Lukisan Misterius Part 3

Lukisan itu menampilkan sebuah sungai yang sangat jernih membentang di antara pepohonan dengan dedaunan berguguran. Airnya begitu bening hingga dasar sungai terlihat jelas. Di bawah permukaan air, berenang seekor ikan cupang berwarna merah dengan sedikit sentuhan oranye. Sirip dan ekornya menjuntai indah, membentuk gerakan seperti kain tipis yang menari mengikuti arus.

Di atas sungai, pada sebuah ranting pohon yang menjulur ke arah air, bertengger seekor burung.

Pemandangan itu tampak memiliki keindahan yang sulit dijelaskan. Burung dan ikan tersebut seolah sedang saling memperhatikan. Jarak keduanya cukup dekat, seakan-akan mereka sedang terlibat dalam percakapan tanpa suara.

Suasana di sekitarnya terasa seperti sore menjelang malam. Matahari mulai turun di balik cakrawala, meninggalkan semburat jingga keemasan yang berpadu dengan warna abu-abu kebiruan. Di kejauhan, tampak pepohonan dengan sebagian daun mulai menguning dan berguguran. Beberapa daun bahkan terlihat melayang turun menuju permukaan sungai.

Meski masih ada dedaunan hijau di antara ranting-rantingnya, pemandangan itu menghadirkan suasana peralihan menuju musim gugur. Indah, tetapi juga menyimpan kesan sendu.

Lukisan tersebut dibuat dengan detail yang sangat halus. Air sungai, gerakan ikan, bulu burung, hingga dedaunan yang berguguran tampak seperti karya seorang pelukis yang benar-benar memahami suasana alam.

Di salah satu sudut bawah lukisan, terdapat goresan putih kecil yang nyaris tidak terlihat. Tertulis angka 19.19. Sedangkan di bawah angka itu masih terdapat tulisan yang lebih kecil: 9.9.

Seperti unggahan sebelumnya, Memory19 tidak memberikan penjelasan apa pun.

Tidak ada caption panjang. Tidak ada cerita tentang burung ataupun ikan.

Belum genap beberapa jam, kolom komentar kembali ramai.

“Lho, sekarang jadi lukisan alam, guys? Kita pindah genre?” tulis seorang pengguna.

“Sebentar, jangan-jangan ada artinya lagi. Ingat pembahasan Pak Rendra di podcast Ruang Tengah? Katanya lukisan Memory19 itu selalu punya cerita.”

“Aku malah salfok sama musim gugurnya. Suasananya bikin sedih. Rasanya pengin masuk rumah, tutup jendela, terus rebahan.”

“Lah, malah rebahan yang dipikirin,” balas pengguna lain.

Komentar itu langsung disambut beberapa emotikon tertawa.

Ada pula yang mencoba menebak lokasi lukisan tersebut.

“Ini mengingatkan aku sama suasana di Eropa. Tapi kok ada ikan cupang? Jadi sebenarnya ini di mana?”

“Ya ampun, aku juga merasa pernah melihat pemandangan seperti ini. Sendu banget, tapi cantik.”

Namun, perhatian sebagian pengguna justru tertuju pada perubahan suasana dari lukisan sebelumnya.

“Kemarin musim semi, sekarang musim gugur. Ada apa lagi ini, Mrs. Y?”

Komentar itu mendapat banyak tanda suka.

“Eh, iya juga! The Spring Painting kemarin kan suasananya seperti musim semi. Sekarang malah musim gugur. Ini jangan-jangan memang ada urutan ceritanya?”

“Jangan-jangan setiap musim punya kenangan sendiri.”

“Please, Mrs. Y. Kita belum selesai memikirkan The Silent Grief, sekarang malah dikasih teka-teki baru.”

Seperti dua unggahan sebelumnya, publik kembali dibuat penasaran. Mereka mulai menyadari bahwa lukisan-lukisan Memory19 mungkin bukan sekadar kumpulan karya seni yang berdiri sendiri.

Burung dan Ikan yang Berbeda Dunia

Perbincangan tentang lukisan baru itu akhirnya membawa Damar Pradipta kembali membuka episode khusus podcast Ruang Tengah.

