Di Mimpiku, Kau Begitu Membenciku

Di kantor, semua orang tahu siapa Fikri.

Bukan karena jabatannya—ia masih staf baru—melainkan karena cara ia hadir. Wajahnya bersih, rapi, dan mudah diingat. Senyumnya tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat orang merasa dihargai.

Beberapa karyawan perempuan sering menyebutnya diam-diam: tampan.

Ada yang sekadar memuji. Ada yang terang-terangan tertarik. Bahkan tak jarang, namanya menjadi bahan obrolan ringan saat makan siang.

Fikri menanggapi semuanya dengan cara yang sama: sopan, tenang, tidak memberi celah.

Dan mungkin justru itu yang membuatnya semakin menarik.

Naira mengenalnya dari jarak yang berbeda.

Bukan sebagai perempuan yang mengagumi dari kejauhan, tapi sebagai atasan yang memperhatikan kinerja bawahannya.

Ia melihat Fikri sebagai laki-laki yang bisa diandalkan.

Datang tepat waktu. Mendengarkan saat rapat. Tidak banyak bicara, tapi selalu selesai dalam pekerjaan.

Ada ambisi yang tidak diucapkan, tapi terasa.

Dan bagi Naira, itu cukup untuk membuatnya berbeda.

Naira sendiri tidak pernah merasa menjadi perempuan yang mudah disukai.

Ia terbiasa dihormati, tapi jarang diinginkan.

Tubuhnya kurus. Kulitnya sedikit gelap. Wajahnya… tidak menonjol di antara perempuan lain.

Ia tahu itu.

Dan ia sudah lama berdamai dengan kenyataan tersebut.

Sampai ia menyadari satu hal yang tidak ia rencanakan:

ia jatuh cinta pada Fikri.

Bukan sekadar kagum.

Bukan sekadar suka.

Tapi benar-benar ingin menjadikannya tujuan.

Pertanyaan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

Keputusan itu tidak datang tiba-tiba.

Naira menimbangnya lama. Berdoa. Mencari pembenaran, bahkan pada hal-hal yang tidak perlu dibenarkan.

Ia hanya ingin memastikan—bahwa langkahnya tidak salah.

Bahwa niat baik tidak akan mempermalukan dirinya sendiri.

Sore itu, ia mengajak Fikri berbicara di luar kantor.

Tempat yang cukup tenang untuk sebuah percakapan yang tidak biasa.

“Fikri… saya ingin bertanya sesuatu.”

Fikri mengangguk, seperti biasa. Tenang.

Naira menarik napas.

“Saya sedang berada di fase ingin menikah. Dan… saya ingin tahu, apakah kamu juga sedang mempertimbangkan hal yang sama.”

Fikri terdiam sejenak.

Naira melanjutkan, lebih pelan.

“Kalau… kamu berkenan, saya ingin mengenalmu ke arah itu.”

Kalimat itu tidak panjang.

Tapi cukup untuk mengubah segalanya.

Fikri tersenyum.

Senyum yang membuat Naira sempat percaya… bahwa ia tidak salah membaca.

“Terima kasih, Mbak Naira,” katanya.

“Saya… merasa sangat dihargai.”

Naira menunggu.

“Cuma… saya butuh waktu.”

Nada suaranya tetap tenang.

“Saya masih di awal karier. Banyak hal yang harus saya pikirkan… tentang kesiapan.”

Naira mengangguk.

Jawaban itu terdengar masuk akal.

Cukup masuk akal untuk ditunggu.

Mimpi yang Begitu Membekas

Menunggu ternyata bukan soal waktu.

Tapi soal bagaimana seseorang mulai meragukan dirinya sendiri.

Hari-hari berjalan seperti biasa.

Fikri tetap sopan. Tetap profesional. Tidak berubah.

Dan justru karena tidak berubah, Naira tidak tahu harus berharap atau berhenti.

Lalu mimpi itu datang.

Pertama, ia melihat dirinya sedang rapat.

Seperti biasa.

Tapi kali ini, Fikri menatapnya berbeda.

Dingin.

Seolah ada jarak yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.

“Keputusan ini kurang tepat, Bu,” kata Fikri.

Nada suaranya datar, namun terasa sangat mengintimidasi.

Ruangan menjadi sunyi.

Naira mencoba menjelaskan, tapi kata-katanya hilang.

Semua orang melihatnya.

Dan dalam mimpi itu, ia merasa… kecil.

Mimpi berikutnya lebih aneh.

Ia melihat dirinya di rumah.

Sebagai seorang istri.

Fikri pulang kerja. Duduk di sofa. Mengangkat kakinya ke atas pangkuan Naira tanpa berkata apa-apa.

Naira melayaninya. Membuka sepatu pantofel hitam Fikri dan kaus kakinya.

Dengan senyum.

Dengan ketulusan.

Tapi tidak ada balasan yang sama untuknya.

Tidak ada kata.

Tidak ada tatapan.

Seolah kehadirannya hanya… kewajiban.

Mimpi terakhir yang paling membekas.

Fikri berbicara dengan sejumlah karyawan kantor.

Tentang dirinya.

“Mbak Naira itu hebat,” katanya.

Nada itu terdengar nyata.

Naira hampir merasa lega.

Sampai kalimat berikutnya datang.

“Tapi… sama sekali tidak seperti wanita yang aku cari.”

Tiba-tiba semua mata tertuju padanya dengan tatapan penuh penilaian.

Tidak ada ejekan.

Tidak ada yang menertawakannya.

Hanya saja, terasa sangat menusuk.

Naira terbangun dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Ia mencoba menenangkan diri.

Menganggap semua itu hanya ketakutan.

