikuti latihan di lapangan, yang tempatnya di tengah bangunan kelas yang bertingkat membentuk huruf U. Kegiatan Paskibra biasanya ditonton banyak siswa maupun siswi.  

Entah bagaimana ceritanya, tidak lama kemudian, nama saya mulai menjadi bahan perbincangan di lingkungan pesantren. Saya juga pernah mendengar cerita bahwa dua orang kakak kelas membuat taruhan tentang siapa yang bisa mendapatkan saya.

Sebagai remaja, tentu saja saya merasa tersanjung. Rasanya menyenangkan ketika banyak orang memperhatikan dan mengagumi kita. Ada kebanggaan tersendiri, seolah-olah saya menjadi selebritas kecil di lingkungan sekolah.

Namun, ketika memasuki tahun kedua, saya mulai menyadari bahwa perhatian orang tidak selalu bertahan. Semakin banyak orang mengenal saya, semakin mereka mencari tahu, mengulik, dan akhirnya banyak pula sisi kehidupan sehari-hari yang terlihat. Mereka tidak lagi hanya melihat penampilan, tetapi juga kebiasaan dan karakter saya.

Pernah ada momen ketika seorang teman sekamar punya kebiasaan menilai teman-teman lain di sebuah buku binder atau diary. Itu kebiasaan unik, memang. Namun, entah kenapa kebiasaannya itu banyak diapresiasi oleh yang lain karena dianggap bisa menjadi hiburan sekaigus evaluasi diri.

Saat itu, ia mulai membacakan hasil evaluasinya di kelas saat guru geografi berhalangan masuk. Ketika bagian tentang saya dibahas, teman-teman laki-laki sekelas justru sangat antusias mendengarkan. Saya kemudian mengetahui bahwa ternyata saya tidak dianggap sebagai sosok yang paling istimewa pada catatan itu. Ada teman lain yang justru dianggap lebih unggul dari banyak hal.

Sejak saat itu, perhatian teman sekelas mulai mengarah kepada teman yang dianggap unggul secara karakter tersebut. Bahkan ada yang katanya awalnya mengagumi saya, tiba-tiba berubah pikiran dan mulai memperhatikan yang unggul itu.

Saya tidak sedang menyalahkan teman-teman atau merasa mereka harus selalu mengagumi saya. Namun, saat itu saya belajar bahwa kesan istimewa dari kejauhan bisa berubah setelah seseorang dikenal lebih dekat.

Meskipun, tentu saja saya tidak selalu merasa kecewa. Hal-hal lain bisa saya sadari setelah bertahun-tahun lamanya. Saya kemudian membicarakan ini dengan adik saya di dapur setiap pagi. Misalnya, teman yang dianggap unggul oleh pemilik diary itu sebutlah namanya Jasmine ya.

Jasmine tubuhnya lebih kecil dan pendek dibanding saya. Bahkan agak jauh lebih pendek. Kulitnya juga sawo matang dan cukup gelap saat memakai kerurung putih. Namun, wajahnya manis, suaranya serak basah, dan selalu rangkin 1 di kelas. Bahkan popularitasnya naik setelah dia terpilih menjadi ketua OSIS. Sebuah paket lengkap untuk menjadi unggul di sekolah.

Bahkan ada yang sampai mengatakan bahwa ia siswi paling menyenangkan dan disukai kaum santri saat itu.

Tapi……

Di Balik Karakter Paling Menyenangkan

Saya kemudian bercerita ke adik saya. Setelah 6 bulan ia menjadi sosok yang istimewa, keunggulan karakter menyenangkan dan baik hati, sepertinya menjadi salah satu faktor ia mengalami sakit yang saya tidak tahu namanya apa.

Misalnya tangan yang tiba-tiba kaku, tubuh yang sulit bergerak saat bangun pagi, perut dan tubuh mudah sakit saat berjalan kaki. Termasuk ada saat di mana ia tiba-tiba mengamuk seperti kehilangan kesadaran. Atau dia mersepon dengan sangat kontras dari keramahan biasanya menjelang tahun ketiga.

Saya punya asumsi bahwa sikap yang terlalu baik dan membuat orang lain nyaman, bahkan sampai mendapat predikat teman paling menyenangkan justru memendam luka sendirian. Ia tipe orang yang selalu bersedia menolong, mengayomi, bahkan menyenagkan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri.

