Di Mimpiku, Kau Begitu Membenciku (POV Fikri)

Fikri tidak pernah menganggap dirinya siap.

Bukan untuk hal-hal besar seperti pernikahan.

Di usianya yang baru dua puluh tiga, hidupnya masih dipenuhi daftar tanggung jawab yang belum selesai. Ia bukan anak yang bisa bebas memilih arah tanpa menoleh ke belakang.

Di rumah, ada seorang ibu yang menua sendirian.

Dan seorang adik perempuan yang masih harus ia antarkan sampai masa depannya berdiri sendiri.

Itu sebabnya Fikri bekerja seperti seseorang yang tidak punya pilihan lain.

Datang lebih awal. Pulang lebih lambat. Menyelesaikan hal-hal tanpa banyak bicara.

Bukan karena ia ingin terlihat ambisius.

Tapi karena ia memang tidak punya waktu untuk gagal.

Di kantor, orang-orang mengenalnya sebagai laki-laki yang rapi, sopan, dan bisa diandalkan.

Beberapa perempuan memperhatikannya.

Sebagian bahkan menyukainya.

Fikri tahu itu.

Tapi ia tidak pernah menanggapi lebih jauh.

Baginya, perhatian seperti itu hanyalah gangguan kecil yang harus dilewati dengan sikap yang cukup: sopan, tapi tidak membuka ruang.

Ia tidak sedang mencari siapa pun.

Sampai Naira datang dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Perempuan yang Tidak Pernah Ia Duga

Saat Naira berbicara sore itu, Fikri benar-benar tidak siap.

Bukan karena ia terganggu.

Tapi karena ia tidak pernah membayangkan bahwa seseorang seperti Naira akan memilihnya.

Perempuan itu… berbeda.

Cerdas. Tegas. Terbiasa memimpin.

Di hadapan banyak orang, Naira adalah sosok yang sulit digoyahkan.

Dan justru itu yang membuat Fikri merasa… kecil, sesaat.

Bukan rendah diri.

Hanya merasa belum sampai.

Ketika Naira menyampaikan niatnya, Fikri merasakan sesuatu yang tidak biasa:

bukan penolakan,

tapi kehormatan.

Ada rasa dihargai.

Ada rasa dipercaya.

Seolah seseorang melihat dirinya lebih dari sekadar laki-laki yang sedang berusaha bertahan.

Dan mungkin… itu yang membuatnya tidak langsung menjawab.

“Aku butuh waktu.”

Kalimat itu keluar dengan jujur.

Karena memang itu yang ia rasakan.

Bukan untuk menunda.

Bukan untuk menghindar.

Tapi karena ia tahu—

ia belum siap membawa seseorang ke dalam hidup yang masih penuh beban.

Hal yang Tidak Ia Katakan

Beberapa hari setelah itu, Fikri menemukan sesuatu yang tidak ia cari.

Sebuah potongan ceramah da’i terkenal di media sosialnya. Lewat begitu saja di berandanya.

Suara itu lembut, tapi tegas.

Tentang bagaimana seorang laki-laki seharusnya memperlakukan perempuan.

Tentang bagaimana seorang perempuan harus dijaga harga dirinya.

Tentang bagaimana seorang laki-laki tidak perlu gengsi untuk mengalah demi menjaga hati seorang perempuan.

Fikri menonton sampai selesai.

Lalu diam lebih lama.

Ia teringat pada Naira.

Pada cara perempuan itu menyampaikan niatnya.

Tenang.

Tidak berlebihan.

Tidak memaksa.

Tapi jelas membutuhkan keberanian yang tidak kecil.

Sejak saat itu Fikri memikirkan satu hal yang tidak sempat ia pikirkan sebelumnya:

bagaimana perasaan Naira… setelah ia menolak.

Sejak saat itu, Fikri mulai melihat hal-hal yang sebelumnya luput.

Naira tetap sama di depan banyak orang.

Profesional.

Tegas.

Tidak berubah.

Tapi di luar itu—

ada bagian kecil yang berbeda.

Kadang ia terlihat lebih diam.

Kadang ia pulang tanpa banyak bicara.

Kadang ia duduk sendiri lebih lama dari biasanya.

Tidak mencolok.

Tidak dramatis.

Tapi cukup untuk membuat seseorang yang memperhatikan… menyadarinya.

Dan Fikri mulai memperhatikan.

Perasaan yang Datang Terlambat

Awalnya, itu hanya rasa tidak nyaman.

Rasa bersalah yang tidak bisa dijelaskan.

Seolah ada sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

Tapi semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas satu hal muncul:

ia tidak benar-benar menolak Naira karena tidak ingin.

Ia menolak… karena belum siap.

Perbedaan itu kecil.

Tapi bagi Fikri, itu mengubah segalanya.

Suatu siang, ia berbicara dengan seorang rekan di pantry.

Percakapan biasa.

Tentang pekerjaan. Tentang rencana. Tentang masa depan.

Sampai tanpa sadar, pembicaraan itu mengarah ke satu hal yang selama ini ia hindari.

“Kalau soal pasangan… sekarang aku mulai ngerti.”

Temannya menoleh.

“Mengerti apa?”

Fikri tidak langsung menjawab.

Ia seperti sedang merangkai sesuatu yang baru ia sadari.

“Yang aku cari itu bukan yang paling menarik dilihat.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi yang… bikin aku merasa ingin menjaganya.”

Temannya tersenyum kecil.

“Sudah ada orangnya?”

Fikri menatap ke arah luar.

Tidak langsung menjawab.

Di dalam kepalanya, yang muncul bukan wajah-wajah yang selama ini mudah ia lihat.

Bukan mereka yang terang.

Bukan mereka yang ramai.

Yang muncul justru seseorang yang selama ini berdiri tegak di depan banyak orang—

tapi diam-diam menyimpan keberanian untuk jatuh… tanpa suara.

“Mungkin… sudah,” jawabnya pelan.

Dan di saat itu, Fikri akhirnya mengerti sesuatu yang datang terlambat:

bahwa perasaan itu tidak selalu datang saat seseorang siap.

Kadang ia datang… setelah seseorang memilih mundur.

Beberapa hari kemudian, Fikri melihat Naira seperti biasa.

Di ruang rapat.

Di balik meja.

Di antara keputusan-keputusan yang harus diambil.

Semuanya terlihat sama.

Tapi tidak lagi terasa sama.

Kini, setiap kali ia melihat Naira,

ada satu dorongan yang tidak bisa ia abaikan:

keinginan untuk mendekat.

Bukan sebagai bawahan.

Bukan sebagai rekan kerja.

Tapi sebagai seseorang yang… ingin menjaga.

Sementara di sisi lain ruangan,

Naira berjalan seperti biasa.

Tanpa menoleh.

Tanpa menunggu.

Seolah tidak ada lagi yang perlu diharapkan.

Dan Fikri hanya bisa melihat dari jarak yang sama seperti sebelumnya—

bedanya, kali ini

ia tahu persis

siapa yang sedang ia jaga… dalam diam.

You May Also Like

Leave a Reply