Kali ini suasananya terasa lebih ceria. Damar terlihat antusias sejak awal rekaman.

“Selamat datang kembali di Ruang Tengah. Sepertinya kita memang belum bisa berhenti membicarakan Memory19, ya, teman-teman.”

Di sampingnya duduk Raka Wicaksana, kreator konten yang dikenal sering membahas hal-hal mistis dan pengalaman spiritual. Sementara narasumber perempuan yang hadir kali ini adalah Maya Larasati, seorang penulis sekaligus kreator konten. Perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun itu merupakan lulusan filsafat dan dikenal melalui tulisan-tulisannya tentang filsafat kehidupan dan sastra.

Damar menjelaskan bahwa Pak Rendra Mahardika sebenarnya kembali diundang. Namun, pelukis senior tersebut sedang berada di Eropa untuk mengunjungi sebuah museum sehingga tidak bisa hadir secara langsung. Mbak Nadira juga berhalangan karena memiliki agenda lain.

“Sayang sekali Pak Rendra tidak bisa bergabung. Padahal kita butuh sekali pandangan beliau sebagai pelukis untuk membedah karya terbaru Memory19 ini,” kata Damar.

“Awalnya saya juga sempat berpikir untuk mengundang kreator yang banyak membahas satwa. Tapi setelah melihat lukisannya, rasanya pembahasan kita kali ini lebih cocok diarahkan ke sisi filosofisnya,” lanjutnya.

Raka tersenyum.

“Baik, saya mulai dari Mas Raka dulu. Menurut Mas, sebenarnya lukisan keempat ini bercerita tentang apa?” tanya Damar.

Raka membetulkan posisi duduknya. “Kalau dari visualnya, mungkin lebih tepat kita serahkan kepada Mbak Maya Larasati nanti, ya. Saya justru lebih tertarik membahas angka-angka kecil di pojok lukisan itu. Kebetulan saya cukup banyak mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas, simbol, dan kepercayaan terhadap makna angka. Entah nanti pembahasan ini bisa membantu mengungkap misteri lukisan atau justru tidak.”

“Memangnya ada kemungkinan angka-angka itu berkaitan dengan spiritualitas, Mas?” Damar menyela.

“Ada dua kemungkinan, sih. Pertama, pemilik akun Memory19 memang tidak memahami maupun mempercayai konsep-konsep spiritualitas. Kedua, dia mengenal atau bahkan mempercayai hal-hal semacam itu. Kita tidak bisa langsung mengasumsikan salah satunya.”

“Kalau misalnya dia orang awam yang nggak tahu soal itu, gimana, Mas?”

“Kalau dia orang awam seperti kebanyakan orang, angka 19.19 dan 9.9 mungkin hanya berkaitan dengan pengalaman penting untuk dia. Bisa berupa usia, tanggal, bulan, atau waktu terjadinya suatu peristiwa penting. Misalnya tanggal pertemuan, hari jadian, atau momen perpisahan. Jadi, angka-angka itu tidak harus memiliki makna spiritual.”

“Lalu kalau dia memang memahami spiritualitas?”

“Kalau kemungkinan kedua, angka-angka kembar itu bisa saja menjadi memori penting karena dianggap memiliki makna khusus. Dalam beberapa kepercayaan numerologi, angka kembar sering dikaitkan dengan pertemuan istimewa dan chemistry yang kuat antara dua orang. Bisa jadi angka 19 berkaitan dengan usia saat mereka bertemu, tanggal tertentu, atau waktu yang dianggap penting.”

Raka menunjuk bagian bawah lukisan.

“Begitu juga dengan angka 9.9. Bisa saja itu kombinasi angka yang berkaitan dengan tanggal atau identitas pribadi. Bahkan ada kepercayaan yang menghubungkan angka-angka dengan tanggal lahir seseorang.”

Damar tampak tertarik. “Seperti apa contohnya, Mas?”

“Misalnya saya tanya, Mas Damar lahir tanggal berapa?”

“1 Juni 2000,” jawab Damar.