Dia bahkan suatu hari mengajak saya berbicara di teras musholla, bahkan ia ingin saya menggantikan perannya sebagai ketua OSIS. Lebih jauh lagi, ia merasa apakah umurnya akan bertahan lama. Sungguh membuat saya prihatin. Tubuhnya semakin kurus dan terlihat pucat saat itu.

Tampilan kita sesungguhnya berlapis-lapis dengan misteri. Saya mungkin tidak begitu dianggap memiliki karakter menyenangkan bagi teman terdekat, tapi saya tidak memendam amarah. Saya egois tapi tidak punya keinginan untuk dianggap baik oleh orang terdekat. Bahkan jika dianggap seorang villain, saya suka peran itu jika memang itu sesuai diri saya yang sebenarnya.

Namun, bukan berarti menjadi baik hati juga beban. Justru itu adalah hal yang sebaiknya menjadi tujuan perbaikan diri kita dari waktu ke waktu. Bukan berarti Jasmine juga saya anggap pura-pura baik. Saya masih berasumsi bahwa ia terlalu tidak tegaan kepada orang lain, lalu itu menjadi beban baginya. Itu pendapat saya selama bergaul dengannya.

Cerita tidak sampai di situ.

Kehadiran Selebriti Kecil Lain

Pada tahun ketiga, datang pula adik kelas yang menurut banyak orang cantik dan manis, berbakat menyanyi, dan berprestasi hingga menjadi juara umum di lingkungan sekolah. Perhatian yang dahulu banyak tertuju kepada saya, lalu Jasmine, perlahan berpindah kepadanya.

Popularitas saya tidak hilang sepenuhnya, sebenarnya. Masih ada orang yang menunjukkan ketertarikan, bahkan sesekali ada yang mencoba menghubungi melalui nomor yang tidak saya kenal untuk sekedar menggombal. Namun, saya mulai memahami bahwa menjadi pusat perhatian bukan sesuatu yang bisa dipertahankan selamanya.

Pengalaman itu cukup membekas. Ada rasa tidak nyaman ketika perhatian orang mulai berkurang, ketika kekurangan kita terlihat, atau ketika orang lain datang dan menjadi lebih menarik perhatian. Rasanya seperti kehilangan posisi yang dahulu kita miliki.

Setelah melewati fase tersebut, saya justru merasa lebih nyaman menjalani kehidupan dengan tenang. Sekarang, termasuk ketika mengajar sebagai dosen, saya tidak terlalu ingin menjadi pusat perhatian atau bahan pembicaraan. Saya lebih senang memiliki ruang untuk menjalani aktivitas dan memperbaiki diri.

Jika dikenal, maka itu haruslah benar-benar karena peran positif dan punya manfaat bagi orang banyak dengan basic pribadi yang benar-benar baik, bukan sandiwara. Bukan pula popularitas yang membawa saya ke arah kecemasan.

Pengalaman menjadi populer, merasa dibedah oleh mata banyak orang, dan pernah merasa tergantikan membuat saya memahami bahwa posisi sosial seseorang tidak selalu menentukan nilai dirinya. Orang yang dikagumi belum tentu lebih baik daripada orang yang tidak dikenal. Orang yang tidak menjadi pusat perhatian pun belum tentu memiliki kehidupan yang kurang berarti. Keadaan juga bisa berubah kapan saja.

Hubungan Manusia Bisa Berubah Seiring Fase Kehidupan

Ada satu hal lagi yang menarik dari semua pengalaman tersebut. Ternyata, bukan hanya peran sosial yang berbeda-beda, tetapi manusia dan hubungan antarmanusia juga bisa berubah seiring waktu.

Saya pernah mengetahui kisah dua orang laki-laki yang dahulu berada dalam organisasi kampus yang sama. Keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda dan sering tidak cocok satu sama lain.

Sebut saja A dan B. A adalah tipe orang yang blak-blakan. Jika tidak suka sesuatu, ia bisa langsung mengkritik, bahkan di hadapan banyak orang. Ia juga cukup terbuka ketika menceritakan pencapaiannya alias suka pamer berlebihan. Sementara itu, B lebih lembut, ramah, dan pandai membangun hubungan dengan orang lain.