Tapi semakin ia menolak, semakin mimpi itu terasa seperti sesuatu yang… sudah lebih dulu tahu.

Jawaban yang Tidak Pernah Dimaksudkan untuk Datang

Beberapa minggu kemudian, Naira memutuskan untuk bertanya lagi.

Bukan karena berani.

Tapi karena lelah menunggu sesuatu yang tidak jelas bentuknya.

“Fikri… tentang waktu itu.”

Fikri mengangguk.

Ia sudah mengerti.

“Maaf, Mbak,” katanya pelan.

“Saya rasa… saya belum bisa.”

Tidak ada alasan panjang.

Tidak ada penjelasan yang berbelit.

Hanya cukup untuk membuat semuanya selesai.

“Saya sangat menghormati Mbak. Tapi… saya belum merasa menjadi orang yang tepat.”

Naira tersenyum kecil.

Ia tidak memaksa.

Tidak ada yang perlu dipertahankan dari jawaban seperti itu.

Beberapa hari setelahnya, ia mendengar sesuatu.

Tidak sengaja.

Tidak dicari.

Fikri sedang berbicara dengan seorang rekan kerjanya di pantry kantor.

Tentang banyak hal.

Tentang pekerjaan. Tentang rencana. Tentang masa depan.

Dan tanpa sadar, percakapan itu sampai pada satu titik.

“Kalau soal pasangan… aku tahu yang aku cari seperti apa.”

Suara Fikri tenang.

“Yang bisa aku pimpin. Yang… dari awal sudah terasa cocok.”

“Apa yang bikin cocok?” tanya temannya.

Fikri terdiam sebentar.

Seolah memilih kata yang tidak berlebihan.

“Yang kalau dilihat… rasanya membuatku ingin menjaganya.”

Jawaban itu sederhana.

Tidak menyebut nama siapa pun.

Tidak menyinggung siapa pun.

Tapi cukup untuk menjelaskan… siapa yang tidak termasuk di dalamnya.

Naira tidak menunggu sampai percakapan itu selesai.

Ia sudah mengerti.

Bahkan sebelum Fikri selesai bicara.

Malam itu, ia duduk di depan cermin.

Tidak ada yang berubah dari dirinya.

Wajah yang sama.

Tubuh yang sama.

Semua yang selama ini ia bawa dengan keyakinan bahwa itu cukup.

Ternyata… tidak untuk semua orang.

Ia mengingat kembali semuanya.

Cara Fikri berbicara.

Cara ia tersenyum.

Cara ia bersikap.

Tidak pernah ada yang salah.

Hanya saja… tidak pernah ada yang khusus.

Dan mungkin, sejak awal, ia bukan bagian dari kemungkinan.

Naira menarik napas pelan.

Tidak ada air mata yang jatuh.

Hanya ada satu kesadaran yang datang dengan tenang—

bahwa menjadi baik, menjadi pantas, bahkan menjadi luar biasa… tidak selalu membuat seseorang dipilih.

Ada hal-hal yang tidak bisa diusahakan.

Tidak bisa dipelajari.

Tidak bisa dipaksakan.

Perasaan.

Ketertarikan.

Dan keyakinan… yang datang tanpa alasan.

Di luar sana, Fikri akan tetap menjadi laki-laki yang sama.

Rupawan.

Ambisius.

Dihargai.

Dan suatu hari, ia akan memilih seseorang yang membuatnya yakin sejak awal.

Tanpa perlu berpikir terlalu lama.

Tanpa perlu meminta waktu.

Sementara itu, Naira akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun—

bahwa tidak semua penolakan terasa seperti penolakan.

Ada yang dibungkus dengan hormat.

Dijaga dengan kata-kata.

Dihaluskan sampai hampir tidak terasa.

Tapi tetap meninggalkan satu hal yang sama:

ia tidak pernah benar-benar diinginkan.

Dan malam itu, saat ia memejamkan mata,

tidak ada lagi mimpi tentang Fikri.

Bukan karena semuanya sudah membaik.

Melainkan karena ia akhirnya mengerti—

bahwa yang ia lihat selama ini bukanlah kebencian di hati pria itu,

melainkan jarak yang sejak awal… memang tidak pernah bisa ia jangkau.

You May Also Like

4 Comments

  1. Icha Marina Elliza April 11, 2026 at 11:59 pm

    Suka dengan sifat dan attitude fikri. Menolak tapi tidak merendahkan. Jadi tidak ada rasa sakit hati dan rasa malu bertemu di kemudian hari. Apalagi rekan kerja yang setiap hari ketemu,

    1. Iim Rohimah April 13, 2026 at 8:46 am

      Boleh baca lagi cerpen lanjutannya POV Fikri ya kak. Ada plot twist di sana. 😀

      1. Dian Restu Agustina April 14, 2026 at 9:42 am

        Bca ini, aku langsung ceki-ceki POV Fikri, duh enggak nyangka plot twsit-nya.
        Keren sekali Mba…
        OOT, rekan kantor suami ada yang seperti ini. Ceweknya posisi lebih tinggi, cowoknya bawahan dia. Lanjut nikah, dan salah satu pindah…Beberapa tahun setelahnya, pisah. hiks. Mungklin si cewek dominan di rumah tangga, cowoknya insecure setelah menjalaninya, atau apa..entahlah

      2. Iim Rohimah April 14, 2026 at 10:08 am

        Miris di dunia nyata ternyata ada ya mbak. Saya full fiktif sebenarnya, tapi terinspirasi dari banyak unggahan media sosial yang menyebutkan bahwa cinta seorang laki-laki harus 100% sejak awal. Nanti akan lebih mudah mengarugi pernikahan.

Leave a Reply