“Nah, kalau dalam salah satu cara perhitungan numerologi, angka tanggal dan bulan serta angka tahun dijumlahkan. Jadi, 1+6 lalu +2, hasilnya 0. Angka nol di tahun 2000 tentu tidak mengubah hasilnya. Dari situ, angka sembilan bisa dianggap sebagai angka yang memiliki makna tertentu bagi seseorang.”

“Oh, begitu. Jadi angka-angka dalam lukisan itu mungkin juga berkaitan dengan perhitungan semacam itu?”

“Bisa saja. Tetapi saya justru tertarik pada banyaknya kemunculan angka sembilan. Dalam beberapa kepercayaan spiritual, angka sembilan sering dikaitkan dengan empati, belas kasih, pengorbanan, dan kedalaman emosi. Jadi, kalau kita mencoba membaca lukisan ini melalui sudut pandang tersebut, mungkin ada hubungan yang sangat emosional antara dua orang yang sedang diceritakan.”

Raka berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Orang dengan unsur angka sembilan yang kuat, menurut kepercayaan itu, digambarkan memiliki empati besar. Bahkan dalam kondisi tertentu, seseorang bisa bertahan dalam hubungan bukan lagi karena perasaan cintanya masih sebesar dulu, melainkan karena belas kasihan, rasa tanggung jawab, atau tidak tega meninggalkan pasangannya. Itu bisa membuat hubungannya selalu memiliki chemistry atau malah bertahan hanya karena sulit pergi.”

Damar mengangguk perlahan.

“Wah, menarik juga, ya. Berarti kalau mengikuti tafsir itu, angka sembilan bisa menggambarkan hubungan yang penuh perasaan, tetapi belum tentu mudah dijalani.”

“Kurang lebih begitu. Namun, ini hanya salah satu tafsir dalam kepercayaan numerologi, Mas. Kita tidak tahu apakah pembuat lukisan memang mempercayainya atau sekadar menuliskan angka yang punya kenangan pribadi.”

Damar tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepada Maya.

“Baiklah. Kalau begitu, sekarang kita beralih ke Mbak Maya Larasati. Mungkin kita bisa membahas sesuatu yang lebih terlihat dari lukisan ini. Bagaimana Mbak membaca hubungan antara burung dan ikan yang seolah-olah saling memandang?”

Maya tersenyum sebelum menjawab.

“Kalau menurut Mas Damar sendiri bagaimana?”

Damar tertawa.

“Wah, saya malah balik ditanya.”

“Saya ingin nge-tes dulu, sih. Coba kita lihat bersama. Menurut Mas, apa yang bisa diartikan dari gambar burung dan ikan?”

Damar memperhatikan kembali gambar yang ditampilkan di layar.

“Kalau saya melihatnya, burung dan ikan itu dua hewan yang memiliki habitat berbeda. Burung hidup di udara dan daratan, sedangkan ikan hidup di air. Mereka tidak mungkin tinggal di tempat yang sama.”

Maya mengangguk.

“Nah, itu dia. Sebenarnya tidak perlu menjadi orang dengan latar belakang filsafat untuk menangkap makna tersebut.”

Damar mulai terlihat tertarik.

“Jadi, maksud Mbak Maya, ini tentang dua orang yang saling menyukai, tetapi tidak bisa bersama karena memiliki dunia yang berbeda?”

“Bisa jadi begitu, Mas. Kita sedang melihat sebuah kiasan. Burung dan ikan sama-sama makhluk hidup. Mereka bisa saling melihat, bahkan dalam lukisan ini seolah-olah sedang saling memperhatikan. Tetapi keduanya tidak memiliki ruang hidup yang sama.”

Maya kemudian melanjutkan penjelasannya.

“Bayangkan jika burung itu berusaha masuk ke dalam sungai untuk hidup bersama ikan. Burung tersebut tidak akan bisa bertahan. Sebaliknya, jika ikan dibawa keluar dari air agar bisa hidup bersama burung, ikan itu juga akan mati. Jadi, persoalannya bukan karena mereka tidak saling menyukai. Mereka memang tidak bisa hidup di tempat yang sama.”

Raka menyimak dengan serius.