B kurang menyukai cara A berbicara yang terkadang terlalu keras. Sebaliknya, A menganggap B terlalu banyak bersandiwara dan tidak selalu menunjukkan apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Mereka sering saling mengkritik, menyindir, bahkan pernah membicarakan satu sama lain di belakang. Ketidakcocokan itu berlangsung hingga lulus kuliah.

Namun, setelah menikah, kehidupan membawa mereka ke situasi yang berbeda. Keduanya kebetulan tinggal berdekatan di sebuah lingkungan perantauan, jauh dari keluarga masing-masing.

Awalnya, hubungan mereka sebagai tetangga masih terasa canggung. Mereka bahkan masih memiliki kecurigaan satu sama lain. Namun, kehidupan rumah tangga menghadirkan banyak kebutuhan yang membuat mereka mulai saling berinteraksi.

Ketika pompa air salah satu rumah rusak, misalnya, mereka bisa saling membantu. Ketika salah satu sedang sakit sementara istrinya harus mengurus bayi, teman itu sebagai tetangga terdekat menjadi orang yang bisa dimintai pertolongan.

Ternyata, keduanya memiliki kesamaan dalam hal suka menolong. A yang dahulu dikenal keras ternyata tidak segan membantu tetangganya, termasuk dalam urusan keuangan. B pun memiliki kebiasaan yang sama.

Lama-kelamaan, mereka mulai sering berbincang. Mereka saling bercerita tentang persoalan rumah tangga, hubungan dengan keluarga besar, dan berbagai kesulitan yang dihadapi sebagai perantau. Dari dua orang yang dahulu tidak cocok, mereka justru menjadi tetangga yang rukun, bahkan seperti saudara.

Saya juga melihat bagaimana A yang dahulu dikenal sangat blak-blakan menjadi lebih halus dan santun ketika bertambah usia. Mungkin pengalaman hidup, tanggung jawab keluarga, dan persoalan yang dihadapi membuat seseorang belajar melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.

Sedikit contoh lainnya, ada seseorang yang dahulu tidak terlalu menonjol ketika kuliah. Namun, sekarang ia dikenal karena berhasil membangun bisnis, menjadi pembicara, dipercaya sebagai dosen pada mata kuliah wirausaha dan jenis kuliah bisnis lainnya, dan menjadi teladan bagi anak muda. Ada pula orang yang dahulu berkecukupan, tetapi setelah menikah harus menghadapi kesulitan ekonomi.

Artinya, keadaan bisa berubah. Kebutuhan, tanggung jawab, kemampuan, dan lingkungan sosial seseorang juga bisa berubah. Orang yang kita kenal pada usia belasan tahun belum tentu sama dengan orang yang kita temui ketika usianya sudah 30 atau 35 tahun.

Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Mereka

Dari berbagai pengalaman tersebut, saya semakin memahami cara dalam menilai orang lain. Apa yang kita lihat belum mencerminkan segala sisi dirinya.

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki penilaian. Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita perlu mengenali karakter seseorang, termasuk mempertimbangkan perilakunya ketika membangun hubungan. Namun, ada perbedaan antara mengenali perilaku seseorang dan merasa sudah mengetahui seluruh dirinya.

Mungkin seseorang yang hari ini kita anggap menyebalkan, beberapa tahun kemudian justru menjadi orang yang kita butuhkan. Seseorang yang dahulu kita kagumi bisa saja memiliki sisi yang belum pernah kita lihat. Dan orang yang sekarang terlihat biasa-biasa saja mungkin sedang menjalani proses kehidupan yang kelak membawanya ke tempat yang berbeda.

Bisa saja, kita hanya melihat sebagian dari perjalanan seseorang. Kita tidak selalu tahu bagaimana ia ketika berada di rumah, ketika menghadapi masalah, ketika menjalankan peran yang berbeda, atau ketika kehidupannya berubah.

Tetap rendah hati ketika sedang diterima dan dikagumi, serta tidak merasa rendah diri ketika berada di lingkungan yang tidak memberikan banyak perhatian.

Sebab, kita sendiri pun masih terus berubah. Keadaan dan situasi juga bisa berubah.

You May Also Like

Leave a Reply