“Wah, ini semakin berat, ya. Rasanya semakin emosional.”

Maya tersenyum tipis.

“Bisa saja. Kalau kita menghubungkannya dengan cerita sebelumnya, mungkin Memory19 sedang menggambarkan dua orang yang saling menginginkan, tetapi keadaan membuat mereka tidak bisa bersama. Bahkan jika keduanya memiliki perasaan yang sama kuat, itu belum tentu cukup untuk mengubah keadaan.”

Damar mengangguk perlahan.

“Jadi, seperti cinta yang tidak bisa mengalahkan hukum alam?”

“Kurang lebih begitu. Ada keadaan yang tidak bisa dipaksa. Kadang-kadang, sesuatu yang kita inginkan belum tentu bisa kita miliki. Bukan karena perasaan kita kurang besar, tetapi karena ada batas-batas yang tidak bisa kita lewati tanpa mengorbankan sesuatu.”

Raka kemudian menyela.

“Kalau begitu, apakah ini bisa menjadi alasan mengapa Mrs. Y terlihat sangat sedih di lukisan sebelumnya?”

Maya mengangguk.

“Mungkin. Kalau kita membaca rangkaian lukisan ini sebagai sebuah cerita, bisa jadi The Silent Grief menggambarkan kesedihan seseorang yang menyadari bahwa orang yang dicintainya tidak bisa berada di sisinya. Sementara lukisan terbaru ini seperti memberikan sedikit penjelasan mengapa mereka tidak bisa bersama.”

Damar kembali melihat lukisan tersebut.

“Menarik sekali. Tapi kalau begitu, sebenarnya apa yang membuat mereka tidak bisa bersama? Apakah perbedaan usia, agama, pekerjaan, tempat tinggal, atau mungkin status pernikahan?”

Maya tidak langsung menjawab.

“Kalau perbedaan tempat tinggal, menurut saya masih mungkin diatasi. Salah satu bisa pindah. Apalagi dari The Spring Painting, saya justru menangkap kesan bahwa mereka pernah bertemu secara langsung. Jadi, mungkin bukan sekadar dua orang yang hanya mengenal satu sama lain melalui internet, misalnya.”

“Kalau perbedaan usia?” tanya Damar.

“Itu juga masih mungkin. Banyak pasangan yang memiliki jarak usia cukup jauh tetapi tetap bisa bersama. Perbedaan agama bisa lebih rumit, tetapi kita juga tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa itu penyebabnya.”

Raka ikut menambahkan.

“Bagaimana kalau salah satunya sudah menikah?”

Maya mengangguk.

“Itu bisa menjadi penghalang yang sangat berat. Tetapi sekali lagi, kita tidak tahu. Bisa saja ada persoalan status pernikahan, karier, keluarga, atau keadaan lain.”

Damar kembali bertanya.

“Jadi, menurut Mbak, apa yang paling mungkin?”

Maya berpikir sejenak.

“Justru saya menduga mungkin bukan hanya satu hal. Bisa saja ada beberapa keadaan yang saling bertumpuk. Misalnya perbedaan agama, status, keluarga, tempat tinggal, dan persoalan lain yang membuat hubungan itu sangat sulit dijalani. Jadi, bukan sekadar ada satu masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah.”

Damar mengangguk.

“Berarti seperti burung dan ikan tadi. Bukan hanya berbeda tempat, tetapi memang ada batas yang membuat mereka tidak bisa hidup bersama.”

“Ya. Dan kalau dipaksakan, salah satunya mungkin harus kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupannya. Ibarat salah satunya memaksakan diri tinggal di habitat lain, maka dia tidak akan bertahan hidup lebih lama.”

Diskusi kemudian berlangsung semakin menarik. Damar beberapa kali menghubungkan penjelasan Maya dengan lukisan-lukisan sebelumnya. Raka kembali membahas kemungkinan makna angka 19 dan 9, sementara Maya mencoba membaca hubungan antara simbol alam dan perasaan manusia.

Di tengah pembicaraan, Damar tiba-tiba teringat sesuatu.

“Sebentar, teman-teman. Saya coba hubungi Pak Rendra, ya. Kebetulan beliau sedang berada di Eropa. Siapa tahu bisa bergabung sebentar melalui sambungan telepon.”

Beberapa saat kemudian, panggilan tersambung.

“Assalamualaikum, Pak Rendra. Apa kabar?”

“Waalaikumsalam. Baik, Mas Damar. Bagaimana podcast-nya?”

Damar tertawa.

“Seru, Pak. Kami sedang membahas lukisan terbaru Memory 19. Sayang sekali Bapak tidak bisa hadir.”

“Wah, saya juga sudah melihat unggahannya. Bagus sekali lukisannya.”

“Bapak sekarang sedang di mana, Pak?”

“Saya sedang berada di sebuah museum di Belanda. Kebetulan di sini suasananya sedang memasuki musim gugur. Daun-daun mulai berubah warna dan berguguran.”

Damar langsung menoleh kepada Raka dan Maya.

“Wah, kebetulan sekali, Pak! Lukisan Memory19 yang terbaru juga menggambarkan suasana menjelang musim gugur.”

Rendra tertawa kecil.

“Menarik juga. Mungkin nanti saya perlu melihat lebih dekat lukisannya. Tetapi saya belum bisa memberikan analisis panjang sekarang.”

Damar kemudian menjelaskan sedikit tentang tafsir burung dan ikan yang sedang mereka bahas.

“Menurut Mbak Maya, lukisan itu bisa menggambarkan dua orang yang saling menyukai tetapi tidak mungkin hidup bersama karena perbedaan keadaan.”

“Hmm, itu menarik,” jawab Rendra. “Saya memang tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan. Tetapi dari sisi seni, simbol seperti burung dan ikan memang bisa menjadi cara yang kuat untuk menyampaikan sebuah cerita tanpa harus menjelaskannya secara langsung.”

Setelah beberapa menit berbincang, panggilan berakhir. Damar kembali menghadap kamera.

“Baik, teman-teman. Kita belum bisa mendapatkan jawaban pasti. Bahkan Pak Rendra pun masih memilih untuk berhati-hati dalam menafsirkan lukisan ini.”

Episode tersebut berlangsung lebih dari dua jam. Pada akhirnya, Damar menyimpulkan bahwa kekuatan Memory19 bukan hanya terletak pada kemampuan melukis, melainkan juga pada caranya membuat publik terus penasaran.

“Awalnya kita hanya melihat potret seorang laki-laki yang kemudian kita kenal sebagai Mr. X. Lalu muncul The Spring Painting yang membuat kita membayangkan sebuah kisah cinta. Setelah itu hadir The Silent Grief yang membawa kita pada kesedihan Mrs. Y. Dan sekarang, ada burung dan ikan yang mungkin menggambarkan dua orang yang tidak bisa bersama.”

Damar berhenti sebentar.

“Namun, semua itu tetap penafsiran kita. Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita bahkan belum tahu siapa orang-orang di balik lukisan ini.”

Sebelum menutup episode, Damar mengajukan satu permintaan kepada para pendengar.

“Sepertinya lukisan keempat ini belum memiliki nama. Jadi, kami ingin meminta bantuan kalian. Silakan beri nama untuk lukisan burung dan ikan ini. Siapa tahu, nama pilihan kalian akan menjadi nama yang kita gunakan untuk membicarakannya nanti.”

Nama untuk Dua Dunia

Seperti yang sudah diperkirakan, setelah episode Ruang Tengah diunggah ke YouTube, permintaan Damar langsung menjadi bahan pembicaraan baru.

Kali ini, netizen tidak hanya sibuk menafsirkan lukisan. Mereka juga ramai-ramai mengusulkan nama.

“Guys, ini lukisan belum ada namanya, lho. Tolong bantu kasih nama. Aku angkat tangan. Aku bukan ahli begituan,” tulis seorang pengguna.

Ada yang menjawab dengan bercanda.

“Terakhir kali gue ngasih nama burung peliharaan, burung gue malah mati. Jangan suruh gue.”

Komentar itu mendapat banyak tanda suka.

Pengguna lain ikut bercerita.

“Dulu gue pernah ngasih usulan nama buat ponakan. Sampai sekarang malah jadi bahan bully teman-temannya. Gue nggak mau bertanggung jawab kalau nama lukisan ini nanti nggak cocok.”

Seorang ayah bahkan ikut nimbrung.

“Pengalaman saya sama. Nama anak kedua saya dulu sering diketawain saudara sendiri. Sekarang sudah besar, tapi masih saja ada yang mengungkit nama itu. Saya angkat tangan. Silakan yang lain saja.”

Kolom komentar pun berubah menjadi tempat berbagi cerita lucu tentang pengalaman memberi nama.

Namun, di antara komentar-komentar tersebut, beberapa pengguna mulai mengajukan usulan yang lebih serius.

Pengguna pertama mengusulkan nama The Last Autumn.

Menurutnya, suasana musim gugur dalam lukisan itu menjadi petunjuk penting. Ia merasa daun-daun yang berguguran menggambarkan sesuatu yang pernah indah, tetapi perlahan harus dilepaskan.

Pengguna kedua mengusulkan nama A Love Beyond Nature.

Ia berpendapat bahwa burung dan ikan menggambarkan dua makhluk yang saling tertarik, tetapi tidak mungkin hidup bersama. Cinta mereka seolah melampaui batas alam, tetapi alam tetap memiliki aturannya sendiri.

Sementara itu, pengguna ketiga mengusulkan nama Between Sky and Water.

“Menurutku ini paling cocok. Burung punya langitnya sendiri, ikan punya airnya sendiri. Mereka bisa saling melihat, tapi tidak bisa benar-benar berada di dunia yang sama. Sederhana, tetapi menyakitkan.”

Usulan ketiga itu mulai mendapat banyak dukungan.

“Between Sky and Water. Bagus banget!”

“Ini lebih mewakili lukisannya. Nggak cuma musim gugur, tetapi juga burung dan ikannya.”

“Setuju. Ada kesan indah sekaligus mustahil.”

“Kalau The Last Autumn lebih menggambarkan suasananya. Tapi Between Sky and Water lebih menggambarkan ceritanya.”

“Ini sih cocok banget dengan Mr. X dan Mrs. Y.”

Perdebatan kecil berlangsung selama beberapa hari. Sebagian masih menyukai nama yang berhubungan dengan musim gugur, sementara sebagian lain merasa nama yang menggambarkan dua dunia berbeda jauh lebih tepat.

Akhirnya, nama Between Sky and Water menjadi usulan yang paling banyak disepakati.

Sejak saat itu, banyak pengguna mulai menyebut lukisan keempat Memory19 dengan nama tersebut.

Namun, ada satu hal yang kembali membuat beberapa orang penasaran.

Di bagian sudut lukisan, goresan putih kecil itu masih terlihat. Angka 19.19 dan 9.9 tetap menjadi tanda tanya.

“Jadi, sekarang kita sudah punya empat lukisan dan empat cerita. Tapi angka itu sebenarnya apa, sih?”

“Jangan-jangan masih ada lukisan kelima.”

“Kalau ada, kira-kira apa lagi yang akan diunggah Mrs. Y?”

Sementara itu, akun Memory19 tetap tidak memberikan tanggapan.

Tidak ada ucapan terima kasih atas nama yang diberikan netizen. Tidak ada klarifikasi tentang burung dan ikan. Bahkan tidak ada tanda bahwa pemilik akun mengetahui betapa jauh publik telah menafsirkan karya-karyanya.

Empat lukisan telah hadir di hadapan jutaan pasang mata.

Mr. X, The Spring Painting, The Silent Grief, dan kini Between Sky and Water.

Semuanya tampak seperti potongan-potongan cerita yang belum selesai.

Dan mungkin, seperti burung dan ikan dalam lukisan itu, ada dua orang yang sebenarnya ingin saling mendekat, tetapi tidak pernah menemukan tempat untuk benar-benar bersama.

Namun, siapa yang tahu?

Sebab hingga hari itu, tidak seorang pun benar-benar mengetahui kisah di balik Memory19.

You May Also Like

Leave a Reply